Sekolah dan Orang Tua Diminta Bergerak Bersama Cegah Perundungan Anak

oleh -988 Dilihat
oleh
Sekolah dan Orang Tua Diminta Bergerak Bersama Cegah Perundungan Anak

Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menekankan pentingnya keterlibatan sekolah dan orang tua dalam mencegah perundungan terhadap anak. Ia menyampaikan hal tersebut di kantor Kemenko PM, Jakarta, pada Rabu. Pesan itu menempatkan pencegahan sebagai tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas satu pihak setelah suatu kejadian dilaporkan.

Lingkungan pendidikan menjadi salah satu ruang penting dalam upaya tersebut karena anak berinteraksi dan belajar bersama setiap hari. Sekolah dapat membangun suasana yang aman, mendorong sikap saling menghormati, serta memberi ruang bagi siswa untuk menyampaikan masalah yang mereka alami. Di sisi lain, orang tua memiliki peran untuk menjaga komunikasi dengan anak dan memperhatikan perubahan perilaku atau kondisi emosionalnya. Keterlibatan keduanya membantu agar persoalan dapat dikenali lebih dini dan ditangani dengan kepedulian.

Kerja sama juga berarti memastikan informasi mengenai dugaan perundungan tidak berhenti pada satu percakapan atau laporan. Pihak sekolah dan keluarga perlu saling berkomunikasi secara terbuka, dengan mengutamakan keselamatan serta kebutuhan anak. Pendekatan yang cermat penting agar anak yang mengalami perundungan merasa didengar, sementara langkah penanganan tidak memperburuk keadaan atau membuatnya takut untuk meminta bantuan.

Penekanan Muhaimin mengingatkan bahwa pencegahan membutuhkan perhatian yang konsisten. Aturan dan imbauan akan lebih bermakna apabila diikuti budaya yang menolak tindakan merendahkan, mengucilkan, mengancam, maupun menyakiti anak. Guru, tenaga kependidikan, orang tua, dan siswa dapat berkontribusi sesuai perannya dengan mengenali perilaku yang tidak pantas serta mengetahui kepada siapa masalah perlu disampaikan. Sikap tidak membiarkan perundungan berlangsung dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih aman.

Dengan komunikasi yang terjaga sekolah dan keluarga, anak diharapkan memperoleh dukungan dari orang dewasa yang dipercaya. Keterlibatan bersama juga membuka peluang untuk menyampaikan pesan pencegahan secara konsisten, baik di rumah maupun di sekolah. Upaya ini perlu berorientasi pada perlindungan anak dan penghormatan terhadap martabatnya, sehingga setiap anak dapat belajar dan berinteraksi tanpa rasa takut. Pesan tersebut menegaskan perlunya perhatian bersama, bukan sekadar respons sesaat ketika masalah sudah muncul.

Muhaimin memandang pencegahan perundungan sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari sistem pendidikan. Upaya ini bukan semata-mata respons terhadap kejadian yang sudah berlangsung, melainkan tanggung jawab yang perlu melekat dalam penyelenggaraan pendidikan sehari-hari. Karena itu, sekolah memiliki peran penting dalam membangun lingkungan belajar yang aman dan mendukung perkembangan anak. Tanggung jawab tersebut juga mencakup kepala sekolah dan tenaga pendidik, yang menjadi bagian dari lingkungan tempat anak berinteraksi dan belajar. Pencegahan perlu dipahami sebagai perhatian bersama, bukan urusan yang hanya ditangani ketika muncul laporan atau persoalan tertentu. Dengan menempatkannya dalam sistem pendidikan, sekolah diharapkan terus memberi perhatian pada keselamatan dan kesejahteraan peserta didik.

Dalam pandangan itu, kepala sekolah dan tenaga pendidik tidak dapat melepaskan diri dari tanggung jawab mencegah perundungan. Peran mereka berkaitan dengan upaya menjaga agar lingkungan sekolah tetap menjadi tempat yang aman bagi murid. Pencegahan juga menuntut perhatian yang berkelanjutan, sehingga tidak berhenti pada langkah sesaat atau baru dilakukan ketika suatu masalah mencuat. Muhaimin menekankan pentingnya keterlibatan sekolah dalam proses tersebut. Tanggung jawab ini berjalan seiring dengan peran orang tua, sebab anak tumbuh dan menjalani kehidupan dalam lebih dari satu lingkungan. Oleh sebab itu, upaya menjaga anak dari perundungan perlu melibatkan sekolah dan keluarga, dengan kesadaran bahwa keduanya mempunyai tanggung jawab dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Koordinasi sekolah dengan orang tua murid, menurut Muhaimin, perlu berlangsung terus-menerus. Komunikasi kedua pihak sebaiknya tidak baru dimulai setelah perundungan terjadi atau ketika persoalan sudah muncul. Jika hubungan komunikasi hanya dibangun dalam situasi tersebut, pencegahan berisiko dipahami sebatas penanganan setelah kejadian. Sebaliknya, koordinasi yang berjalan secara berkelanjutan menegaskan bahwa perhatian terhadap anak merupakan bagian dari tanggung jawab bersama. Sekolah dan orang tua perlu menjaga komunikasi sebagai bagian dari upaya mencegah perundungan, tanpa menunggu adanya masalah sebagai pemicu. Pandangan ini menempatkan kerja sama sekolah dan keluarga sebagai unsur penting dalam sistem pendidikan yang peduli pada keamanan anak. Dengan demikian, pencegahan tidak hanya menjadi tugas satu pihak, tetapi membutuhkan perhatian yang konsisten dari seluruh pihak yang bertanggung jawab atas pendidikan dan kesejahteraan murid.

Pencegahan perundungan perlu dimulai sebelum tindakan terjadi, melalui kerja bersama sekolah dan orang tua. Perlindungan anak tidak cukup hanya berfokus pada mereka yang telah menjadi korban. Anak juga perlu didampingi agar tidak berkembang menjadi pelaku, sementara tanda-tanda risiko dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin. Muhaimin menekankan pentingnya keterlibatan kedua pihak dalam upaya tersebut, dengan tujuan menjaga anak dari dampak perundungan sekaligus mencegah perilaku yang menyakiti orang lain. Pendekatan ini menempatkan keselamatan dan perkembangan anak sebagai tanggung jawab bersama.

Di sekolah, guru dan tenaga pendidikan dapat memperhatikan perubahan dalam hubungan sosial, kebiasaan belajar, maupun kondisi emosional anak. Anak yang tampak menarik diri, takut berinteraksi, atau mengalami perubahan perilaku patut didekati dengan hati-hati, bukan langsung diberi label. Pengamatan serupa juga penting ketika seorang anak berulang kali bersikap agresif, merendahkan teman, atau menggunakan kekuatan untuk mengendalikan orang lain. Respons awal sebaiknya mengutamakan percakapan yang aman, pengumpulan informasi, dan pemahaman atas situasi, sehingga bantuan dapat diberikan secara tepat tanpa mempermalukan anak.

Orang tua dapat melengkapi pengamatan sekolah dengan membangun komunikasi terbuka di rumah. Perhatian terhadap cerita anak, suasana hati, dan pengalaman sehari-hari membantu orang tua mengetahui apakah anak merasa terancam atau justru menunjukkan perilaku yang perlu diarahkan. Jika muncul kekhawatiran, orang tua dan sekolah sebaiknya bertukar informasi secara tenang, menjaga privasi, serta menyepakati tindak lanjut yang berpusat pada kebutuhan anak. Langkah pencegahan juga mencakup penguatan empati, penghormatan terhadap perbedaan, dan pemahaman bahwa tindakan yang menyakiti orang lain memiliki konsekuensi. Dengan mengenali risiko sejak awal, sekolah dan keluarga dapat mengintervensi sebelum masalah berulang atau memburuk. Kerja sama yang konsisten memungkinkan anak memperoleh dukungan, belajar memperbaiki perilaku, dan merasa aman untuk meminta pertolongan. Karena itu, setiap perubahan tidak semestinya diabaikan ataupun disimpulkan tanpa pemeriksaan. Dialog teratur keluarga dan sekolah membantu memastikan tanda-tanda tersebut ditanggapi secara proporsional, baik saat anak berisiko menjadi korban maupun saat perilakunya mengarah pada perundungan.

Penanganan perundungan perlu melihat dua kebutuhan yang saling berkaitan: memastikan anak yang menjadi korban memperoleh perlindungan dan mencegah perilaku yang sama terulang. Kedua hal tersebut tidak dapat dipisahkan. Perlindungan korban menjadi perhatian utama agar pengalaman perundungan tidak dibiarkan tanpa respons, sementara pencegahan pengulangan diperlukan agar masalah tidak berhenti pada penanganan satu kejadian saja. Karena itu, sekolah dan orang tua perlu bergerak bersama dengan memahami persoalan secara cermat dan menempatkan keselamatan serta kepentingan anak sebagai perhatian.

Bagi korban, pendekatan bersama berarti memastikan bahwa pengalamannya didengar dan ditanggapi secara serius. Anak perlu merasa bahwa orang dewasa di sekitarnya memahami situasi yang dihadapi, bukan mengabaikan atau menganggapnya sebagai persoalan sepele. Komunikasi pihak sekolah dan keluarga dapat membantu menyamakan pemahaman mengenai apa yang terjadi serta kebutuhan anak. Sikap yang tenang dan perhatian yang berkelanjutan juga penting dalam memberi ruang bagi korban untuk menyampaikan kekhawatiran. Setiap respons hendaknya mempertimbangkan kondisi anak dan tidak menambah tekanan yang mungkin sudah dirasakannya.

Pada saat yang sama perhatian.

Baca juga: Babinsa Koramil Gandusari Bersama Warga Gotong Royong Bersihkan Lingkungan Demi Keselamatan Bersama | Klarifikasi Pihak Sekolah Terkait Dugaan Perundungan di Bogor | Bamsoet Apresiasi Nikah Massal Bersama Perkumpulan Bumi Alumni UNPAD, Hadirkan Kepedulian Sosial dan Gerakkan Ekonomi Alumni