Kerusuhan Usai Aksi Biaya Hidup di Prancis: 1.800 Orang Ditangkap

oleh -65 Dilihat
oleh
Kerusuhan Usai Aksi Biaya Hidup di Prancis: 1.800 Orang Ditangkap

Jakarta | Menteri Dalam Negeri Prancis Laurent Nunez menyebut sekitar 1.800 orang ditangkap selama dan setelah unjuk rasa nasional yang berkaitan dengan biaya hidup. Aksi pada Sabtu, 17 Oktober 2026, melibatkan kelompok rompi kuning dan berlangsung di tengah ketegangan sosial. Sejumlah demonstrasi diwarnai bentrokan peserta aksi dan aparat, sementara pembakaran serta penjarahan juga dilaporkan terjadi. Penangkapan tersebut berlangsung dalam rangkaian pengamanan dan penanganan insiden yang menyertai demonstrasi, baik ketika aksi masih berlangsung maupun setelah kerumunan mulai dibubarkan.

Nunez mengatakan lebih dari 500 personel kepolisian, gendarmerie, dan pemadam kebakaran mengalami luka-luka. Ia menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara, sehingga jumlah korban dapat berubah seiring pendataan dan verifikasi lebih lanjut. Keterangan itu menggambarkan besarnya dampak bentrokan terhadap petugas yang berada di lapangan untuk menjaga ketertiban dan merespons keadaan darurat. Tingkat keparahan luka maupun rincian mengenai kondisi setiap personel belum dirinci dalam keterangan yang disampaikan. Pemerintah masih menghimpun informasi dari berbagai wilayah yang terdampak oleh rangkaian aksi tersebut.

Penyelidikan untuk mengidentifikasi pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kekerasan, pembakaran, dan penjarahan masih berjalan. Aparat berupaya menelusuri kejadian serta mengumpulkan bukti terkait insiden yang terjadi selama dan setelah demonstrasi. Pada saat yang sama, ratusan pelaku usaha dilaporkan mengalami kerusakan material. Kerusakan tersebut menambah beban bagi kawasan komersial yang terdampak, meskipun nilai kerugian dan jumlah rinci tempat usaha yang terkena belum dijelaskan. Pemerintah dan aparat belum mengumumkan hasil akhir penyelidikan ataupun rincian penindakan terhadap seluruh orang yang ditangkap. Dengan demikian, angka penangkapan dan korban luka yang disampaikan masih perlu dipahami sebagai data awal, sementara proses pemeriksaan dan pendataan terus berlangsung. Perkembangan berikutnya akan bergantung pada temuan penyidik serta pembaruan resmi mengenai kondisi petugas dan dampak terhadap kegiatan usaha setempat.

Jumlah peserta demonstrasi di seluruh Prancis menjadi salah satu angka yang diperdebatkan setelah aksi menentang kenaikan biaya hidup. Kementerian Dalam Negeri memperkirakan sekitar 550.000 orang turun ke jalan di berbagai wilayah, termasuk 110.000 peserta di Paris. Penyelenggara menyampaikan taksiran yang lebih tinggi, yakni sekitar 800.000 orang secara nasional. Perbedaan tersebut mencerminkan cara penghitungan yang tidak sama, tetapi kedua angka menunjukkan bahwa mobilisasi berlangsung dalam skala besar dan menjangkau banyak kota. Demonstrasi menggabungkan berbagai kelompok dengan tuntutan dan latar belakang berbeda, sehingga jumlah keseluruhan menjadi sorotan dalam pemberitaan mengenai aksi tersebut.

Di kelompok yang terlibat terdapat rompi kuning, serikat pekerja, mahasiswa, dan petani. Kehadiran mereka memperlihatkan luasnya keresahan terkait tekanan biaya hidup serta kebijakan pemerintah yang dianggap membebani masyarakat. Di Paris, pawai utama berlangsung tanpa insiden besar. Massa bergerak dalam rangkaian demonstrasi yang terorganisasi, sementara situasi di jalur utama relatif terkendali. Namun, keadaan tersebut tidak menggambarkan seluruh perkembangan pada hari itu. Laporan dari sejumlah daerah menyebut kekerasan dan kerusakan terjadi di luar rangkaian pawai resmi, di lokasi yang tidak menjadi bagian dari demonstrasi utama. Dengan demikian, situasi di ibu kota dan beberapa kota lain menunjukkan gambaran yang berbeda.

Salah satu laporan paling serius datang dari Limoges, tempat kebakaran melalap balai kota bersejarah. Insiden itu menimbulkan kekhawatiran karena bangunan tersebut merupakan bagian penting dari warisan kota. Di Marseille, Lyon, dan Bordeaux, laporan juga menyebut penjarahan toko serta perusakan bangunan. Kekerasan di sejumlah lokasi itu berlangsung terpisah dari pawai utama di Paris, tetapi tetap menambah ketegangan dan memperbesar dampak aksi terhadap kehidupan setempat. Peristiwa-peristiwa tersebut menunjukkan bahwa demonstrasi yang secara umum berjalan tertib di satu tempat dapat beriringan dengan kerusuhan di tempat lain. Karena itu, penilaian atas keseluruhan aksi perlu membedakan jalannya pawai dari insiden yang terjadi di luar rute demonstrasi.

Seorang demonstran meninggal dunia setelah pingsan di Boulevard Magenta, Paris. Peristiwa itu menjadi salah satu laporan paling serius terkait korban dalam aksi yang diwarnai kerusuhan. Menurut keterangan polisi, demonstran tersebut mengalami henti jantung dan pernapasan. Informasi yang tersedia tidak menjelaskan lebih lanjut keadaan sebelum ia pingsan ataupun rincian penanganan medis yang diberikan. Karena itu, laporan mengenai kejadian tersebut perlu dibedakan dari keterangan mengenai penyebab kematian yang belum disampaikan secara terperinci.

Korban lain dilaporkan di Saint-Étienne. Seorang remaja berusia 17 tahun kehilangan satu tangan setelah terkena granat polisi. Laporan ini menambah perhatian terhadap dampak bentrokan dan penggunaan perlengkapan kepolisian selama aksi. Namun, keterangan yang tersedia hanya menyebut usia remaja tersebut dan cedera yang dialaminya; tidak ada rincian tambahan mengenai kondisi terkini, rangkaian kejadian, atau tindak lanjut atas insiden itu.

Jumlah penangkapan yang diumumkan juga berbeda lembaga. Kepolisian Paris menyebut telah melakukan 855 penangkapan. Sementara itu, kejaksaan melaporkan angka 720 orang, dengan 517 di antaranya ditahan. Angka dari kedua lembaga tersebut merupakan laporan masing-masing dan tidak sebaiknya diperlakukan sebagai satu angka yang sama. Kejaksaan menegaskan bahwa jumlah yang disampaikannya belum final.

Perbedaan itu perlu disampaikan tanpa menarik kesimpulan mengenai alasan di balik selisihnya. Keterangan yang tersedia tidak menjelaskan apakah angka-angka tersebut memakai rentang waktu, kategori, atau metode pencatatan yang berbeda. Dengan demikian, laporan mengenai 855 penangkapan dari Kepolisian Paris tetap perlu dicatat terpisah dari angka 720 yang disampaikan kejaksaan, termasuk 517 orang yang ditahan. Penegasan bahwa angka kejaksaan belum final juga berarti jumlah tersebut masih dapat berubah seiring pembaruan informasi. Di tengah laporan korban dan penangkapan, rincian dari tiap lembaga penting disajikan secara akurat, dengan atribusi yang jelas dan tanpa menyatukan angka yang berbeda.

Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu dijadwalkan memimpin rapat krisis antarkementerian pada Minggu pukul 19.00 waktu setempat. Pertemuan itu akan membahas dampak kerusuhan setelah aksi menentang biaya hidup, termasuk konsekuensi ekonomi, persoalan asuransi, serta langkah hukum lanjutan. Agenda tersebut menunjukkan bahwa pemerintah menghadapi tekanan untuk menangani bukan hanya gangguan keamanan, tetapi juga kerugian yang dialami warga dan pelaku usaha. Pembahasan mengenai asuransi diperkirakan mencakup dampak kerusakan terhadap properti dan kemungkinan proses klaim, sementara tindak lanjut hukum berkaitan dengan penanganan mereka yang ditangkap.

Lecornu juga dijadwalkan bertemu dengan wali kota Paris, Marseille, dan Lyon. Ketiga pemimpin kota itu meminta penjelasan mengenai pengerahan personel kepolisian dan cara aparat menangani kerusuhan. Pertanyaan mereka menyoroti kebutuhan untuk memperjelas keputusan operasional di lapangan, termasuk bagaimana kekuatan polisi dialokasikan ketika demonstrasi berubah menjadi bentrokan. Pertemuan dengan pemerintah pusat dapat menjadi kesempatan bagi pemerintah kota untuk menyampaikan kekhawatiran mengenai keamanan, pemulihan lingkungan terdampak, dan koordinasi aparat nasional dengan otoritas setempat.

Di parlemen, Ketua Majelis Nasional Yaël Braun-Pivet mempertimbangkan pembentukan komisi penyelidikan untuk menelaah rangkaian peristiwa dan respons yang diberikan. Ia akan bertemu para pemimpin kelompok parlemen pada Selasa guna membahas kemungkinan tersebut. Jika dibentuk, komisi itu dapat menyediakan ruang bagi anggota parlemen untuk mengumpulkan keterangan dan memeriksa keputusan yang diambil selama penanganan kerusuhan. Namun, rencana penyelidikan masih dalam tahap pertimbangan dan pembicaraan lintas kelompok menjadi langkah penting sebelum keputusan dibuat.

Respons politik terhadap kekerasan juga memperlihatkan perbedaan tajam. Lecornu menyalahkan kelompok yang ia sebut “kiri ekstrem” atas kekerasan yang terjadi. Sejumlah tokoh oposisi, sebaliknya, mengkritik taktik kepolisian dan menyoroti cara aparat menghadapi demonstran.

Baca juga: Fahd A Rafiq Ditangkap KPK Bersama Belasan Tersangka Dalam OTT | Penggerebekan Jaringan Kriminal: Sembilan Tersangka Ditangkap di Purwakarta