Kabupaten Karo | Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menurunkan status aktivitas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, dari Level III (Siaga) menjadi Level II . Perubahan tingkat aktivitas tersebut mulai berlaku pada 17 Oktober 2026 pukul 09.00 WIB. Penurunan status ini menandai perubahan penilaian terhadap kondisi gunung api, tetapi bukan berarti seluruh potensi bahaya telah hilang atau masyarakat dapat mengabaikan ketentuan yang berlaku.
Kepala Pos Pemantau Gunung Sinabung, Armen Putra, mengonfirmasi bahwa status gunung api tersebut telah diturunkan ke Level II. Konfirmasi itu sejalan dengan keputusan Badan Geologi yang menetapkan perubahan level berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi aktivitas Sinabung. Dengan demikian, waktu efektif perubahan telah ditentukan secara jelas, sehingga informasi status terbaru dapat menjadi rujukan bagi masyarakat, pemerintah daerah, serta pihak terkait dalam mengikuti perkembangan kondisi gunung api.
Keputusan penurunan status dibuat berdasarkan analisis dan evaluasi Badan Geologi terhadap aktivitas Gunung Sinabung hingga 15 Oktober 2026. Hasil kajian tersebut menjadi dasar bagi lembaga itu untuk menetapkan tingkat aktivitas yang berlaku mulai 17 Oktober. Perubahan dari Siaga ke perlu dipahami sebagai pembaruan penilaian berdasarkan data yang tersedia, bukan sebagai pernyataan bahwa Sinabung sudah tidak aktif. Pemantauan tetap diperlukan untuk mengikuti dinamika aktivitas vulkanik dan menentukan langkah yang sesuai apabila terjadi perubahan kondisi.
Masyarakat di Kabupaten Karo dan wilayah sekitar diharapkan merujuk pada informasi resmi dari Badan Geologi serta otoritas setempat mengenai status dan perkembangan Sinabung. Penetapan Level II menjadi acuan terbaru, sementara ketentuan keselamatan dan pembatasan aktivitas yang diumumkan pihak berwenang tetap perlu diperhatikan. Dengan memahami tanggal mulai berlakunya status serta dasar evaluasinya, warga dapat membedakan informasi terkini dari pemberitaan atau pengumuman yang merujuk pada status sebelumnya. Informasi resmi yang diperbarui juga penting agar masyarakat tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan kabar yang belum terverifikasi.
Selama periode pengamatan, kondisi visual Gunung Sinabung berubah-ubah. Gunung sesekali tampak jelas, tetapi pada waktu lain puncaknya tertutup kabut sehingga pengamatan terhadap kawah menjadi terbatas. Asap dari kawah utama teramati berwarna putih, dengan intensitas yang bervariasi dari tipis hingga tebal. Ketinggian asap tercatat sekitar 50–600 meter dari puncak. Perbedaan ketebalan dan ketinggian tersebut menggambarkan kondisi yang teramati pada saat pengamatan, sementara kabut turut memengaruhi kejelasan pandangan terhadap gunung.
Aktivitas hembusan di puncak dilaporkan menurun cukup signifikan. Indikasinya terlihat pada asap kawah yang semakin tipis dan berwarna lebih terang dibandingkan sebelumnya. Perubahan visual ini menjadi salah satu unsur dalam pemantauan, tetapi tidak dengan sendirinya menghapus pembatasan aktivitas yang berlaku. Kondisi gunung tetap perlu dipahami berdasarkan keseluruhan hasil pengamatan, termasuk catatan kegempaan, bukan hanya dari tampilan asap atau saat puncak terlihat jelas. Karena itu, informasi visual dan hasil pemantauan lainnya menjadi dasar penting untuk membaca perkembangan aktivitas Sinabung secara berimbang.
Catatan kegempaan untuk periode 8–15 Oktober 2026 mencakup beberapa jenis kejadian. Tercatat empat gempa hembusan dan dua gempa frekuensi rendah, serta lima gempa hybrid atau fase banyak. Selain itu, pemantauan merekam tujuh gempa vulkanik dalam dan satu gempa tektonik lokal. Jumlah gempa tektonik jauh mencapai 39 kejadian, sedangkan gempa getaran banjir tercatat satu kali. Rincian tersebut menunjukkan bahwa pemantauan mencakup aktivitas yang berkaitan dengan proses vulkanik maupun kejadian tektonik. Data ini melengkapi pengamatan visual, termasuk perubahan asap kawah dan frekuensi hembusan. Dengan demikian, gambaran kondisi Sinabung pada periode tersebut didasarkan pada sejumlah indikator yang dicatat secara teratur, sementara status dan ketentuan keselamatan tetap mengikuti arahan resmi.Hasil pemantauan deformasi menjadi salah satu bahan evaluasi aktivitas Gunung Sinabung. Pengamatan ini membantu menggambarkan perubahan jarak maupun kemiringan di sekitar gunung, tetapi perlu dibaca bersama data pemantauan lain. Berdasarkan pengukuran EDM (electronic distance measurement), perubahan jarak menunjukkan pola yang fluktuatif selama periode pengamatan. Pada bagian akhir periode tersebut, data memperlihatkan deflasi. Temuan ini dicatat sebagai kondisi deformasi yang teramati, bukan sebagai dasar tunggal untuk menyimpulkan perubahan tingkat bahaya.
Data tiltmeter dari Stasiun Laukawar juga menunjukkan deflasi pada sumbu yang dipantau. Informasi tersebut melengkapi hasil EDM dalam proses evaluasi aktivitas. Kedua jenis pengukuran memberikan gambaran berbeda mengenai perubahan tubuh gunung: EDM memantau perubahan jarak antartitik, sedangkan tiltmeter merekam perubahan kemiringan. Karena itu, hasilnya dipertimbangkan sesuai konteks dan periode pengukuran. Keterangan yang tersedia menyebutkan pola fluktuatif pada EDM dengan deflasi di akhir periode, serta deflasi pada sumbu tiltmeter Laukawar. Tidak ada dasar dari data ini untuk menyatakan bahwa seluruh perubahan telah berhenti atau bahwa potensi bahaya sudah tidak ada.
Evaluasi juga mempertimbangkan perkembangan kegempaan. Jumlah gempa vulkanik dalam dilaporkan menurun, demikian pula gempa tektonik yang sumbernya berada di sekitar Sinabung. Penurunan pada dua kelompok gempa tersebut menjadi bagian dari keterangan yang mendasari penilaian bahwa potensi letusan juga menurun. Dengan demikian, data deformasi dan kegempaan dibaca sebagai rangkaian informasi pemantauan, bukan secara terpisah. Penilaian tersebut sejalan dengan status Sinabung yang turun ke tetapi tidak berarti risiko letusan telah hilang. Pembatasan aktivitas tetap berlaku, sehingga masyarakat dan pengunjung perlu mengikuti ketentuan serta arahan pihak berwenang. Pemantauan berkelanjutan tetap diperlukan untuk melihat perkembangan kondisi gunung. Jika terdapat perubahan pada data atau rekomendasi resmi, informasi terbaru dari instansi terkait menjadi acuan bagi masyarakat dalam mengambil langkah. Sikap tetap penting selama pembatasan masih diberlakukan, meskipun sejumlah indikator yang disebutkan menunjukkan penurunan potensi letusan.
Penurunan status Gunung Sinabung ke level tidak serta-merta menghapus pembatasan kegiatan di kawasan rawan. Masyarakat, pengunjung, dan wisatawan diminta tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak. Larangan ini mencakup kegiatan menetap, melintas, maupun kunjungan yang tidak mendesak, karena kondisi gunung dapat berubah dan bahaya masih mungkin terjadi. Warga sebaiknya memperhatikan informasi resmi sebelum bepergian, serta tidak mendekati puncak hanya untuk melihat kondisi secara langsung atau mengambil foto.
Selain kawasan di sekitar puncak, terdapat pembatasan sektoral hingga radius empat kilometer pada sektor selatan-tenggara. Batas sektoral tersebut perlu dipahami sebagai area yang juga harus dihindari, meskipun jaraknya dari puncak berbeda dengan radius umum. Pengunjung dan wisatawan dianjurkan mematuhi arahan petugas, mengikuti rambu serta pemberitahuan terbaru, dan tidak memasuki zona yang direkomendasikan untuk dikosongkan. Kepatuhan terhadap batas aman membantu mengurangi risiko bagi diri sendiri maupun tim yang mungkin perlu melakukan penanganan darurat.
Desa-desa yang sebelumnya telah direlokasi direkomendasikan untuk tidak digunakan kembali sebagai tempat tinggal tetap. Keputusan tersebut berkaitan dengan upaya menjaga keselamatan penduduk, sehingga penurunan status tidak dapat dijadikan alasan untuk kembali menetap di wilayah tersebut. Sementara itu, kegiatan sehari-hari tetap dapat dilaksanakan di luar radius yang direkomendasikan, dengan kewaspadaan dan perhatian terhadap perkembangan aktivitas gunung. Masyarakat perlu memastikan bahwa rute perjalanan dan lokasi kegiatan berada di luar zona pembatasan, serta mengikuti pengumuman dari pihak berwenang apabila terdapat perubahan kondisi.
Armen Putra mengimbau masyarakat dan pengunjung agar mematuhi rekomendasi baru, terutama apabila aktivitas Sinabung meningkat dan/atau statusnya kembali naik. Imbauan ini penting karena perubahan aktivitas dapat memengaruhi tingkat risiko dan batas wilayah yang dinyatakan aman.
Baca juga: Aktivitas Seismik Meningkat di Sekitar Bandung, 42 Guncangan Terjadi dalam 2 Hari | Event Olahraga Rakyat di Kalimalang: Mendukung Aktivitas Komunitas | Kaji Suara Dentuman di Pulau Jawa: Hubungan dengan Aktivitas Gunung Anak Krakatau







