Kericuhan Suporter di BIS Bermula dari Saling Ejek hingga 11 Orang Terluka

oleh -93 Dilihat
oleh
Kericuhan Suporter di BIS Bermula dari Saling Ejek hingga 11 Orang Terluka

Kota Serang | Kericuhan suporter terjadi saat pertandingan Persita Tangerang melawan Persija Jakarta di Banten International Stadium (BIS), Kota Serang, pada Sabtu malam, 17 Oktober 2026. Berdasarkan penjelasan Kabid Humas Polda Banten Kombes Pol Maruli Hutapea, ketegangan pertama terpantau pada menit ke-25 babak pertama di sekitar Gate 14. Situasi bermula ketika suporter kedua tim saling melontarkan ejekan saat menyuarakan dukungan bagi tim masing-masing. Polisi menduga ejekan dan provokasi yang muncul ketika yel-yel diteriakkan menjadi pemicu awal keributan tersebut.

Suasana yang semula diwarnai dukungan terhadap kedua kesebelasan kemudian berubah tegang di area tersebut. Yel-yel suporter yang ditujukan untuk menyemangati tim masing-masing disertai saling ejek, sehingga interaksi kelompok pendukung berkembang menjadi perselisihan. Keterangan kepolisian menempatkan kejadian di Gate 14 sebagai titik awal ketegangan, bukan sebagai rangkaian peristiwa yang berlangsung tanpa pemicu. Meski demikian, dugaan mengenai ejekan dan provokasi itu disampaikan sebagai penjelasan awal aparat mengenai bagaimana situasi mulai memanas.

Peristiwa itu juga sempat berdampak pada jalannya pertandingan. Ketegangan di suporter berlangsung ketika laga masih memasuki babak pertama, sehingga kericuhan tidak hanya menjadi persoalan keamanan di area stadion, tetapi turut mengganggu suasana pertandingan. Informasi awal yang disampaikan kepolisian mengaitkan perubahan situasi dengan saling ejek saat kedua kelompok menyuarakan dukungan. Karena itu, momen di Gate 14 pada menit ke-25 menjadi bagian penting dalam memahami urutan awal kejadian di BIS malam itu. Penjelasan tersebut memberi gambaran bahwa keributan bermula dari gesekan verbal di tengah atmosfer pertandingan, sebelum situasi di sekitar lokasi menjadi lebih gaduh. Hingga uraian awal ini, pemicu yang disebut aparat adalah dugaan provokasi melalui yel-yel dan ejekan antarsuporter, sementara dampaknya terlihat pada kelangsungan laga Persita kontra Persija.

Ketegangan di BIS belum sepenuhnya reda setelah insiden awal. Saat pertandingan memasuki jeda babak pertama, keributan kembali terjadi di sekitar area tribun Gate 5, Gate 6, dan Gate 7. Situasi tersebut menunjukkan bahwa suasana di lokasi masih belum sepenuhnya tenang, meskipun insiden sebelumnya telah terjadi. Keributan pada waktu jeda itu berlangsung di area yang berdekatan dengan tribun suporter, sehingga perhatian kembali tertuju pada hubungan antarkelompok yang berada di stadion. Keterangan mengenai peristiwa ini disampaikan oleh Maruli, yang menjelaskan adanya kedatangan sejumlah suporter Persija ke area tribun yang ditempati suporter Persita. Tidak ada keterangan lain yang perlu ditambahkan mengenai pemicu sebelum kedatangan tersebut.

Menurut Maruli, sejumlah suporter Persija mendatangi area tribun yang ditempati suporter Persita ketika jeda babak pertama. Kedatangan itu disertai provokasi. Setelah itu, terjadi gesekan antarkelompok suporter. Keterangan tersebut menjelaskan hubungan kedatangan, provokasi, dan gesekan sebagaimana disampaikan Maruli, tanpa menambahkan dugaan mengenai alasan kedatangan maupun maksud pihak-pihak yang terlibat. Lokasi yang disebutkan berada di sekitar Gate 5, Gate 6, dan Gate 7, sementara area tribun yang ditempati suporter Persita menjadi bagian dari keterangan tentang peristiwa tersebut. Maruli tidak menguraikan rincian lain di luar hal-hal itu dalam informasi yang menjadi dasar bagian ini.

Dengan demikian, keributan pada jeda pertandingan merupakan peristiwa yang kembali terjadi setelah insiden awal, bukan tanda bahwa ketegangan telah sepenuhnya mereda. Informasi yang tersedia menempatkan peristiwa itu di sekitar tiga gate tersebut dan menyebut kedatangan sejumlah suporter Persija ke tribun suporter Persita, disertai provokasi yang kemudian memicu gesekan. Uraian ini terbatas pada keterangan Maruli dan tidak memastikan rincian tambahan tentang jalannya keributan, pihak yang memulai, ataupun motif di balik tindakan para suporter. Pemisahan fakta yang disampaikan dan hal yang tidak dijelaskan penting agar gambaran situasi tetap akurat. Pada jeda babak pertama, ketegangan kembali terlihat melalui gesekan antarkelompok di sekitar tribun BIS.

Dampak keributan segera terasa di area tribun. Sejumlah suporter Persita berusaha menyelamatkan diri ketika situasi di sekitar mereka memanas. Keterangan yang tersedia menggambarkan adanya aksi saling lempar dan kejar-kejaran, yang membuat orang-orang di lokasi berlarian untuk menghindari keributan. Dalam keadaan seperti itu, pergerakan massa di tribun menjadi bagian dari upaya menjauh dari titik kericuhan, bukan semata-mata berpindah tempat. Namun, informasi yang ada tidak merinci siapa yang memulai setiap aksi atau bagaimana posisi masing-masing kelompok saat peristiwa berlangsung.

Di tengah upaya menghindar tersebut, beberapa suporter Persita melompati pembatas tribun menuju lintasan jogging track. Keterangan ini menunjukkan bahwa sebagian orang memilih jalur itu untuk menjauh dari area yang sedang tidak kondusif. Tidak tersedia rincian lebih lanjut mengenai jumlah pasti suporter yang melompati pembatas, waktu tepat tindakan itu dilakukan, maupun kondisi lintasan saat mereka tiba. Karena itu, gambaran mengenai penyelamatan diri perlu dibatasi pada informasi yang telah disampaikan, tanpa menambahkan dugaan tentang tindakan atau pengalaman individu tertentu.

Aksi saling lempar dan kejar-kejaran turut menyebabkan sejumlah orang berlarian menghindari keributan. Peristiwa tersebut memperlihatkan bagaimana situasi di tribun dapat berubah menjadi kepanikan ketika bentrokan terjadi di sekitar penonton. Meski demikian, urutan kejadian yang tersedia hanya menyebut adanya keributan, usaha suporter untuk menyelamatkan diri, serta beberapa orang yang melompati pembatas menuju lintasan jogging track. Tidak ada keterangan terperinci yang menjelaskan arah lari setiap orang, benda yang dilempar, atau siapa saja yang terlibat dalam kejar-kejaran. Dengan demikian, dampak langsung di tribun dapat diterangkan secara hati-hati: sebagian suporter berusaha menjauh, sementara orang-orang lain juga berlarian untuk menghindari keributan. Informasi tersebut memberi gambaran tentang kepadatan dan ketegangan di lokasi, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan detail tambahan mengenai jalannya insiden ataupun keputusan individu yang berada di sana.

Polda Banten mencatat 11 orang terluka dalam kericuhan suporter di BIS. Data mengenai jumlah korban tersebut disampaikan Maruli, yang juga menjelaskan bahwa para korban telah memperoleh penanganan medis. Informasi ini menggambarkan dampak langsung dari insiden yang terjadi setelah ketegangan antarsuporter, termasuk aksi saling lempar dan kejar-kejaran. Tidak ada keterangan tambahan mengenai kondisi masing-masing korban setelah mendapatkan perawatan, sehingga perkembangan lebih lanjut tidak dapat disimpulkan dari informasi yang disampaikan.

Sejumlah cedera dilaporkan berkaitan dengan aksi saling lempar yang terjadi dalam kericuhan. Selain itu, ada korban yang terkilir ketika berlangsung kejar-kejaran. Rangkaian kejadian tersebut menyebabkan 11 orang memerlukan penanganan medis. Keterangan mengenai jenis cedera itu menjadi bagian dari penjelasan Maruli tentang dampak insiden. Data yang tersedia tidak merinci jumlah korban untuk setiap jenis cedera maupun menjelaskan secara terpisah bagaimana setiap orang mengalami luka. Karena itu, uraian mengenai dampak dibatasi pada informasi yang telah disampaikan pihak kepolisian.

Seluruh korban telah memperoleh penanganan medis di tiga fasilitas kesehatan, yakni RS Bhayangkara, RS Banten, dan RS Arafiq. Maruli menyampaikan informasi tentang jumlah orang yang terluka serta tempat mereka mendapatkan perawatan. Penanganan di rumah sakit tersebut merupakan tindak lanjut bagi korban setelah kericuhan. Keterangan yang tersedia menyebutkan bahwa seluruh korban telah ditangani secara medis, tetapi tidak memberikan penjelasan mengenai lama perawatan, tingkat keparahan luka, atau apakah para korban telah diperbolehkan pulang. Dengan demikian, data dampak yang dapat dipastikan adalah 11 orang terluka, dengan cedera akibat saling lempar dan terkilir saat kejar-kejaran, serta seluruhnya telah memperoleh penanganan di fasilitas kesehatan yang disebutkan.

Baca juga: Pertandingan Persija dan Persib: Pesan Gubernur untuk Suporter | Kecelakaan Minibus Besan di Kali Cikumpa, 13 Penumpang Terluka