Kabupaten Cilacap | Pertamina Patra Niaga mendorong tiga bank sampah binaannya di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, untuk mengumpulkan minyak jelantah dari masyarakat. Ketiga kelompok tersebut adalah Bank Sampah Beo Asri, Abhipraya, dan Cahaya Asri. Melalui kegiatan ini, minyak bekas memasak yang biasanya tersisa di rumah tidak langsung dibuang begitu saja, melainkan dihimpun agar dapat dikelola dengan lebih baik. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya perusahaan bersama masyarakat untuk menangani limbah rumah tangga secara lebih bertanggung jawab. Peran bank sampah juga membantu warga mengenali bahwa bahan sisa sehari-hari masih dapat memiliki manfaat apabila dipisahkan dan dikumpulkan dengan tepat.
Pengumpulan jelantah memiliki dua tujuan yang saling berkaitan, yakni mendukung pengelolaan lingkungan dan membuka nilai ekonomi dari limbah rumah tangga. Minyak yang dibuang ke saluran air atau lingkungan berpotensi menimbulkan pencemaran, sementara pengumpulan terorganisasi memberi peluang agar bahan tersebut dimanfaatkan lebih lanjut. Dengan menjadikan bank sampah sebagai titik pengumpulan, warga dapat berpartisipasi dalam kegiatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Inisiatif ini sekaligus mendorong kebiasaan memilah limbah dan memperluas pemahaman bahwa pengelolaan sampah bukan hanya soal mengurangi buangan, tetapi juga mencari potensi guna dari material yang masih dapat diolah. Manfaat ekonomi bagi warga menjadi salah satu aspek yang ingin dikembangkan melalui kegiatan tersebut.
VP Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menilai bahwa pengumpulan minyak jelantah dapat membantu mengurangi pencemaran. Ia juga mengaitkan pemanfaatan bahan tersebut dengan pengembangan bahan bakar penerbangan yang lebih ramah lingkungan. Minyak jelantah dapat digunakan sebagai salah satu bahan baku bioavtur atau sustainable aviation fuel (SAF). Penggunaan bahan baku alternatif ini memberi konteks lebih luas bagi kegiatan yang dilakukan oleh bank sampah di Cilacap: limbah rumah tangga yang terkumpul berpotensi masuk ke rantai pemanfaatan energi. Meski begitu, pengumpulan yang tertib tetap menjadi langkah awal yang penting. Keterlibatan Beo Asri, Abhipraya, dan Cahaya Asri memperlihatkan bagaimana kelompok warga dapat berperan dalam menghubungkan pengelolaan limbah setempat dengan upaya pemanfaatan sumber daya yang lebih berkelanjutan.
Di Kelurahan Tegal Kamulyan, Kabupaten Cilacap, Bank Sampah Cahaya Asri mengelola minyak jelantah sebagai bagian dari upaya warga menjaga lingkungan. Ketua kelompok, Rumdani Prapti Sumiwi, menuturkan bahwa kegiatan pengumpulan tersebut berawal dari keprihatinan terhadap persoalan lingkungan yang ditimbulkan oleh minyak bekas pakai. Jelantah yang dibuang sembarangan dapat mencemari lingkungan, sehingga kelompok berupaya mendorong warga untuk mengumpulkannya dan tidak langsung membuangnya. Langkah ini kemudian berkembang menjadi kegiatan rutin yang melibatkan anggota bank sampah.
Menurut Rumdani, pemahaman bahwa jelantah dapat memiliki nilai jual turut meningkatkan semangat para anggota. Setelah memperoleh penjelasan dari Pertamina mengenai potensi tersebut, warga semakin terdorong untuk mengumpulkan minyak bekas dari rumah tangga. Informasi itu membuat jelantah tidak lagi dipandang semata-mata sebagai limbah yang harus disingkirkan, tetapi juga sebagai bahan yang dapat dimanfaatkan dan memberikan tambahan nilai ekonomi. Dorongan lingkungan dan peluang memperoleh nilai jual berjalan beriringan dalam membentuk kebiasaan baru di kelompok Cahaya Asri.
Dalam kegiatan tersebut, Bank Sampah Cahaya Asri mampu menghimpun sekitar 50–60 kilogram minyak jelantah setiap bulan. Jumlah itu menunjukkan keterlibatan warga dalam mengumpulkan limbah rumah tangga secara berkala. Rumdani menyampaikan bahwa pengelolaan jelantah membawa manfaat yang dirasakan oleh kelompok dan lingkungan sekitar. Area tempat tinggal menjadi lebih bersih karena minyak bekas tidak dibuang sembarangan, sementara nilai jual hasil pengumpulan turut meningkatkan ekonomi warga. Pengalaman Cahaya Asri memperlihatkan bahwa pengelolaan limbah sederhana dapat membantu menjawab persoalan kebersihan sekaligus membuka manfaat ekonomi. Bagi anggota, kebiasaan mengumpulkan jelantah menjadi cara praktis untuk berkontribusi pada lingkungan dan memperoleh nilai tambah dari bahan yang sebelumnya dianggap tidak berguna. Dengan dukungan informasi serta partisipasi warga, kegiatan ini terus memberi manfaat bagi kehidupan sehari-hari di Tegal Kamulyan.
Bank sampah binaan di Kelurahan Kutawaru tidak memulai kegiatannya dari nol. Ketua Bank Sampah Abhipraya, Herry Yanto, menjelaskan bahwa kelompoknya telah melakukan pemilahan sampah sejak 2019. Kegiatan tersebut kemudian berkembang melalui program pembinaan Pertamina Patra Niaga. Menurut Herry, proses yang sudah berjalan di tingkat warga menjadi dasar penting untuk memperluas pengelolaan sampah secara terorganisasi. Dukungan yang diberikan membantu kelompok memperkuat kegiatan sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam memilah sampah dari sumbernya. Dengan demikian, pembinaan tidak hanya hadir sebagai bantuan sesaat, tetapi turut mendukung perjalanan kelompok yang telah dibangun bersama warga.
Herry menyebut edukasi, pembinaan, dan fasilitasi berperan dalam perkembangan Bank Sampah Abhipraya. Edukasi membantu masyarakat memahami jenis sampah yang dapat dipilah serta pentingnya pengelolaan yang lebih tertib. Pembinaan memberi ruang bagi kelompok untuk meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan cara kerja, sedangkan fasilitasi mendukung pelaksanaan kegiatan sehari-hari. Kombinasi dukungan tersebut membantu bank sampah menjalankan perannya secara lebih mantap di lingkungan setempat. Bagi kelompok, penguatan kapasitas menjadi bagian penting agar kegiatan pemilahan dapat terus dilakukan dan manfaatnya dirasakan oleh warga yang terlibat.
Dukungan serupa juga dirasakan Bank Sampah Beo Asri. Direktur kelompok tersebut, Sri Widowati, menyampaikan bahwa perusahaan memberikan pembinaan, pelatihan, serta bantuan sarana dan prasarana. Berbagai bentuk dukungan itu ditujukan untuk memperkuat kapasitas kelompok dalam menjalankan pengelolaan sampah. Sri berharap pendampingan dan fasilitas tersebut dapat berlanjut, sehingga bank sampah memiliki kesempatan untuk terus berkembang. Keberlanjutan dukungan, menurut harapan kelompok, dapat membantu mereka meningkatkan kemampuan dalam mengelola kegiatan dan memperluas manfaatnya bagi masyarakat. Selain mendukung pengelolaan lingkungan, perkembangan bank sampah juga diharapkan berkontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan warga. Harapan tersebut menegaskan bahwa penguatan kelompok memerlukan proses berkelanjutan, mulai dari peningkatan pengetahuan hingga tersedianya sarana yang menunjang aktivitas mereka.
Menurut Kitty Andhora, pengelolaan minyak jelantah tidak dapat berhasil hanya dengan menyediakan tempat pengumpulan. Keterlibatan aktif masyarakat diperlukan agar warga memahami pentingnya memilah dan menyimpan minyak bekas pakai, lalu menjadikannya bagian dari kebiasaan sehari-hari. Peran warga di tingkat rumah tangga menjadi dasar bagi upaya pengumpulan yang berjalan konsisten. Karena itu, inisiatif pengelolaan jelantah perlu disertai pendampingan berkelanjutan, sehingga masyarakat memperoleh dukungan untuk mempertahankan kegiatan dan mengembangkan pemahaman mengenai manfaatnya. Akses penyaluran hasil pengumpulan juga menjadi unsur penting: warga perlu mengetahui ke mana minyak yang telah dihimpun dapat disalurkan agar proses tidak berhenti setelah jelantah terkumpul.
Pandangan tersebut sejalan dengan apresiasi Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka saat berkunjung ke Kilang Cilacap pada Senin (26/10). Dalam kunjungan itu, ia mengapresiasi keterlibatan ibu-ibu dan komunitas dalam pengelolaan minyak jelantah. Apresiasi terhadap partisipasi ini menyoroti peran kelompok masyarakat dalam menggerakkan inisiatif dari lingkungan terdekat. Keterlibatan rumah tangga dan komunitas dapat menjadi penghubung kebiasaan mengelola limbah dengan upaya yang lebih luas, selama warga memperoleh pendampingan dan saluran yang mendukung. Dengan demikian, partisipasi bukan sekadar pelengkap kegiatan, melainkan bagian penting dari keberlangsungan pengumpulan jelantah.
Kitty menilai inisiatif yang bermula di rumah tangga dapat menghubungkan kepedulian terhadap kebersihan lingkungan dengan nilai ekonomi. Minyak bekas pakai yang dikelola dan disalurkan melalui jalur yang tersedia dapat memiliki nilai, sekaligus mendorong warga terlibat dalam kegiatan yang bermanfaat bagi lingkungan. Inisiatif tersebut juga berkaitan dengan inovasi energi nasional, sebagaimana tercermin dalam perhatian terhadap pengelolaan jelantah.
Baca juga: Wujud Kepedulian Lingkungan, Babinsa Sukosewu Dampingi Pemasangan Septic Tank Rumah Warga | Membangun Kedekatan dengan Rakyat: Prajurit Marinir Dukung Ekonomi Mama Papua Pasarkan Hasil Kebun | Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2026: Inovasi dan Pertumbuhan Ekosistem Halal







