Selasa Kliwon 20 Oktober 2026: Rincian Weton, Neptu, dan Wuku Dukut

oleh -1206 Dilihat
oleh
Selasa Kliwon 20 Oktober 2026: Rincian Weton, Neptu, dan Wuku Dukut

Yogyakarta | Tanggal 20 Oktober 2026 dalam kalender Masehi bertepatan dengan Selasa Kliwon, dengan jumlah neptu 11. Dalam pencatatan kalender yang menjadi rujukan, tanggal tersebut juga tercatat sebagai 8 Jumadilawal 1960 Jawa dan 9 Jumadilawal 1448 Hijriah. Ketiga keterangan ini menunjukkan bahwa satu hari dapat dinyatakan melalui beberapa sistem penanggalan, tetapi masing-masing sistem mempunyai aturan dan sumber perhitungan tersendiri.

Untuk angka tanggal Jawa dan Hijriah tersebut, rujukannya adalah Kalender Hijriah Indonesia tahun 2026 yang diterbitkan Kementerian Agama. Sementara itu, keterangan mengenai wuku mengikuti kalender Jawa online Ki-Demang. Penyebutan sumber penting karena kalender daring atau cetak yang berbeda dapat menggunakan metode dan acuan yang tidak sama. Karena itu, rincian tanggal sebaiknya dibaca bersama keterangan kalender yang digunakan, bukan dianggap sebagai angka yang berlaku tanpa konteks.

Dalam istilah weton, Selasa merupakan nama hari dalam siklus tujuh hari, sedangkan Kliwon adalah salah satu nama pasaran dalam siklus lima hari. Weton terbentuk dari perpaduan hari dan pasaran tersebut, sehingga gabungan untuk tanggal ini disebut Selasa Kliwon. Neptu 11 berasal dari nilai Selasa, yaitu 3, dan nilai Kliwon, yaitu 8. Pemisahan unsur ini membantu menjelaskan bahwa weton bukan nama hari tunggal, melainkan kombinasi dua siklus kalender.

Kalender Jawa Sultan Agungan meneruskan angka tahun Saka, tetapi perhitungannya mengikuti pergerakan bulan. Sistem ini memiliki aturan tersendiri dan tidak identik dengan kalender Hijriah, meskipun nama bulan yang digunakan sama. Akibatnya, angka tanggal pada bulan yang bernama sama dapat berbeda kedua penanggalan. Untuk catatan kelahiran, dokumen keluarga, atau keperluan adat, simpan tanggal Masehi dan Jawa secara terpisah, sertakan pula tanggal Hijriah bila diperlukan, serta tuliskan sumber kalender yang dipakai. Cara ini mengurangi kebingungan ketika tanggal ditinjau kembali atau dibandingkan dengan kalender lain.

Neptu weton diperoleh dengan menjumlahkan nilai hari dalam siklus saptawara dan nilai pasaran dalam siklus pancawara. Berdasarkan tabel neptu yang digunakan, Selasa memiliki nilai 3, sedangkan Kliwon bernilai 8. Dengan demikian, neptu Selasa Kliwon adalah 11. Perhitungan ini membantu mengenali nilai suatu weton, tetapi angka akhirnya tidak cukup untuk menentukan nama weton secara lengkap.

Beberapa kombinasi hari dan pasaran dapat menghasilkan jumlah neptu yang sama. Contohnya, Senin Pon juga memiliki neptu 11, karena nilai Senin adalah 4 dan nilai Pon adalah 7. Meskipun totalnya sama dengan Selasa Kliwon, keduanya tetap merupakan weton yang berbeda. Oleh sebab itu, saat membaca atau menghitung weton, nama hari dan nama pasarannya perlu diperiksa bersama-sama; jangan hanya mengandalkan angka neptu.

Perbedaan tersebut berkaitan dengan susunan kalender Jawa. Keraton Yogyakarta menjelaskan bahwa kalender ini mengenal saptawara, yakni siklus tujuh hari, serta pancawara, yakni siklus lima pasaran: Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Kedua siklus berjalan beriringan. Karena panjangnya berbeda, pasangan hari dan pasaran baru kembali pada susunan yang sama setelah kedua siklus bertemu kembali.

Pertemuan saptawara dan pancawara yang sama berulang setiap 35 hari. Jarak ini dikenal sebagai satu selapan. Maka, setelah Selasa Kliwon pada 20 Oktober 2026, tambahkan 35 hari untuk mendapatkan Selasa Kliwon berikutnya, yaitu 24 November 2026. Perhitungan tersebut menunjukkan bahwa weton berulang menurut siklus kalender Jawa, bukan mengikuti tanggal tetap dalam kalender Masehi. Karena jumlah hari setiap bulan Masehi berbeda, Selasa Kliwon tidak selalu jatuh pada tanggal yang sama setiap bulan. Untuk memastikan tanggal suatu weton, periksa pasangan hari-pasaran dan hitung jarak siklusnya, atau gunakan kalender Jawa yang mencantumkan kedua sistem tanggal tersebut. Dengan memahami cara menghitung neptu sekaligus pola selapan, pembaca dapat membedakan nilai weton dari waktu kemunculannya. Neptu adalah jumlah nilai, sedangkan siklus 35 hari menjelaskan kapan pasangan yang sama kembali terjadi. Keduanya saling melengkapi, tetapi menjawab pertanyaan yang berbeda dalam penanggalan Jawa.Menurut Ki Totok Yasmiran, ahli penanggalan Jawa dari Museum Radyapustaka Solo, weton Selasa Kliwon secara tradisional ditafsirkan memiliki watak lembut, ramah, dan pandai berbicara. Gambaran ini menempatkan kemampuan berkomunikasi serta membangun hubungan baik sebagai sisi yang menonjol. Dalam istilah pangarasan, Selasa Kliwon dikaitkan dengan aras tuding, yang dimaknai sebagai peluang untuk memperoleh tanggung jawab atau dipercaya menjalankan suatu tugas. Tafsir tersebut merupakan bagian dari pengetahuan primbon dan tradisi pembacaan penanggalan Jawa, sehingga lebih tepat dipahami sebagai warisan budaya, bukan penilaian mutlak terhadap setiap orang yang lahir pada weton tersebut.

Pancasuda sumur sinaba juga dikaitkan dengan Selasa Kliwon. Perumpamaan sumur sinaba menggambarkan pribadi yang berwawasan dan dapat menjadi tempat orang lain meminta pandangan atau nasihat. Di sisi lain, tafsir tradisional menyebut kecenderungan mudah terpancing emosi sebagai hal yang perlu diperhatikan. Dalam kehidupan sehari-hari, uraian ini dapat dijadikan pengingat untuk menjaga respons, terutama ketika menghadapi perbedaan pendapat atau situasi yang menimbulkan ketegangan. Karakter seseorang tentu dibentuk oleh banyak faktor, termasuk pengalaman dan lingkungan; karena itu, primbon tidak seharusnya diperlakukan sebagai ukuran pasti kepribadian maupun dasar tunggal untuk menentukan keputusan penting.

Wuku berbeda dari weton. Weton menunjukkan perpaduan hari tujuh hari dalam sepekan dengan pasaran lima hari, sedangkan wuku menandai posisi pekan dalam siklus pawukon yang lebih panjang. Siklus tersebut terdiri atas 30 wuku, masing-masing berlangsung tujuh hari, sehingga satu putaran berjumlah 210 hari. Menurut kalender Ki-Demang, Wuku Dukut berlangsung pada 18–24 Oktober 2026; Ki Totok Yasmiran menggunakan ejaan Dhukut. Dengan demikian, Selasa Kliwon pada 20 Oktober berada dalam rentang Wuku Dukut. Petungan tradisional yang mengaitkan pertemuan Selasa Kliwon dan Wuku Dukut dapat disebut sebagai kepercayaan budaya. Tafsir itu bukan kepastian mengenai hasil suatu kegiatan, melainkan salah satu cara masyarakat memahami kalender dan tradisi Jawa.

Tabel weton dan neptu untuk 19–25 Oktober 2026 membantu membandingkan Selasa Kliwon, 20 Oktober, dengan tanggal-tanggal di sekitarnya. Setiap nilai neptu diperoleh dengan menjumlahkan angka hari dan angka pasaran. Dalam perhitungan yang umum digunakan, neptu Senin hingga Minggu berturut-turut adalah 4, 3, 7, 8, 6, 9, dan 5. Sementara itu, nilai pasaran Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon masing-masing adalah 5, 9, 7, 4, dan 8.

Berdasarkan susunan kalender tersebut, Senin Legi, 19 Oktober, memiliki neptu 9; Selasa Kliwon, 20 Oktober, bernilai 11; Rabu Pahing, 21 Oktober, bernilai 16; dan Kamis Pon, 22 Oktober, bernilai 15. Berikutnya, Jumat Wage pada 23 Oktober memperoleh neptu 10, Sabtu Kliwon pada 24 Oktober bernilai 17, sedangkan Minggu Legi, 25 Oktober, memiliki neptu 10. Rincian ini memperlihatkan bahwa weton utama dapat dibaca dalam konteks urutan hari dan pasaran selama sepekan.

Menurut kalender Ki-Demang, tanggal 19–24 Oktober berada dalam Wuku Dukut, sedangkan 25 Oktober mulai memasuki Wuku Watugunung. Pergantian wuku tersebut menjadi penanda tambahan saat membandingkan tanggal, selain nama hari, pasaran, dan jumlah neptunya. Karena itu, pembaca dapat melihat bukan hanya nilai Selasa Kliwon, tetapi juga perubahan susunan kalender di sekelilingnya.

Neptu menunjukkan nilai gabungan hari dan pasaran, tetapi angka yang sama tidak berarti nama wetonnya sama.

Baca juga: Kenaikan Harga Emas Antam: Cek Rincian Terbaru