Polutan Udara Jakarta Menurun pada Sabtu Pagi, Pemantauan Berlanjut

oleh -104 Dilihat
oleh
Polutan Udara Jakarta Menurun pada Sabtu Pagi, Pemantauan Berlanjut

Jakarta | Dinas Lingkungan Hidup (DLH) DKI Jakarta mencatat kecenderungan penurunan sejumlah polutan udara berdasarkan data stasiun pemantauan kualitas udara pada Sabtu, 24 Oktober. Perubahan itu terlihat terutama pada rentang pukul 04.00 hingga 07.00 WIB. Parameter yang menunjukkan kecenderungan menurun meliputi partikel halus PM2,5, partikel PM10, serta sulfur dioksida atau SO2. Pengamatan tersebut mencakup lima wilayah administrasi Jakarta, sehingga memberi gambaran kondisi udara di sejumlah titik pemantauan, bukan hanya satu lokasi.

Kepala DLH DKI Jakarta Dudi Gardesi menyampaikan temuan itu dalam keterangan resmi pada Minggu. Berdasarkan penjelasannya, pembacaan stasiun pemantauan pada pagi hari tersebut memperlihatkan pola penurunan pada ketiga jenis polutan. Data stasiun menjadi dasar bagi dinas untuk mengikuti perubahan kualitas udara secara berkala dan menyampaikan informasi kepada masyarakat. Rentang waktu pengamatan yang disebutkan, yakni pukul 04.00–07.00 WIB, penting diperhatikan ketika membandingkan angka, karena kondisi dapat berubah pada jam berikutnya maupun di lokasi yang berbeda.

Penurunan yang tercatat pada periode tersebut tidak serta-merta menunjukkan bahwa kualitas udara Jakarta telah membaik secara permanen. Hasil pemantauan menggambarkan kondisi pada waktu dan titik tertentu, sementara kadar polutan dapat dipengaruhi oleh berbagai keadaan dan kembali berubah. Karena itu, DLH melanjutkan pemantauan melalui stasiun yang tersebar di lima wilayah. Data berkelanjutan diperlukan untuk menilai pola kualitas udara dengan lebih menyeluruh, termasuk melihat perkembangan konsentrasi PM2,5, PM10, dan SO2 pada waktu yang berbeda. Masyarakat dapat merujuk pada informasi resmi dan pembaruan hasil pemantauan saat menilai kondisi udara harian.

Catatan pemantauan kualitas udara pada Sabtu pagi menunjukkan kadar partikel halus PM2,5 berada pada rentang berbeda di sejumlah kawasan Jakarta. Di Jakarta Selatan, pengukuran pada pukul 04.00–05.00 WIB mencatat konsentrasi PM2,5 sekitar 12–32 mikrogram per meter kubik (µg/m³). Angka tersebut berada di bawah baku mutu 55 µg/m³ yang menjadi batas pembanding dalam pemantauan. Rentang ini menggambarkan variasi hasil pengukuran selama satu jam, bukan satu angka yang berlaku seragam untuk seluruh wilayah tersebut.

Di kawasan pesisir Jakarta Utara, kadar PM2,5 tercatat turun ke kisaran 9–17 µg/m³ pada pukul 04.00–07.00 WIB. Rentang waktu pengamatan yang lebih panjang itu menunjukkan bahwa konsentrasi partikel halus yang terukur tetap berada pada tingkat tersebut sepanjang periode yang dicatat. Perbedaan nilai titik pengamatan dapat terjadi, sehingga angka kawasan sebaiknya dibaca sebagai rentang, bukan gambaran kondisi setiap lokasi secara persis.

Tren penurunan juga terlihat pada catatan dari Jakarta Barat, Jakarta Timur, dan Jakarta Pusat. Untuk Jakarta Pusat, pengukuran pagi hari mencatat PM2,5 dan PM10 pada kisaran 12–43 µg/m³. Rentang tersebut mencakup dua jenis partikel dengan ukuran berbeda, sehingga pembaca perlu memperhatikan nama polutan saat membandingkan angka. PM2,5 merujuk pada partikel halus, sedangkan PM10 mencakup partikel berukuran lebih besar dalam kelompok partikulat yang dipantau.

Secara keseluruhan, data yang tersedia memperlihatkan penurunan kadar polutan di beberapa bagian ibu kota pada pagi hari, dengan hasil yang tidak sama antarwilayah maupun antarperiode pengukuran. Angka Jakarta Selatan berada di bawah baku mutu yang disebutkan, sementara catatan Jakarta Utara menunjukkan rentang konsentrasi PM2,5 yang lebih rendah pada periode pemantauan tersebut. Pembacaan berkala tetap diperlukan untuk mengikuti perubahan kualitas udara setelah pagi hari. Hasil pada satu rentang waktu tidak dengan sendirinya menunjukkan kondisi sepanjang hari, karena konsentrasi dapat berubah mengikuti waktu dan keadaan setempat. Karena itu, catatan dari sejumlah kawasan menjadi gambaran pemantauan, bukan pengganti pembaruan data berikutnya.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyebut perubahan konsentrasi polutan di Jakarta dapat dipengaruhi sejumlah faktor, termasuk kondisi meteorologi dan aktivitas sumber emisi lokal. Perubahan arah serta kecepatan angin, kelembapan, suhu, dan curah hujan dapat memengaruhi penyebaran maupun penumpukan polutan di udara. Sementara itu, kegiatan kendaraan, industri, dan sumber emisi lain di sekitar wilayah pemantauan juga dapat berkontribusi terhadap tingkat pencemaran. Karena faktor-faktor tersebut dapat berubah dalam waktu singkat, penurunan yang terlihat pada satu periode belum cukup untuk menunjukkan penyebab tunggal atau memastikan pola kualitas udara berikutnya.

Operasi modifikasi cuaca (OMC) juga termasuk hal yang perlu dicermati dalam membaca kondisi tersebut. Hujan yang terbentuk melalui upaya modifikasi cuaca berpotensi membantu mengurangi partikulat di atmosfer melalui deposisi basah, yakni proses ketika partikel terbawa turun bersama air hujan. Namun, dampaknya terhadap konsentrasi polutan yang terukur bergantung pada berbagai keadaan, seperti intensitas dan sebaran hujan, kondisi angin, serta sumber emisi yang berlangsung pada saat bersamaan. Oleh sebab itu, kaitan OMC dan perubahan kualitas udara tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan waktu terjadinya hujan dan penurunan angka pemantauan.

Dudi Gardesi menjelaskan bahwa besarnya pengaruh masing-masing faktor dan keberlanjutan perubahan kualitas udara masih memerlukan analisis lanjutan. Data pemantauan perlu dibaca bersama informasi meteorologi dan aktivitas emisi agar perubahan yang terjadi dapat dinilai secara lebih utuh. Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat mengatakan OMC dilakukan untuk mengoptimalkan potensi hujan dan membantu menciptakan kondisi yang lebih nyaman. Untuk mendukung pelaksanaan yang tepat sasaran, pemantauan cuaca dilakukan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Dengan demikian, perkembangan cuaca dan kualitas udara tetap perlu dipantau, sementara penilaian mengenai dampak tiap faktor menunggu kajian berbasis data lebih lanjut.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) melaporkan bahwa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) berlangsung pada 21–23 Oktober melalui empat sorti penerbangan. Dalam operasi tersebut, pesawat PK-SNH membawa bahan semai natrium klorida (NaCl) untuk disebarkan di sejumlah wilayah, yakni Bogor, Depok, Bekasi, dan Jakarta Selatan. Penyemaian dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mendukung pembentukan hujan dan mengurangi potensi polutan udara di kawasan Jakarta serta sekitarnya. Selama periode pelaksanaan, hujan dengan intensitas yang bervariasi tercatat di beberapa wilayah sekitar ibu kota.

Pada Jumat, 23 Oktober, hujan ringan hingga sedang dilaporkan turun di Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Depok, Bogor, dan Tangerang Selatan. Kondisi tersebut tercatat bersamaan dengan pelaksanaan OMC, meskipun intensitas hujan berbeda di setiap lokasi. Selain upaya tersebut, penyemprotan kabut air dilakukan di sejumlah ruas jalan yang menjadi lintasan JRF 2026. Kegiatan ini melibatkan Suku Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan bersama Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan DKI Jakarta. Penyemprotan ditujukan untuk membantu menyejukkan lingkungan di sekitar rute dan meningkatkan kenyamanan para pelari selama kegiatan berlangsung.

Data IQAir pada Minggu pukul 06.00 WIB menunjukkan kualitas udara Jakarta berada dalam kategori sedang, dengan skor 79. Konsentrasi PM2,5 tercatat sebesar 24 mikrogram per meter kubik (µg/m³), atau setara 4,8 kali nilai panduan tahunan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Karena kualitas udara dapat berubah dari waktu ke waktu, masyarakat tetap perlu memantau pembaruan kondisi setempat. Kelompok sensitif, termasuk anak-anak, lansia, serta orang dengan gangguan pernapasan atau penyakit jantung, disarankan mengurangi kegiatan di luar ruang ketika polusi meningkat. Jika harus beraktivitas di luar, gunakan masker yang sesuai. Di rumah, tutup jendela untuk mengurangi masuknya polutan dan nyalakan pemurni udara bila tersedia.

Baca juga: Aksi Buruh di Jakarta Hari Ini: Dimulai Pagi dan Berakhir Siang | Latihan Militer TNI AU dan Angkatan Udara Prancis di Jakarta | Kota Jakarta Menghadapi Pemadaman Listrik Terencana