IHSG Terkoreksi 1 Persen, Lima Saham Menguat Lebih dari 17 Persen

oleh -89 Dilihat
oleh
IHSG Terkoreksi 1 Persen, Lima Saham Menguat Lebih dari 17 Persen

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada akhir sesi pertama perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Indeks berada di level 5.384,97, turun 52,28 poin atau setara dengan 1 persen dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Pergerakan tersebut menempatkan IHSG di bawah level acuan pada jeda perdagangan siang, dengan data yang mencerminkan kondisi indeks hingga berakhirnya sesi pertama hari itu.

Selama sesi pertama, IHSG bergerak dalam rentang 5.349 hingga 5.453. Dengan demikian, selisih titik tertinggi dan terendah indeks pada sesi tersebut mencapai 104 poin. Level 5.453 menjadi posisi tertinggi yang tercatat selama perdagangan pagi, sedangkan 5.349 merupakan posisi terendahnya. Pada saat sesi berakhir, indeks berada di kedua batas tersebut, yakni di 5.384,97. Rentang ini menggambarkan dinamika pergerakan indeks sepanjang sesi, sementara angka penutupan menunjukkan posisi terakhir yang tercatat sebelum perdagangan berlanjut.

Aktivitas perdagangan hingga penutupan sesi pertama tercatat melibatkan volume sebanyak 18,57 miliar saham. Nilai transaksi mencapai Rp7,59 triliun, dengan frekuensi perdagangan sebanyak 1.143.355 kali. Ketiga angka tersebut memberikan gambaran mengenai jumlah saham yang berpindah tangan, total nilai transaksi, serta banyaknya transaksi yang berlangsung selama periode yang dilaporkan. Data ini merupakan catatan aktivitas pasar hingga jeda sesi pertama, bukan keseluruhan perdagangan pada hari tersebut. Informasi yang tersedia juga tidak menyebutkan faktor pemicu tertentu di balik pelemahan IHSG, sehingga penurunan indeks ini dapat dicatat berdasarkan perubahan poin, persentase, level penutupan, rentang pergerakan, dan aktivitas perdagangan yang terukur saja.

Tekanan pada perdagangan saham tercermin dari luasnya pergerakan emiten yang berakhir negatif. Sebanyak 474 saham melemah, jauh lebih banyak dibandingkan 189 saham yang menguat. Sementara itu, 129 saham tercatat stagnan. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa koreksi tidak hanya terjadi pada sejumlah saham tertentu, tetapi tersebar pada mayoritas saham yang diperdagangkan. Jumlah saham yang turun juga melampaui gabungan saham yang naik dan tidak berubah, sehingga menggambarkan dominasi tekanan jual di pasar.

Sejalan dengan pelemahan mayoritas saham, indeks LQ45 turun 0,95 persen. Penurunan ini memperlihatkan bahwa tekanan juga menjangkau saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid yang menjadi konstituen indeks tersebut. Kondisi itu berlangsung bersamaan dengan koreksi IHSG sebesar 1 persen, sebagaimana tercermin dalam pergerakan pasar pada hari perdagangan ini. Dengan demikian, pelemahan indeks utama dan LQ45 memperkuat gambaran bahwa sentimen negatif meluas di berbagai kelompok saham, meski tingkat penurunan masing-masing indeks tidak sama.

Seluruh sektor yang tercatat berakhir melemah. Sektor teknologi mengalami koreksi paling dalam, yakni 2,21 persen. Berikutnya, sektor infrastruktur turun 1,6 persen, sektor kesehatan melemah 1,22 persen, sektor perindustrian terkoreksi 1,2 persen, dan sektor transportasi turun 1,18 persen. Urutan tersebut menunjukkan besarnya tekanan pada sektor-sektor yang kinerjanya dirinci, dengan teknologi berada di posisi terlemah. Tidak ada rincian angka untuk sektor lain dalam data yang tersedia, sehingga besaran penurunannya tidak dapat dipastikan. Namun, keterangan bahwa seluruh sektor berada di zona merah menegaskan bahwa pelemahan pasar berlangsung lintas sektor, bukan hanya terkonsentrasi pada satu bidang usaha.

Di tengah koreksi IHSG sebesar 1 persen pada sesi perdagangan yang dibahas, sejumlah saham justru bergerak berlawanan arah dengan pasar. Lima emiten mencatat kenaikan harga lebih dari 17 persen, dengan PT Andira Agro Tbk (ANDI) menjadi pemimpin daftar. Saham ANDI naik 21,43 persen ke Rp34 per saham. Pergerakan tersebut menempatkan ANDI di posisi teratas di saham yang disebut dalam daftar penguat pada hari itu. Kenaikan terjadi saat indeks acuan melemah, sehingga memperlihatkan perbedaan arah pergerakan sebagian saham individual dan pasar secara keseluruhan. Data harga ini merujuk khusus pada sesi perdagangan yang dibahas dan bukan gambaran perubahan untuk periode lain.

Di urutan berikutnya, PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK) menguat 18,18 persen ke Rp13 per saham. PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI) juga mencatat kenaikan, sebesar 17,81 persen, sehingga harganya mencapai Rp344 per saham. Kedua saham tersebut melengkapi daftar penguat dengan kenaikan di atas 17 persen. Persentase perubahan menunjukkan besarnya kenaikan harga pada sesi tersebut, sementara harga yang dicantumkan merupakan harga saham pada akhir perdagangan yang dibahas. Perbandingan ini memberikan gambaran mengenai saham-saham yang bergerak paling kuat di tengah tekanan pada indeks.

Selanjutnya, PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) naik 17,65 persen ke Rp440 per saham. PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) berada di posisi kelima, dengan kenaikan 17,56 persen ke Rp1.975 per saham. Dengan demikian, urutan penguatan dalam daftar ini dimulai dari ANDI, disusul BTEK, PGLI, SEMA, dan KONI. Seluruh persentase kenaikan serta harga yang disebutkan mengacu pada sesi perdagangan yang sama dalam laporan ini. Pergerakan positif kelima saham tersebut berlangsung ketika IHSG terkoreksi 1 persen, tetapi data satu sesi tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab kenaikan ataupun menunjukkan arah harga pada perdagangan berikutnya.

Pergerakan bursa Asia memberikan konteks tambahan di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Sejumlah indeks di kawasan berakhir melemah, meskipun arah perdagangan tidak seragam. Shanghai Composite turun 0,07 persen, sedangkan Straits Times Singapura terkoreksi 0,3 persen. Nikkei Jepang juga turun 0,11 persen. Di sisi lain, Hang Seng Hong Kong mencatat penguatan 0,61 persen. Perbedaan arah tersebut menunjukkan bahwa perdagangan di pasar regional berlangsung bervariasi, dengan sebagian indeks bergerak turun dan sebagian lainnya menguat.

Data indeks regional itu dapat dibaca sebagai gambaran kondisi perdagangan di Asia pada hari yang sama, bukan sebagai penjelasan langsung atas pergerakan IHSG. Koreksi indeks domestik dan perubahan di bursa-bursa lain merupakan catatan pasar yang perlu ditempatkan secara terpisah. Di indeks yang disebutkan, penurunan Shanghai, Straits Times, dan Nikkei tergolong terbatas, sementara kenaikan Hang Seng menjadi pengecualian dari kecenderungan melemah tersebut. Karena besaran perubahan tiap indeks berbeda, angka-angka itu juga menggambarkan variasi kinerja pasar di kawasan.

Di pasar saham Indonesia, tekanan terlihat pada sejumlah emiten yang masuk daftar saham dengan penurunan terdalam. Sebanyak 13 saham menyentuh batas auto rejection bawah (ARB) dan tercatat dalam daftar top losers. ARB merupakan batas penurunan harga saham yang ditetapkan dalam mekanisme perdagangan bursa. Dua contoh emiten dalam daftar tersebut adalah PT Bank Permata Tbk (BNLI), yang turun 6,96 persen ke harga Rp1.605, serta PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), yang melemah 6,93 persen ke Rp2.820. Angka penurunan dan harga tersebut menunjukkan tekanan jual yang terjadi pada kedua saham dalam perdagangan itu. Daftar saham yang menyentuh ARB menambah gambaran mengenai tekanan pada sejumlah emiten, sementara pergerakan indeks Asia tetap beragam. Dengan demikian, catatan pasar pada sesi tersebut mencakup koreksi IHSG, variasi kinerja bursa regional, dan sejumlah saham domestik yang mencapai batas penurunan harian. Informasi yang tersedia menyebutkan kedua emiten tersebut sebagai contoh dari kelompok saham yang menyentuh ARB; jumlah keseluruhannya tercatat sebanyak 13 saham dalam daftar top losers.