Gempa M6,0 di Papua Nugini Terasa hingga Boven Digoel, Jayapura, dan Merauke

oleh -381 Dilihat
oleh
Gempa M6,0 di Papua Nugini Terasa hingga Boven Digoel, Jayapura, dan Merauke

Jayapura | Gempa tektonik bermagnitudo 6,0 mengguncang wilayah Kiunga, Papua Nugini, pada Kamis, 29 Oktober 2026, pukul 10.26.48 WIB. Informasi awal tersebut menyebutkan pusat gempa berada di darat, di kawasan Papua Nugini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kemudian memperbarui analisis kekuatan gempa menjadi magnitudo 5,9 dengan kedalaman 42 kilometer. Perbedaan angka magnitudo dapat terjadi ketika lembaga memperbarui pengolahan data dari jaringan pemantauan seismik.

Berdasarkan pembaruan BMKG, episenter berada pada koordinat 5,68° Lintang Selatan dan 141,88° Bujur Timur. Titik tersebut terletak sekitar 171 kilometer tenggara Oksibil, Papua Pegunungan. Keterangan mengenai jarak dan arah ini membantu menunjukkan posisi sumber gempa relatif terhadap wilayah di Indonesia, meskipun pusatnya berada di sisi Papua Nugini. Lokasi darat dan kedalaman yang tercatat merupakan unsur penting dalam membaca karakter awal kejadian tersebut.

Kiunga berada di wilayah barat Papua Nugini, dekat perbatasan dengan Indonesia. Karena letak episenter berada tidak jauh dari kawasan perbatasan, getaran gempa dilaporkan terasa hingga sejumlah daerah di Tanah Air, termasuk Boven Digoel, Jayapura, dan Merauke. Wilayah-wilayah tersebut berada pada jarak yang berbeda dari sumber gempa, sehingga pengalaman getaran dapat bervariasi menurut lokasi. Informasi awal mengenai gempa biasanya merangkum waktu kejadian, magnitudo, kedalaman, dan koordinat episenter sebelum analisis lanjutan tersedia.

Data yang diperbarui BMKG perlu dibedakan dari angka magnitudo awal: laporan awal menyebut M6,0, sedangkan hasil analisis berikutnya mencatat M5,9. Keduanya merujuk pada kejadian yang sama pada pukul 10.26.48 WIB, bukan dua gempa terpisah. Dengan demikian, rincian utama yang dapat digunakan adalah gempa tektonik di darat, berpusat di sekitar Kiunga, pada kedalaman 42 kilometer, dengan episenter sekitar 171 kilometer tenggara Oksibil. Pemutakhiran parameter merupakan bagian dari proses verifikasi informasi seismik.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto menjelaskan bahwa karakter gempa ditentukan melalui analisis lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya. Episenter merupakan titik di permukaan bumi yang berada tepat di atas sumber gempa, sedangkan hiposenter adalah lokasi awal terjadinya pelepasan energi di dalam bumi. Berdasarkan posisi sumber dan kedalaman tersebut, BMKG menggolongkan gempa berkekuatan magnitudo 6,0 di Papua Nugini sebagai gempa dangkal. Klasifikasi ini menggambarkan letak sumber gempa yang relatif dekat dengan permukaan, bukan ukuran kekuatan guncangannya.

Menurut Wijayanto, gempa tersebut dipicu oleh aktivitas sesar aktif. Sesar adalah bidang atau zona rekahan di kerak bumi yang memungkinkan blok-blok batuan bergerak terhadap satu sama lain. Ketika tegangan yang terakumulasi di sepanjang zona itu dilepaskan secara tiba-tiba, energi merambat sebagai gelombang seismik dan dapat dirasakan di berbagai wilayah. Kedalaman sumber, kondisi geologi setempat, serta jarak dari sumber ikut memengaruhi seberapa kuat guncangan dirasakan di permukaan. Karena itu, laporan guncangan di sejumlah daerah tidak semata-mata ditentukan oleh magnitudo, tetapi juga oleh karakter sumber dan jalur rambat gelombang.

Hasil analisis mekanisme sumber BMKG menunjukkan bahwa gempa ini memiliki mekanisme pergerakan sesar geser atau strike slip. Pada mekanisme tersebut, dua bagian kerak bumi bergerak mendatar secara relatif, saling bergeser di sepanjang bidang sesar. Arah gerakan dapat berbeda-beda, bergantung pada orientasi bidang sesar dan tekanan tektonik yang bekerja; keterangan mekanisme ini menjelaskan jenis pergerakannya, bukan dengan sendirinya menunjukkan dampak tertentu. Wijayanto mengaitkan hasil analisis tersebut dengan aktivitas sesar aktif di kawasan sumber gempa. Dengan demikian, penjelasan BMKG menguraikan dua hal utama: sumber gempa berada pada kedalaman dangkal dan energi dilepaskan melalui pergerakan mendatar sesar geser. Informasi tersebut membantu menerangkan karakter kejadian, sementara pemantauan lanjutan tetap diperlukan untuk menilai perkembangan aktivitas kegempaan setelah gempa utama. BMKG menyampaikan karakter sumber berdasarkan analisis seismik yang tersedia, tanpa mengubah klasifikasi gempa dangkal maupun mekanisme strike slip yang teridentifikasi dalam kajian awal lembaga tersebut secara ilmiah.Laporan mencatat getaran gempa dirasakan di tiga wilayah Indonesia yang disebutkan, dengan intensitas berbeda. Boven Digoel mengalami getaran pada skala III MMI, sedangkan Kota Jayapura dan Merauke berada pada skala II MMI. Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa tingkat getaran yang dirasakan tidak sama di setiap lokasi. Informasi ini menggambarkan pengalaman warga di wilayah-wilayah tersebut, bukan laporan mengenai kerusakan atau dampak lain. Karena itu, rincian yang tersedia terbatas pada intensitas dan ciri getaran yang dirasakan di dalam rumah maupun pada benda ringan yang digantung.

Di Boven Digoel, intensitas III MMI berarti getaran terasa nyata di dalam rumah. Sensasinya menyerupai getaran yang muncul ketika sebuah truk melintas di dekat tempat tinggal. Gambaran tersebut membantu menjelaskan bagaimana guncangan dirasakan oleh penghuni rumah, tanpa menyatakan adanya akibat tertentu pada bangunan atau lingkungan. Laporan intensitas ini membedakan pengalaman di Boven Digoel dari dua wilayah lain yang disebutkan, yang tercatat pada skala lebih rendah. Tidak ada rincian tambahan mengenai lokasi tertentu di dalam wilayah tersebut, jumlah orang yang merasakan gempa, ataupun kondisi setelah getaran terjadi.

Sementara itu, di Kota Jayapura dan Merauke, getaran tercatat pada skala II MMI. Pada tingkat ini, guncangan dirasakan oleh beberapa orang dan dapat membuat benda-benda ringan yang digantung bergoyang. Deskripsi tersebut menjadi penanda utama intensitas yang dilaporkan di kedua kota itu. Laporan tidak menyebutkan adanya benda jatuh, kerusakan, kepanikan, atau dampak lain, sehingga hal-hal tersebut tidak dapat disimpulkan dari keterangan yang tersedia. Dengan demikian, catatan mengenai wilayah Indonesia berfokus pada tiga lokasi: getaran terasa nyata seperti truk melintas di Boven Digoel, sementara beberapa orang merasakan guncangan dan melihat benda ringan bergoyang di Kota Jayapura serta Merauke. Angka MMI yang dicantumkan merangkum perbedaan tingkat getaran yang dirasakan, bukan ukuran kerusakan.

Hasil pemodelan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan bahwa gempa bermagnitudo 6,0 di Papua Nugini tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Informasi tersebut disampaikan berdasarkan analisis terhadap parameter gempa yang tercatat. Dengan demikian, gempa yang getarannya dirasakan hingga sejumlah wilayah di Indonesia itu tidak menunjukkan ancaman tsunami menurut hasil pemodelan BMKG. Masyarakat tetap disarankan mengikuti informasi resmi apabila terdapat perkembangan lebih lanjut.

BMKG juga menyampaikan bahwa hingga pukul 10.55 WIB, pemantauan belum menunjukkan adanya gempa susulan. Kondisi ini mengacu pada hasil pengamatan sampai waktu tersebut dan dapat diperbarui seiring berlangsungnya pemantauan. BMKG akan terus memantau aktivitas gempa susulan setelah peristiwa utama, termasuk perkembangan data yang tercatat oleh jaringan pemantauan. Informasi terbaru akan disampaikan kepada pemangku kepentingan dan masyarakat melalui kanal komunikasi resmi, sehingga warga dapat memperoleh keterangan berdasarkan data yang terverifikasi.

BMKG mengimbau masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu atau kabar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Warga yang berada di sekitar bangunan yang mengalami retak atau kerusakan akibat gempa diminta menjauhi bangunan tersebut demi mengurangi risiko apabila terjadi kerusakan lanjutan. Pemeriksaan kondisi bangunan sebaiknya dilakukan dengan mengutamakan keselamatan dan mengikuti arahan pihak berwenang setempat. Untuk mengetahui informasi mengenai gempa, kemungkinan aktivitas susulan, maupun pembaruan lainnya, masyarakat diminta merujuk kanal komunikasi BMKG yang terverifikasi. Langkah ini membantu memastikan informasi yang diterima bersumber dari lembaga resmi dan mengurangi penyebaran kabar yang belum terkonfirmasi.

Baca juga: Aksi Kemanusiaan Di Laut Lepas, KRI WSH-991 Evakuasi 11 Warga Papua Nugini