Kemenpora Ingatkan Pentingnya Karakter di Tengah Kompetisi Coding dan Robotik Anak

oleh -94 Dilihat
oleh
Kemenpora Ingatkan Pentingnya Karakter di Tengah Kompetisi Coding dan Robotik Anak

Tangerang | Kementerian Pemuda dan Olahraga mendorong Codero National Competition (CNC) 2026 menjadi ruang pengembangan pengetahuan, daya saing, dan ketangkasan digital bagi generasi muda. Kompetisi coding dan robotik ini dinilai dapat memberi pengalaman belajar yang relevan dengan perubahan teknologi, sekaligus membuka kesempatan bagi anak-anak untuk menguji gagasan dan kemampuan mereka. Melalui kegiatan semacam ini, peserta tidak hanya berlatih memahami konsep, tetapi juga menerapkannya dalam tantangan yang menuntut pemikiran terstruktur. Pengalaman tersebut dapat membantu mereka mengenali potensi diri, menyusun solusi, dan beradaptasi dengan persoalan baru. Keterampilan digital semakin penting dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia kerja masa depan. Karena itu, ruang belajar yang mendorong anak mencoba, bereksperimen, serta berkolaborasi memiliki nilai strategis. CNC 2026 diharapkan dapat mendukung proses tersebut secara positif, dengan kompetisi sebagai sarana belajar, bukan semata-mata ajang mengejar kemenangan atau penghargaan.

Apresiasi terhadap kompetisi tersebut disampaikan Deputi Bidang Pelayanan Kepemudaan Kemenpora, Hendro Wicaksono, di Tangerang pada Sabtu. Ia menilai penyelenggaraan CNC dapat memberi kontribusi terhadap pengembangan kapasitas anak muda, terutama dalam menghadapi kebutuhan era digital. Kompetisi yang mempertemukan peserta melalui tantangan coding dan robotik mendorong mereka mengasah pengetahuan teknis sekaligus ketangkasan dalam merespons persoalan. Peserta juga berkesempatan belajar menyampaikan gagasan, mengevaluasi hasil, dan memperbaiki rancangan ketika solusi awal belum berhasil. Proses seperti ini dapat membangun kebiasaan belajar yang berkelanjutan serta menumbuhkan rasa percaya diri. Dukungan terhadap kegiatan tersebut mencerminkan pentingnya menyediakan kesempatan yang lebih luas bagi generasi muda untuk berkenalan dengan teknologi dan mengembangkan kemampuan sejak dini. Dengan pendampingan yang tepat, pengalaman berkompetisi dapat menjadi bagian dari proses pendidikan yang bermakna dan mendukung kesiapan anak menghadapi perkembangan teknologi.

Namun, pengembangan kemampuan digital perlu berjalan beriringan dengan pembentukan karakter. Hendro mengingatkan orang tua yang mendampingi anak agar tidak hanya berfokus pada pencapaian teknis atau hasil kompetisi. Sikap seperti disiplin, tanggung jawab, ketekunan, sportivitas, dan kemampuan menghargai orang lain juga penting ditumbuhkan selama anak belajar dan berkompetisi. Orang tua dapat membantu dengan memberi dukungan yang seimbang, menghargai usaha anak, serta menjadikan kekalahan maupun keberhasilan sebagai bahan refleksi. Dengan cara itu, kompetisi menjadi pengalaman untuk belajar, bukan sumber tekanan berlebihan. Perpaduan kecakapan teknologi dan karakter yang kuat diharapkan membentuk generasi muda yang mampu menggunakan pengetahuannya secara bertanggung jawab. CNC 2026 pun berpotensi menjadi salah satu ruang bagi anak untuk tumbuh sebagai pembelajar yang tangguh dan calon inovator unggul, siap berkarya serta memberi manfaat bagi masyarakat di tengah kemajuan digital.

Hendro menilai pengembangan literasi digital dan penguasaan teknologi informasi bagi anak perlu berjalan seiring dengan pembentukan karakter. Kemampuan memahami perangkat, menulis kode, atau merancang robot memang penting, tetapi kecakapan teknis saja belum cukup untuk memastikan teknologi digunakan secara bertanggung jawab. Anak juga perlu dibimbing agar memahami dampak tindakannya terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungan sosial. Karena itu, pendidikan teknologi sebaiknya tidak hanya berfokus pada hasil kompetisi atau kemampuan menghasilkan karya, melainkan juga pada proses belajar, sikap, dan nilai yang menyertainya.

Untuk menjelaskan hubungan tersebut, Hendro menggunakan analogi “man behind the gun”. Perangkat dan teknologi pada dasarnya merupakan alat; manfaat maupun risikonya bergantung pada orang yang menggunakannya. Kecerdasan serta kemahiran digital akan memberi dampak positif apabila ditopang nilai seperti tanggung jawab, disiplin, empati, dan kepedulian sosial. Sebaliknya, kemampuan yang tinggi tanpa pertimbangan etis dapat membuat teknologi digunakan dengan cara yang merugikan. Anak perlu mengenali bahwa keterampilan coding dan robotik bukan semata-mata sarana untuk menang atau memperoleh pengakuan, tetapi juga dapat diarahkan untuk menjawab kebutuhan dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Hendro juga memandang tumbuh kembang anak sebagai proses yang mencakup aspek fisik, kecerdasan, dan jiwa. Ketiganya perlu memperoleh perhatian secara seimbang agar anak berkembang secara utuh. Pendidikan formal memiliki peran berkelanjutan dalam mengasah kecerdasan, memperluas pengetahuan, serta membangun kemampuan berpikir. Namun, perkembangan intelektual tersebut perlu disertai penguatan karakter sebagai pilar dalam menggunakan teknologi. Melalui pembiasaan dan pendampingan, anak dapat belajar menghargai orang lain, bekerja sama, serta mempertimbangkan konsekuensi sebelum bertindak. Dengan demikian, penguasaan teknologi tidak terlepas dari kepedulian sosial. Anak diharapkan tumbuh bukan hanya sebagai pengguna yang cakap, melainkan juga sebagai pribadi yang mampu memilih tujuan penggunaan teknologi dan mengarahkan kemampuannya untuk menghasilkan kontribusi yang berguna bagi lingkungan sekitarnya.

Hendro mengingatkan bahwa kemajuan digital dan keterlibatan anak dalam kompetisi coding maupun robotik perlu diimbangi dengan perhatian terhadap kehidupan sosial mereka. Teknologi dapat membuka ruang belajar dan kreativitas, tetapi penggunaan yang tidak terarah berisiko membuat anak terlalu asyik dengan dunianya sendiri, semakin individualis, atau enggan bergaul. Karena itu, kemampuan digital sebaiknya tumbuh bersama kecakapan berkomunikasi, bekerja sama, dan memahami orang lain. Prestasi dalam bidang teknologi bukan satu-satunya ukuran perkembangan anak; hubungan yang sehat dengan keluarga dan lingkungan juga penting bagi pembentukan karakter.

Orang tua memiliki peran utama menjaga keseimbangan tersebut. Mereka dapat membangun komunikasi yang terbuka, menanyakan kegiatan serta pengalaman anak, dan mengajak anak berinteraksi secara langsung dengan keluarga maupun teman sebaya. Pendampingan bukan semata-mata membatasi waktu di depan perangkat, melainkan membantu anak memahami kapan teknologi bermanfaat dan kapan mereka perlu hadir bagi orang lain. Anak juga perlu diingatkan bahwa manusia tetap membutuhkan sesamanya: gagasan, empati, dan kerja bersama tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh perangkat digital. Dengan dukungan keluarga, minat terhadap sains dan teknologi dapat berkembang tanpa mengesampingkan kepedulian sosial.

Pesan tersebut berkaitan dengan visi Indonesia Emas yang, menurut Hendro, memerlukan pemuda berkarakter, memiliki kepemimpinan kuat, adaptif terhadap perubahan, serta berorientasi sosial. Kualitas itu dapat dibentuk melalui berbagai pengalaman, termasuk belajar, berkompetisi, dan bekerja dalam tim. Kemenpora menyatakan komitmennya untuk mendukung wadah pengembangan minat dan bakat pemuda di bidang sains dan teknologi. Dukungan tersebut mencakup kegiatan yang dinaungi Persatuan Robotik Seluruh Indonesia serta ekosistem e-sport. Pengembangan ruang-ruang ini diharapkan memberi kesempatan bagi generasi muda untuk berinovasi sekaligus belajar disiplin, sportivitas, kepemimpinan, dan kolaborasi. Peran orang tua dan lembaga pendukung tetap diperlukan agar kemajuan teknologi berjalan seiring dengan pembentukan pemuda yang mampu berkontribusi bagi masyarakat.Head of Marketing and Growth Codero, Jesslyn Catherine, menjelaskan bahwa CNC 2026 berlangsung selama dua hari, yakni pada 24–25 Oktober 2026. Kompetisi ini diikuti sekitar 450 anak berusia 4 hingga 17 tahun, mulai dari tingkat taman kanak-kanak (TK) sampai sekolah menengah atas (SMA). Rentang usia dan jenjang pendidikan tersebut menunjukkan bahwa kegiatan dirancang untuk memberi ruang bagi peserta dengan pengalaman serta kemampuan yang beragam.

Selain peserta, penyelenggara memperkirakan ajang ini akan dihadiri sekitar 1.000 pengunjung dan pendamping. Mereka datang dari berbagai daerah, sehingga CNC 2026 tidak hanya mempertemukan sekolah-sekolah di satu wilayah. Peserta tercatat berasal dari Banjarmasin, Yogyakarta, Solo, Surabaya, dan kawasan Jabodetabek. Kehadiran keluarga, guru, serta pendamping turut membentuk suasana kompetisi yang melibatkan komunitas pendidikan dan keluarga.

Dalam kompetisi antarsekolah tersebut, peserta mengikuti 11 kategori yang menguji beragam keterampilan. Cabangnya mencakup coding, robot challenge, speed building, coloring, hingga simulasi modul elektronik berbasis Arduino.

Baca juga: Beri Kuliah Pascasarjana Universitas Pertahanan, Bamsoet Ingatkan Kekuatan Negara Ditentukan Kemampuan Mengelola Konflik dan Menjaga Kepercayaan Publik