Jakarta | Egy Maulana Vikri mengatakan bahwa kepercayaan pada diri sendiri menjadi pegangan penting ketika ia menjalankan perannya bersama tim nasional Indonesia. Ia berusaha untuk tidak menyerah dan selalu memberikan yang terbaik, apa pun kesempatan bermain yang diterimanya. Hal itu disampaikan Egy saat ditemui di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Rabu. Menurutnya, sikap tersebut membantunya tetap siap dan fokus, termasuk ketika harus menunggu kesempatan dari bangku cadangan. Bagi Egy, setiap menit di lapangan merupakan peluang untuk membantu tim, sehingga ia berupaya memaksimalkan tugas yang diberikan pelatih dan menjaga kontribusinya bagi perjuangan Indonesia.
Di FIFA ASEAN Cup 2026 pada awal bulan ini, kesempatan bermain Egy memang terbatas. Ia tampil dalam dua pertandingan dengan total waktu 36 menit. Namun, status sebagai pemain pengganti tidak menghalanginya untuk memberi kontribusi penting dalam perjalanan Indonesia meraih kemenangan atas Bangladesh dan Thailand. Kehadirannya di lapangan menjadi bagian dari upaya tim menjaga permainan dan mengejar hasil yang dibutuhkan. Egy menilai, kesiapan untuk masuk kapan saja merupakan hal penting bagi seorang pemain. Karena itu, ia berusaha tetap menjaga konsentrasi sepanjang pertandingan, sekalipun tidak memulai laga sejak menit pertama.
Kesempatan tersebut juga menjadi wujud kepercayaan pelatih John Herdman kepada Egy. Ia menjawab kepercayaan itu dengan menjalankan instruksi dan berusaha memberikan dampak saat diturunkan. Egy tidak mengukur perannya hanya dari lamanya waktu bermain, tetapi dari usaha yang dapat ia berikan untuk kepentingan tim. Sikap percaya diri, pantang menyerah, dan bekerja maksimal menjadi prinsip yang ia pegang ketika menghadapi persaingan di skuad. Kontribusinya dalam dua laga itu memperlihatkan bahwa pemain pengganti pun dapat mengambil bagian penting dalam hasil tim. Bagi Egy, yang terpenting adalah tetap siap, memanfaatkan peluang, serta membantu Indonesia meraih kemenangan bersama.
Dalam pertandingan melawan Bangladesh, Egy Maulana Vikri memberikan kontribusi penting setelah masuk pada menit ke-73. Kehadirannya di lapangan menjadi bagian dari rangkaian serangan Indonesia pada fase akhir pertandingan. Ketika memperoleh kesempatan untuk mengirim bola ke depan, Egy memilih umpan lambung yang diarahkan ke ruang kosong. Umpan tersebut tidak ditujukan sekadar untuk mempertahankan penguasaan bola, tetapi membuka peluang bagi rekan setim untuk melanjutkan serangan.
Bola kiriman Egy mengarah kepada Ole Romeny, yang kemudian berada dalam posisi untuk meneruskannya. Dari rangkaian permainan itu, Mitchell Baker mencetak gol pada menit-menit akhir. Dengan demikian, peran Egy terlihat pada proses terciptanya gol, melalui ketepatan membaca ruang dan mengirim bola ke area yang dapat dimanfaatkan. Umpan tersebut menjadi penghubung pergerakan serangan dan penyelesaian akhir, sekaligus membantu Indonesia menambah gol ketika pertandingan mendekati penutup.
Gol itu memastikan Indonesia melangkah ke final setelah meraih kemenangan 9-2 atas Bangladesh. Urutan kejadian tersebut menunjukkan bahwa kontribusi pemain pengganti dapat tetap berarti meskipun waktu bermainnya terbatas. Egy masuk pada menit ke-73, lalu memberikan umpan yang memulai rangkaian menuju gol Baker; hasilnya, Indonesia memastikan tempat di partai puncak. Dalam konteks perjalanan menuju final, momen itu menjadi salah satu kontribusi Egy yang menonjol. Umpan lambungnya memperlihatkan keputusan yang tepat pada saat peluang muncul, sementara gol yang tercipta menegaskan dampak langsung dari rangkaian serangan tersebut. Indonesia pun menutup pertandingan dengan kemenangan besar dan melanjutkan langkah ke final. Peran Egy dalam momen itu bukan sebagai pencetak gol, melainkan sebagai pemain yang menyediakan bola bagi Ole Romeny di ruang kosong, sebelum serangan berujung pada penyelesaian Baker. Rangkaian singkat tersebut menjadi penentu bagi langkah Indonesia menuju final.
Dalam final melawan Thailand, Egy Maulana Vikri kembali memulai pertandingan dari bangku cadangan. Ia baru masuk pada menit ke-101, ketika Indonesia sedang berusaha mengejar ketertinggalan dan waktu pertandingan semakin terbatas. Situasi tersebut menuntut para pemain pengganti untuk segera menyesuaikan diri dengan tempo laga sekaligus membantu tim menjaga peluang meraih gelar. Egy menjalankan perannya dengan tenang, terutama saat mendapat kesempatan menguasai bola di tengah tekanan lawan.
Salah satu kontribusi pentingnya terjadi dalam rangkaian serangan yang kemudian menghasilkan gol penyeimbang Indonesia. Setelah menerima bola, Egy tidak terburu-buru mengambil keputusan. Ia mampu menahan penguasaan bola sejenak, menjaga situasi tetap terkendali, lalu mengirimkan operan kepada Rizky Ridho. Keputusan sederhana itu membantu Indonesia melanjutkan serangan pada momen yang krusial. Bola kemudian bergerak dalam rangkaian permainan yang berujung pada gol Elkan Baggott pada menit ke-116.
Gol tersebut mengubah skor menjadi 2-2 dan menjaga peluang Indonesia tetap terbuka hingga akhir pertandingan. Peran Egy dalam proses itu bukan sebagai pencetak gol, melainkan sebagai pemain yang ikut membangun serangan melalui ketenangan dan operan yang tepat. Dalam pertandingan dengan tekanan tinggi, kemampuan mempertahankan bola dan memilih rekan yang berada dalam posisi lebih baik dapat menjadi bagian penting dari terciptanya peluang. Kontribusi seperti itu juga menunjukkan bahwa dampak seorang pemain tidak selalu tercermin melalui gol atau assist yang tercatat.
Setelah skor imbang bertahan, pertandingan berlanjut ke adu penalti. Indonesia akhirnya keluar sebagai juara, menyelesaikan final yang berlangsung menegangkan dengan hasil bersejarah bagi tim. Rangkaian aksi Egy sebelum gol penyeimbang menjadi salah satu momen penting yang membantu Indonesia tetap bertahan dalam persaingan. Meski ia masuk sebagai pengganti pada babak tambahan, kontribusinya memperlihatkan nilai keputusan yang tenang ketika tim membutuhkan respons cepat. Gol Elkan Baggott memastikan skor kembali imbang, sedangkan kemenangan Indonesia ditentukan setelah laga berlanjut ke adu penalti.
Menanggapi pujian atas kontribusinya, Egy Maulana Vikri tidak menempatkan dirinya sebagai satu-satunya sosok yang pantas mendapat sorotan. Ia menilai keberhasilan tim lahir dari kerja bersama seluruh pemain dan anggota tim, sehingga penghargaan atas kemenangan itu selayaknya dibagikan kepada semua pihak yang telah berjuang. Para suporter juga, menurutnya, layak menerima pujian karena terus memberikan dukungan selama perjalanan tim. Bagi Egy, gelar tersebut bukan milik satu pemain, melainkan hasil usaha kolektif yang patut dirayakan bersama.
Egy mengungkapkan rasa syukur karena dapat ikut membawa Indonesia menjadi juara. Prestasi itu terasa istimewa mengingat gelar senior tersebut menjadi yang pertama bagi Indonesia dalam kurun sekitar 35 tahun. Dalam pernyataannya, Egy memperkirakan penantian itu berlangsung selama 30-an tahun. Perbedaan penyebutan rentang waktu tersebut sama-sama menggambarkan betapa lama gelar di level senior dinantikan. Karena itu, kemenangan ini memiliki arti lebih luas daripada sekadar hasil pertandingan: gelar tersebut menjadi momen bersejarah bagi tim dan para pendukung sepak bola Indonesia.
Bagi Egy, pencapaian ini juga memiliki makna pribadi yang mendalam. Ia menyebut menjadi juara bersama tim nasional sebagai impian yang telah ia miliki sejak kecil, dan menilai keberhasilan tersebut sebagai pencapaian terbaiknya bersama Indonesia di semua kelompok umur. Sebelumnya, ia pernah mengantarkan Garuda Muda meraih medali perunggu SEA Games 2021 di Hanoi, Vietnam. Pengalaman itu menjadi bagian penting dalam perjalanan kariernya, tetapi gelar juara kali ini membawa kebanggaan tersendiri karena terwujud bersama tim senior. Dengan sikap rendah hati, Egy mengajak seluruh pemain dan suporter merayakan hasil kerja keras bersama. Kemenangan itu sekaligus menjadi pengingat akan panjangnya perjalanan menuju puncak dan kuatnya arti sebuah cita-cita yang akhirnya tercapai.







