Serangan udara itu terjadi tanpa ada peringatan lebih dulu sama sekali

oleh -62 Dilihat
oleh
Serangan udara itu terjadi tanpa ada peringatan lebih dulu sama sekali

Jakarta | Jakarta, Terminal tiga Bandara Internasional King Khalid yang berlokasi di ibu kota Riyadh, Arab Saudi kembali digempur pada Sabtu, 10 Oktober 2026. Serangan udara itu terjadi tanpa ada peringatan lebih dulu sama sekali. Terminal 3 Bandara Internasional King Khalid di Riyadh kembali diserang pada 10 Oktober 2026, dengan 12 orang dilaporkan tewas dan 309 luka-luka; operasional bandara dihentikan sementara.

Keterangan yang tercatat menyebut Menurut keterangan para pejabat yang diinformasikan mengenai kejadian terbaru ini, termasuk dua pejabat berwenang dari negara-negara barat, mengatakan bahwa jumlah korban tewas dan terluka belum mencapai angka pasti. Ia mengatakan, hanya penerbangan kemanusiaan yang diizinkan untuk mendarat di Bandara Riyadh. Sementara itu, Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, ketika ditanya oleh media apakah akan ikut membantu Saudi membalas serangan kelompok Houthi, mengatakan bahwa hal itu memungkinkan terjadi. Kami akan bergerak dengan cepat," kata Trump di luar Gedung Putih, dikutip dari stasiun berita CNN. Selain itu, pantau informasi resmi dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, KBRI Riyadh, pihak bandara dan maskapai terkait," kata mereka.

Data lain dalam laporan menunjukkan Akibatnya 12 orang dilaporkan tewas dan 309 orang mengalami luka-luka. Ini menjadi serangan ketiga yang menyasar bandara internasional yang melayani 8 juta penumpang. Stasiun berita CNN, Minggu (11/10/2026) melaporkan, hingga saat ini belum ada satu pun pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Sebelumnya, dalam serangan hari Kamis kemarin yang menyasar pesawat komersial Saudi Airlines, menewaskan tiga warga Saudi. Houthi sengaja ingin menebar kekacauan dan mengalihkan perhatian dari pelanggaran serta kejahatan yang telah mereka lakukan terhadap rakyat Yaman selama bertahun-tahun demi kepentingan Iran di kawasan tersebut," kata Al-Saadi.

Informasi lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut mencakup Belum ada pihak mengaku bertanggung jawab atas serangan ketiga ini, meski Houthi mengklaim dua serangan sebelumnya; Presiden AS Donald Trump membuka kemungkinan membantu Saudi merespons. Pemerintah Yaman meminta DK PBB memblokir dana, penyelundupan persenjataan, dan teknologi untuk Houthi, sementara KBRI mengimbau WNI menghindari area bandara serta memeriksa status penerbangan. Namun, kelompok Houthi di Yaman, mengeklaim dua serangan udara sebelumnya yang juga menyasar Bandara Internasional King Khalid. Akibat serangan udara tersebut, otoritas setempat menghentikan sementara operasional bandara. Kantor media Pemerintah Saudi belum memberikan respons ketika ditanya mengenai serangan ketiga yang menyasar Bandara Internasional King Khalid dan jumlah korban yang jatuh.

Perwakilan tetap Yaman di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Abdullah Al-Saadi, melontarkan kecaman keras terhadap kelompok Houthi yang dinilai kian masif memperluas jangkauan serangan ke wilayah Kerajaan Arab Saudi. Satu pilot termasuk menjadi korban yang tewas. Setelah serangan terjadi, juru bicara militer Houthi mencuit ulang unggahannya sebelum serangan. Juru bicara militer Houthi itu juga menyebut, insiden ini sebagai peringatan. Kita mungkin saja (membantu Saudi). Kami akan mendiskusikannya lebih dulu. Kami baru saja mengetahui mengenai serangan terbaru ini, jadi kami akan segera membuat keputusan. Serangan menyasar infrastruktur sipil, bandara, serta aset ekonomi penting kawasan. Dalam pidatonya pada sidang terbuka Dewan Keamanan PBB di New York, Al-Saadi menyebut serangan tersebut membongkar tabir kejahatan Houthi yang tak ragu mempertaruhkan nyawa warga sipil. Al-Saadi menggarisbawahi bahwa Angkatan Bersenjata Yaman bersama Koalisi Arab Saudi saat ini menjadi garda terdepan dalam mengamankan jalur pelayaran internasional di Laut Merah dan Selat Bab al-Mandeb. Mengingat perannya yang vital bagi pasokan ekonomi global, ia menuntut pertanggungjawaban kolektif dari dunia internasional. Jika kebebasan navigasi merupakan kepentingan bersama, maka melindunginya juga merupakan tanggung jawab bersama. Rakyat Yaman tidak boleh dibiarkan menanggung beban tersebut sendirian," ujarnya. Secara khusus, Pemerintah Yaman mendesak DK PBB untuk memutus rantai sokongan militer kelompok pemberontak tersebut dengan cara: KBRI di ibukota Riyadh, langsung merilis imbauan bagi semua WNI yang saat ini sedang berada atau bermukim di Arab Saudi. Otoritas Indonesia mengimbau agar WNI menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke kawasan Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. KBRI juga mengimbau WNI untuk memeriksa status penerbangan lebih dulu sebelum berangkat ke bandara. WNI diimbau menghindari perjalanan yang tidak mendesak ke kawasan Bandara Internasional King Khalid, Riyadh. Bagi WNI yang memiliki rencana penerbangan, selalu periksa dan konfirmasikan jadwal serta status penerbangan secara langsung kepada maskapai yang digunakan sebelum berangkat menuju ke bandara," demikian imbauan yang diunggah di akun media sosial KBRI di Riyadh. KBRI juga meminta semua WNI untuk berada di lokasi yang aman dan mematuhi arahan dari otoritas setempat.

Baca juga: Kebakaran Hebat di TPA Galuga, Bogor: Apa yang Terjadi? | Polemik Buku Islam Ala Prabowo: Apa yang Terjadi di Balik Penerbitan? | Erupsi Gunung Api Mengancam, BNPB Tekankan Peringatan Dini Harus Berujung Aksi