Parepare | Anggota Komisi II DPR RI, HM Dr Taufan Pawe, kembali mengungkap sejumlah amanah dan impian mendiang Presiden Republik Indonesia Prof Dr BJ Habibie untuk pengembangan Institut Teknologi BJ Habibie (ITH) Parepare. Pesan tersebut disampaikan sebagai pengingat bahwa keberadaan ITH tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fasilitas pendidikan, tetapi juga dengan cita-cita besar untuk menghadirkan pusat ilmu pengetahuan dan teknologi di kawasan Indonesia Timur.
Taufan menyampaikan keterangan itu saat memberikan materi Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan MPR di Aula ITH Parepare, Sabtu, 10 Oktober 2026. Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan kembali gagasan Habibie mengenai kampus teknologi yang mampu mencetak sumber daya manusia unggul, berkarakter kebangsaan, serta memiliki kemampuan untuk menjawab kebutuhan pembangunan daerah dan nasional.
Menurut Taufan, sebagian besar gagasan yang pernah disampaikan Habibie telah mulai terealisasi melalui pendirian dan pengembangan ITH Parepare. Kehadiran kampus tersebut menjadi bukti bahwa impian Habibie untuk membangun institusi pendidikan tinggi berbasis teknologi di Kota Parepare memperoleh dukungan dan terus bergerak menuju tujuan yang diharapkan.
Meski demikian, Taufan menilai masih terdapat sejumlah pesan yang perlu dilanjutkan. Amanah itu mencakup penguatan kualitas akademik, peningkatan kapasitas tenaga pengajar, pengembangan fasilitas penelitian, serta pembentukan ekosistem inovasi yang dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Ia menekankan bahwa keberlanjutan visi Habibie membutuhkan komitmen bersama dari pemerintah, sivitas akademika, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan.
Dalam pandangan Taufan, ITH Parepare harus terus dikembangkan dengan semangat kemandirian, profesionalisme, dan pengabdian. Nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat Empat Pilar Kebangsaan yang menempatkan pendidikan sebagai fondasi penting dalam membangun bangsa. Karena itu, pesan Habibie dipandang tetap relevan untuk menjadi arah pengembangan ITH pada masa mendatang.
Salah satu amanah penting yang disampaikan B.J. Habibie berkaitan dengan pengembangan Institut Teknologi Habibie (ITH) Parepare adalah keinginannya agar mahasiswa memperoleh kesempatan menempuh kuliah selama satu semester di universitas teknologi di Jerman. Harapan tersebut menunjukkan perhatian Habibie terhadap peningkatan kualitas pendidikan, wawasan akademik, dan pengalaman internasional mahasiswa ITH. Kesempatan belajar di luar negeri dipandang sebagai bagian dari upaya memperluas pengetahuan mahasiswa sekaligus memperkenalkan mereka pada lingkungan pendidikan teknologi yang lebih luas.
Taufan Pawe kembali mengingat ucapan Habibie ketika menyampaikan amanah tersebut. Menurut Taufan, Habibie pernah menyatakan harapannya untuk dapat melihat mahasiswa ITH kuliah di Jerman apabila dirinya masih diberi umur oleh Tuhan. Pernyataan itu menjadi catatan penting karena memperlihatkan besarnya perhatian Habibie terhadap masa depan mahasiswa dan arah pengembangan ITH. Keinginan tersebut juga mencerminkan harapan agar ITH tidak hanya berkembang secara kelembagaan, tetapi turut memberikan pengalaman pendidikan yang bermakna bagi para mahasiswanya.
Amanah untuk membuka kesempatan kuliah selama satu semester di Jerman karena itu memiliki makna strategis dalam pembicaraan mengenai cita-cita Habibie bagi ITH. Namun, berdasarkan sumber yang tersedia, kesempatan tersebut belum terwujud. Belum terdapat keterangan yang memastikan pelaksanaan keinginan itu, sehingga informasi mengenai universitas tujuan, program yang akan ditempuh, jumlah mahasiswa, maupun jadwal pelaksanaannya tidak dapat disimpulkan. Pernyataan Taufan tetap menegaskan bahwa harapan tersebut merupakan bagian dari amanah Habibie yang perlu dikenang dan menjadi perhatian dalam pengembangan ITH Parepare.
Keinginan almarhum B.J. Habibie untuk mendorong pengembangan Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie (ITH) di Parepare belum sempat disaksikan secara langsung. Habibie wafat sebelum gagasan tersebut dapat diwujudkan, termasuk harapannya agar ITH berkembang sebagai lembaga pendidikan tinggi yang memiliki hubungan lebih luas dengan dunia akademik dan teknologi internasional. Amanah itu kemudian tetap diingat oleh Taufan Pawe sebagai bagian penting dari upaya memperkuat arah pengembangan kampus.
Taufan mengakui bahwa dirinya kerap mengingatkan Ilham Habibie mengenai harapan tersebut. Menurutnya, posisi dan jejaring Ilham dapat menjadi salah satu pintu untuk menjajaki peluang kerja sama pendidikan yang relevan bagi ITH. Ia secara khusus berharap jaringan Ilham, terutama yang berada di Jerman, dapat membantu membuka komunikasi serta kemungkinan kolaborasi dengan perguruan tinggi, lembaga riset, atau institusi pendidikan lainnya di negara tersebut. Harapan itu disampaikan sebagai upaya melanjutkan cita-cita Habibie, bukan sebagai penanda bahwa kerja sama telah terbentuk.
Peluang kerja sama yang diharapkan terutama diarahkan untuk memberi kesempatan kepada mahasiswa ITH merasakan pengalaman akademik di Jerman. Bentuknya kelak dapat berupa pertukaran pengetahuan, program kunjungan, penguatan kapasitas, atau pengalaman belajar yang memperkenalkan mahasiswa pada lingkungan pendidikan dan teknologi yang lebih luas. Jerman dipandang memiliki hubungan erat dengan perjalanan pendidikan dan karier Habibie, sehingga jejaring di negara itu dinilai berpotensi mendukung pengembangan wawasan mahasiswa. Taufan berharap komunikasi melalui Ilham dapat membuka ruang pembicaraan lebih lanjut, sekaligus membantu ITH memperoleh akses terhadap pengalaman internasional yang sesuai dengan kebutuhan kampus dan amanah Habibie.
Taufan Pawe mengungkapkan amanah lain yang disampaikan Habibie terkait perluasan akses pendidikan tinggi di Sulawesi Selatan. Habibie menginginkan agar seluruh kabupaten dan kota di provinsi tersebut mengirimkan 10 lulusan SMA atau sederajat terbaik untuk melanjutkan pendidikan di Institut Teknologi Bacharuddin Jusuf Habibie (ITH) Parepare. Gagasan ini menunjukkan perhatian terhadap pemerataan kesempatan belajar, terutama bagi lulusan terbaik dari berbagai wilayah.
Melalui kehadiran mahasiswa yang berasal dari seluruh kabupaten dan kota, ITH diharapkan dapat menjadi ruang pendidikan yang terbuka bagi talenta muda Sulawesi Selatan. Amanah tersebut tidak hanya berkaitan dengan peningkatan jumlah peserta didik, tetapi juga dengan upaya membangun akses yang lebih luas terhadap pendidikan berbasis teknologi. Setiap daerah didorong untuk memberikan kesempatan kepada lulusan terbaiknya agar dapat berkembang melalui pendidikan tinggi di ITH Parepare.
Habibie juga menargetkan agar ITH kelak memiliki 30.000 mahasiswa. Target tersebut menjadi gambaran mengenai skala pengembangan kampus yang diharapkan pada masa mendatang. Pertumbuhan jumlah mahasiswa perlu berjalan seiring dengan penguatan peran ITH sebagai institusi pendidikan yang mampu menjangkau lebih banyak generasi muda dan mendukung kebutuhan pembangunan daerah.
Selain memperluas akses, Habibie berpesan mengenai pentingnya menghadirkan jurusan yang berkaitan dengan teknologi pertanian. Menurut Taufan, pesan tersebut sejalan dengan program yang telah dimiliki ITH, yakni Teknologi Pangan dan Bioteknologi. Kedua bidang itu disebut memiliki keterkaitan dengan pengembangan teknologi di sektor pangan dan pertanian, sehingga dapat menjadi bagian dari upaya ITH untuk menjawab kebutuhan pendidikan serta tantangan pembangunan di Sulawesi Selatan.

