Mantan Karyawan NCS Dihukum Usai Menghapus 180 Server Virtual

oleh -630 Dilihat
oleh
Mantan Karyawan NCS Dihukum Usai Menghapus 180 Server Virtual

Jakarta | Kandula Nagaraju, mantan karyawan NCS asal India berusia 39 tahun, dijatuhi hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan setelah terbukti mengakses sistem internal perusahaan dan menghapus 180 server virtual. Tindakan tersebut dilakukan setelah masa kontraknya di NCS berakhir. Peristiwa ini menjadi perkara serius karena penghapusan itu mengganggu infrastruktur teknologi perusahaan serta menimbulkan kerugian finansial yang besar.

Kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai S$917.832, atau sekitar Rp11,1 miliar. Nilai tersebut mencakup biaya pemulihan sistem, penggantian sumber daya teknologi, dan dampak operasional yang muncul setelah ratusan server virtual dihapus. Akses yang digunakan Nagaraju menunjukkan bahwa akun atau kredensial tertentu masih dapat dimanfaatkan setelah hubungan kerjanya dengan perusahaan berakhir, sehingga menimbulkan perhatian terhadap pengelolaan akses mantan karyawan.

Meski demikian, NCS menyatakan bahwa 180 server virtual tersebut berada dalam sistem pengujian perusahaan. Server-server itu bukan bagian dari lingkungan utama yang digunakan untuk menyimpan informasi sensitif. Pernyataan ini memperjelas bahwa insiden tersebut tidak berkaitan dengan penghapusan basis data pelanggan atau kebocoran informasi rahasia, tetapi tetap menyebabkan gangguan dan biaya pemulihan yang signifikan. Kasus Nagaraju menyoroti pentingnya pencabutan akses secara segera ketika kontrak karyawan berakhir, termasuk pemeriksaan terhadap akun administratif dan sistem pengujian. Pengamanan tersebut diperlukan untuk mencegah akses tidak sah serta membatasi potensi kerugian apabila kredensial lama masih aktif.

Nagaraju bergabung dengan NCS sebagai bagian dari tim yang bertanggung jawab mengelola sistem komputer untuk jaminan kualitas atau quality assurance (QA). Tim tersebut terdiri atas sekitar 20 orang dan menangani lingkungan pengujian yang digunakan perusahaan sebelum perangkat lunak maupun program baru diluncurkan. Dalam lingkungan itu, berbagai pembaruan dapat diperiksa terlebih dahulu untuk menemukan kesalahan, memastikan kompatibilitas, serta menilai apakah sistem telah memenuhi standar yang ditetapkan.

Hubungan kerja Nagaraju dengan NCS berlangsung sekitar November 2021 hingga Oktober 2022. Selama periode tersebut, ia bekerja di dalam tim yang mendukung proses pengujian teknologi perusahaan. Namun, NCS kemudian menghentikan kontraknya pada Oktober 2022 dengan alasan kinerja yang buruk. Meskipun demikian, catatan persidangan menyebutkan bahwa hari terakhir Nagaraju bekerja tercatat pada 16 November 2022.

Pengakhiran kontrak itu tampaknya menjadi sumber kekecewaan yang mendalam bagi Nagaraju. Dalam persidangan, terungkap bahwa ia merasa bingung dan kesal karena tidak memahami alasan perusahaan menilai kinerjanya tidak memadai. Ia juga tidak menerima keputusan tersebut karena menganggap dirinya telah bekerja dengan baik dan memberikan kontribusi kepada NCS. Perbedaan penilaian perusahaan dan keyakinan pribadi itu turut membentuk kondisi emosionalnya setelah meninggalkan pekerjaan.

Setelah tidak lagi bekerja di NCS, Nagaraju berupaya mencari pekerjaan baru di Singapura. Namun, upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Ia akhirnya tidak memperoleh pekerjaan lain di negara itu dan harus kembali ke India. Rangkaian peristiwa tersebut menjadi latar belakang penting dalam memahami keadaan yang dihadapi Nagaraju sebelum tindakan penghapusan server virtual terjadi. Meski rasa kecewa dapat menjelaskan tekanan yang dirasakannya, keadaan tersebut tidak menghapus tanggung jawab atas tindakan yang kemudian dilakukan terhadap sistem perusahaan.

Akses tanpa izin yang dilakukan Nagaraju berlangsung secara bertahap dan melibatkan sistem NCS dari dua negara. Setelah kembali ke India, ia memanfaatkan sebuah laptop serta kredensial login administrator yang masih dapat digunakannya. Dengan sarana tersebut, Nagaraju masuk ke sistem NCS sebanyak enam kali, masing-masing pada 6 dan 17 Januari 2023. Akses itu dilakukan setelah hubungan kerjanya dengan perusahaan berakhir, sehingga tidak lagi memiliki kewenangan untuk menggunakan akun maupun infrastruktur internal NCS.

Pada Februari 2023, Nagaraju kembali ke Singapura untuk mencari pekerjaan. Selama berada di sana, ia tinggal bersama seorang mantan rekan kerja NCS dan menggunakan jaringan Wi-Fi milik rekannya untuk terhubung ke sistem perusahaan. Melalui koneksi tersebut, ia melakukan satu akses tambahan pada 23 Februari. Pola ini menunjukkan bahwa aktivitasnya tidak bergantung pada satu lokasi atau jaringan tertentu, melainkan memanfaatkan perangkat, kredensial, dan koneksi yang tersedia.

Dalam periode sekitar dua bulan itu, Nagaraju juga menyiapkan sejumlah skrip komputer untuk menguji kemungkinan menghapus server. Temuan penyelidikan menunjukkan bahwa ia terlebih dahulu mencari skrip penghapusan server virtual melalui Google. Informasi yang ditemukan kemudian digunakan sebagai dasar untuk menyusun program yang dapat menjalankan perintah penghapusan secara berulang. Tahap pengujian tersebut memperlihatkan adanya persiapan teknis sebelum tindakan terhadap lingkungan sistem produksi dilakukan.

Pada Maret 2023, Nagaraju kembali mengakses sistem QA sebanyak 13 kali. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari rangkaian persiapan terakhir sebelum serangan dilakukan. Pada 18 dan 19 Maret, ia menjalankan skrip yang telah dibuat untuk menghapus 180 server virtual satu per satu. Penghapusan itu bukan tindakan spontan, karena didahului pencarian informasi, pembuatan program, pengujian, serta akses berulang dari lokasi berbeda. Rangkaian tersebut menjadi dasar penting dalam menggambarkan cara akses ilegal dilakukan dan bagaimana kredensial administrator digunakan untuk menjalankan perintah yang berdampak luas terhadap infrastruktur virtual NCS.

Sehari setelah skrip dijalankan, tim NCS menyadari bahwa berbagai sistem perusahaan tidak lagi dapat diakses. Gangguan tersebut segera memengaruhi kemampuan karyawan untuk menggunakan layanan dan infrastruktur virtual yang diperlukan dalam kegiatan operasional. Tim teknis kemudian melakukan upaya pemulihan awal untuk mengembalikan akses serta memeriksa kemungkinan kerusakan pada sistem. Namun, langkah-langkah tersebut tidak berhasil memulihkan layanan yang terdampak.

Pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa seluruh 180 server virtual milik NCS telah dihapus. Temuan itu memperjelas bahwa gangguan bukan sekadar kegagalan teknis biasa, melainkan akibat tindakan yang secara langsung menghilangkan infrastruktur server. Hilangnya server membuat proses pemulihan menjadi lebih sulit karena sistem yang menjadi tempat penyimpanan dan pengoperasian layanan sudah tidak tersedia.

NCS kemudian melakukan penyelidikan internal untuk menelusuri sumber tindakan tersebut. Dari pemeriksaan itu, perusahaan memperoleh sejumlah alamat IP yang diduga berkaitan dengan aktivitas penghapusan server. NCS menyerahkan informasi tersebut kepada kepolisian dan membuat laporan resmi pada 11 April 2023. Data alamat IP menjadi bagian dari bahan awal yang digunakan penyidik untuk mengembangkan pemeriksaan terhadap pihak yang diduga terlibat.

Dalam proses penyidikan, polisi menyita laptop milik Nagaraju. Pemeriksaan terhadap perangkat tersebut menemukan skrip yang digunakan untuk menghapus server virtual NCS. Temuan itu menghubungkan perangkat dan skrip dengan tindakan yang menyebabkan seluruh server perusahaan terhapus. Perkara tersebut kemudian diproses di pengadilan, yang menjatuhkan hukuman penjara selama dua tahun delapan bulan kepada Nagaraju. Pengadilan juga mencatat nilai kerugian yang dialami NCS sebesar S$917.832.