CPO Menguat ke MYR4.816 per Ton, Ditopang Minyak Kedelai dan Prospek Permintaan

oleh -721 Dilihat
oleh
CPO Menguat ke MYR4.816 per Ton, Ditopang Minyak Kedelai dan Prospek Permintaan

Jakarta | Pada Jumat, 23 Oktober 2026, harga minyak sawit mentah (CPO) melanjutkan penguatan yang telah terlihat pada sesi sebelumnya. Sekitar pukul 11.00 WIB, kontrak CPO tercatat di MYR4.816 per ton, naik 0,50% dibandingkan harga penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan ini menunjukkan bahwa minat beli masih menopang pasar pada awal perdagangan, setelah harga berhasil mengakhiri sesi Kamis di zona positif. Kenaikan intraday tersebut menempatkan CPO sedikit lebih tinggi daripada level penutupan terakhir dan mempertahankan arah pergerakan jangka pendek yang cenderung menguat.

Penguatan pada Jumat mengikuti kenaikan yang terjadi sehari sebelumnya. Pada Kamis, 22 Oktober 2026, CPO ditutup naik 0,52% ke MYR4.792 per ton. Level tersebut lebih tinggi daripada penutupan Rabu, 21 Oktober 2026, yang berada di MYR4.767 per ton. Dengan demikian, harga telah mencatat kenaikan dalam dua sesi berurutan berdasarkan data penutupan dan perdagangan pagi Jumat kembali bergerak di atas level penutupan Kamis. Urutan pergerakan ini memberi gambaran bahwa momentum positif masih bertahan, meskipun data hingga pukul 11.00 WIB belum mencerminkan hasil akhir perdagangan hari tersebut.

Jika penguatan berlanjut hingga penutupan Jumat, CPO berpeluang mencatat kenaikan selama tiga pekan berturut-turut. Namun, peluang tersebut belum dapat dipastikan karena harga masih dapat berubah mengikuti dinamika pasar sepanjang sesi dan faktor-faktor yang memengaruhi transaksi. Untuk sementara, kenaikan ke MYR4.816 per ton menjadi penanda bahwa harga mempertahankan tren positif yang berkembang dalam beberapa pekan terakhir. Pelaku pasar akan mencermati apakah dorongan beli cukup kuat untuk menjaga kenaikan hingga akhir perdagangan, sekaligus melihat perkembangan harga pada sesi-sesi berikutnya sebelum menilai keberlanjutan tren tersebut. Karena itu, data intraday perlu dibaca sebagai gambaran sementara, bukan sebagai konfirmasi bahwa kenaikan mingguan telah tercapai.

Kenaikan harga minyak kedelai di pasar global menjadi salah satu faktor yang menopang pergerakan minyak sawit mentah (CPO). Kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian, China, tercatat naik 1,78%, sementara kontrak minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT), Amerika Serikat, menguat 0,55%. Penguatan pada dua pasar tersebut memberi dukungan bagi sentimen minyak nabati, meskipun pergerakan komoditas di bursa tidak sepenuhnya seragam. Sebagai pembanding, kontrak minyak sawit di Dalian justru melemah 0,19%. Perbedaan arah ini menunjukkan bahwa penguatan harga kedelai dapat menjadi penopang bagi CPO, tetapi tidak serta-merta membuat seluruh kontrak minyak nabati bergerak sejalan pada setiap sesi perdagangan.

Secara umum, harga CPO cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati lain, termasuk minyak kedelai, karena produk-produk tersebut bersaing untuk memenuhi permintaan global. Pembeli dapat mempertimbangkan pilihan minyak nabati berdasarkan harga, ketersediaan, dan kebutuhan pasar. Karena itu, perubahan harga pada satu komoditas dapat memengaruhi daya tarik relatif komoditas lainnya serta membentuk ekspektasi pelaku pasar terhadap permintaan. Ketika minyak kedelai menguat, CPO berpotensi memperoleh dukungan dari perbandingan harga dan dinamika persaingan antarm inyak nabati. Namun, pelemahan kontrak minyak sawit di Dalian menjadi pengingat bahwa faktor pasar lokal dan arah perdagangan masing-masing kontrak juga dapat memengaruhi pergerakan harian.

Sentimen tambahan datang dari prospek ekspor Malaysia. Perusahaan survei kargo memperkirakan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1–20 Oktober 2026 meningkat 58,5% hingga 78,4% dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya. Perkiraan tersebut mengindikasikan pengiriman yang lebih tinggi pada paruh awal Oktober dan dapat memperkuat perhatian pasar terhadap permintaan dari salah satu negara produsen utama. Jika realisasi ekspor mendekati kisaran perkiraan, angka tersebut dapat menjadi faktor pendukung bagi sentimen CPO, bersama kenaikan minyak kedelai di Dalian dan CBOT. Meski demikian, data ekspor perlu dibaca sebagai satu bagian dari gambaran pasar, bukan sebagai kepastian arah harga, karena dinamika minyak nabati lain dan kondisi perdagangan tetap berpengaruh.Harga minyak mentah yang meningkat dapat mengubah perhitungan biaya dan daya tarik berbagai bahan baku energi, termasuk minyak sawit. Pada Kamis, 22 Oktober 2026, harga minyak Brent mencapai level tertinggi sejak Mei. Kenaikan tersebut menyusul serangan kelompok Houthi di Arab Saudi yang memicu kekhawatiran mengenai kemungkinan gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Perkembangan ini menjadi salah satu faktor yang dipantau pelaku pasar komoditas, meskipun dampaknya terhadap harga minyak sawit tidak berlangsung secara otomatis. Pergerakan CPO tetap dipengaruhi pula oleh kondisi produksi, persediaan, serta permintaan dari sektor pangan dan energi.

Ketika minyak mentah lebih mahal, minyak sawit berpotensi menjadi bahan baku yang lebih menarik untuk produksi biodiesel. Bahan bakar nabati berbasis sawit dapat memperoleh daya saing relatif lebih baik apabila biaya energi fosil meningkat, sehingga penggunaannya dalam sektor energi berpeluang tetap kuat. Hubungan ini dapat menopang permintaan minyak sawit, terutama jika kebutuhan biodiesel bertahan pada tingkat tinggi. Namun, harga minyak mentah hanya salah satu unsur dalam pembentukan prospek CPO. Perubahan harga juga bergantung pada perkembangan kebijakan energi, keekonomian pengolahan, serta ketersediaan bahan baku dan produk alternatif. Karena itu, kenaikan Brent memberi dukungan potensial, bukan kepastian bahwa permintaan atau harga sawit akan terus meningkat.

Prospek pasokan turut menjadi penopang. Malaysian Palm Oil Council (MPOC) memperkirakan harga CPO akan bertahan di atas MYR4.600 per ton pada November 2026. Perkiraan tersebut didukung oleh permintaan ekspor yang menguat, konsumsi biodiesel yang tetap tinggi, dan penurunan produksi musiman. MPOC juga memproyeksikan persediaan minyak sawit Malaysia menyusut dari November 2026 hingga Februari 2027 seiring turunnya produksi. Jika terjadi sesuai perkiraan, penurunan stok dapat memperketat ketersediaan pasokan dan membantu menjaga harga. Kombinasi energi fosil yang lebih mahal, kebutuhan ekspor yang kuat, serta produksi musiman yang melemah menjadi faktor yang perlu dicermati dalam menilai arah pasar CPO. Meski demikian, proyeksi tersebut tetap bergantung pada realisasi produksi, perdagangan, dan permintaan selama periode tersebut.Di tengah dukungan fundamental yang masih cenderung positif, pergerakan harga CPO tetap menghadapi risiko koreksi teknikal. Penguatan ke MYR4.816 per ton tidak dengan sendirinya memastikan tren naik akan berlanjut tanpa hambatan. Pelaku pasar perlu mencermati perkembangan harga, sebab tekanan jual dapat muncul ketika pasar menguji area support maupun resistansi penting.

Dalam analisis teknikal Reuters, Wang Tao menilai koreksi dari MYR4.852 per ton belum selesai. Karena itu, harga berpotensi menguji kembali support di MYR4.736 per ton. Level tersebut merupakan acuan yang patut diperhatikan untuk melihat apakah minat beli mampu menahan pelemahan, bukan jaminan bahwa harga akan berhenti di sana. Perubahan sentimen dan respons pasar terhadap level-level teknikal dapat memengaruhi arah berikutnya.

Wang Tao juga menyebut MYR4.773 per ton sebagai batas penting dalam skenario penurunan. Apabila harga menembus level itu, tekanan jual berpotensi membawa CPO ke kisaran MYR4.706–4.773 per ton. Rentang tersebut menggambarkan kemungkinan area pergerakan, bukan sasaran yang pasti tercapai. Kecepatan dan besarnya koreksi tetap bergantung pada kondisi perdagangan serta keseimbangan pembeli dan penjual.

Di sisi atas, MYR4.836 per ton menjadi salah satu area resistansi penting yang perlu dipantau. Pergerakan melewati atau tertahan di sekitar level tersebut dapat memberi petunjuk mengenai kekuatan momentum jangka pendek, tetapi tidak menghapus risiko perubahan arah.

Baca juga: Trader Premium Menguat, Akses Aset Tokenisasi Kian Diperluas