Tangis Pecah di Tengah Penertiban Rumah di Kawasan Stasiun Madiun

oleh -92 Dilihat
oleh

KOTA MADIUN – Suasana haru menyelimuti kawasan Jalan Anggrek, Kelurahan Oro-Oro Ombo, Kota Madiun, kemarin (10/6), ketika sejumlah rumah warga mulai ditertibkan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI) Daop 7 Madiun. Salah satu warga, Bu Sugeng (bukan nama sebenarnya), tak kuasa menahan tangis saat alat berat meratakan rumah yang telah ditinggalinya puluhan tahun.

Perempuan berusia 61 tahun itu berdiri mematung, menyaksikan rumah warisan mertuanya kini tinggal puing. “Yang sekarang dirobohkan itu rumah saya,” ujarnya lirih.

Bu Sugeng bercerita, bangunan tersebut dulunya milik mertuanya yang merupakan petugas inspeksi perkeretaapian. Setelah sang mertua wafat, rumah itu sempat ditempati kakak iparnya sebelum akhirnya ia dan suami membangun tempat tinggal sendiri di lahan yang sama. “Suami saya lahir tahun 1957. Kami sudah puluhan tahun tinggal di sana,” kenangnya dengan mata berkaca-kaca.

Bagi Bu Sugeng, rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Selama ini ia menggunakannya untuk berjualan es batu demi membantu kebutuhan keluarga. Ia menyadari bahwa lahan tersebut milik KAI. Meski demikian, ia tetap bersyukur pernah diberi kesempatan menetap di sana. “Saya sadar itu bukan tanah saya. Tapi banyak kenangan di situ. Anak-anak saya tumbuh besar di sana,” ungkapnya. Kini, dua dari tiga anaknya telah menikah, sedangkan satu anak masih tinggal bersamanya.

Penertiban ini merupakan bagian dari program penataan kawasan stasiun. Total ada 50 rumah yang ditertibkan. Sosialisasi kepada warga sudah dilakukan sejak awal Februari lalu melalui pertemuan di kantor Kelurahan Oro-Oro Ombo.

Semula, bangunan-bangunan tersebut dijadwalkan dikosongkan pada akhir Maret. Namun, atas permintaan warga—karena ada yang menggelar hajatan pada April—jadwal pengosongan diundur hingga 28 Mei. “Waktu itu ada yang punya hajatan, jadi ditunda,” jelas Bu Sugeng.

Kini, Bu Sugeng dan keluarganya tinggal di rumah kontrakan di Kelurahan Sukosari, menyimpan kenangan dari rumah lamanya yang telah tiada lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *