Palembang | Masyarakat di sejumlah wilayah Indonesia masih menghadapi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang berlangsung selama beberapa bulan. Asap tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga menurunkan jarak pandang serta berpotensi memengaruhi kesehatan, terutama bagi anak-anak, lanjut usia, dan warga yang memiliki gangguan pernapasan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ancaman karhutla belum berakhir meskipun sebagian wilayah telah memasuki periode berbeda dalam musim kemarau.
Perkembangan titik panas atau hotspot juga belum menunjukkan penurunan yang konsisten. Sebaliknya, indikasi kebakaran semakin tersebar di berbagai daerah, sementara kualitas udara di sejumlah wilayah dilaporkan memburuk. Perubahan arah angin dapat membawa asap dari lokasi kebakaran menuju kawasan permukiman, termasuk daerah yang berada cukup jauh dari sumber api. Situasi ini membuat pemantauan dan penanganan kebakaran perlu dilakukan secara berkelanjutan.
Data Sistem Informasi Deteksi Dini Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) Kementerian Kehutanan mencatat adanya kenaikan titik panas sejak Agustus 2026. Berdasarkan hasil pemantauan satelit Terra/Aqua dengan tingkat kepercayaan tinggi, sekitar 16.000 titik panas terdeteksi sepanjang periode Agustus hingga September. Angka tersebut menggambarkan luasnya indikasi aktivitas panas di berbagai kawasan sekaligus menegaskan perlunya respons cepat terhadap setiap laporan kebakaran.
Memasuki Oktober 2026, indikasi karhutla masih ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia. Titik panas yang terus bermunculan menjadi peringatan bahwa risiko kebakaran tetap tinggi, khususnya di kawasan dengan vegetasi kering, lahan gambut, dan akses pemadaman yang terbatas. Pemerintah daerah, petugas lapangan, serta masyarakat perlu memperkuat pengawasan, mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar, dan segera melaporkan sumber api agar penyebaran asap tidak semakin meluas.
Catatan Sistem Informasi Pengelolaan Hutan dan Lahan (Sipongi) menunjukkan bahwa karhutla masih terindikasi di banyak wilayah Indonesia. Pada periode 1–12 Oktober 2026, tercatat 12.183 deteksi titik panas berkepercayaan tinggi yang tersebar di 33 provinsi. Data tersebut menggambarkan bahwa potensi kebakaran hutan dan lahan belum sepenuhnya mereda, meskipun tahun 2026 semakin mendekati penghujungnya.
Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah deteksi tertinggi dalam catatan tersebut, yakni 3.268 titik. Angka ini menempatkannya jauh di atas sejumlah provinsi lain dan menunjukkan tingginya konsentrasi indikasi panas di wilayah tersebut. Selanjutnya, Kalimantan Barat mencatat 719 titik, Kalimantan Selatan sebanyak 368 titik, dan Kalimantan Timur 312 titik pada periode pengamatan yang sama.
Jika Kalimantan Utara turut diperhitungkan, lima provinsi di Pulau Kalimantan secara keseluruhan mencatat 4.674 deteksi titik panas. Jumlah itu setara dengan sekitar 38 persen dari total nasional selama 1–12 Oktober 2026. Dengan demikian, kawasan Kalimantan menjadi salah satu pusat utama deteksi karhutla di Indonesia pada awal Oktober. Selisih total gabungan empat provinsi yang disebutkan sebelumnya dan akumulasi lima provinsi tersebut menunjukkan adanya 7 titik di Kalimantan Utara. Meski jumlahnya relatif kecil dibandingkan provinsi lain, pencatatan itu tetap memperlihatkan bahwa indikasi kebakaran tersebar lintas wilayah di pulau tersebut.
Sebaran 12.183 titik panas berkepercayaan tinggi di 33 provinsi perlu dibaca sebagai sinyal kewaspadaan, bukan semata-mata sebagai ukuran luas area terbakar. Deteksi satelit dapat menjadi dasar untuk verifikasi lapangan, pemantauan lanjutan, serta penguatan pencegahan dan penanganan, terutama di daerah dengan konsentrasi titik yang tinggi. Rekapitulasi hingga 12 Oktober ini sekaligus menegaskan bahwa risiko karhutla masih perlu mendapat perhatian menjelang akhir tahun.
Persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berlangsung di Pulau Kalimantan. Data deteksi titik panas pada 1–12 Oktober 2026 menunjukkan bahwa wilayah di luar Kalimantan juga mencatat jumlah yang tinggi. Papua Selatan merekam 2.921 deteksi titik panas, sedangkan Sumatera Selatan mencapai 2.376 deteksi. Kedua provinsi tersebut termasuk dalam tiga wilayah dengan jumlah deteksi titik panas tertinggi secara nasional pada periode tersebut.
Di Sumatera Selatan, kondisi udara turut menjadi perhatian. Pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di sejumlah titik di Palembang pada 12 Oktober 2026 menunjukkan konsentrasi PM2.5 dalam kategori berbahaya. Data ini menggambarkan adanya kualitas udara yang memburuk di salah satu wilayah yang mencatat jumlah deteksi titik panas tinggi selama awal Oktober.
Gambaran serupa terlihat dari data IQAir pada tanggal yang sama di sejumlah kota Kalimantan. Indeks kualitas udara di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, berada pada angka 180 dan termasuk kategori tidak sehat. Pada waktu yang sama, Pangkalan Bun, Pontianak, dan Banjarmasin juga mencatat indeks kualitas udara di atas 170, dengan kategori yang sama.
Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa tingginya deteksi titik panas terdapat di beberapa wilayah, baik di Kalimantan maupun di luar pulau tersebut, sementara pemantauan kualitas udara menunjukkan kondisi yang perlu dicermati. Data BMKG di Palembang dan catatan IQAir di sejumlah kota Kalimantan menjadi gambaran perlunya kewaspadaan terhadap kualitas udara di wilayah yang masih memiliki banyak titik panas. Perkembangan situasi dapat berbeda antarwilayah dan antartitik pemantauan, sehingga angka-angka tersebut perlu dibaca sesuai lokasi serta waktu pengukurannya.
Catatan Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan (Sipongi) menunjukkan bahwa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia telah mencapai skala yang luas sepanjang 2026. Pada periode Januari hingga Juli 2026, luas hutan dan lahan yang terbakar tercatat mencapai 202.004,30 hektare. Angka ini meningkat sekitar 69 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, sehingga memperlihatkan kenaikan signifikan hanya dalam tujuh bulan pertama tahun ini.
Data tersebut menggambarkan bahwa tekanan kebakaran terhadap kawasan hutan dan lahan telah meningkat sebelum tahun berjalan berakhir. Besarnya area yang terdampak juga menunjukkan bahwa karhutla tidak hanya tercermin dari jumlah titik panas yang terdeteksi, tetapi turut terlihat melalui luasan wilayah yang terbakar dan tersebar di berbagai daerah. Catatan hingga Juli menjadi salah satu ukuran penting untuk melihat perkembangan kebakaran pada paruh awal 2026.
Namun, angka 202.004,30 hektare itu belum mencakup kebakaran yang terjadi pada Agustus hingga Oktober. Periode tersebut merupakan masa ketika jumlah titik panas mengalami lonjakan di sejumlah wilayah Indonesia. Dengan demikian, data luas lahan terbakar hingga Juli belum menggambarkan keseluruhan area yang terbakar sepanjang 2026 dan masih dapat berubah seiring pemutakhiran pencatatan. Luas kebakaran yang telah dihimpun Sipongi, bersama sebaran titik panas yang terus terdeteksi, menjadi gambaran perkembangan karhutla yang masih berlangsung di Indonesia.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Satgas Karhutla TNI Mediasi Masyarakat dan Korporasi di Melawi | Tragedi Duka: Hilangnya Dua Relawan Karhutla di Kalimantan Tengah

