Dari Aksi Damai hingga Bentrokan: Rangkaian Kericuhan di Kawasan Malioboro

oleh -827 Dilihat
oleh
Dari Aksi Damai hingga Bentrokan: Rangkaian Kericuhan di Kawasan Malioboro

Yogyakarta | Demonstrasi untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda di Yogyakarta pada Rabu, 28 Oktober 2026, awalnya berlangsung damai sebelum situasi berubah ricuh pada sore hingga malam hari. Sejak siang, aksi digelar di sejumlah titik, yaitu Gedung DPRD DIY, kantor Gubernur DIY, serta Titik Nol Kilometer di kawasan Malioboro. Sejumlah elemen masyarakat dan mahasiswa turut mengikuti kegiatan tersebut.

Pada bagian awal aksi, para peserta menyampaikan tuntutan di lokasi demonstrasi. Penyampaian aspirasi itu berlangsung dalam suasana yang kondusif. Mahasiswa kemudian membubarkan diri setelah menyampaikan tuntutan mereka. Informasi mengenai isi tuntutan tidak dirinci, sehingga tidak dapat dijelaskan lebih jauh dalam uraian ini.

Rangkaian kegiatan di beberapa titik tersebut menjadi bagian dari demonstrasi yang berlangsung sejak siang. Lokasi-lokasi itu berada di kawasan pusat pemerintahan dan ruang publik Yogyakarta, termasuk area Malioboro. Kehadiran peserta dari berbagai elemen masyarakat dan kalangan mahasiswa menunjukkan bahwa aksi melibatkan sejumlah kelompok, meski rincian organisasi maupun jumlah pesertanya tidak disebutkan.

Perubahan suasana baru terjadi pada sore hingga malam hari, ketika rangkaian demonstrasi berujung ricuh. Dengan demikian, situasi kondusif pada awal penyampaian aspirasi dan pembubaran mahasiswa merupakan bagian dari kronologi sebelum kericuhan terjadi. Peristiwa tersebut berlangsung pada hari yang sama dengan peringatan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 2026.

Gambaran awal ini menempatkan demonstrasi sebagai kegiatan yang bermula dengan penyampaian tuntutan secara damai di beberapa titik, lalu berkembang menjadi kericuhan pada waktu berikutnya. Penting untuk membedakan fase awal aksi dari perkembangan situasi pada sore dan malam hari: peserta semula menyampaikan aspirasi, mahasiswa membubarkan diri, sementara kabar kericuhan merujuk pada perkembangan setelah suasana awal tersebut. Rincian mengenai pemicu maupun urutan peristiwa yang menyebabkan perubahan situasi tidak tersedia dalam informasi yang menjadi dasar uraian ini.

Setelah aksi dibubarkan, situasi di sekitar Malioboro tidak serta-merta kembali seperti semula. Sebagian peserta memilih meninggalkan lokasi dan kembali ke kampus masing-masing. Namun, sebagian lainnya bergerak ke arah utara, menuju Gedung DPRD Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pergerakan itu membuat perhatian aparat dan warga di kawasan tersebut tertuju pada jalur menuju gedung. Suasana yang sebelumnya diwarnai pembubaran aksi kemudian berubah, seiring berkumpulnya kelompok peserta di sekitar kompleks DPRD. Informasi mengenai arah pergerakan tersebut menggambarkan adanya dua pilihan di peserta setelah aksi berakhir: pulang ke kampus atau melanjutkan perjalanan ke utara. Pada tahap ini, kelompok yang menuju gedung menjadi bagian dari rangkaian peristiwa berikutnya.

Sekitar pukul 18.00 WIB, kelompok yang bergerak ke utara merangsek ke area Gedung DPRD DIY. Pada waktu yang berdekatan, kericuhan mulai pecah di kawasan Malioboro. Menurut keterangan sumber, massa sempat terbagi dalam dua kelompok, masing-masing berada di sisi selatan dan sisi utara gedung DPRD DIY. Pembagian posisi itu menjadi gambaran situasi di sekitar gedung ketika ketegangan meningkat. Peristiwa tersebut berlangsung setelah sebagian peserta aksi lebih dahulu kembali ke kampus, sementara kelompok lain meneruskan langkah menuju gedung. Keterangan mengenai waktu, arah pergerakan, dan posisi massa membantu menyusun urutan kejadian tanpa mengabaikan bahwa keadaan di lapangan berkembang dengan cepat. Kericuhan kemudian terlihat dari tindakan yang terjadi di sekitar gedung dan kawasan sekitarnya.

Dalam insiden awal, massa menembakkan kembang api dan melempar batu. Kedua tindakan itu tercatat dalam rangkaian kericuhan setelah kelompok tersebut merangsek ke gedung. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan alasan di balik tindakan tersebut, sehingga motifnya tidak dapat dipastikan. Karena itu, uraian mengenai kejadian ini perlu dibatasi pada apa yang dilaporkan: sebagian peserta kembali ke kampus, sebagian lainnya berjalan ke utara, lalu kelompok itu berada di sekitar Gedung DPRD DIY ketika kericuhan mulai pecah. Keterangan sumber juga menyebut massa sempat berada di sisi selatan dan utara gedung. Rangkaian ini menunjukkan perubahan suasana dari pembubaran aksi menuju ketegangan di Malioboro, tanpa menambahkan dugaan yang tidak didukung informasi yang tersedia.

Kabid Humas Polda DIY Kombes Pol Ihsan menjelaskan bahwa kericuhan di kawasan Malioboro bermula ketika kelompok massa yang disebutnya tidak dikenal datang dan melemparkan petasan serta kembang api. Menurut Ihsan, benda-benda tersebut juga dilemparkan ke arah petugas parkir di Jalan Perwakilan. Situasi itu kemudian memicu keributan kelompok massa dan petugas parkir. Ihsan menyampaikan keterangan tersebut sebagai penjelasan mengenai awal kejadian, tanpa merinci identitas kelompok yang dimaksud. Ia juga tidak menyebutkan jumlah orang yang datang ataupun memastikan latar belakang mereka. Dengan demikian, keterangan mengenai kelompok tersebut tetap merujuk pada penjelasan pihak kepolisian, bukan identifikasi yang telah dipastikan secara terpisah.

Menurut Ihsan, personel Polda DIY yang berada di sekitar gedung kemudian keluar untuk mengamankan gedung dan berupaya membubarkan keributan agar tidak meluas. Ia mengatakan langkah itu dilakukan setelah terjadi keributan di kelompok massa dan petugas parkir. Namun, menurut penjelasan Ihsan, massa melakukan perlawanan terhadap personel yang berada di lokasi. Dalam keadaan tersebut, anggota polisi kemudian mundur ke dalam gedung. Ihsan tidak menguraikan lebih lanjut bentuk perlawanan yang terjadi atau berapa lama personel berada di luar gedung. Rangkaian ini disampaikan sebagai keterangan kepolisian mengenai upaya pengamanan dan pembubaran keributan pada saat itu, bukan sebagai gambaran tambahan di luar informasi yang diberikan.

Ihsan selanjutnya menyatakan bahwa setelah anggota mundur, massa kembali melempari petugas dengan batu, petasan, dan kembang api. Menurutnya, sejumlah anggota polisi menjadi korban saat berupaya mengamankan aksi tersebut. Keterangan itu tidak disertai rincian mengenai jumlah anggota yang menjadi korban maupun kondisi mereka, sehingga informasi tersebut tidak dapat diperluas dengan dugaan atau angka yang belum disampaikan. Ihsan menempatkan pelemparan tersebut dalam rangkaian kericuhan yang berlangsung setelah upaya personel untuk menjaga gedung dan membubarkan keributan. Seluruh penjelasan mengenai tindakan massa, langkah polisi, dan adanya anggota yang menjadi korban dalam bagian ini merujuk pada pernyataan Kabid Humas Polda DIY tersebut, sebagaimana disampaikan kepada publik mengenai kejadian di sekitar Malioboro.

Memasuki malam, pergerakan massa dan upaya petugas mengendalikan keadaan berlanjut di kawasan Malioboro dan sekitarnya. Ihsan menyebut bahwa sekitar pukul 22.00 WIB, situasi di sekitar Malioboro telah dapat dikuasai kembali. Setelah itu, petugas mendorong massa menjauh dari kawasan tersebut, ke arah Tetek atau Stasiun Tugu Yogyakarta. Keterangan itu menggambarkan perubahan titik konsentrasi massa seiring upaya pengamanan yang dilakukan pada malam hari.

Namun, dorongan tersebut belum mengakhiri ketegangan. Menurut Ihsan, pelemparan masih berlangsung sehingga massa kembali didorong oleh petugas. Ia menyebut posisi mereka kemudian berada di sekitar Mangkubumi, sebelum akhirnya berada di seputaran Tugu Yogyakarta. Perpindahan dari Malioboro menuju kawasan lain itu berlangsung dalam situasi yang masih diwarnai pelemparan. Dengan demikian, upaya menggeser massa tidak serta-merta membuat keadaan mereda, sementara petugas terus berupaya mendorong mereka menjauh dari titik sebelumnya.

Pantauan di lapangan hingga pukul 00.29 WIB menunjukkan massa di kawasan Tugu Yogyakarta belum membubarkan diri. Mereka masih melempar batu dan menembakkan kembang api. Di hadapan massa, polisi yang mengenakan pakaian antihuru-hara terlihat berupaya membubarkan mereka dengan menggunakan tameng. Petugas juga terlihat melepaskan gas air mata.

Baca juga: Rangkaian HUT, Wadan Kodiklat TNI Silaturahmi dengan Mantan Panglima TNI | Kobaran Api Menghantam Bangunan Hamzah Batik di Malioboro | Kebakaran Hebat Melanda Kawasan Gudang di Kosambi