Jakarta | Greenpeace Indonesia membentangkan dua spanduk raksasa di Patung Selamat Datang, kawasan Bundaran Hotel Indonesia (HI), Jakarta Pusat, pada Selasa pagi, 20 Oktober 2026. Aksi tersebut berlangsung di salah satu titik yang dikenal sebagai Bundaran HI. Informasi mengenai kegiatan ini mencakup jumlah spanduk, lokasi pemasangan, pihak yang membentangkannya, serta waktu pelaksanaan. Peristiwa itu menjadi sorotan di ruang publik, sementara kondisi yang tampak di sekitar kawasan pada pagi hari memberikan gambaran situasi di lokasi.
Sekitar pukul 08.30 WIB, spanduk-spanduk tersebut telah terlipat. Dengan demikian, pengamatan pada waktu itu tidak memperlihatkan kedua spanduk dalam keadaan terbentang. Kondisi ini merupakan bagian dari keterangan mengenai keadaan di lapangan, bukan penjelasan tentang proses pembentangan atau alasan spanduk dilipat. Rangkaian informasi yang tersedia juga tidak menyebut berapa lama spanduk berada dalam keadaan terbuka. Karena itu, uraian mengenai aksi dibatasi pada fakta pelaksanaan dan kondisi yang terlihat.
Pada saat yang sama, petugas gabungan berjaga di sekitar lokasi. Keberadaan petugas tersebut tercatat sebagai salah satu keadaan yang terlihat pada pagi itu. Tidak terdapat keterangan lebih lanjut mengenai tugas mereka, jumlah personel, ataupun instansi yang terlibat, sehingga aspek-aspek tersebut tidak dapat dipastikan. Di ruas jalan sekitar Bundaran HI, arus lalu lintas tampak padat. Keadaan lalu lintas itu tercatat bersamaan dengan pengamatan terhadap petugas dan spanduk yang telah terlipat.
Gambaran pada Selasa pagi tersebut merangkum keadaan di sekitar Patung Selamat Datang setelah Greenpeace Indonesia membentangkan dua spanduk raksasa. Lokasinya berada di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, dan waktu pengamatan yang disebutkan adalah sekitar pukul 08.30 WIB. Saat itu, petugas gabungan berjaga, spanduk sudah terlipat, dan lalu lintas di sekitar lokasi padat. Keterangan ini tidak memuat rincian lain mengenai pelaksanaan aksi maupun dampaknya, sehingga tidak ada kesimpulan tambahan yang dapat ditarik dari keadaan tersebut.
Dua spanduk yang dibentangkan Greenpeace di Bundaran HI menyampaikan pesan berbeda, tetapi saling berkaitan. Keduanya menghubungkan krisis iklim dengan persoalan yang dirasakan warga dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari meningkatnya biaya hidup hingga ancaman bencana. Dengan menempatkan pesan di ruang publik yang ramai, aksi tersebut mengarahkan perhatian pada dampak krisis iklim sekaligus tanggung jawab pemerintah untuk meresponsnya.
Spanduk pertama bertuliskan “Tangani krisis iklim, turunkan biaya hidup” dan menghadap ke utara, ke arah Istana Merdeka. Arah tersebut menegaskan bahwa seruan penanganan ditujukan kepada pemerintah. Pesannya menyoroti hubungan krisis iklim dan tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat. Ketika bencana dan gangguan lingkungan memengaruhi kehidupan warga, biaya untuk memenuhi kebutuhan maupun memulihkan keadaan dapat ikut bertambah. Karena itu, penanganan krisis iklim dipandang tidak terpisah dari upaya menjaga keterjangkauan hidup.
Spanduk kedua, yang menghadap ke selatan Bundaran HI, memuat tulisan “Bencana makin parah, hidup makin susah, apa kerja pemerintah?” Kalimat tersebut mempertanyakan tindakan pemerintah di tengah bencana yang dinilai semakin berat dan dampaknya terhadap keseharian masyarakat. Susunan pesannya menghubungkan kondisi bencana dengan kesulitan hidup, lalu mengajukan tuntutan akuntabilitas. Dengan pertanyaan langsung, Greenpeace mendorong perhatian publik pada kecukupan langkah pemerintah dalam menghadapi risiko iklim dan melindungi warga.
Secara keseluruhan, kedua spanduk membawa tuntutan agar pemerintah menangani persoalan iklim dengan lebih serius. Greenpeace menyoroti bahwa dampaknya bukan hanya persoalan lingkungan, melainkan juga menyangkut keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Warga dapat menghadapi ancaman bencana, kehilangan rasa aman, serta beban ekonomi ketika dampak tersebut mengganggu pekerjaan, tempat tinggal, atau pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Oleh sebab itu, pesan aksi ini meminta respons yang memperhitungkan akibat krisis iklim bagi kehidupan nyata masyarakat, bukan sekadar pernyataan atau perhatian sesaat. Kedua arah spanduk memperluas seruan: satu menyampaikan tuntutan langsung ke pusat pemerintahan, sementara yang lain mengajak masyarakat mempertanyakan tanggung jawab publik atas kondisi yang mereka hadapi.
Jeanny Sirait, juru kampanye keadilan iklim Greenpeace Indonesia, menekankan bahwa dampak krisis iklim paling berat dirasakan kelompok pekerja yang rentan secara ekonomi. Bagi mereka, perubahan kondisi cuaca dan bencana ekologis bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga ancaman langsung terhadap keselamatan, kesehatan, dan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ketika cuaca ekstrem terjadi atau bencana mengganggu lingkungan tempat tinggal dan bekerja, pekerja dapat menghadapi risiko yang lebih besar, sementara ruang untuk mengatasi kerugian sering kali terbatas. Kerentanan ekonomi membuat gangguan tersebut terasa berlapis: kondisi fisik dapat terdampak, pekerjaan terhambat, dan pemasukan berkurang pada saat kebutuhan hidup tetap harus dipenuhi. Karena itu, beban krisis iklim tidak terbagi secara merata di warga.
Cuaca ekstrem dan bencana ekologis dapat mengancam keselamatan serta kesehatan pekerja, sekaligus mengganggu sumber penghidupan mereka. Jika kegiatan mencari nafkah terhenti atau tidak berjalan seperti biasa, pendapatan rumah tangga dapat tertekan. Dampak ini juga berhubungan dengan kebutuhan dasar, termasuk pangan. Ketika krisis iklim memicu gangguan yang mendorong kenaikan harga pangan, pekerja dengan kondisi ekonomi rentan menghadapi tekanan tambahan untuk memperoleh makanan. Pengeluaran yang meningkat dapat mempersempit kemampuan mereka dalam mengelola kebutuhan sehari-hari, terutama jika pada saat yang sama pekerjaan dan pendapatan ikut terganggu. Dengan demikian, dampak iklim dapat menjalar dari ancaman terhadap kondisi lingkungan menjadi persoalan kesehatan, pekerjaan, pemasukan, dan biaya hidup. Penjelasan Jeanny menyoroti bagaimana berbagai tekanan tersebut saling berkaitan dalam pengalaman kelompok pekerja yang paling rentan.
Kabut asap berkepanjangan menjadi salah satu contoh dampak yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari. Paparan kabut asap dalam waktu lama dapat menimbulkan gangguan kesehatan, sementara kondisi tersebut juga dapat menghambat kegiatan ekonomi. Ketika kesehatan terganggu dan aktivitas untuk bekerja atau mencari nafkah terhambat, pekerja dapat menghadapi kesulitan mempertahankan pendapatan. Hambatan kegiatan ekonomi sehari-hari tersebut memperlihatkan bahwa dampak bencana ekologis tidak berhenti pada lingkungan, tetapi juga dirasakan dalam kehidupan dan pekerjaan warga. Bagi kelompok yang secara ekonomi sudah rentan, gangguan kesehatan, tertahannya penghidupan, dan tekanan terhadap pemasukan dapat memperberat keadaan. Keterangan Jeanny menggarisbawahi bahwa perlindungan dari dampak krisis iklim berkaitan erat dengan keselamatan, kesehatan, dan keberlangsungan sumber penghidupan pekerja, serta kemampuan mereka memenuhi kebutuhan sehari-hari di tengah tekanan yang muncul.
Di tengah dampak krisis iklim yang semakin terasa, masyarakat juga menghadapi tekanan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari. Biaya hidup meningkat, sementara kepastian pekerjaan menjadi persoalan bagi banyak orang. Situasi ini berlangsung bersamaan dengan gelombang pemutusan hubungan kerja yang menambah kekhawatiran pekerja dan keluarga mereka. Ketika pengeluaran terus bertambah dan sumber penghasilan tidak selalu terjamin, kemampuan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari ikut tertekan. Beban tersebut menunjukkan bahwa krisis yang dihadapi masyarakat tidak hanya berkaitan dengan perubahan kondisi lingkungan, tetapi juga dengan keamanan ekonomi dan kesejahteraan.
Jeanny menilai keadaan itu berbanding terbalik dengan sejumlah janji pemerintahan Prabowo-Gibran. Pemerintah, menurut janji yang disampaikan, mengarahkan kebijakan pada penciptaan lapangan kerja, penguatan ketahanan pangan dan energi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. Namun, ketika biaya hidup naik dan ketidakpastian pekerjaan membayangi warga, terdapat jarak janji tersebut dan tekanan yang dirasakan dalam keseharian. Gelombang PHK turut menjadi bagian dari kondisi yang membuat harapan akan tersedianya pekerjaan dan kesejahteraan lebih baik menjadi semakin penting bagi masyarakat.
Penilaian Greenpeace sebagaimana disampaikan Jeanny dengan merujuk pada riset terbaru menyoroti respons pemerintah.
Baca juga: Bantuan Beras di Rangkapan Jaya: Meringankan Beban Warga







