Pertamina EP Rantau Mengebor Lima Sumur Baru di Tengah Pemulihan Banjir Aceh Tamiang

oleh -98 Dilihat
oleh
Di Tengah Pemulihan Banjir Aceh Tamiang, Pertamina EP Rantau Bor Lima Sumur Baru

Kabupaten Aceh Tamiang | Pertamina EP Rantau Field tetap melaksanakan pengeboran lima sumur baru di tengah proses pemulihan infrastruktur akibat banjir yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang. Kegiatan ini menunjukkan bahwa operasi hulu migas tetap berjalan dengan memperhatikan kondisi lapangan serta kebutuhan pemulihan pascabencana. Pengeboran tersebut diarahkan untuk menemukan cadangan minyak dan gas bumi baru yang dapat mendukung keberlanjutan kegiatan produksi.

Pelaksanaan pengeboran lima sumur ini juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan tingkat produksi dan menjaga ketersediaan pasokan energi nasional. Di tengah tantangan kerusakan infrastruktur, keberlanjutan kegiatan operasi dinilai penting agar kontribusi wilayah kerja Rantau terhadap kebutuhan energi tetap terpelihara. Langkah tersebut sekaligus mencerminkan komitmen perusahaan untuk menjalankan kegiatan eksplorasi dan produksi secara berkesinambungan.

Field Manager Pertamina EP Rantau, Tomi Wahyu Alimsyah, menegaskan bahwa pengeboran tetap penting meskipun perusahaan masih berada dalam tahap pemulihan setelah bencana banjir. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya ditujukan untuk mencari sumber daya baru, tetapi juga untuk menjaga kesinambungan produksi serta pasokan energi. Pernyataan tersebut menempatkan pengeboran sebagai agenda strategis yang perlu tetap dijalankan bersamaan dengan pemulihan infrastruktur.

Dengan demikian, kegiatan pengeboran lima sumur baru berlangsung dalam situasi yang menuntut keseimbangan pemulihan wilayah terdampak dan keberlanjutan operasi energi. Pertamina EP Rantau Field melanjutkan pekerjaan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab perusahaan dalam mengembangkan potensi minyak dan gas bumi. Upaya ini diharapkan dapat memperkuat basis cadangan sekaligus mendukung kestabilan pasokan energi nasional pada masa mendatang.

Lima sumur baru yang dikerjakan Pertamina EP Rantau terbagi ke dalam dua wilayah pengeboran, yaitu Kampung Tanjung Seumantoh dan Kampung Paya Meta. Pembagian ini penting untuk memperjelas sebaran kegiatan operasi, identitas setiap sumur, serta peralatan yang digunakan pada masing-masing lokasi.

Di Kampung Tanjung Seumantoh terdapat dua sumur, yakni RNT DZ-51 dan RNT DZ-52. Kedua sumur tersebut dibor menggunakan rig APS-752 dengan kapasitas 550 HP. RNT DZ-51 memiliki kedalaman akhir 1.145 meter, sedangkan RNT DZ-52 mencapai kedalaman akhir 1.037 meter. Perbedaan kedalaman itu menunjukkan bahwa target pengeboran pada kedua titik tidak sepenuhnya sama, meskipun berada di wilayah kampung yang sama dan ditangani dengan unit rig yang serupa.

Sementara itu, tiga sumur lainnya berlokasi di Kampung Paya Meta. Sumur-sumur tersebut adalah RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33. Seluruh pekerjaan pengeboran di lokasi ini didukung rig TMMJ-12 yang juga memiliki kapasitas 550 HP. Dengan demikian, Paya Meta menjadi wilayah dengan jumlah titik pengeboran terbanyak dalam program lima sumur tersebut.

Data kedalaman akhir yang tersedia dalam rincian operasi mencakup dua sumur di Tanjung Seumantoh, yaitu 1.145 meter untuk RNT DZ-51 dan 1.037 meter untuk RNT DZ-52. Adapun RNT DZ-11, RNT DZ-23A, dan RNT DZ-33 dapat dibedakan berdasarkan lokasi serta rig pendukungnya, tanpa mencampurkan informasi kedalaman yang belum dicantumkan. Secara keseluruhan, kedua lokasi menggunakan rig berkapasitas sama, tetapi dengan identitas unit berbeda: APS-752 di Tanjung Seumantoh dan TMMJ-12 di Paya Meta. Susunan ini memberikan gambaran yang lebih teratur mengenai distribusi sumur dan perangkat pengeboran yang digunakan.

Banjir besar yang melanda Aceh Tamiang pada akhir November 2025 menimbulkan gangguan serius terhadap kegiatan operasional Pertamina EP Rantau. Ketinggian air di sejumlah area kerja dilaporkan mencapai 4 hingga 4,5 meter. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat akses menuju lapangan, tetapi juga melumpuhkan fasilitas operasi, perkantoran, dan permukiman pekerja yang berada di wilayah kerja perusahaan.

Dampak paling berat terjadi pada stasiun kompresor gas atau High Pressure Gas Compressor Station (HPCS). Kerusakan pada fasilitas tersebut menyebabkan pasokan energi untuk pembangkit listrik terhenti. Akibatnya, sistem kelistrikan di lapangan tidak dapat beroperasi secara normal dan kegiatan produksi minyak sempat berhenti total. Penghentian ini berlangsung ketika perusahaan masih menghadapi tantangan evakuasi, pembersihan fasilitas, serta pemulihan akses ke berbagai lokasi produksi.

Untuk memulihkan operasi, tim teknis melakukan penyesuaian terhadap konfigurasi fasilitas pengumpulan dan penyaluran gas. Stasiun pengumpul SP-5 dan SP-1 dimodifikasi agar dapat berfungsi sebagai sumber alternatif pasokan gas bagi pembangkit listrik. Langkah tersebut memungkinkan kebutuhan energi operasional dipenuhi tanpa sepenuhnya bergantung pada HPCS yang mengalami kerusakan. Modifikasi dilaksanakan dengan mempertimbangkan keamanan fasilitas, kesiapan peralatan, serta kestabilan aliran gas menuju pembangkit.

Pemulihan produksi dilakukan secara bertahap setelah kondisi lapangan memungkinkan. Setiap fasilitas diperiksa, dibersihkan, dan diuji sebelum kembali digunakan untuk mencegah gangguan lanjutan. Proses ini didukung personel dari berbagai wilayah operasi Pertamina lainnya, yang membantu pekerjaan teknis, pengamanan fasilitas, pengoperasian peralatan, dan koordinasi pemulihan. Dukungan lintas wilayah tersebut mempercepat pemulihan sistem kelistrikan dan memungkinkan kegiatan produksi migas kembali berjalan secara berangsur di tengah upaya penanganan dampak banjir.

Seiring dengan berangsur pulihnya fasilitas produksi, kinerja Pertamina EP Rantau Field mulai kembali stabil. Produksi minyak saat ini berada pada level 1.700 barel per hari. Angka tersebut mencerminkan pemulihan kegiatan produksi setelah sebelumnya mencapai 2.000 barel per hari pada Mei dan Agustus 2026. Penyesuaian operasional dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan kondisi fasilitas serta kesiapan setiap unit pendukung, sehingga kegiatan produksi dapat berjalan sesuai kapasitas yang tersedia.

Percepatan pemulihan fasilitas produksi tersebut mendapat penghargaan dari Satuan Kerja Khusus Pelaksanaan Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas). Penghargaan diberikan kepada Pertamina EP Rantau Field atas upaya mempercepat pemulihan fasilitas produksi setelah terdampak banjir di Aceh Tamiang. Pengakuan ini menjadi bagian dari catatan penanganan operasional yang dilakukan selama proses pemulihan, bersamaan dengan keberlanjutan kegiatan pengeboran dan pengelolaan lapangan.

Dalam perkembangannya, seluruh kegiatan operasional pengeboran dinyatakan memenuhi standar keselamatan kerja dan prinsip tata kelola perusahaan yang baik. Pemenuhan tersebut mencakup penerapan aspek environmental, social, and governance (ESG) dalam pelaksanaan kegiatan. Aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola menjadi bagian dari pelaksanaan operasi, termasuk ketika fasilitas produksi dipulihkan dan kegiatan pengeboran dilanjutkan. Dengan demikian, kegiatan operasional tetap dilaksanakan berdasarkan ketentuan keselamatan kerja serta prinsip tata kelola perusahaan yang berlaku.