Asap Kiriman Diprediksi Menyelimuti Sultra, Warga Diminta Bermasker

oleh -782 Dilihat
oleh
Asap Kiriman Diprediksi Menyelimuti Sultra, Warga Diminta Bermasker

KOTA KENDARI, SULAWESI TENGGARA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kendari mengimbau masyarakat di Sulawesi Tenggara untuk menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan. Imbauan tersebut disampaikan menyusul adanya paparan asap kiriman yang diprediksi menyelimuti sejumlah wilayah di provinsi itu selama tiga hari ke depan.

Kepala Stasiun Meteorologi Kelas II Maritim Kendari, Heri Purnomo, mengatakan pengamatan BMKG menunjukkan asap tipis telah menyelimuti langit Sulawesi Tenggara dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat menurunkan kualitas udara serta mengganggu jarak pandang, khususnya pada pagi hari dan di wilayah yang terdampak lebih pekat.

Pada 3 Oktober 2026, asap di wilayah Kendari dan sekitarnya terpantau cukup tebal pada pagi hari. Jarak pandang di kawasan tersebut tercatat kurang dari lima kilometer. Situasi itu berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk perjalanan darat, penerbangan, dan kegiatan lain yang membutuhkan pandangan luas.

BMKG meminta warga mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak mendesak. Bagi masyarakat yang tetap harus bekerja atau bepergian, penggunaan masker disarankan untuk membantu mengurangi paparan partikel asap yang terhirup. Warga juga diimbau memperhatikan kondisi kesehatan, terutama jika mengalami batuk, sesak napas, iritasi mata, atau keluhan lain setelah berada di luar rumah.

Selain mengenakan pelindung pernapasan, masyarakat dapat menutup pintu dan jendela ketika konsentrasi asap meningkat. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, serta orang dengan riwayat gangguan pernapasan, perlu memperoleh perhatian lebih. Perkembangan kondisi atmosfer dan jarak pandang akan terus dipantau, sementara informasi terbaru dari BMKG diharapkan menjadi acuan warga dalam menyesuaikan kegiatan selama periode paparan asap kiriman.

Hasil observasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan jarak pandang horizontal di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara mengalami penurunan selama sepekan terakhir. Berdasarkan pemantauan, jarak pandang umumnya berada pada kisaran delapan hingga sembilan kilometer. Kondisi tersebut menjadi salah satu indikator adanya partikel di udara yang berpotensi berkaitan dengan asap kiriman.

Jarak pandang yang masih berada dalam kisaran tersebut belum menunjukkan gangguan ekstrem terhadap aktivitas masyarakat. Namun, perubahan kondisi atmosfer tetap perlu diperhatikan, terutama oleh warga yang sensitif terhadap paparan udara berpartikel. Pengguna kendaraan juga disarankan meningkatkan kewaspadaan ketika jarak pandang menurun, khususnya pada pagi hari atau saat konsentrasi asap meningkat.

Selain jarak pandang, BMKG turut memantau kualitas udara melalui konsentrasi partikulat halus PM2.5 di Kota Kendari. Hasil pemantauan mengindikasikan kualitas udara berada dalam kategori sedang sejak dini hari hingga sore hari. Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan partikel halus di udara, meskipun belum masuk kategori yang tergolong tidak sehat bagi masyarakat secara umum.

Pada sore menuju malam, kualitas udara di Kendari terpantau membaik. Penurunan konsentrasi PM2.5 tersebut dapat membuat kondisi udara lebih nyaman dibandingkan periode sebelumnya. Meski demikian, masyarakat tetap dianjurkan memperhatikan informasi terbaru dan membatasi aktivitas di luar ruangan apabila muncul keluhan seperti iritasi mata, batuk, atau sesak napas.

Menurut Heri, pola penurunan jarak pandang dan perubahan kualitas udara tersebut diperkirakan masih berulang dalam beberapa hari mendatang. Karena itu, pemantauan kondisi atmosfer akan terus dilakukan untuk melihat perkembangan asap dan partikulat di wilayah Sulawesi Tenggara. Warga diimbau menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah sebagai langkah perlindungan, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita gangguan pernapasan.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi asap yang teramati di Sulawesi Tenggara sebagai asap kiriman dari luar wilayah. Asap tersebut terutama berkaitan dengan paparan kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Papua Selatan dan Maluku. Analisis ini didasarkan pada pola pergerakan massa udara serta kondisi atmosfer yang memungkinkan partikel asap terbawa menuju Sulawesi Tenggara. Arah angin yang bergerak dari timur hingga timur laut menjadi salah satu indikator utama dalam penelusuran asal asap tersebut.

Selain menganalisis arah angin, BMKG memantau perkembangan sebaran asap melalui citra satelit Himawari-9. Hasil pemantauan menunjukkan adanya pergerakan partikel dari kawasan timur Indonesia menuju sejumlah wilayah di Sultra. Meski sumber utama berada di luar provinsi, titik panas juga terdeteksi di Sulawesi Tenggara. Tercatat sebanyak 105 titik panas tersebar di berbagai daerah, dengan jumlah terbanyak berada di Kabupaten Bombana. Keberadaan titik panas lokal tersebut tetap menjadi perhatian karena dapat memperburuk kualitas udara apabila terjadi peningkatan aktivitas pembakaran lahan.

Dalam tiga hari ke depan, potensi asap kategori sedang diprakirakan terjadi di Kota Kendari, Konawe Kepulauan, Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Bombana, Kolaka, Kolaka Timur, dan Kolaka Utara. Risiko serupa juga mencakup Muna, Muna Barat, Kota Baubau, Buton, Buton Utara, Buton Selatan, Buton Tengah, serta Wakatobi. Masyarakat di wilayah tersebut diimbau mengikuti informasi resmi BMKG, mengurangi aktivitas luar ruangan ketika kondisi udara menurun, dan menggunakan masker sebagai langkah perlindungan. Kelompok rentan, seperti anak-anak, lansia, serta warga dengan gangguan pernapasan, perlu mendapat perhatian lebih selama periode pemantauan berlangsung.

BMKG mengimbau masyarakat di Sulawesi Tenggara untuk menjaga kondisi tubuh selama asap kiriman mulai memengaruhi kualitas udara. Warga disarankan memperbanyak konsumsi air putih agar tubuh tetap terhidrasi, terutama ketika beraktivitas dalam kondisi udara yang kurang nyaman. Jika asap mulai terasa pekat atau masuk ke dalam rumah, segera tutup jendela dan pintu untuk mengurangi paparan. Ventilasi dapat dibuka kembali ketika kondisi udara di luar membaik.

Kelompok rentan, seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan, perlu mendapat perhatian lebih. Mereka disarankan mengurangi aktivitas di luar rumah dan menghindari lokasi dengan konsentrasi asap tinggi. Masyarakat juga perlu memperhatikan gejala seperti batuk, sesak napas, iritasi mata, atau tenggorokan perih. Apabila keluhan tersebut berlanjut atau memburuk, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan perlu segera dilakukan.

Penurunan jarak pandang akibat asap dapat mengganggu keselamatan pengguna jalan. Pengendara diimbau menyalakan lampu kendaraan, mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, dan tidak memaksakan perjalanan apabila jarak pandang sangat terbatas. Kewaspadaan serupa diperlukan dalam transportasi laut dan penerbangan karena kabut asap dapat menyulitkan proses navigasi, keberangkatan, maupun pendaratan. Operator dan penumpang sebaiknya mengikuti arahan petugas serta memeriksa pembaruan perjalanan secara berkala.

Perkembangan cuaca dan kondisi atmosfer dapat berubah sewaktu-waktu. Karena itu, masyarakat dianjurkan memantau informasi resmi melalui kanal Info BMKG Sultra, akun Instagram @bmkgmaritimkendari, aplikasi Info BMKG, serta layanan WhatsApp BMKG Sultra di nomor 0811-4005-929. Informasi dari kanal resmi membantu warga menentukan waktu beraktivitas, menyiapkan perlindungan diri, dan mengambil keputusan perjalanan secara lebih aman.