Kabupaten Bekasi | Situ Rawa Bedeng di Kecamatan Bojongmangu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, mengering setelah wilayah tersebut dilanda kemarau selama enam bulan. Kondisi itu terlihat saat pengamatan pada Senin, 19 Oktober 2026. Situ seluas sekitar delapan hektare tersebut biasanya menampung air hujan dan menjadi salah satu sumber air yang diandalkan warga setempat. Setelah hujan tak turun dalam waktu lama, cekungan yang sebelumnya berisi air kini memperlihatkan dasar yang terbuka dan kering.
Permukaan dasar situ tampak mengeras serta dipenuhi retakan. Di sejumlah bagian cekungan, rumput liar tumbuh di atas tanah yang sebelumnya berada di bawah genangan. Pemandangan tersebut menunjukkan perubahan kondisi kawasan dari tampungan air menjadi hamparan kering. Luasnya area yang terbuka juga membuat kondisi situ terlihat jelas dari lokasi pengamatan, tanpa genangan yang biasanya terkumpul ketika air hujan mengisi cekungan.
Selama ini, Situ Rawa Bedeng berperan dalam memenuhi kebutuhan air warga sekaligus menunjang kegiatan pertanian di sekitarnya. Ketika tampungan mengering, pasokan air yang biasa tersedia dari situ berkurang, sehingga warga kehilangan salah satu tumpuan untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Dampak kekeringan juga dirasakan pada lahan pertanian yang mengandalkan ketersediaan air, terutama ketika kemarau berlangsung panjang. Situasi ini menjadi perhatian karena fungsi tampungan air sangat penting bagi kehidupan masyarakat setempat.
Kondisi pada 19 Oktober itu mencerminkan tekanan kemarau berkepanjangan terhadap sumber air di Bojongmangu. Dasar situ yang retak dan ditumbuhi rumput menjadi penanda bahwa air telah surut hingga bagian cekungan terbuka. Warga kini menghadapi terbatasnya sumber air dari situ, sementara kebutuhan rumah tangga dan pertanian tetap berlangsung. Situ Rawa Bedeng yang memiliki luas sekitar delapan hektare itu sebelumnya menjadi tempat penampungan air hujan; kekeringannya memperlihatkan bagaimana periode tanpa hujan dapat mengganggu fungsi sumber air lokal yang diandalkan masyarakat.
Keringnya Situ Rawa Bedeng setelah kemarau panjang langsung memengaruhi kehidupan warga di sekitarnya. Situ yang sebelumnya menjadi salah satu sumber air kini tidak lagi dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Akibatnya, masyarakat harus mencari cara lain agar kegiatan rumah tangga tetap berjalan, sementara akses terhadap air bersih menjadi lebih sulit.
Kebutuhan mandi, mencuci, dan kakus (MCK) termasuk yang terdampak. Tanpa pasokan air yang memadai, warga tidak dapat menjalankan kegiatan tersebut dengan mudah seperti sebelumnya. Persediaan air juga dibutuhkan untuk berbagai keperluan rumah tangga, sehingga menyusutnya sumber air menambah beban dalam mengatur kebutuhan harian. Kondisi ini membuat ketersediaan air menjadi persoalan penting bagi keluarga yang tinggal di sekitar situ.
Untuk mengatasi keadaan tersebut, sebagian warga mengandalkan distribusi bantuan air bersih dari Pemerintah Kabupaten Bekasi. Bantuan ini menjadi sumber pasokan pengganti ketika situ tidak lagi menyediakan air yang dapat digunakan. Warga perlu memanfaatkan air yang diterima untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga, termasuk keperluan MCK. Ketergantungan pada distribusi bantuan menunjukkan bahwa sumber air setempat belum mampu menopang kebutuhan masyarakat selama kekeringan berlangsung.
Sementara itu, sebagian warga lainnya mencari sumur alternatif. Namun, sumur yang dapat digunakan berada jauh dari permukiman, sehingga upaya memperoleh air mengharuskan mereka menjangkau lokasi di luar lingkungan tempat tinggal. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa dampak kekeringan tidak hanya berupa berkurangnya air, tetapi juga bertambahnya kesulitan untuk mendapatkannya. Warga harus bergantung pada bantuan atau mencari sumber lain agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi.
Situasi ini memperlihatkan besarnya pengaruh kekeringan terhadap aktivitas masyarakat sekitar Situ Rawa Bedeng. Hilangnya sumber air yang dekat membuat pemenuhan kebutuhan sehari-hari tidak lagi berlangsung seperti biasa. Selama kondisi kering bertahan, bantuan air bersih dan sumur alternatif menjadi tumpuan warga untuk memperoleh pasokan bagi keperluan rumah tangga.
Kekeringan Situ Rawa Bedeng tidak hanya mengurangi ketersediaan air bagi warga, tetapi juga mengganggu kegiatan pertanian di sekitarnya. Selama ini, petani mengandalkan air dari situ tersebut untuk mengairi persawahan. Ketika permukaan air menyusut akibat kemarau panjang, pasokan yang dapat digunakan untuk kebutuhan lahan menjadi tidak memadai. Situ yang semestinya berfungsi sebagai sumber air pertanian pun tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan pengairan seperti sebelumnya.
Dalam kondisi tanpa pasokan yang cukup, petani menghadapi kendala untuk melanjutkan penggarapan lahan. Pengolahan sawah dan kegiatan pertanian lain membutuhkan ketersediaan air, sehingga kekurangan air membatasi kemampuan mereka untuk bekerja. Sumber pengairan alternatif yang mencukupi juga tidak tersedia. Akibatnya, petani terpaksa menghentikan aktivitas menggarap lahan, bukan karena kebutuhan pertanian berkurang, melainkan karena air yang diperlukan tidak dapat dipenuhi.
Situasi ini memperlihatkan hubungan langsung keberadaan situ dan keberlangsungan kegiatan pertanian. Bagi petani yang bergantung pada sumber tersebut, menyusutnya air berdampak pada akses terhadap pengairan dan membatasi pekerjaan di persawahan. Tanpa pilihan pasokan lain yang memadai, mereka tidak memiliki cukup air untuk meneruskan penggarapan. Kondisi tersebut menegaskan pentingnya situ sebagai penyangga ketersediaan air bagi pertanian, terutama ketika hujan tidak turun dalam waktu lama. Selama kekeringan masih membatasi pasokan, kemampuan petani untuk mengolah lahan tetap bergantung pada tersedianya air. Karena itu, berkurangnya air di Situ Rawa Bedeng menjadi persoalan yang dirasakan bukan hanya di sekitar badan situ, tetapi juga dalam aktivitas pertanian yang membutuhkan pengairan. Penghentian penggarapan lahan menjadi gambaran konkret dampak kekurangan air terhadap mata pencaharian petani, tanpa perlu mengasumsikan besaran kerugian atau berapa lama kegiatan tersebut akan terhenti.
Pemerintah sebelumnya telah melakukan pengerukan di Situ Rawa Bedeng sebagai upaya meningkatkan kapasitas tampungan air. Pengerukan tersebut ditujukan untuk memberi ruang lebih besar bagi penampungan air di situ, yang menjadi salah satu sumber air saat musim kemarau. Berdasarkan keterangan yang disampaikan, setelah pengerukan, daya tahan air Situ Rawa Bedeng disebut meningkat. Jika sebelumnya persediaan air diperkirakan hanya mampu bertahan sekitar empat bulan selama musim kemarau, setelah pengerukan ketahanannya disebut dapat mencapai sekitar tujuh bulan.
Keterangan mengenai peningkatan daya tahan itu menggambarkan perbandingan kondisi sebelum dan sesudah pengerukan sebagaimana dilaporkan. Angka tersebut merupakan perkiraan lama persediaan air dapat bertahan dalam periode kemarau, bukan keterangan bahwa situ tidak akan mengalami kekeringan. Pada kemarau yang berlangsung selama enam bulan, situ tersebut dilaporkan mengering dan warga kehilangan pasokan air. Informasi itu memperlihatkan keadaan yang terjadi di lapangan, sementara cakupan dampak kekeringan di tingkat kabupaten juga tercatat dalam data wilayah.
Di Kabupaten Bekasi, kekeringan tercatat melanda 373 titik yang tersebar di 55 desa pada 25 kecamatan. Dampak yang dilaporkan mencakup 38.022 keluarga atau sekitar 112.385 jiwa. Data ini menunjukkan luasnya wilayah dan jumlah penduduk yang terdampak pada saat pencatatan, tanpa menjelaskan penyebab lain di luar informasi yang tersedia. Rincian tersebut penting untuk memahami skala kebutuhan air bersih dan jangkauan dampak kekeringan di kabupaten itu. Adapun pengerukan Situ Rawa Bedeng dan perkiraan ketahanan airnya merupakan keterangan tersendiri mengenai tampungan air setempat; angka cakupan kekeringan tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan hubungan sebab-akibat dengan kondisi situ. Dengan demikian, informasi yang dapat disampaikan terbatas pada tujuan pengerukan, perubahan perkiraan daya tahan air yang disebutkan, serta jumlah titik, desa, kecamatan, keluarga, dan jiwa terdampak sebagaimana tercatat.
Baca juga: Ringankan Beban Warga Terdampak Kemarau, Kodim Bojonegoro Kembali Pasok 64.000 Liter Air Bersih ke 4 Kecamatan | Peduli Kemarau Panjang, Kodim Bojonegoro Salurkan 130 Ribu Liter Air Bersih Setiap Hari | Hujan Pertama di Parung Panjang: Harapan baru Setelah Kemarau Panjang







