BRIN Rancang Model untuk Memperkirakan Risiko Karhutla hingga Enam Bulan

oleh -100 Dilihat
oleh
BRIN Rancang Model untuk Memperkirakan Risiko Karhutla hingga Enam Bulan

Jakarta | BRIN tengah mengembangkan model perambatan api untuk memperkirakan potensi kebakaran hutan dan lahan. Pengembangan ini menjadi pokok riset yang disampaikan Kepala BRIN Arif Satria. Model tersebut dirancang untuk membantu memperkirakan bagaimana risiko karhutla dapat berkembang, dengan rentang perkiraan hingga enam bulan sebagaimana tercermin dalam rencana pengembangan BRIN. Dalam keterangannya, perhatian riset berada pada perambatan api serta potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Penjelasan ini menempatkan model sebagai upaya antisipasi, bukan laporan bahwa kebakaran tertentu telah terjadi atau prediksi atas lokasi tertentu. BRIN masih mengembangkan model tersebut sebagai bagian dari pekerjaan riset yang diarahkan pada perkiraan risiko karhutla.

Arif menyebut riset tersebut sebagai bagian dari mitigasi karhutla jangka panjang. Dengan demikian, pengembangan model perambatan api berada dalam kerangka upaya BRIN untuk memperkirakan potensi kebakaran dalam jangka waktu yang lebih panjang. Keterangan itu juga mengaitkan arah riset dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Arif menjelaskan bahwa mitigasi jangka panjang tersebut sejalan dengan arahan Presiden. Dalam uraian yang disampaikan, kaitan itu menjadi konteks bagi riset yang sedang dikembangkan BRIN, yakni upaya membangun model untuk memperkirakan risiko karhutla hingga enam bulan. Tidak ada rincian tambahan mengenai cara kerja model, wilayah yang menjadi cakupan, atau hasil pengujian yang disampaikan dalam keterangan tersebut.

Arif menyampaikan keterangan kepada wartawan di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Selasa, 27 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan bahwa BRIN tengah mengembangkan model perambatan api untuk memperkirakan potensi kebakaran hutan dan lahan. Ia juga menegaskan posisi riset tersebut sebagai bagian dari mitigasi karhutla jangka panjang yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Keterangan ini merangkum fokus riset yang sedang dikerjakan BRIN serta tujuan perkiraan yang hendak didukung oleh model, yakni menilai potensi risiko kebakaran hingga enam bulan. Informasi tersebut disampaikan Arif kepada wartawan di lokasi dan waktu tersebut.

Riset BRIN mengenai perambatan api memasuki tahap penting, yakni validasi model. Pada fase ini, peneliti memeriksa apakah pendekatan yang dikembangkan dapat menggambarkan proses penyebaran kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan cara yang sesuai dengan kondisi di lapangan. Validasi diperlukan sebelum kemampuan model dapat dinilai lebih jauh. Karena itu, perkembangan tersebut belum berarti model telah terbukti akurat atau siap digunakan untuk menyusun prediksi operasional.

Pengembangan ini diarahkan untuk mendukung perkiraan potensi karhutla dalam rentang waktu yang lebih panjang, yakni sekitar tiga hingga enam bulan ke depan. Jangka waktu tersebut dapat memberi ruang bagi pihak terkait untuk menyiapkan langkah antisipasi lebih dini apabila risiko kebakaran diperkirakan meningkat. Namun, rentang itu merupakan tujuan pengembangan, bukan hasil prediksi yang sudah dihasilkan dan dipastikan ketepatannya. Model masih perlu melalui pengujian dan evaluasi sebelum kegunaannya dapat ditentukan secara bertanggung jawab.

Arif menilai kemampuan memperkirakan kejadian karhutla jauh sebelum terjadi sebagai hal yang penting. Informasi lebih awal berpotensi membantu perencanaan kesiapsiagaan, termasuk dalam menentukan perhatian terhadap wilayah yang mungkin menghadapi risiko. Meski demikian, nilai praktis informasi tersebut bergantung pada mutu model dan cara hasilnya ditafsirkan. Proses validasi menjadi bagian penting untuk menilai apakah model mampu memberikan gambaran yang relevan, sekaligus memahami batasan yang mungkin memengaruhi hasilnya. Dengan demikian, riset ini masih berada dalam tahap pengembangan, sementara harapan untuk memperkirakan potensi karhutla beberapa bulan sebelumnya menjadi arah yang hendak dicapai, bukan klaim keberhasilan yang telah terkonfirmasi.

BRIN berencana melibatkan sejumlah perguruan tinggi dalam penguatan riset dan pengembangan model untuk memperkirakan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas kajian ilmiah yang dibutuhkan agar prediksi kebakaran hutan dapat disusun dengan lebih baik. Peran perguruan tinggi dipandang penting karena penelitian memerlukan dukungan keilmuan dan pengembangan metode yang terus diuji. Melalui kerja bersama, BRIN berharap kemampuan riset terkait risiko kebakaran dapat diperkuat.

Seperti dijelaskan Arif, kerja sama tersebut berkaitan dengan upaya memprediksi kebakaran hutan. Dengan demikian, keterlibatan perguruan tinggi tidak sekadar memperluas jejaring penelitian, tetapi juga mendukung pengembangan model prediksi yang relevan. Model semacam ini diharapkan dapat membantu memperkirakan potensi kejadian kebakaran, sehingga informasi mengenai risiko dapat disiapkan lebih awal. Penjelasan itu menegaskan bahwa kolaborasi riset diarahkan pada penguatan upaya antisipasi melalui pendekatan ilmiah.

Pengembangan model memerlukan penelitian yang mampu mengolah dan menelaah informasi secara cermat. Dalam proses tersebut, kontribusi dari berbagai lingkungan akademik dapat mendukung pengayaan kajian, sekaligus membantu memperkuat dasar ilmiah yang digunakan untuk menyusun perkiraan. Namun, tujuan utamanya tetap berfokus pada riset prediksi kebakaran hutan, bukan pada penyampaian kepastian bahwa suatu wilayah akan mengalami karhutla. Perkiraan risiko merupakan salah satu masukan untuk memahami kemungkinan kejadian dan mendukung kesiapsiagaan.

Rencana pelibatan perguruan tinggi menunjukkan bahwa BRIN melihat kolaborasi sebagai bagian penting dalam membangun kapasitas penelitian. Penguatan kajian dan model prediksi diharapkan mendukung pemahaman yang lebih baik terhadap risiko kebakaran hutan. Sejalan dengan keterangan Arif, keterlibatan tersebut memiliki kaitan langsung dengan upaya memprediksi kebakaran. Dengan riset yang terus dikembangkan, model dapat menjadi landasan ilmiah untuk memperkirakan risiko dan membantu pihak terkait menyiapkan langkah antisipasi secara lebih terarah.

Di luar penyusunan model untuk memperkirakan risiko kebakaran hutan dan lahan, BRIN telah menjalankan pemantauan titik api secara rutin. Deteksi dilakukan setiap hari dengan memanfaatkan teknologi satelit dan citra satelit. Kegiatan ini memberikan informasi mengenai keberadaan titik api yang dapat menjadi perhatian bagi lembaga-lembaga terkait. Dengan pemantauan harian, data hasil pengamatan dapat disampaikan sebagai bahan untuk ditindaklanjuti oleh pihak yang memiliki peran dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan.

Informasi hasil deteksi titik api tersebut dibagikan kepada lembaga terkait, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Kehutanan. Data itu diteruskan agar dapat digunakan dalam proses tindak lanjut sesuai tugas dan kewenangan masing-masing lembaga. Peran BRIN dalam kegiatan ini mencakup penyediaan informasi dari pemantauan berbasis satelit, bukan mengambil alih tanggung jawab lembaga penerima dalam menentukan langkah berikutnya. Penyampaian informasi menjadi bagian dari dukungan yang telah berjalan dalam pemantauan karhutla.

Arif mengaitkan kegiatan deteksi tersebut dengan kewenangan BRIN di bidang satelit serta pemanfaatan citra satelit. Teknologi dan citra itu digunakan untuk mengamati titik api, kemudian hasilnya disampaikan kepada instansi yang berkepentingan. Penjelasan tersebut menempatkan pemantauan harian sebagai salah satu tugas BRIN yang sudah dilakukan, di samping rencana pengembangan model perkiraan risiko hingga enam bulan. Keduanya merupakan kegiatan yang berbeda: deteksi memberikan informasi mengenai titik api berdasarkan pengamatan, sedangkan model yang dirancang ditujukan untuk memperkirakan risiko. Informasi yang tersedia dalam kegiatan deteksi kemudian dapat diterima oleh BNPB, Kementerian Kehutanan, dan lembaga terkait lainnya untuk ditindaklanjuti sesuai kewenangan mereka. Tidak ada rincian teknis tambahan maupun hasil penanganan yang disampaikan dalam penjelasan mengenai tugas pemantauan ini.

Baca juga: Pentingnya Kepatuhan Korporasi dalam Penanganan Karhutla | Laga Isenmulang Kalteng FC dan Persebaya Surabaya: Tantangan Asap Karhutla | Komandan Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Sinergi Penanganan Karhutla Kalsel dalam Rapat Evaluasi