Kabupaten Padang Pariaman | Eli Suarni tinggal di Nagari Malai III Koto, Kecamatan Sungai Garinggiang, Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Di wilayah perbukitan tersebut, keluarganya menjalani keseharian dengan mengandalkan pekerjaan informal yang penghasilannya tidak selalu pasti. Situasi itu membuat pemenuhan kebutuhan rumah tangga perlu diatur dengan cermat, terutama ketika pemasukan terbatas sementara kebutuhan keluarga terus berjalan. Bagi Eli, menjaga agar kebutuhan dasar dan keperluan anak-anak tetap terpenuhi merupakan perhatian penting dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi keluarga ini mencerminkan tantangan yang dapat dihadapi rumah tangga ketika sumber pendapatan bergantung pada pekerjaan fisik dan kesempatan kerja yang tersedia di sekitar tempat tinggal mereka.
Suami Eli bekerja sebagai buruh tani, pekerjaan yang menuntut tenaga untuk menyelesaikan berbagai tugas di lahan pertanian. Namun, ia kerap mengalami asam urat yang kambuh. Keluhan tersebut membuatnya tidak lagi sanggup melakukan pekerjaan berat seperti sebelumnya, sehingga ruang untuk memperoleh penghasilan dari pekerjaan fisik menjadi semakin terbatas. Ketika kesehatan menghambat kemampuan bekerja, keluarga harus menghadapi ketidakpastian pendapatan sekaligus tetap mengupayakan kebutuhan sehari-hari. Bagi rumah tangga yang mengandalkan pekerjaan informal, perubahan kemampuan bekerja dapat berpengaruh langsung pada keadaan ekonomi. Eli dan suaminya perlu mempertimbangkan kondisi tersebut saat mengatur pengeluaran serta memenuhi tanggung jawab keluarga.
Eli dan suaminya memiliki tujuh anak, dan tiga di antaranya masih bersekolah. Kebutuhan pendidikan, termasuk pengeluaran yang berkaitan dengan kegiatan belajar, menjadi salah satu hal yang harus diperhatikan di tengah keterbatasan ekonomi. Eli berharap bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) dapat membantu meringankan biaya pendidikan anak-anaknya sekaligus mendukung perekonomian keluarga. Harapan itu berkaitan dengan upaya menjaga keberlanjutan pendidikan, meskipun pemasukan rumah tangga tidak menentu dan kemampuan suaminya untuk bekerja berat telah berkurang. Bagi Eli, dukungan yang diterima dapat memberi ruang bagi keluarga untuk mengelola kebutuhan dengan lebih baik. Kisah keluarganya menunjukkan bagaimana bantuan sosial diharapkan dapat menopang keluarga yang menghadapi tantangan pekerjaan, kesehatan, dan pendidikan secara bersamaan.
Eli mulai mengupayakan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) pada 2018. Sejak itu, ia mendatangi pendamping PKH untuk menyampaikan keinginannya memperoleh bantuan. Upaya tersebut kemudian membawanya hingga ke kantor wali nagari. Bagi Eli, langkah-langkah itu menjadi bagian dari penantian panjang untuk mendapatkan kepastian mengenai bantuan yang diharapkannya. Namun, setelah berusaha mencari informasi dan mengajukan keperluannya, ia belum segera menerima bantuan. Tahun demi tahun berlalu, sementara harapan untuk terdaftar sebagai penerima PKH tetap ia simpan.
Selama menunggu, Eli kerap mendengar nasihat agar bersabar. Orang-orang di sekitarnya menyampaikan bahwa bantuan itu diyakini akan datang suatu saat. Nasihat tersebut berulang kali ia dengar di tengah masa penantian yang berlangsung lama. Ia pun menjalani waktu tanpa kepastian kapan bantuan tersebut akan diterima. Harapan bahwa bantuan bisa datang kelak menjadi pegangan yang terus menyertai usahanya, meskipun tidak ada waktu pasti yang dapat ia jadikan patokan. Kisah ini menunjukkan bagaimana upaya yang dimulai sejak 2018 berhadapan dengan penantian yang tidak singkat.
Perjalanan Eli pada masa itu berlangsung melalui pertemuan dengan pendamping PKH dan langkah hingga kantor wali nagari. Tidak ada kepastian cepat setelah ia mulai berupaya, sehingga proses menunggu menjadi bagian penting dari pengalamannya. Nasihat untuk bersabar turut mewarnai masa tersebut: bantuan diyakini akan datang suatu saat, tetapi Eli tetap harus melewati hari-hari tanpa kepastian. Dengan demikian, tahun 2018 menandai awal dari rangkaian upayanya mencari akses terhadap PKH, sekaligus awal penantian panjang yang kemudian ia alami. Pengalamannya menggambarkan harapan yang dijaga dari waktu ke waktu, sambil menunggu bantuan yang diharapkan benar-benar datang.
Penantian Eli untuk menerima bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) berakhir pada Oktober 2026, ketika ia akhirnya memperoleh bantuan tersebut. Momen itu menjadi titik penting dalam pengalamannya, setelah sebelumnya ia menunggu sampai bantuan dapat diterima. Informasi mengenai perjalanan Eli ini menyoroti perubahan yang ia rasakan pada proses pengajuan, terutama kemudahan untuk menyampaikan permohonan melalui perangkat yang sehari-hari dapat dibawa dan digunakan.
Menurut Eli, pengajuan PKH kini dapat dilakukan dengan mudah melalui telepon genggam. Pernyataan itu menggambarkan pengalaman pribadinya tentang cara mengajukan bantuan, tanpa perlu menambahkan rincian yang tidak ia sampaikan mengenai tahapan, persyaratan, atau waktu prosesnya. Penggunaan ponsel menjadi bagian yang menonjol dalam ceritanya karena ia membandingkan kemudahan pengajuan yang dirasakannya dengan penantian hingga akhirnya menerima bantuan pada Oktober 2026.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa bagi Eli, perubahan pada cara mengajukan bantuan terasa berarti. Ia mengaitkan kemudahan proses dengan kemungkinan mengajukan melalui telepon genggam, sementara penerimaan PKH menandai berakhirnya masa tunggunya. Kedua hal itu dapat disampaikan sebagai bagian dari kisah Eli, bukan sebagai gambaran yang berlaku bagi setiap keluarga. Proses dan pengalaman warga lain tidak dapat disimpulkan hanya dari pengalamannya. Karena itu, kisah ini berfokus pada apa yang Eli sampaikan: bantuan PKH akhirnya ia terima pada Oktober 2026, dan ia menilai pengajuan kini mudah dilakukan lewat ponsel. Penekanan tersebut menjaga kisah tetap dekat dengan pengalaman yang tersedia, sekaligus memperlihatkan perubahan yang dirasakan Eli tanpa mengklaim bahwa semua warga di perbukitan menghadapi proses serupa atau memperoleh hasil pada waktu yang sama.
Kemudahan yang dirasakan dalam pendaftaran bantuan sosial berkaitan dengan digitalisasi perlindungan sosial, atau Perlinsos Digital. Program Kementerian Sosial ini dikembangkan melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital. Pemanfaatan layanan digital menjadi bagian dari upaya menyediakan proses pendaftaran yang dapat dilakukan melalui perangkat ponsel, sehingga warga tidak harus memulai pengajuan hanya dengan mendatangi kantor. Dalam pengalaman Eli, akses melalui ponsel menjadi penting karena ia tinggal di kawasan perbukitan. Meski demikian, pendaftaran tetap memerlukan sejumlah persiapan identitas dan tahapan pemeriksaan. Persyaratan tersebut perlu dipenuhi agar informasi yang dimasukkan dapat diperiksa melalui mekanisme yang disediakan dalam layanan.
Sebelum mendaftar, warga perlu menyiapkan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai dokumen identitas. Mereka juga perlu mengaktifkan Identitas Kependudukan Digital (IKD), yang menjadi bagian dari persiapan untuk menggunakan layanan. Selain data kependudukan, pendaftar diminta mencantumkan ID pelanggan PLN. Nomor pelanggan tersebut termasuk informasi yang harus tersedia ketika mengisi pendaftaran. Tahap berikutnya mencakup verifikasi wajah, sehingga pendaftar perlu mengikuti proses pemeriksaan identitas tersebut. Dengan demikian, persiapan tidak hanya berkaitan dengan membuka layanan di ponsel, tetapi juga memastikan dokumen dan informasi yang diminta telah tersedia. KTP, IKD aktif, ID pelanggan PLN, dan verifikasi wajah merupakan persyaratan yang disebutkan dalam proses pendaftaran Perlinsos Digital.
Langkah-langkah tersebut menggambarkan bagaimana proses pendaftaran bantuan sosial memadukan penggunaan perangkat digital dengan pemeriksaan identitas. Kolaborasi Kementerian Sosial bersama kementerian dan lembaga lain, termasuk Kementerian Komunikasi dan Digital, menjadi konteks bagi pengembangan layanan ini. Bagi calon pendaftar, memahami persyaratan sejak awal dapat membantu mereka menyiapkan hal-hal yang diperlukan sebelum menjalani proses melalui ponsel. Namun, pengalaman setiap orang dapat berbeda, dan uraian ini berfokus pada persyaratan yang disebutkan serta pengalaman Eli. Ia menyampaikan tanggapan sederhana setelah menjalani proses pendaftaran tersebut: menurut Eli, prosesnya terasa sangat mudah. Penilaiannya itu mencerminkan pengalaman pribadi Eli dalam menggunakan layanan, tanpa menjadi klaim mengenai hasil atau dampak program secara lebih luas.
Baca juga: Kecelakaan Mobil Rombongan Keluarga di Depok: 13 Korban Luka | Tempat Menarik untuk Liburan Keluarga di Jakarta | Mencari Kabar Keluarga Hendro Kacung, Warga Tasikmadu Tuban Diharapkan Mengenali







