Tuban, 11 Mei 2026 — Program internet desa yang selama ini dipromosikan untuk menunjang pelayanan digital di Kabupaten Tuban mulai menjadi sorotan warga. Di sejumlah desa, kualitas jaringan WiFi gratis disebut belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat, terutama saat jam pelayanan berlangsung.
Dari hasil pengecekan langsung di lapangan, koneksi internet yang tersedia di kantor desa terlihat mengalami penurunan ketika banyak pengguna terhubung secara bersamaan. Pengujian menggunakan aplikasi speed test menunjukkan kecepatan jaringan berada jauh di bawah kapasitas yang selama ini disebut dalam program resmi pemerintah.
Pada siang hari, terutama ketika aktivitas kantor sedang ramai, kecepatan internet hanya berkisar antara 8 hingga 10 Mbps. Sementara pada malam hari, setelah penggunaan jaringan mulai berkurang, koneksi baru meningkat hingga sekitar 12 sampai 18 Mbps.
Padahal dalam Surat Edaran Sekretaris Daerah Kabupaten Tuban Nomor 140/6888/414.106/2020 dijelaskan bahwa pembangunan WiFi gratis tersebut menggunakan sistem jaringan wireless metode Point To Point (PTP) dengan dukungan internet fiber optic berkapasitas 50 Mbps di masing-masing kantor desa.
Kondisi itu memunculkan berbagai pertanyaan dari masyarakat. Sebagian warga menilai kualitas jaringan yang diterima tidak sesuai dengan harapan, mengingat program desa digital sebelumnya digadang-gadang menjadi solusi akses internet bagi masyarakat desa.
“Kalau dipakai ramai memang terasa lambat. Kadang untuk buka layanan online saja harus menunggu,” ujar seorang warga saat ditemui di sekitar kantor desa.
Selain kualitas jaringan yang dipersoalkan, warga juga mulai menyoroti besarnya biaya internet desa yang disebut mencapai sekitar Rp2,3 juta per bulan. Dengan anggaran tersebut, masyarakat berharap koneksi internet dapat berjalan stabil dan mendukung kebutuhan pelayanan publik secara maksimal.
Informasi yang berkembang di lapangan menyebut jaringan internet desa di sejumlah wilayah menggunakan layanan dari provider Iconnet. Namun hingga kini, masyarakat masih mempertanyakan penyebab koneksi internet sering menurun pada waktu penggunaan tertinggi.
Program desa digital sendiri awalnya dirancang untuk membantu pelayanan administrasi berbasis online sekaligus mendukung kegiatan belajar masyarakat. Akan tetapi, kondisi jaringan yang tidak stabil membuat sebagian warga merasa manfaat program tersebut belum benar-benar dirasakan secara optimal.
Warga kini berharap pemerintah daerah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas layanan internet desa di Kabupaten Tuban. Mereka meminta agar program yang telah berjalan dengan anggaran rutin tersebut benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat, bukan sekadar menjadi proyek digitalisasi di atas kertas.
- Dugaan Judi Sabung Ayam dan Dadu di Kediri Disebut Kian Terorganisir, Warga Nilai Penegakan Hukum Tidak Menyentuh Akar Masalah
- YD Strap Bag Tenun Cetak Penjualan 102 Strap di Hari Kedua PERSIT BISA Vol. II 2026, Bukti Wastra Nusantara Kian Digemari
- GMPK Bongkar Dugaan Setoran Tambang, Konfirmasi ke Kadis DLH Tak Berbalas


