Megawati Dorong Anak Muda Padukan Penguasaan Iptek dan Keteguhan Karakter

oleh -89 Dilihat
oleh
Megawati Dorong Anak Muda Padukan Penguasaan Iptek dan Keteguhan Karakter

Jakarta | Megawati Soekarnoputri, Presiden ke-5 Republik Indonesia, mengajak generasi muda untuk menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus memperkuat karakter bangsa. Pesan tersebut disampaikan melalui tayangan video pada puncak Merah Muda Fest 2026 di Lapangan Banteng, Jakarta, Minggu malam. Dalam pidatonya, Megawati menekankan bahwa kemajuan teknologi perlu berjalan seiring dengan nilai, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap masyarakat. Penguasaan iptek bukan sekadar bekal untuk mengikuti perkembangan zaman, melainkan kemampuan yang perlu diarahkan bagi kepentingan bersama.

Ia mendorong anak muda menyiapkan diri menghadapi perubahan dan tantangan masa depan dengan pengetahuan yang kuat serta karakter yang teguh. Bekal tersebut penting agar generasi muda tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu memahami, mengembangkan, dan menerapkannya secara tepat. Menurut gagasan yang disampaikan Megawati, ilmu dan teknologi akan lebih bermakna apabila hasilnya dapat dirasakan rakyat. Karena itu, kecakapan teknis perlu disertai sikap disiplin, kepekaan sosial, dan kesediaan untuk mengabdikan kemampuan kepada bangsa.

Megawati juga memberi penekanan pada teknologi terapan yang menjawab kebutuhan masyarakat dan membantu menyelesaikan persoalan nyata. Inovasi di bidang pangan, kesehatan, pendidikan, lingkungan, maupun layanan publik, misalnya, dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk menghasilkan solusi yang berguna. Mereka perlu mengenali masalah di sekitarnya, lalu memanfaatkan ilmu dan teknologi secara kreatif, terukur, serta bertanggung jawab. Dengan pendekatan tersebut, kemajuan tidak berhenti pada gagasan atau kecanggihan alat, tetapi hadir dalam bentuk manfaat yang dapat diakses masyarakat.

Pesan itu menempatkan generasi muda sebagai bagian penting dalam menentukan arah pembangunan Indonesia. Mereka diharapkan terus belajar, mengikuti perkembangan ilmu, dan membangun kemampuan yang relevan, tanpa meninggalkan nilai-nilai kebangsaan. Megawati mengingatkan bahwa anak muda perlu mempersiapkan diri menghadapi tantangan masa depan dengan bekal iptek yang bermanfaat bagi rakyat. Perpaduan kompetensi dan karakter, dengan demikian, menjadi landasan untuk menghadirkan kemajuan yang inklusif serta memperkuat ketahanan bangsa di tengah perubahan global.

Pandangan Megawati menempatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai bekal penting bagi anak muda, tetapi bukan satu-satunya unsur yang menentukan. Kecerdasan intelektual perlu disertai jati diri dan keteguhan karakter agar pengetahuan digunakan dengan pertimbangan yang bertanggung jawab. Kemampuan memahami perkembangan iptek, mengolah informasi, serta menciptakan gagasan baru memiliki arti ketika berjalan bersama moralitas dan integritas. Tanpa landasan tersebut, kecakapan akademis saja belum menggambarkan keseluruhan kualitas generasi muda yang dibutuhkan untuk menghadapi perubahan.

Karakter yang kuat, dalam pesan itu, mencakup keberanian untuk bersikap serta konsistensi menjaga nilai yang diyakini. Keberanian tidak terpisah dari tanggung jawab, sementara integritas tercermin dalam kesesuaian prinsip dan tindakan. Karena itu, penguatan kemampuan di bidang sains dan teknologi perlu berlangsung beriringan dengan pembentukan sikap. Pendidikan dan proses pembelajaran tidak hanya berfokus pada penambahan wawasan, tetapi juga memberi ruang bagi anak muda untuk memahami pentingnya moralitas, memiliki jati diri, serta memegang teguh nilai-nilai Pancasila.

Pancasila menjadi acuan nilai dalam membangun karakter, sehingga kemajuan pengetahuan tidak dilepaskan dari prinsip yang membimbing penggunaannya. Pesan Megawati menegaskan bahwa masa depan Indonesia tidak hanya bergantung pada seberapa tinggi ilmu yang dikuasai generasi muda. Kekuatan karakter mereka juga menjadi bagian penting dari gambaran tersebut. Dengan demikian, perhatian terhadap iptek dan perhatian terhadap pembentukan pribadi bukan dua hal yang saling menggantikan. Keduanya perlu dikembangkan secara seiring: anak muda memperluas pengetahuan dan keterampilan, sekaligus memelihara integritas, moralitas, keberanian, dan jati diri yang berlandaskan Pancasila.

Megawati mengingatkan bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu berjalan seiring dengan kepekaan terhadap persoalan sosial. Anak muda tidak cukup hanya unggul dalam pendidikan atau mampu mengikuti perubahan zaman; mereka juga perlu memahami keadaan masyarakat di sekitarnya. Kepekaan itu dapat tumbuh melalui kepedulian terhadap kesulitan yang dialami orang lain, terutama rakyat kecil yang kerap menghadapi keterbatasan dan membutuhkan pembelaan. Dengan memahami persoalan tersebut, generasi muda dapat menggunakan pengetahuan dan kemampuan mereka secara bertanggung jawab.

Pesan itu juga menuntut keberanian untuk menyuarakan kebenaran dan keteguhan dalam menghadapi ketidakadilan. Sikap kritis bukan sekadar menyampaikan pendapat, melainkan kesediaan berpihak kepada mereka yang suaranya kurang terdengar. Megawati mendorong anak muda agar tidak mudah gentar ketika memperjuangkan nilai yang benar, sekaligus tetap berpegang pada prinsip dan kepentingan bersama. Karakter seperti ini penting agar kecakapan intelektual tidak terpisah dari tanggung jawab sosial, dan kemajuan tidak hanya dirasakan oleh kelompok tertentu.

Sejarah Lapangan Banteng memberi konteks bagi ajakan tersebut. Kawasan itu dahulu dikenal sebagai Waterlooplein. Dalam pidatonya, Megawati mengingatkan bahwa di gedung Katholieke Jongelingen Bond di kawasan tersebut, para pemuda dari berbagai organisasi kedaerahan mengadakan rapat pertama Kongres Pemuda II pada 27 Oktober 1928. Mereka berasal dari Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, dan Pemuda Kaum Betawi. Di tengah kolonialisme Belanda, para pemuda berani membangun persatuan melampaui identitas daerah. Teladan itu menunjukkan bahwa perjuangan bersama dapat dimulai melalui pertemuan, dialog, dan kesediaan menempatkan cita-cita yang lebih besar di atas perbedaan. Bagi generasi muda masa kini, semangat tersebut dapat diwujudkan dengan bersatu merespons masalah sosial, membela masyarakat yang membutuhkan, serta menjaga keberanian moral. Persatuan bukan berarti menghapus keragaman, melainkan menjadikannya dasar untuk memperjuangkan keadilan dan masa depan yang lebih baik bagi seluruh rakyat.

Megawati mengingatkan bahwa peringatan dan perayaan tidak semestinya berhenti sebagai seremoni, rangkaian acara, atau simbol yang hanya dikenang pada satu waktu. Nilai sebuah peringatan terletak pula pada kesediaan untuk meneruskan semangat yang diwariskan melalui tindakan nyata. Karena itu, pemuda Indonesia diajak menjadikan pesan sejarah sebagai pegangan dalam kehidupan dan pilihan yang mereka ambil. Semangat perjuangan tidak cukup diucapkan; ia perlu tampak dalam sikap, keberanian, dan kesungguhan menjalankan tanggung jawab sebagai bagian dari bangsa.

Dalam seruannya, Megawati menekankan pentingnya keberanian generasi muda menghadapi tantangan zaman tanpa melepaskan jati diri. Keberanian tersebut bukan hanya soal menyuarakan gagasan, melainkan juga keteguhan untuk menjaga nilai kebangsaan dan berdiri bersama dalam perbedaan. Pemuda perlu memahami bahwa persatuan bukan sesuatu yang hadir dengan sendirinya, tetapi harus dirawat melalui kesadaran akan ikatan bersama. Pesan tentang satu nusa dan satu bangsa menjadi pengingat bahwa keragaman Indonesia berada dalam satu ruang kebangsaan yang perlu dijaga dengan sikap saling menghormati dan rasa tanggung jawab.

Megawati juga mengajak kaum muda merawat sejarah, bukan sekadar mengingat nama dan peristiwa, tetapi memahami makna perjuangan yang membentuk Indonesia. Sejarah memberi konteks bagi perjalanan bangsa sekaligus mengingatkan bahwa kemerdekaan dan persatuan lahir dari usaha bersama. Api perjuangan itu perlu diteruskan oleh generasi berikutnya, dengan cara yang sesuai dengan zamannya, tetapi tetap berpijak pada semangat kebangsaan. Seruan tersebut menempatkan pemuda sebagai penerus nilai sekaligus pelaku dalam kehidupan bangsa hari ini. Peringatan akan bermakna ketika semangatnya hadir dalam tindakan, persatuan tetap dijaga, dan keberanian untuk melanjutkan perjuangan tidak padam. Dengan demikian, ajakan Megawati bukan sekadar pesan penutup sebuah perayaan, melainkan pengingat agar generasi muda terus menjaga ingatan kolektif dan meneruskan cita-cita perjuangan Indonesia.

Baca juga: Pencapaian Kementerian Kehutanan dalam Penguasaan Kawasan Koridor Gajah