Kabupaten Deli Serdang | Sebanyak 32 santri dan santriwati Pondok Pesantren Mazilah Darussalam dibawa ke fasilitas kesehatan setelah diduga mengalami keracunan. Para santri tersebut kemudian mendapat perawatan di tiga rumah sakit. Salah satu fasilitas yang disebutkan adalah Rumah Sakit Madani, sedangkan dua rumah sakit lainnya berada di kawasan Saentis, Deli Serdang. Informasi ini menjadi perhatian karena melibatkan puluhan penghuni pesantren sekaligus.
Hingga informasi mengenai perawatan tersebut disampaikan, dugaan keracunan belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan resmi mengenai penyebab kondisi para santri. Belum ada keterangan yang memastikan sumber paparan atau faktor pemicu kejadian. Karena itu, istilah “diduga” penting digunakan saat menjelaskan peristiwa ini, sembari menunggu keterangan lebih lanjut dari pihak berwenang maupun fasilitas kesehatan yang menangani pasien.
Perawatan di tiga rumah sakit menunjukkan bahwa para santri memperoleh penanganan di beberapa lokasi, termasuk Rumah Sakit Madani dan dua fasilitas kesehatan di kawasan Saentis. Namun, rincian mengenai pembagian pasien di masing-masing rumah sakit, kondisi terkini mereka, serta pemeriksaan yang dilakukan belum dijelaskan dalam informasi yang tersedia. Tidak tepat untuk menyimpulkan tingkat keparahan atau perkembangan kesehatan seluruh pasien tanpa keterangan medis yang dapat dikonfirmasi.
Peristiwa ini terjadi setelah peringatan Hari Santri, tetapi hubungan kegiatan tersebut dan dugaan keracunan belum dipastikan. Waktu kejadian saja tidak cukup untuk menetapkan penyebab, sehingga informasi mengenai makanan, minuman, maupun kemungkinan faktor lain perlu menunggu hasil pemeriksaan. Data yang telah diketahui sejauh ini adalah jumlah santri yang dibawa untuk mendapat perawatan dan lokasi rumah sakit yang menangani mereka. Pembaruan resmi dapat membantu menjelaskan kondisi pasien serta hasil penelusuran penyebab secara lebih akurat. Sementara itu, kabar yang beredar sebaiknya disampaikan dengan kehati-hatian, tanpa mengubah dugaan menjadi kepastian atau menambahkan rincian yang belum terverifikasi. Dengan demikian, publik dapat mengikuti perkembangan kasus berdasarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, sekaligus memberi ruang bagi proses pemeriksaan dan penanganan medis berjalan sebagaimana mestinya.
Para santri dari salah satu pondok pesantren di Deli Serdang mengikuti rangkaian peringatan Hari Santri Nasional yang digelar di Kantor Bupati Deli Serdang pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan tersebut juga dihadiri perwakilan dari sekitar 70 pondok pesantren. Para peserta berangkat dari pesantren pada pagi hari untuk mengikuti agenda peringatan bersama rombongan dari berbagai lembaga pendidikan keagamaan di wilayah itu.
Pimpinan pesantren, Ustaz Fahrul Yusuf, mengatakan rombongan berangkat sekitar pukul 06.00 WIB. Setelah mengikuti kegiatan, para peserta menerima makan siang yang disediakan Pemerintah Kabupaten Deli Serdang. Makanan tersebut dibagikan sekitar pukul 12.00 WIB kepada para santri yang hadir. Menurut Fahrul, ketika makanan dibagikan dan dikonsumsi, para santri belum menyampaikan adanya kejanggalan atau keluhan yang berkaitan dengan hidangan tersebut.
Suasana pada saat makan siang berlangsung tanpa tanda yang langsung menimbulkan kekhawatiran bagi rombongan. Para santri melanjutkan kegiatan dan perjalanan mereka setelah acara, sementara gejala baru dirasakan beberapa jam kemudian. Keterangan mengenai waktu makan dan kemunculan keluhan itu menjadi bagian dari urutan peristiwa yang disampaikan pihak pesantren, seiring penanganan terhadap dugaan keracunan yang dialami sejumlah peserta.
Sekitar waktu Magrib, beberapa santri mulai mengeluhkan mulas serta rasa tidak nyaman pada tubuh. Keluhan tersebut muncul setelah mereka kembali dari kegiatan Hari Santri, dan kemudian menjadi perhatian pihak pesantren. Waktu kemunculan gejala yang berselang beberapa jam dari makan siang dicatat sebagai informasi penting dalam penelusuran kejadian. Meski demikian, keterangan awal tersebut belum dengan sendirinya memastikan penyebab keluhan. Pemeriksaan lebih lanjut diperlukan untuk mengetahui apakah gejala para santri berkaitan dengan makanan yang dikonsumsi saat acara atau faktor lain. Pihak terkait dapat mencocokkan waktu konsumsi, jenis makanan, serta kondisi para peserta yang mengalami keluhan sebagai bagian dari proses penanganan dan klarifikasi. Kronologi ini menjelaskan bahwa tidak ada keluhan yang dilaporkan saat makan siang berlangsung, sedangkan rasa mulas dan tidak nyaman mulai dirasakan pada malam hari, sekitar waktu Magrib.
Kecurigaan pengurus terhadap kondisi para santri menguat menjelang pagi pada Jumat (23/10/2026). Saat waktu salat Subuh berjemaah tiba, tidak ada santri yang datang ke masjid. Situasi tersebut berbeda dari yang diharapkan pengurus, sehingga mereka berupaya memastikan keadaan para santri di asrama. Tidak hadirnya seluruh santri pada waktu itu menjadi tanda yang mendorong pengurus untuk segera memeriksa kamar-kamar asrama, alih-alih menunggu lebih lama tanpa mengetahui penyebabnya.
Ketika memeriksa kamar asrama, pengurus menemukan puluhan santri terbaring lemas. Temuan itu memperkuat kekhawatiran mereka, terutama karena tidak ada santri yang muncul untuk mengikuti salat Subuh berjemaah. Pengurus kemudian mengetahui bahwa jumlah santri yang membutuhkan perhatian mencapai puluhan orang. Peristiwa tersebut berlangsung setelah kegiatan peringatan Hari Santri, dan dugaan keracunan menjadi perhatian setelah para santri ditemukan dalam keadaan lemas. Namun, informasi yang tersedia tidak merinci penyebab pasti kondisi mereka.
Fahrul bersama para guru segera membawa para santri ke fasilitas kesehatan. Keputusan untuk membawa mereka dilakukan setelah kondisi para santri diketahui di kamar asrama. Karena jumlah santri yang harus dirawat cukup banyak, penanganan tidak hanya berlangsung di satu rumah sakit. Para santri kemudian dirawat di tiga rumah sakit. Informasi tersebut menjelaskan langkah yang diambil Fahrul dan para guru, tanpa memerinci kondisi medis masing-masing santri maupun tahapan penanganan setelah mereka tiba di fasilitas kesehatan.
Rangkaian kejadian pada Jumat pagi itu bermula dari tidak adanya santri di masjid untuk salat Subuh, lalu berlanjut dengan pemeriksaan kamar asrama dan ditemukannya puluhan santri yang terbaring lemas. Setelah itu, Fahrul dan para guru membawa mereka mencari perawatan, dan para santri dirawat di tiga rumah sakit karena jumlahnya. Dengan demikian, perhatian pengurus terhadap ketidakhadiran santri berjemaah menjadi awal terungkapnya keadaan tersebut. Keterangan yang ada hanya menyebut dugaan keracunan serta langkah membawa dan merawat para santri, tanpa rincian lebih lanjut mengenai kondisi kesehatan mereka.
Setelah menerima kabar mengenai santri yang mengalami keluhan kesehatan, Fahrul berupaya menghimpun informasi melalui grup WhatsApp pengurus pesantren. Dari percakapan di grup tersebut, ia menerima laporan dari sejumlah pengurus lain yang menyebut anak didik mereka juga mengalami keluhan serupa. Keluhan itu muncul setelah para santri menyantap hidangan dalam acara peringatan Hari Santri yang sama. Informasi tersebut menjadi perhatian karena laporan datang dari beberapa pesantren, bukan hanya dari lingkungan tempat Fahrul bertugas. Meski demikian, laporan yang beredar di pengurus itu masih berupa keterangan awal dan belum dapat memastikan hubungan hidangan acara dengan kondisi kesehatan para santri.
Dalam keterangannya, Fahrul menyoroti ikan nila yang dibagikan sebagai salah satu lauk dalam hidangan tersebut. Ia mengatakan ikan itu tampak berlendir dan mengeluarkan sedikit bau yang menurutnya tidak sedap ketika dibagikan. Kondisi tersebut menimbulkan kecurigaan di kalangan pengurus, terutama setelah sejumlah santri dilaporkan mengalami gejala serupa. Namun, pengamatan terhadap tampilan dan aroma makanan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa ikan nila menjadi penyebab gangguan kesehatan. Pihak pesantren menegaskan bahwa dugaan tersebut masih perlu ditelusuri dan tidak seharusnya diperlakukan sebagai kesimpulan sebelum ada hasil pemeriksaan yang berwenang.
Kepastian mengenai penyebab keluhan masih menunggu pemeriksaan medis terhadap para santri serta uji laboratorium resmi terhadap sampel makanan, apabila tersedia.
Baca juga: Puluhan Siswa Terkena Keracunan, Operasional Dapur SPPG Ditangguhkan | Meriahkan Peringatan Puputan Badung ke-220 dengan Pertunjukan Seni Kolosal







