Turbin Angin di Mannar Dipersoalkan, Nelayan Sri Lanka Keluhkan Tangkapan dan Banjir

oleh -828 Dilihat
oleh
Turbin Angin di Mannar Dipersoalkan, Nelayan Sri Lanka Keluhkan Tangkapan dan Banjir

Jakarta | Di Semenanjung Mannar, Sri Lanka, warga memprotes proyek turbin angin yang mereka kaitkan dengan perubahan kehidupan pesisir. Nelayan setempat mengeluhkan hasil tangkapan ikan yang menurun, sementara penduduk permukiman sekitar menyebut banjir semakin mengganggu saat musim hujan. Keluhan itu menjadi sorotan sejak turbin mulai beroperasi pada 2020. Bagi keluarga yang bergantung pada laut, berkurangnya ikan bukan sekadar perubahan angka, melainkan persoalan pendapatan dan ketahanan hidup sehari-hari. Mereka menyatakan bahwa sebelum proyek berjalan, kegiatan melaut di perairan dangkal memberi hasil yang lebih baik. Kini, sebagian nelayan mengaku perlu bekerja lebih lama atau mencari lokasi lain untuk memperoleh tangkapan yang cukup. Namun, kesaksian tersebut menggambarkan pengalaman warga dan belum dengan sendirinya membuktikan penyebab perubahan hasil laut.

Venkatasamy Kalimuththu, nelayan berusia 65 tahun, termasuk warga yang menyampaikan kekhawatiran itu. Ia mengatakan hasil tangkapannya sekarang jauh lebih sedikit dibandingkan masa sebelum turbin dipasang. Menurut pengalamannya, perubahan tersebut terasa setelah fasilitas mulai beroperasi, sehingga ia dan nelayan lain menghubungkan penurunan tangkapan dengan keberadaan turbin di kawasan itu. Kalimuththu juga menduga putaran baling-baling dan bayangan yang jatuh ke laut dapat membuat ikan menjauh dari perairan dangkal. Ia menggambarkan keyakinan pribadi berdasarkan apa yang diamatinya saat mencari ikan, bukan kesimpulan dari penelitian atau pengukuran ilmiah. Bagi dirinya, perubahan di sekitar lokasi proyek sulit dipisahkan dari pengalaman melaut yang semakin berat. Dugaan serupa turut membentuk kegelisahan warga, meski hubungan langsung turbin dan perilaku ikan masih perlu diuji.

Keluhan nelayan perlu dipahami dalam konteks ketergantungan masyarakat Mannar terhadap laut dan kerentanan mereka ketika penghasilan berubah. Akan tetapi, menyatakan bahwa turbin menyebabkan ikan menjauh sebagai fakta pasti tidak tepat tanpa bukti yang memadai. Hasil tangkapan dapat dipengaruhi banyak hal, termasuk kondisi cuaca, musim, tekanan penangkapan, perubahan habitat, serta pergeseran lokasi ikan. Untuk mengetahui apakah proyek berperan, diperlukan pemantauan perikanan yang konsisten sebelum dan sesudah pengoperasian, disertai pemeriksaan kondisi perairan dan pola tangkapan. Pengalaman Kalimuththu dan nelayan lain tetap penting sebagai laporan warga yang dapat mengarahkan penyelidikan. Pemeriksaan terbuka, dengan melibatkan masyarakat pesisir, dapat membantu membedakan dugaan dari temuan yang terukur dan memastikan kekhawatiran tentang mata pencaharian ditanggapi secara serius.

Keluhan mengenai berkurangnya ikan tidak hanya disampaikan oleh nelayan yang tinggal di sekitar lokasi proyek turbin angin. Nelayan lain di kawasan Mannar juga menggambarkan hasil tangkapan yang semakin sulit diperoleh, sehingga waktu dan tenaga yang mereka curahkan di laut tidak selalu menghasilkan pendapatan yang memadai. Bagi keluarga yang bergantung pada perikanan, perubahan seperti ini terasa langsung dalam pengeluaran sehari-hari dan kemampuan memenuhi kebutuhan rumah tangga.

Namun, tekanan terhadap kegiatan penangkapan tidak hanya berkaitan dengan proyek turbin. Nelayan juga menghadapi persaingan dengan kapal pukat asal India yang beroperasi di perairan tersebut. Penggunaan kapal dan alat tangkap berskala lebih besar dapat memperketat persaingan untuk mendapatkan ikan, sementara nelayan setempat umumnya mengandalkan perahu dan perlengkapan yang lebih terbatas. Karena itu, keluhan mengenai tangkapan perlu dipahami dalam konteks beberapa tekanan yang berlangsung bersamaan. Kesaksian warga mengenai perubahan kondisi laut dan kekhawatiran terhadap pembangunan energi menjadi bagian dari perdebatan, tetapi tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa turbin merupakan satu-satunya penyebab turunnya hasil atau pendapatan.

Dampak ekonomi tampak jelas di Pesalai, desa tetangga yang juga mengandalkan perikanan. A. Stanislas Peries, kepala koperasi nelayan setempat, mengatakan pendapatan harian yang sebelumnya dapat mencapai 5.000 rupee kini hampir tidak lebih dari 1.000 rupee. Penurunan sebesar itu menyisakan ruang yang jauh lebih kecil bagi keluarga untuk membeli kebutuhan pokok, membayar biaya operasional melaut, dan menabung untuk keadaan darurat. Angka tersebut mencerminkan perubahan nyata dalam penghidupan warga, meskipun penyebabnya tidak dapat disederhanakan menjadi satu faktor saja. Persaingan dari kapal pukat India disebut sebagai tekanan tambahan, sementara nelayan juga menyampaikan kekhawatiran atas berkurangnya ikan dan dampak proyek di sekitar mereka. Memisahkan faktor-faktor ini penting agar pengalaman masyarakat tetap terdengar tanpa menarik kesimpulan yang melampaui keterangan yang tersedia. Bagi koperasi dan keluarga nelayan, persoalan utamanya adalah bagaimana mempertahankan mata pencaharian ketika hasil tangkapan dan pemasukan semakin tidak menentu.Sejumlah warga di Mannar mengaitkan pembangunan turbin angin dengan genangan yang berulang di kawasan permukiman mereka. Menurut keluhan warga, fondasi beton yang menopang turbin mengubah atau menghalangi jalur air hujan yang sebelumnya mengalir menuju laut. Mereka juga menyoroti parit di sepanjang jalan akses proyek, yang dinilai tidak cukup membantu mengalirkan air dan justru menghambat aliran ketika hujan deras. Kekhawatiran itu menjadi semakin terasa pada musim hujan, saat air disebut tertahan lebih lama di sekitar rumah.

Warga mengatakan genangan kerap masuk ke rumah dan mengganggu kegiatan sehari-hari. Sebagian mengeluhkan bahwa banjir berulang membuat mereka harus mengangkat barang, membersihkan lumpur, serta menghadapi kondisi tempat tinggal yang lembap. Dalam pandangan mereka, perubahan pada lahan dan saluran air di sekitar proyek turut memperburuk situasi, terutama ketika curah hujan tinggi. Namun, hubungan sebab-akibat tersebut merupakan tudingan dan pengalaman yang disampaikan warga; belum dapat diperlakukan sebagai kesimpulan teknis yang telah dikonfirmasi. Untuk memastikan penyebab banjir, diperlukan pemeriksaan independen terhadap kondisi drainase, aliran air, dan karakter kawasan setempat.

Persoalan lain yang disampaikan warga menyangkut ketersediaan air minum. Mereka menyebut sumur-sumur di sekitar permukiman tidak lagi menyediakan air yang layak untuk diminum, sehingga sebagian keluarga harus mencari sumber air lain atau mengeluarkan biaya tambahan. Warga mengaitkan perubahan kualitas maupun ketersediaan air sumur dengan pembangunan turbin, tetapi keluhan tersebut belum dengan sendirinya membuktikan adanya hubungan langsung. Penilaian yang dapat memastikan kondisi air memerlukan pengujian sampel dan pemantauan yang memadai. Bagi masyarakat, persoalan ini tetap mendesak karena menyentuh kebutuhan dasar, sementara kekhawatiran mengenai banjir dan air bersih berlangsung bersamaan. Mereka berharap pihak terkait menanggapi laporan tersebut, memeriksa saluran menuju laut, dan menjelaskan hasil pengukuran kualitas air secara terbuka. Sampai ada bukti yang dapat diverifikasi, dugaan mengenai dampak fondasi, parit akses, banjir, dan sumur perlu disampaikan sebagai keluhan warga, bukan sebagai fakta teknis yang telah dipastikan.

Menteri Energi Sri Lanka, Anura Karunathilaka, mengatakan pemerintah sedang melakukan studi kelayakan untuk mencari cara mengurangi risiko banjir yang dikeluhkan warga Mannar. Ia juga menyatakan bahwa pemerintah telah mendengar keluhan masyarakat setempat terkait dampak pembangunan turbin angin terhadap kehidupan mereka. Menurut Karunathilaka, pemerintah berjanji hanya akan menjalankan proyek-proyek yang telah memperoleh persetujuan. Pernyataan tersebut dimaksudkan untuk menanggapi kekhawatiran warga, yang menilai perubahan lingkungan dan gangguan terhadap mata pencaharian mereka perlu ditangani sebelum pembangunan berlanjut.

Untuk meredakan penolakan, pemerintah membekukan rencana proyek turbin angin baru di Mannar. Namun, penghentian sementara itu tidak mengubah sasaran nasional Sri Lanka: pemerintah tetap menargetkan 70 persen pasokan listrik negara berasal dari energi terbarukan pada 2030. Ambisi tersebut mencerminkan dorongan untuk memperluas energi bersih, tetapi pelaksanaannya menghadapi tantangan ketika proyek di tingkat lokal memicu kekhawatiran tentang tangkapan nelayan, banjir, dan kondisi lingkungan. Perdebatan ini berlangsung ketika konflik di Timur Tengah ikut mendorong kenaikan biaya bahan bakar dan listrik, sehingga tekanan untuk mencari sumber energi alternatif semakin besar.