Banjir Bandang Rendam Dua Kawasan di Padang, Lebih dari 50 Warga Dievakuasi

oleh -53 Dilihat
oleh
Banjir Bandang Rendam Dua Kawasan di Padang, Lebih dari 50 Warga Dievakuasi

Padang | Banjir bandang melanda dua kawasan di Kota Padang, Sumatera Barat, setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut sejak Sabtu siang, 9 November. Peristiwa itu terjadi di kawasan Kota Panjang Ikua dan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah. Luapan air sungai menyebar ke area permukiman dan membuat sejumlah warga harus meninggalkan rumah untuk mencari tempat yang lebih aman.

Tim SAR gabungan dikerahkan untuk melakukan evakuasi terhadap warga yang terdampak. Lebih dari 50 orang dilaporkan telah dievakuasi dari dua lokasi tersebut. Proses penyelamatan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi arus serta akses menuju rumah-rumah yang terendam. Petugas juga mendata warga yang masih berada di kawasan terdampak, terutama kelompok rentan yang membutuhkan bantuan lebih cepat.

Genangan air merendam permukiman dengan ketinggian lebih dari 50 sentimeter. Air yang mengalir memiliki arus cukup deras sehingga menyulitkan warga untuk melintas secara mandiri. Kondisi air juga berwarna kecokelatan, menunjukkan adanya material lumpur dan endapan yang terbawa dari aliran sungai. Hujan berintensitas tinggi yang berlangsung sejak Sabtu siang diduga menyebabkan debit sungai meningkat hingga meluap ke wilayah sekitar.

Petugas di lapangan terus memantau perkembangan ketinggian air dan kondisi cuaca untuk memastikan evakuasi berlangsung aman. Warga yang berada di sekitar bantaran sungai diimbau meningkatkan kewaspadaan, mengamankan dokumen penting, serta tidak memaksakan diri melintasi arus yang deras. Pemerintah daerah dan unsur penanggulangan bencana juga mengupayakan penanganan terhadap kebutuhan dasar warga yang telah dipindahkan dari rumahnya.

Situasi warga di dua kawasan yang terdampak banjir bandang di Padang menjadi semakin sulit ketika ketinggian air meningkat dalam waktu singkat. Genangan merendam jalan, halaman, dan sejumlah bagian rumah, sehingga warga tidak dapat keluar melalui akses biasa. Sebagian warga memilih bertahan di tempat yang lebih tinggi sambil menunggu bantuan, sedangkan lainnya harus berpindah karena air terus masuk ke bangunan.

Arus yang mengalir deras turut meningkatkan risiko selama proses penyelamatan. Air membawa material dan menutup sebagian jalur yang sebelumnya dapat digunakan untuk evakuasi. Kondisi tersebut membuat warga, termasuk kelompok rentan, membutuhkan bantuan petugas untuk mencapai lokasi yang lebih aman. Lebih dari 50 warga kemudian dievakuasi dari kawasan terdampak dengan menggunakan peralatan dan perahu penyelamatan sesuai kondisi di lapangan.

Komandan Tim Lapangan Kantor Pencarian dan Pertolongan SAR Padang, Tri Desyu Herman, menjelaskan setelah proses evakuasi pada Sabtu malam bahwa warga memerlukan pertolongan karena genangan cukup tinggi dan arus banjir sangat kuat. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa evakuasi tidak semata-mata dilakukan karena rumah warga terendam, tetapi juga karena mereka menghadapi bahaya apabila berusaha menyelamatkan diri secara mandiri.

Petugas harus memperhitungkan kedalaman air, kecepatan arus, serta keamanan jalur sebelum mengevakuasi setiap warga. Dalam keadaan seperti itu, warga diarahkan untuk tetap tenang dan mengikuti instruksi tim penyelamat. Mereka yang telah dievakuasi dibawa menjauh dari aliran banjir menuju tempat yang lebih aman, sementara pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada warga lain yang masih terjebak.

Proses evakuasi warga terdampak banjir bandang di dua kawasan di Padang berlangsung sejak sore hingga malam hari. Petugas bekerja secara bertahap untuk membantu warga melewati aliran air yang menggenangi kawasan tersebut. Dalam pelaksanaannya, tim menggunakan perahu karet sebagai sarana utama untuk menjangkau dan memindahkan warga dari area yang terdampak. Peralatan tersebut digunakan sesuai kebutuhan di lapangan, terutama pada bagian yang tidak mudah dilalui secara langsung oleh warga.

Selain perahu karet, petugas membentangkan tali untuk membantu warga menyeberangi aliran air. Tali berfungsi sebagai pegangan dan penunjang agar proses penyeberangan dapat dilakukan dengan lebih terarah. Penggunaan perahu dan bentangan tali dilakukan secara bersamaan dalam operasi yang berlangsung hingga malam. Dengan cara itu, petugas dapat membantu warga melalui bagian aliran air yang perlu dilewati selama proses evakuasi. Operasi tersebut berhasil mengevakuasi lebih dari 50 orang dari dua kawasan yang terdampak banjir bandang.

Dalam menentukan urutan evakuasi, petugas memprioritaskan kelompok rentan. Anak-anak, perempuan hamil, lanjut usia, serta warga yang sedang sakit menjadi kelompok yang didahulukan untuk mendapatkan bantuan. Prioritas ini diterapkan agar warga yang membutuhkan dukungan lebih besar dapat melewati aliran air dengan bantuan petugas dan peralatan yang tersedia. Seluruh kegiatan dilakukan secara berkelanjutan dari sore sampai malam, hingga jumlah warga yang dievakuasi mencapai lebih dari 50 orang. Rangkaian evakuasi tersebut mencakup penggunaan perahu karet, pemanfaatan tali sebagai pegangan, serta pendampingan bagi kelompok rentan selama penyeberangan.

Selain Kantor SAR Padang, penanganan banjir bandang di dua kawasan tersebut melibatkan personel Polda Sumatera Barat, BPBD, serta sejumlah unsur terkait lainnya. Personel kepolisian diterjunkan untuk membantu proses evakuasi warga yang terdampak, terutama di lokasi dengan genangan cukup tinggi dan akses yang mulai terganggu. Kegiatan itu dipimpin Wakil Kepala Polda Sumbar Brigjen Pol Solihin.

Di lapangan, setiap unsur bekerja secara terkoordinasi sesuai tugas masing-masing. Tim SAR melakukan pencarian dan evakuasi dengan mempertimbangkan kondisi arus serta keselamatan warga, sementara personel Polda Sumbar membantu mengamankan jalur, mendata kebutuhan masyarakat, dan memindahkan warga dari area yang berisiko. BPBD turut mendukung pemantauan situasi, penanganan dampak bencana, serta koordinasi dengan pemerintah daerah dan unsur penanggulangan bencana lainnya.

Koordinasi antartim dilakukan untuk menentukan titik evakuasi, mengatur pergerakan petugas, dan memastikan warga dapat dipindahkan secara bertahap. Dalam situasi banjir, komunikasi petugas di lokasi menjadi bagian penting karena ketinggian air dan kondisi akses dapat berubah. Warga yang membutuhkan bantuan didahulukan, termasuk kelompok rentan yang memerlukan pendampingan selama proses evakuasi.

Petugas juga terus memantau perkembangan genangan dan kondisi lingkungan sekitar. Peralatan serta personel disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing titik, sehingga upaya penyelamatan dapat berlangsung tanpa mengabaikan keselamatan tim maupun masyarakat. Penanganan dilakukan bersama-sama oleh unsur SAR, kepolisian, BPBD, dan pihak lain yang berada di lokasi.

Berdasarkan informasi yang tersedia hingga Sabtu malam, penanganan banjir tidak menimbulkan korban jiwa. Belum ada keterangan resmi mengenai korban jiwa dalam peristiwa tersebut. Pada waktu yang sama, genangan dilaporkan perlahan mulai surut, sementara petugas tetap melakukan pemantauan dan membantu warga yang masih memerlukan evakuasi atau dukungan.