Kabut Asap di Palembang Tekan Penghasilan Pedagang, BNPB Perkuat Pemantauan Karhutla

oleh -387 Dilihat
oleh
Kabut Asap di Palembang Tekan Penghasilan Pedagang, BNPB Perkuat Pemantauan Karhutla

Palembang | Selama berbulan-bulan, kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan, termasuk Palembang, ibu kota Sumatera Selatan. Asap yang berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) membuat kualitas udara di kawasan terdampak menjadi perhatian. Situasi ini tidak hanya mengubah suasana lingkungan sehari-hari, tetapi juga memengaruhi cara warga menjalankan kegiatan di luar rumah. Ketika udara dipenuhi asap, masyarakat perlu mempertimbangkan kondisi tersebut dalam mengatur rutinitas, sementara aktivitas yang bergantung pada ruang terbuka dapat menghadapi hambatan.

Kualitas udara yang buruk berdampak pada kesehatan masyarakat secara umum, meski kondisi dan dampak yang dialami setiap orang dapat berbeda. Karena itu, kabut asap menjadi persoalan yang tidak terbatas pada pemandangan atau kenyamanan, melainkan juga menyangkut perlindungan warga. Informasi mengenai keadaan udara dan perkembangan karhutla penting agar masyarakat dapat memahami situasi di sekitarnya. Pemantauan yang dilakukan oleh pihak berwenang turut membantu menyediakan gambaran kondisi terkini, terutama saat asap bertahan dalam waktu lama atau meluas ke kawasan permukiman dan pusat kegiatan.

Di Palembang, dampak kabut asap juga terasa dalam kehidupan ekonomi. Pedagang dan warga yang mencari penghasilan melalui kegiatan harian dapat menghadapi perubahan pada aktivitas, khususnya ketika pekerjaan mereka mengharuskan berjualan atau melayani pembeli secara langsung. Suasana yang kurang mendukung bisa memengaruhi kegiatan di ruang publik dan membuat rutinitas usaha tidak berjalan seperti biasanya. Bagi pedagang, perubahan aktivitas tersebut berpotensi menekan penghasilan, sementara kebutuhan untuk tetap bekerja tetap ada. Dampak ekonomi ini memperlihatkan bahwa karhutla dapat menjalar jauh melampaui area kebakaran.

Dengan demikian, kabut asap menempatkan warga pada tantangan yang berlapis: menjaga kesehatan, menyesuaikan kegiatan sehari-hari, dan mempertahankan sumber penghidupan. Perhatian terhadap kualitas udara perlu berjalan beriringan dengan upaya memantau serta menangani kebakaran hutan dan lahan. Bagi masyarakat Palembang dan wilayah lain yang terdampak, informasi yang jelas dapat mendukung pengambilan keputusan dalam menjalani aktivitas. Sementara itu, penguatan pemantauan karhutla menjadi bagian penting dari respons terhadap keadaan yang memengaruhi lingkungan, kesehatan publik, dan perekonomian warga secara bersamaan.

Yana, 51 tahun, telah berjualan pempek di kantin kampus UIN Raden Fatah Palembang selama belasan tahun. Masa berjualannya disebut telah mencapai 15 tahun. Dalam kurun itu, kegiatan dagangnya bergantung pada keberadaan mahasiswa dan aktivitas perkuliahan di kampus. Namun, belakangan ia menghadapi perubahan besar: kantin menjadi sepi setelah kampus memberlakukan kuliah daring akibat kabut asap.

Sebelum kondisi tersebut, Yana biasanya memperoleh omzet setidaknya Rp1 juta dalam sehari. Angka itu menggambarkan pendapatan kotor dari penjualan yang selama ini ia harapkan dari kegiatan berdagang. Belakangan, hasil penjualan bahkan tidak cukup untuk menutup modal. Dengan demikian, persoalannya bukan sekadar berkurangnya keuntungan, melainkan pemasukan harian yang tidak lagi mampu mengimbangi biaya untuk menjalankan usaha.

Kebijakan pembelajaran jarak jauh turut mengurangi keramaian yang biasanya mendukung kegiatan kantin. Mahasiswa tidak datang untuk mengikuti perkuliahan secara langsung, sehingga peluang pedagang menjajakan makanan di lingkungan kampus ikut menurun. Yana menyebut mahasiswa telah belajar daring hampir satu bulan. Selama periode itu, keadaan sepi membuat penghasilan dari penjualan pempeknya jauh berbeda dibandingkan hari-hari ketika aktivitas kampus berjalan seperti biasa.

Pengalaman Yana menunjukkan bagaimana kabut asap dapat berdampak pada mata pencaharian warga, termasuk pedagang kecil yang bergantung pada keramaian suatu lokasi. Ketika kegiatan tatap muka dihentikan, pembeli yang menjadi bagian penting dari pasar harian mereka berkurang. Situasi tersebut menambah tekanan bagi pedagang yang tetap perlu menyiapkan modal, sementara hasil penjualan tidak selalu kembali menutup biaya usaha.

Yana berharap kuliah tatap muka dapat kembali berlangsung dan asap segera hilang. Harapan itu berkaitan langsung dengan peluang kantin kembali ramai dan kegiatan berdagang berjalan lebih baik. Bagi pedagang pempek yang telah bertahun-tahun berjualan di kampus, pulihnya aktivitas mahasiswa dapat membuka kembali kesempatan memperoleh pembeli. Sementara itu, kisahnya menjadi gambaran nyata tentang dampak berantai kabut asap: selain mengganggu kegiatan pendidikan, kondisi tersebut juga menekan penghasilan masyarakat yang mencari nafkah di sekitar kampus.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperbaiki metode penghitungan luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan memanfaatkan citra satelit. Upaya ini ditujukan untuk meningkatkan akurasi pemantauan, sehingga informasi mengenai area terdampak dapat menjadi dasar yang lebih baik dalam menentukan langkah penanganan. Penguatan metode tersebut juga membantu BNPB memperoleh gambaran kejadian secara lebih terukur, terutama di wilayah yang menjadi perhatian selama musim karhutla.

Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Kristomei Sianturi melaporkan langkah perbaikan itu kepada Presiden RI Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Rabu (21/10). Ia menyampaikan bahwa BNPB mulai menjalankan upaya pembenahan setelah dirinya dilantik pada 15 Oktober 2026. Perbaikan penghitungan berbasis citra satelit menjadi bagian dari penguatan pemantauan yang dilaporkan kepada presiden, di tengah perhatian terhadap dampak karhutla di sejumlah daerah.

Dalam pemantauan BNPB, terdapat lima provinsi yang menjadi prioritas, yakni Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan, Jambi, dan Kalimantan Barat. Penetapan wilayah prioritas memungkinkan perkembangan kejadian karhutla diamati secara lebih terarah. Data citra satelit digunakan untuk mendukung penghitungan luas kebakaran, sementara perkembangan di setiap provinsi perlu terus dicermati sebagai dasar pembaruan informasi dan respons di lapangan. Pendekatan ini diharapkan membantu memperjelas sebaran area terbakar dan menjaga konsistensi pemantauan.

BNPB mencatat kenaikan kejadian karhutla di Sumatera Selatan dan Jambi. Namun, Kristomei menilai peningkatan tersebut belum terlalu signifikan. Pemantauan tetap diperlukan karena perubahan kondisi dapat memengaruhi kebutuhan penanganan, termasuk di daerah yang sedang menghadapi kabut asap. Dengan metode penghitungan yang diperbaiki, BNPB berupaya menyajikan data luas kebakaran secara lebih akurat dan memperkuat pengawasan pada lima provinsi prioritas. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya lembaga untuk mengikuti perkembangan karhutla secara lebih cermat serta memberikan informasi yang dapat digunakan dalam koordinasi penanggulangan di tingkat pusat dan daerah.

BNPB menjalankan operasi modifikasi cuaca sebagai bagian dari upaya membantu penanganan karhutla di wilayah yang membutuhkan. Dalam operasi ini, petugas melakukan penyemaian es kering ke awan dengan harapan dapat memicu hujan. Langkah tersebut ditujukan untuk mendukung penanganan dampak kebakaran hutan dan lahan, termasuk kondisi kabut asap yang mengganggu aktivitas masyarakat. Pelaksanaan operasi juga disertai pemantauan terhadap situasi di lapangan, sehingga upaya dapat diarahkan ke wilayah prioritas berdasarkan kebutuhan penanganan.

Berdasarkan data yang disampaikan, sebanyak 3.100 kilogram es kering telah disemai sejak 20 Oktober melalui lima sorti penerbangan. Untuk wilayah Sumatera Selatan, tercatat satu sorti dengan muatan 800 kilogram es kering. Data ini menunjukkan bagian operasi yang dilaksanakan di provinsi tersebut, di tengah upaya pemantauan karhutla di sejumlah wilayah. Penyemaian dilakukan sebagai langkah untuk membantu memicu hujan, bukan sebagai kepastian bahwa hujan akan turun di seluruh daerah sasaran.

Kristomei melaporkan bahwa setelah upaya penyemaian tersebut, kadar partikulat di udara menurun, termasuk partikulat halus PM 2,5. Ia juga menyampaikan adanya peningkatan jarak pandang di Palembang, dari 700 meter menjadi 7.000 meter. Perubahan yang dilaporkan itu memberi gambaran mengenai kondisi udara dan jarak pandang setelah operasi dilakukan.

Baca juga: Panen Padi Bersama Petani, Babinsa Perkuat Dukungan Terhadap Ketahanan Pangan | Program POLIRAN, Aipda Didi MS Sambangi Warga Sukanagara dan Perkuat Kamtibmas | Kapuskes TNI Anjangsana ke Sesepuh TNI, Perkuat Nilai Sapta Marga dan Sumpah Prajurit