Karhutla di Indonesia: Mengapa Pencegahan Harus Mendahului Pemadaman

oleh -138 Dilihat
oleh
Karhutla di Indonesia: Mengapa Pencegahan Harus Mendahului Pemadaman

Yogyakarta | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terus berulang di Indonesia, terutama ketika kondisi kering membuat api mudah menyebar dan sulit dikendalikan. Setiap kejadian membawa dampak yang luas, mulai dari kerusakan ekosistem dan hilangnya habitat satwa hingga gangguan kesehatan serta aktivitas masyarakat akibat asap. Pola yang terus berulang menunjukkan bahwa penanganan yang baru bergerak setelah kebakaran membesar belum cukup untuk mengurangi risiko secara mendasar. Pemadaman tetap penting, tetapi tidak dapat menjadi satu-satunya andalan ketika sumber api telah meluas dan akses ke lokasi terdampak terbatas.

Karena itu, perhatian perlu lebih dahulu diarahkan pada pencegahan dini. Banyak kebakaran berkaitan dengan aktivitas manusia, sehingga pengendalian pembukaan lahan dan pembakaran, pengawasan kawasan rawan, serta keterlibatan masyarakat menjadi bagian penting dari upaya mengurangi kemungkinan api muncul. Pencegahan juga membutuhkan pemantauan yang konsisten dan respons cepat terhadap titik awal kebakaran. Langkah-langkah tersebut dapat membantu mencegah api berkembang menjadi bencana yang lebih besar. Pendekatan ini menempatkan pengurangan risiko sebelum kejadian sebagai prioritas, bukan sekadar menambah kemampuan memadamkan api setelah kebakaran terjadi.

Perhatian khusus juga diperlukan pada lahan gambut. Gambut yang mengering lebih mudah terbakar, sementara api dapat menjalar di bawah permukaan dan sulit diketahui maupun dipadamkan. Menjaga kondisi lahan tetap basah, mengelola tata air, dan merawat ekosistem gambut merupakan bagian dari pencegahan yang perlu dilakukan secara berkelanjutan. Persoalan berulangnya karhutla dan pentingnya mengutamakan pencegahan ini dibahas jajaran dewan guru besar Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam UGM Podcast yang disiarkan pada Kamis (15/10). Pembahasan tersebut menegaskan perlunya perubahan orientasi: selain menyiapkan pemadaman, berbagai pihak perlu mengendalikan pemicu kebakaran dan menjaga kondisi lahan sebelum musim rawan tiba.

Ris Hadi Purwanto, Guru Besar bidang Ilmu Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan UGM, menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) umumnya berkaitan dengan pertemuan tiga unsur: sumber api, bahan bakar, dan kondisi iklim. Ketiganya membantu menjelaskan bagaimana kebakaran dapat bermula dan berkembang, tetapi tidak berarti setiap kejadian selalu memiliki penyebab tunggal yang sama. Memahami hubungan ant faktor tersebut penting agar upaya pencegahan tidak hanya berfokus pada pemadaman setelah api meluas.

Sumber api merupakan unsur penyalaan, yang dapat berasal dari aktivitas manusia maupun kejadian alam. Namun, keberadaan sumber penyalaan saja belum tentu menghasilkan kebakaran besar. Api memerlukan bahan yang dapat terbakar, seperti vegetasi kering, serasah, ranting, gambut, atau material organik lain. Jenis, jumlah, dan kondisi bahan tersebut berpengaruh terhadap kemungkinan api menyala serta kemampuannya merambat. Area dengan bahan bakar yang tersedia dapat memiliki tingkat kerawanan berbeda, bergantung pada keadaan lapangan dan cara bahan itu terpapar sumber api.

Iklim turut membentuk risiko dengan memengaruhi kadar air pada vegetasi dan material organik. Periode kering yang panjang dapat membuat bahan bakar lebih mudah menyala, sedangkan hujan dan kelembapan dapat mengurangi kekeringannya. Meski demikian, kondisi iklim bukan penyebab yang berdiri sendiri: cuaca kering tidak otomatis menimbulkan kebakaran tanpa sumber penyalaan dan bahan yang dapat terbakar. Sebaliknya, sumber api di lokasi yang lembap atau minim bahan bakar mungkin tidak berkembang menjadi kebakaran luas. Karena itu, penilaian risiko perlu mempertimbangkan ketiga unsur secara bersamaan, termasuk lokasi dan aktivitas di sekitarnya. Pendekatan ini membantu menentukan langkah pencegahan yang sesuai, seperti mengurangi penumpukan material mudah terbakar, mengawasi aktivitas berisiko, serta meningkatkan kesiapsiagaan ketika kondisi kering. Dengan memahami keterkaitan unsur-unsur tersebut, penanganan karhutla dapat diarahkan pada pengurangan peluang munculnya api, bukan semata-mata mengandalkan pemadaman ketika kebakaran sudah terjadi.

Ris menjelaskan bahwa kondisi iklim dapat memperbesar kerawanan kebakaran hutan dan lahan, terutama ketika El Niño memicu cuaca lebih kering dan memperpanjang periode tanpa hujan. Kekeringan membuat vegetasi dan material organik di permukaan lahan lebih mudah terbakar. Dalam keadaan tersebut, api yang menyala dapat bertahan lebih lama dan menyebar lebih cepat, khususnya apabila angin dan kondisi lingkungan turut mendukung. Namun, faktor iklim perlu dibedakan dari penyebab awal munculnya api. El Niño meningkatkan risiko, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan siapa atau apa yang menyalakan api.

Menurut Ris, sebagian besar sumber penyalaan di Indonesia berkaitan dengan aktivitas manusia. Salah satu praktik yang kerap digunakan ialah membakar lahan untuk membuka atau menyiapkan area bagi kegiatan berikutnya. Cara ini dipilih karena dianggap murah dan tidak memerlukan biaya serta tenaga sebesar metode pembukaan lahan lainnya. Pertimbangan biaya tersebut dapat mendorong pembakaran, terutama ketika pengawasan atau pilihan pengelolaan lahan yang lebih aman terbatas. Dengan demikian, pembicaraan mengenai kebakaran tidak cukup hanya berfokus pada musim kering atau fenomena iklim; perilaku manusia dan cara lahan dibuka juga perlu diperhatikan.

Masalah muncul ketika pembakaran dilakukan tanpa pengawasan yang memadai. Api yang semula dinyalakan untuk membersihkan area tertentu dapat keluar dari batas yang direncanakan, lalu merambat ke vegetasi dan lahan di sekitarnya. Kondisi kering memperbesar kemungkinan penyebaran tersebut, sehingga kegiatan yang dimulai dalam skala kecil berpotensi berkembang menjadi kebakaran luas. Karena itu, pembakaran lahan bukan sekadar pilihan teknis yang murah: risiko pengendalian api dan dampak rambatannya perlu menjadi bagian dari pertimbangan sejak awal. Pandangan Ris menegaskan pentingnya memahami hubungan keputusan manusia, kondisi iklim, dan pengawasan. Pencegahan perlu diarahkan pada sumber penyalaan serta praktik pembukaan lahan, sembari mengantisipasi periode kering yang dapat meningkatkan kerawanan. Mengurangi ketergantungan pada api dan memastikan pengawasan yang memadai dapat membantu mencegah kegiatan pembukaan lahan berubah menjadi kebakaran berskala lebih besar.

Diskusi tersebut menggambarkan besarnya skala kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia melalui angka akumulasi luas sekitar 8,35 juta hektare sepanjang periode 2015 hingga 2026. Angka ini memberi gambaran tentang luas wilayah yang terdampak dalam rentang waktu tersebut, sekaligus menunjukkan bahwa karhutla bukan persoalan yang terbatas pada satu musim atau satu tahun saja. Penyajian akumulasi membantu pembaca melihat beban kebakaran secara lebih menyeluruh, tanpa mengabaikan perbedaan kondisi dan intensitas kejadian dari tahun ke tahun.

Di tahun-tahun yang disebut, luas karhutla tercatat sekitar 2,61 juta hektare pada 2015, sekitar 1,65 juta hektare pada 2019, dan sekitar 1,16 juta hektare pada 2023. Ketiga angka itu menonjol sebagai gambaran luas kejadian pada tahun tertentu, tetapi bukan daftar lengkap seluruh kejadian sepanjang 2015–2026. Tahun-tahun tersebut hanya merupakan rincian yang disampaikan dalam diskusi, sehingga tidak tepat menganggapnya sebagai keseluruhan data tahunan atau menjumlahkannya sebagai pengganti angka akumulasi periode.

Perbedaan angka akumulasi dan rincian beberapa tahun penting dipahami agar skala karhutla tidak disederhanakan. Akumulasi sekitar 8,35 juta hektare merujuk pada rentang 2015 hingga 2026 sebagaimana dipaparkan, sedangkan angka 2015, 2019, dan 2023 menunjukkan luas pada tahun-tahun yang secara khusus disebut. Dengan demikian, angka tahunan tersebut memberi konteks tentang besarnya kejadian pada sejumlah tahun, bukan uraian menyeluruh mengenai setiap tahun dalam rentang itu. Tidak ada dasar dari rincian ini untuk menambahkan angka bagi tahun lain atau menarik kesimpulan tentang pola naik-turun tahunan secara lengkap.

Gambaran luas tersebut relevan bagi pembahasan kebijakan karena menegaskan besarnya wilayah yang berpotensi terdampak dan pentingnya menempatkan pencegahan sebagai perhatian utama.

Baca juga: TNI Perkuat Sinergitas Lintas Sektor dalam Pencegahan Karhutla di Sambas | Respons Cepat Diperkuat, Lanud Sjamsudin Noor Siagakan Tangki Portable Untuk Penanganan di Titik Rawan Karhutla | Tak Hanya Logistik, Hercules TNI AU Bawa Dukungan Kesehatan dan Peralatan Untuk Menopang Perjuangan Pasukan Karhutla Kalsel