IHSG Terkoreksi 14,91%, Sepuluh Saham Ini Justru Menguat Sepekan

oleh -102 Dilihat
oleh
IHSG Terkoreksi 14,91%, Sepuluh Saham Ini Justru Menguat Sepekan

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah tajam selama perdagangan 12–16 Oktober 2026. Indeks ditutup pada level 5.185,10 pada akhir pekan, turun dari penutupan pekan sebelumnya yang berada di 6.093,75. Dengan demikian, IHSG terkoreksi 14,91% dalam periode perdagangan tersebut, atau berkurang 908,65 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya.

Pergerakan itu membawa IHSG ke bawah level 6.000 dan menandai penurunan yang cukup besar sepanjang pekan. Angka penutupan 5.185,10 menjadi gambaran posisi indeks setelah rangkaian perdagangan dari Senin hingga Jumat. Sementara itu, level 6.093,75 merupakan acuan penutupan pada pekan sebelumnya. Perbandingan kedua posisi tersebut menunjukkan besarnya perubahan indeks dalam rentang satu pekan perdagangan.

Pada Jumat, 16 Oktober 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) menerapkan penghentian sementara perdagangan atau trading halt. Kebijakan tersebut mulai berlaku pada pukul 08.58.00 waktu Jakarta Automated Trading System (JATS), setelah koreksi IHSG mencapai 8%. Penghentian ini terjadi pada sesi perdagangan hari terakhir dalam periode yang mencatat pelemahan mingguan sebesar 14,91%.

Trading halt pada pagi itu menjadi bagian penting dari catatan perdagangan IHSG pekan tersebut. Waktu penerapannya tercatat pada pukul 08.58.00 JATS, dengan ambang penurunan indeks sebesar 8% sebagai kondisi yang mendahului penghentian sementara. Pada penutupan hari Jumat, indeks berada di level 5.185,10. Data itu melengkapi gambaran pergerakan mingguan, dari posisi akhir pekan sebelumnya di 6.093,75 hingga penutupan periode 12–16 Oktober 2026.

Dengan angka-angka tersebut, IHSG menutup pekan di bawah 6.000 setelah mengalami koreksi 14,91%. Peristiwa trading halt pada 16 Oktober juga tercatat sebagai salah satu perkembangan utama pada hari perdagangan terakhir periode itu. Informasi mengenai perubahan indeks dan waktu penghentian perdagangan menunjukkan skala serta urutan peristiwa, tanpa menguraikan faktor yang melatarbelakangi penurunan.

Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang pekan tersebut turut tercermin pada sejumlah indikator pasar modal. Kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI) menyusut 14,43% menjadi Rp9.157 triliun, dari Rp10.701 triliun pada pekan sebelumnya. Penurunan ini menunjukkan berkurangnya nilai gabungan saham tercatat di bursa seiring koreksi harga yang meluas. Dengan demikian, tekanan pasar tidak hanya terlihat pada pergerakan indeks, tetapi juga pada nilai keseluruhan perusahaan terbuka yang tercermin dalam kapitalisasi pasar.

Dari sisi aktivitas perdagangan, rata-rata volume transaksi harian turun 5,22% menjadi 44,10 miliar saham, dibandingkan 46,53 miliar saham pada pekan sebelumnya. Namun, penurunan volume tersebut tidak diikuti pelemahan berarti pada nilai transaksi. Rata-rata nilai transaksi harian hanya terkoreksi 0,07%, dari Rp16,23 triliun menjadi Rp16,21 triliun. Perbedaan ini menggambarkan bahwa nilai dana yang berpindah tangan relatif bertahan, meskipun jumlah saham yang diperdagangkan berkurang. Perubahan indikator tersebut memberi gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi perdagangan selama IHSG berada dalam tekanan.

Sementara itu, rata-rata frekuensi transaksi harian justru meningkat 2,46%, dari 1,67 juta kali menjadi 1,72 juta kali. Kenaikan jumlah transaksi ini menandakan perdagangan berlangsung lebih sering, walaupun volume saham dan kapitalisasi pasar turun. Aktivitas yang lebih ramai belum cukup untuk mengimbangi sentimen negatif yang menekan harga, dan karena itu tidak serta-merta menandakan penguatan pasar. Arus dana investor asing juga menjadi perhatian. Pada pekan tersebut, investor asing mencatat aksi jual bersih senilai Rp3,19 triliun, lebih besar daripada Rp2,44 triliun pada pekan sebelumnya. Peningkatan jual bersih itu menambah tekanan di tengah koreksi indeks dan penurunan kapitalisasi. Secara keseluruhan, data mingguan memperlihatkan respons pasar yang beragam: nilai transaksi relatif stabil dan frekuensi meningkat, tetapi volume, kapitalisasi, serta minat bersih investor asing melemah. Indikator-indikator tersebut dapat membantu pembaca menilai bahwa koreksi bursa berlangsung bersama perubahan intensitas perdagangan dan arus modal, bukan hanya penurunan angka IHSG.

Selama pekan perdagangan yang menjadi sorotan, seluruh sektor saham di Bursa Efek Indonesia berada di zona merah. Pelemahan yang menyeluruh ini menunjukkan bahwa tekanan pasar tidak hanya terkonsentrasi pada satu kelompok usaha, tetapi dirasakan di berbagai sektor. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan koreksi IHSG sebesar 14,91%, meskipun sejumlah saham individual justru mampu mencatat penguatan dalam periode yang sama.

Sektor energi mengalami penurunan terdalam, yakni 19,27%, sehingga menjadi sektor dengan kinerja paling lemah pada pekan tersebut. Di belakangnya, sektor infrastruktur turun 19,09%, sementara sektor industri melemah 17,96%. Penurunan yang besar pada ketiga sektor ini memperlihatkan kontras yang kuat dengan saham-saham tertentu yang bergerak naik, sekaligus menegaskan bahwa kinerja indeks sektoral tidak selalu mencerminkan pergerakan setiap emiten secara seragam.

Sektor basic materials turun 17,15%, sedangkan consumer nonsiklikal terkoreksi 11,46%. Consumer siklikal melemah 17%, dan perawatan kesehatan turun 13,26%. Sementara itu, sektor keuangan mencatat penurunan 10,56%, lebih ringan dibandingkan beberapa sektor lain yang mengalami koreksi dua digit lebih tinggi.

Di kelompok sektor lainnya, properti dan real estate turun 8,89%, menjadi penurunan terkecil di sektor-sektor yang tercatat. Teknologi melemah 11,09%, sedangkan transportasi dan logistik terkoreksi 15,5%. Dengan demikian, daftar kinerja sektor selama sepekan mencakup rentang penurunan dari 8,89% hingga 19,27%.

Gambaran ini memberi konteks penting bagi pembaca saat membandingkan pelemahan pasar secara luas dengan kenaikan beberapa saham individual. Ketika seluruh sektor mencatat penurunan, saham yang menguat dapat menjadi pengecualian di tengah tekanan, bukan cerminan bahwa sektor tempatnya berada ikut menguat. Karena itu, perubahan indeks sektoral dan kinerja masing-masing saham perlu dibaca secara terpisah. Perbedaan tersebut membantu menjelaskan bagaimana beberapa emiten tetap mampu bergerak positif meskipun hampir seluruh kelompok industri mengalami koreksi mingguan. Data sektoral juga menunjukkan bahwa intensitas penurunan tidak sama: energi, infrastruktur, dan industri merosot paling tajam, sedangkan properti dan real estate mencatat koreksi lebih terbatas.

Di tengah koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 14,91%, sejumlah saham justru mencatat kenaikan selama sepekan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), penguatan tertinggi dipimpin oleh PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIME). Harga saham BIME naik 96,26% menjadi Rp4.200 per saham, dari posisi sebelumnya Rp2.140. Pergerakan tersebut menempatkannya di urutan teratas dalam daftar saham dengan kenaikan mingguan terbesar.

Posisi kedua ditempati PT Tifico Fiber Indonesia Tbk (TFCO), yang menguat 94,17% ke Rp2.000 per saham dari Rp1.030. Berikutnya, PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) mencatat kenaikan 63,30%, dengan harga mencapai Rp1.780 dibandingkan Rp1.090 pada awal periode. Ketiga saham tersebut menjadi penguat paling menonjol dalam daftar sepuluh emiten yang bergerak berlawanan arah dengan pelemahan indeks.

Di urutan selanjutnya, ALDO naik 62,92% ke Rp1.955 dari Rp1.200 per saham. PT Bank of India Indonesia Tbk (BSDW) menguat 56,25% ke Rp5.625, setelah sebelumnya berada di Rp3.600. ARTA mencatat kenaikan 33,71% menjadi Rp2.340 dari Rp1.750. Sementara itu, PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk (AKKU) naik 29,63% ke Rp105 per saham, dibandingkan harga sebelumnya Rp81.

Melengkapi sepuluh besar TRUK menguat 24.