Jakarta | Indonesia dan Tanzania menjalankan uji klinik Prevention of Household Tuberculosis with Optimal Nutrition (PHOTON) untuk meneliti apakah dukungan nutrisi tertentu dapat membantu mencegah penularan tuberkulosis (TB) di lingkungan rumah tangga sekaligus mendukung penanganan pasien. Studi ini berfokus pada suplementasi mikronutrien dan balanced protein, atau protein seimbang, sebagai pendekatan yang akan dievaluasi bersama upaya kesehatan yang telah berjalan. Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono menyampaikan bahwa penelitian tersebut direncanakan berlangsung selama lima tahun. Jangka waktu itu memberi ruang bagi para peneliti untuk mengumpulkan dan menilai data sesuai rancangan uji klinik, bukan sekadar mengandalkan pengamatan singkat.
PHOTON berangkat dari pertanyaan tentang kemungkinan peran status gizi dalam menghadapi TB. Mikronutrien dan protein merupakan bagian dari asupan yang dibutuhkan tubuh, tetapi keberadaan kebutuhan tersebut tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa suplemen tertentu mampu mencegah infeksi atau memperbaiki hasil pengobatan. Karena itu, penelitian ini akan menguji manfaat intervensi nutrisi secara terstruktur. Hasilnya diharapkan dapat menjelaskan apakah suplementasi yang diteliti memberi dampak bermakna bagi orang yang berisiko atau sedang menjalani penanganan TB, serta dalam kondisi seperti apa pendekatan tersebut mungkin relevan. Pertanyaan penelitian, kelompok peserta, dan ukuran hasil perlu dinilai menurut protokol yang digunakan.
Kolaborasi Indonesia dan Tanzania juga menempatkan studi ini dalam konteks upaya lintas negara untuk memperkuat bukti mengenai TB. Kedua negara akan menjalankan penelitian yang sama-sama mengkaji dukungan nutrisi, sehingga temuan dapat memberi informasi bagi pembahasan kebijakan dan praktik kesehatan di kemudian hari. Namun, PHOTON masih merupakan uji klinik, bukan pengumuman bahwa mikronutrien atau balanced protein telah terbukti sebagai pencegahan maupun terapi TB. Penilaian terhadap keamanan, efektivitas, dan manfaat klinis harus menunggu hasil penelitian. Sampai data tersedia, suplementasi tidak semestinya dipandang sebagai pengganti diagnosis, obat antituberkulosis, atau layanan medis. Inti berita ini adalah pengujian ilmiah atas potensi nutrisi, dengan kesimpulan yang baru dapat ditarik setelah studi selesai dan hasilnya ditelaah.
Beban tuberkulosis (TB) di Indonesia menunjukkan mengapa upaya pencegahan, penemuan kasus, dan pengobatan perlu terus diperkuat. Dante menyebut lebih dari satu juta orang di Indonesia jatuh sakit akibat TB setiap tahun. Di balik angka tersebut, sebagian pasien meninggal karena terlambat memperoleh pengobatan atau tidak mendapatkan pengobatan secara maksimal. Situasi ini menegaskan bahwa penanganan TB bukan hanya soal tersedianya layanan, tetapi juga memastikan orang yang sakit dikenali dan memperoleh perawatan yang dibutuhkan.
Tantangan dalam penanganan penyakit ini beragam, termasuk persoalan nutrisi yang turut menjadi perhatian dalam penelitian Indonesia dan Tanzania. Aspek tersebut penting dibahas bersama upaya medis karena beban TB tetap tinggi, sementara keterlambatan menemukan kasus dapat mempersempit kesempatan pasien untuk segera ditangani. Data yang dipaparkan Dante menunjukkan bahwa pada 2025 ditemukan 867 ribu kasus TB di Indonesia. Jumlah itu setara dengan 80 persen dari estimasi, sehingga masih terdapat jarak kasus yang ditemukan dan angka yang diperkirakan. Kesenjangan ini menjadi salah satu alasan penguatan deteksi terus dibutuhkan.
Untuk 2026, pemeriksaan TB disebut semakin baik karena diintegrasikan dengan program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Integrasi tersebut menjadi bagian dari perkembangan upaya pemeriksaan, sementara penjangkauan kontak serumah masih perlu ditingkatkan. Pemeriksaan kontak serumah telah menjangkau 19,7 persen dari target 80 persen. Angka itu menggambarkan ruang yang masih besar untuk memperluas pemeriksaan terhadap orang-orang yang tinggal bersama pasien, sesuai target yang disampaikan.
Dengan demikian, konteks Indonesia memadukan beban penyakit yang besar, kebutuhan menemukan lebih banyak kasus, serta tantangan agar pengobatan berjalan maksimal. Penelitian mengenai peran nutrisi dalam pencegahan dan penanganan TB relevan dalam situasi tersebut, terutama ketika perhatian juga diarahkan pada keterlambatan pengobatan dan hambatan lain dalam layanan. Data temuan kasus dan cakupan pemeriksaan memberi gambaran mengenai pekerjaan yang masih diperlukan, tanpa mengurangi pentingnya memastikan pasien memperoleh perawatan secara memadai.
Studi PHOTON dirancang dengan bertolak dari keterkaitan tuberkulosis (TB), status gizi, dan kondisi sosial ekonomi. Risiko mengalami TB tidak berdiri sendiri: kerentanan terhadap penyakit dapat berhubungan dengan kecukupan asupan gizi serta keadaan sosial yang memengaruhi kesehatan. Atas dasar itu, penelitian ini menguji apakah dukungan nutrisi dapat membantu mencegah TB pada orang-orang yang memiliki paparan dekat terhadap pasien. Principal investigator Rina Agustina menyampaikan bahwa intervensi gizi berpotensi menjadi strategi pelengkap untuk melindungi kelompok berisiko dan mendukung percepatan eliminasi TB. Pendekatan tersebut tidak dimaksudkan menggantikan upaya pencegahan dan penanganan TB yang telah berjalan, melainkan menilai kemungkinan kontribusi tambahan dari suplementasi.
Penelitian melibatkan 78.400 peserta yang merupakan kontak serumah pasien TB, yakni orang yang tinggal bersama seseorang dengan TB dan karena itu menjadi kelompok penting untuk diteliti. Efikasi suplementasi dinilai berdasarkan kemampuannya menurunkan kejadian TB yang terkonfirmasi secara bakteriologis. Cakupan hasil mencakup TB paru maupun TB ekstra paru, sehingga penilaian tidak terbatas pada bentuk penyakit yang menyerang paru-paru. Dengan meneliti kejadian TB pada kontak serumah, studi ini berupaya menghasilkan bukti mengenai manfaat suplementasi dalam konteks risiko paparan di lingkungan rumah tangga.
Peserta dialokasikan ke dalam pendekatan suplementasi yang berbeda untuk dibandingkan dengan kelompok plasebo. Tiga pendekatan yang diuji adalah pemberian vitamin B; kombinasi vitamin B dan multimikronutrien; serta gabungan vitamin B, multimikronutrien, dan balanced energy protein, yaitu dukungan energi dan protein seimbang. Suplemen diberikan selama enam bulan. Periode pemberian ini perlu dibedakan dari masa evaluasi hasil: menurut Rina, manfaat intervensi diharapkan dapat dievaluasi selama 24 bulan. Dengan demikian, pemantauan berlangsung lebih lama daripada fase konsumsi suplemen, agar peneliti dapat menilai kejadian TB dalam rentang pengamatan yang ditetapkan. Perbandingan beberapa formulasi dengan plasebo juga memungkinkan penilaian terhadap kontribusi tiap pendekatan nutrisi, tanpa menganggap sejak awal bahwa satu kombinasi pasti lebih efektif daripada yang lain.
Penelitian PHOTON dijalankan melalui kolaborasi di Indonesia dan Tanzania, dengan kepemimpinan yang disesuaikan pada masing-masing negara. Di Indonesia, studi dipimpin oleh Universitas Indonesia bersama para mitra, sedangkan di Tanzania kepemimpinan berada pada National Institute for Medical Research (NIMR). Kolaborasi lintas negara ini didukung oleh Gates Foundation, Wellcome Trust, dan Novo Nordisk. Dukungan tersebut memungkinkan para peneliti menguji pertanyaan terkait nutrisi dan tuberkulosis (TB) dalam konteks yang berbeda, sembari membangun bukti melalui penelitian klinis. Sampai penelitian menghasilkan temuan, peran nutrisi yang sedang diuji tetap merupakan pertanyaan riset, bukan hasil yang dapat dipastikan.
Dante memandang penelitian ini sebagai upaya memperluas cara penanganan TB. Selama ini, perhatian terhadap penyakit tersebut sering bertumpu pada pengobatan medis; melalui studi ini, para peneliti juga menguji apakah dukungan nutrisi dapat berperan dalam pencegahan maupun penanganan. Pendekatan tersebut tidak menggantikan terapi medis, melainkan menelaah kemungkinan kontribusi aspek gizi bersama intervensi yang telah menjadi bagian dari layanan TB. Menurut Dante, keterlibatan Indonesia dalam penelitian klinis semacam ini juga merupakan kontribusi bagi riset dunia. Selain menambah partisipasi Indonesia dalam kolaborasi internasional, penelitian diharapkan menghasilkan pengetahuan yang relevan bagi upaya memahami kebutuhan pasien dan keluarga mereka.
Rina menyebut studi RATIONS di India sebagai landasan bagi PHOTON. RATIONS, yang hasilnya dipublikasikan di jurnal The Lancet, meneliti dukungan gizi dalam konteks TB.
Baca juga: Dukungan Pemprov Jakarta dalam Penanganan Penyulundupan Kacang Tanah







