JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pembukaan perdagangan Jumat, 9 Oktober 2026. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.855 per dolar AS. Posisi tersebut naik 0,20 persen dibandingkan penutupan perdagangan sehari sebelumnya, Kamis, 8 Oktober 2026, ketika rupiah berada di level Rp17.890 per dolar AS.
Penguatan pada awal perdagangan ini terjadi setelah rupiah gagal mempertahankan penguatan pada sesi sebelumnya dan berakhir melemah. Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pelaku pasar masih mencermati dinamika nilai tukar dari waktu ke waktu, terutama ketika sentimen domestik dan global bergerak secara bersamaan. Pembukaan yang lebih kuat belum dengan sendirinya menggambarkan arah rupiah hingga akhir perdagangan.
Dari pasar global, indeks dolar AS atau DXY terpantau melemah pada pukul 09.00 WIB. Indeks yang mengukur kinerja dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama tersebut turun 0,15 persen ke posisi 101,988. Pelemahan DXY menjadi salah satu faktor eksternal yang dapat memengaruhi persepsi pasar terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, pada awal sesi.
Dengan demikian, pergerakan rupiah pada Jumat pagi dipengaruhi oleh kombinasi sentimen domestik dan global. Di dalam negeri, investor tetap memperhatikan perkembangan ekonomi serta kebijakan yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan. Pada saat yang sama, perubahan indeks dolar AS memberikan konteks dari sisi eksternal. Namun, data pembukaan tersebut belum menunjukkan kesimpulan mengenai arah lanjutan rupiah sepanjang hari, sehingga perkembangan transaksi berikutnya masih menjadi perhatian pelaku pasar.
Pelaku pasar akan mencermati konferensi pers APBN Kita edisi September 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 9 Oktober 2026. Forum tersebut diharapkan memberikan gambaran lebih terperinci mengenai perkembangan penerimaan negara, realisasi belanja, serta kondisi fiskal menjelang penutupan tahun anggaran. Informasi itu penting karena kinerja anggaran akan memengaruhi penilaian terhadap ruang fiskal dan strategi pembiayaan pemerintah.
Sampai September 2026, defisit APBN tercatat mencapai Rp319 triliun atau setara 1,24 persen dari produk domestik bruto (PDB). Posisi tersebut meningkat dibandingkan defisit sekitar 0,9 persen dari PDB pada Agustus. Namun, secara nominal dan rasio, defisit tahun ini masih lebih rendah dibandingkan September 2025, ketika APBN mencatat kekurangan sebesar Rp371,5 triliun atau 1,56 persen dari PDB. Perbandingan tersebut akan menjadi salah satu dasar pasar dalam menilai arah kebijakan fiskal pada kuartal terakhir.
Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyampaikan bahwa rincian angka dan perkembangan terbaru akan dilaporkan melalui konferensi pers APBN. Pernyataan itu disampaikannya dalam Investor Daily Summit 2026 pada Kamis, 8 Oktober 2026. Dengan demikian, paparan resmi pemerintah dinantikan untuk menjelaskan faktor yang mendorong perubahan defisit, termasuk dinamika penerimaan, belanja prioritas, serta kebutuhan pengeluaran hingga akhir tahun.
Perhatian investor tidak hanya tertuju pada besaran defisit, tetapi juga pada kebutuhan pembiayaan pemerintah sampai Desember. Penjelasan mengenai strategi menutup kebutuhan tersebut dapat memberikan petunjuk tentang prospek penerbitan surat utang negara, baik dari sisi volume maupun waktu penerbitannya. Respons pasar obligasi dan nilai tukar rupiah berpotensi dipengaruhi oleh persepsi terhadap kredibilitas pengelolaan anggaran, kesinambungan fiskal, dan kemampuan pemerintah menjaga keseimbangan dukungan terhadap perekonomian dan disiplin anggaran.
Agenda Bank Indonesia menjadi salah satu perhatian dalam perkembangan faktor domestik yang diamati pasar valuta. Bank sentral dijadwalkan merilis data penjualan eceran untuk periode Agustus 2026. Publikasi tersebut akan memberikan gambaran mengenai aktivitas perdagangan eceran dan kondisi konsumsi rumah tangga pada periode terbaru.
Data penjualan eceran Agustus 2026 akan digunakan pasar untuk melihat keberlanjutan pemulihan konsumsi domestik. Indikator ini mencerminkan perkembangan permintaan di sejumlah kelompok barang yang dipasarkan melalui sektor eceran. Karena itu, rilis data Bank Indonesia menjadi bagian dari agenda ekonomi dalam negeri yang diperhatikan bersamaan dengan faktor lain yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah.
Perkembangan sebelumnya menunjukkan penjualan eceran pada Juli 2026 tumbuh 1,1 persen secara tahunan. Pertumbuhan tersebut tercatat setelah penjualan eceran pada Juni 2026 mengalami kontraksi sebesar 3 persen secara tahunan. Perubahan dari kontraksi pada Juni menuju pertumbuhan pada Juli menjadi catatan penting dalam membaca dinamika konsumsi domestik berdasarkan data yang telah tersedia.
Dengan demikian, angka penjualan eceran Agustus 2026 akan melengkapi informasi mengenai kondisi konsumsi setelah hasil Juli dipublikasikan. Pasar akan mencermati data tersebut sebagai salah satu indikator domestik dalam memantau aktivitas ekonomi dan faktor yang turut diperhatikan dalam pergerakan rupiah. Rilis Bank Indonesia juga menjadi bagian dari rangkaian agenda ekonomi yang berlangsung ketika pelaku pasar menunggu informasi terbaru mengenai ketahanan konsumsi dalam negeri.
Sentimen eksternal terhadap pergerakan rupiah turut dipengaruhi oleh data pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Klaim pengangguran awal untuk pekan yang berakhir pada 3 Oktober 2026 tercatat turun 2.000 menjadi 197.000. Angka tersebut lebih rendah daripada ekspektasi pasar sebesar 200.000 dan menjadi level terendah sejak pertengahan Juli. Data ini menunjukkan bahwa jumlah pekerja yang baru mengajukan tunjangan pengangguran masih terbatas, sehingga kondisi pasar kerja AS secara umum tetap relatif kuat.
Namun, gambaran tersebut perlu dibaca bersama data klaim pengangguran berkelanjutan. Jumlahnya meningkat 17.000 menjadi 1,716 juta. Meski demikian, tingkat tersebut masih berada di sekitar level terendah dalam lebih dari tiga tahun. Kombinasi kedua indikator itu mengisyaratkan bahwa pemutusan hubungan kerja di Amerika Serikat masih relatif rendah, tetapi sebagian pencari kerja membutuhkan waktu lebih panjang untuk kembali memperoleh pekerjaan. Dengan kata lain, perusahaan belum banyak melakukan pengurangan tenaga kerja, sementara proses penyerapan kembali tenaga kerja menunjukkan tanda-tanda tidak sekuat sebelumnya.
Perkembangan ini menjadi pertimbangan penting bagi ekspektasi kebijakan suku bunga The Federal Reserve. Klaim awal yang rendah dapat memperkuat pandangan bahwa perekonomian AS masih cukup tangguh, sehingga kebutuhan untuk memberikan pelonggaran moneter secara agresif menjadi lebih kecil. Di sisi lain, peningkatan klaim berkelanjutan dapat mencerminkan munculnya tantangan dalam pasar kerja, meskipun belum cukup untuk mengubah gambaran secara drastis.
Apabila pelaku pasar menilai ruang penurunan suku bunga The Federal Reserve semakin terbatas, dolar AS berpotensi memperoleh dukungan melalui ekspektasi imbal hasil yang lebih tinggi. Penguatan dolar dapat meningkatkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terutama ketika investor menjadi lebih selektif terhadap aset berisiko. Karena itu, data tenaga kerja AS tetap menjadi salah satu faktor eksternal yang dipantau pasar dalam menilai arah pergerakan rupiah.

