Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Bandara Kualanamu

oleh -26 Dilihat
oleh
Kabut Asap Karhutla Ganggu Penerbangan di Bandara Kualanamu

Kabupaten Deliserdang | Kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan menyelimuti wilayah Kabupaten Deliserdang pada Rabu, 14 Oktober 2026. Kondisi tersebut terlihat di sekitar kawasan Bandara Internasional Kualanamu dan mengganggu aktivitas penerbangan. Tebalnya kabut asap membuat jarak pandang di area bandara terganggu, sehingga operasional penerbangan tidak dapat berlangsung seperti biasa.

Dampak langsung dari kondisi itu dirasakan pada sejumlah jadwal keberangkatan di Bandara Internasional Kualanamu. Beberapa penerbangan harus ditunda karena keadaan di sekitar bandara dinilai belum mendukung pelaksanaan penerbangan secara aman. Penundaan dilakukan demi keselamatan penumpang, mengingat tebalnya kabut asap menyelimuti kawasan bandara dan menghambat aktivitas penerbangan.

Gangguan tersebut terjadi ketika kabut asap menutupi kawasan sekitar Bandara Internasional Kualanamu di Kabupaten Deliserdang. Asap yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan itu menyebabkan kondisi bandara terganggu pada hari tersebut. Sejumlah jadwal keberangkatan pun tidak dapat berjalan sesuai rencana dan harus ditunda sampai kondisi memungkinkan. Peristiwa pada Rabu, 14 Oktober 2026, ini menunjukkan bahwa tebalnya kabut asap di sekitar kawasan bandara dapat berdampak langsung terhadap operasional penerbangan. Dengan pertimbangan keselamatan, penundaan menjadi langkah yang diambil terhadap jadwal keberangkatan yang terdampak oleh kondisi tersebut.

Sekitar tujuh penerbangan di Bandara Internasional Kualanamu, Kabupaten Deli Serdang, mengalami penundaan akibat gangguan jarak pandang yang dipengaruhi kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Penundaan tersebut berdampak pada sejumlah rute domestik dan internasional yang dijadwalkan berangkat dari bandara tersebut.

Rute domestik yang terdampak mencakup penerbangan menuju Gunungsitoli, Sibolga, Batam, dan Lhokseumawe. Selain itu, terdapat penerbangan internasional dengan tujuan Penang, Malaysia, yang turut mengalami keterlambatan. Kondisi ini membuat jadwal keberangkatan perlu disesuaikan hingga situasi udara dinilai cukup aman bagi operasional pesawat.

Petugas Humas Bandara Kualanamu, Muhammad Zul Andrika, mengonfirmasi bahwa terdapat sekitar tujuh penerbangan yang mengalami penundaan. Menurutnya, keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil pengamatan terhadap kondisi kabut asap di sekitar kawasan bandara. Pengamatan itu menjadi pertimbangan penting bagi pengelola bandara dan maskapai sebelum penerbangan diizinkan melanjutkan proses keberangkatan.

Penundaan dilakukan sebagai langkah kehati-hatian, terutama karena kabut asap dapat mengurangi jarak pandang di area landasan maupun jalur penerbangan. Dalam situasi seperti ini, maskapai perlu berkoordinasi dengan pengelola bandara serta mempertimbangkan informasi operasional dan keselamatan penerbangan. Penumpang pada rute yang terdampak juga diimbau mengikuti pembaruan dari maskapai masing-masing mengenai perubahan waktu keberangkatan.

Gangguan tersebut menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di wilayah yang terpapar asap, tetapi juga dapat meluas ke sektor transportasi udara. Selama kondisi kabut asap masih berubah-ubah, jadwal penerbangan dari Kualanamu berpotensi mengalami penyesuaian kembali. Pihak bandara terus memantau keadaan untuk memastikan setiap penerbangan dapat dilayani dengan memperhatikan aspek keselamatan.

Penundaan penerbangan akibat kabut asap karhutla menimbulkan perubahan suasana di area keberangkatan Bandara Kualanamu. Calon penumpang harus menghadapi ketidakpastian karena waktu keberangkatan dapat berubah mengikuti perkembangan jarak pandang dan kondisi cuaca. Sebagian penumpang memilih menunggu informasi terbaru di sekitar konter maskapai, sementara lainnya berupaya memastikan status penerbangan melalui aplikasi, situs resmi, atau layanan pelanggan.

Antrean check-in terlihat lebih panjang ketika penumpang datang lebih awal untuk mengurus perubahan jadwal, mencetak ulang dokumen perjalanan, atau memperoleh penjelasan mengenai penerbangan yang tertunda. Penumpukan juga terjadi di ruang tunggu karena penumpang belum dapat naik ke pesawat sesuai jadwal semula. Situasi tersebut dapat semakin padat apabila beberapa penerbangan mengalami penundaan dalam waktu berdekatan.

Petugas bandara dan perwakilan maskapai memberikan pengumuman secara berkala mengenai perubahan jadwal, status penerbangan, serta arahan bagi penumpang yang terdampak. Informasi tersebut disampaikan melalui pengeras suara dan papan informasi, dengan pembaruan dilakukan setelah adanya penilaian terhadap kondisi operasional. Penumpang diimbau tetap memperhatikan pengumuman resmi dan tidak meninggalkan area tanpa memastikan perkembangan penerbangannya.

Beberapa maskapai yang sebelumnya menahan armada di darat dapat kembali melanjutkan penerbangan setelah kondisi dinilai memungkinkan. Pengaturan ulang jadwal dilakukan secara bertahap untuk menyesuaikan ketersediaan pesawat, awak kabin, slot penerbangan, serta kapasitas layanan darat. Dalam proses ini, pengatur lalu lintas udara berkoordinasi dengan maskapai, pengelola bandara, dan penyedia layanan darat agar pergerakan pesawat serta penanganan penumpang berlangsung teratur.

Koordinasi tersebut diperlukan untuk mengurangi gangguan operasional dan mencegah kepadatan yang lebih besar di terminal. Meski demikian, keputusan untuk menunda maupun melanjutkan penerbangan tetap didasarkan pada pertimbangan keselamatan. Maskapai dan otoritas terkait akan mempertimbangkan jarak pandang, kondisi lintasan, serta kesiapan seluruh unsur penerbangan sebelum memberikan izin keberangkatan.

Hasil pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kualanamu menunjukkan bahwa kondisi atmosfer di sekitar Bandara Kualanamu masih memungkinkan kegiatan penerbangan berlangsung. Meskipun lapisan kabut asap tipis terlihat menyelimuti kawasan bandara, petugas tetap melakukan pengamatan secara berkala untuk memastikan perubahan cuaca dan jarak pandang dapat segera diketahui.

Petugas BMKG Kualanamu, Yolanda, mencatat visibilitas di wilayah tersebut berada pada angka 2.500 meter atau 2,5 kilometer. Jarak pandang ini masih termasuk dalam batas aman berdasarkan standar operasional penerbangan. Namun, kondisi tersebut tetap perlu dipantau karena kabut asap dapat berubah mengikuti pergerakan angin, tingkat kelembapan, serta konsentrasi partikel di atmosfer.

Keberadaan asap di sekitar bandara berkaitan dengan sebaran kabut asap yang telah meluas ke berbagai wilayah Sumatera Utara sejak 13 Oktober 2026. BMKG terus memantau arah dan kecepatan angin untuk mengetahui potensi perpindahan asap ke area lain, termasuk kawasan yang berdekatan dengan jalur penerbangan dan permukiman warga. Pengamatan kualitas udara juga dilakukan secara berkelanjutan sebagai bagian dari upaya menyediakan informasi bagi pengelola bandara dan masyarakat.

Walaupun jarak pandang masih berada dalam batas aman, kondisi atmosfer dapat menurun apabila kabut asap semakin pekat. Perubahan tersebut berpotensi mengurangi kenyamanan serta mengganggu aktivitas masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan orang dengan gangguan pernapasan. Masyarakat disarankan mengikuti pembaruan informasi resmi BMKG serta memperhatikan perkembangan kualitas udara di wilayah masing-masing.

BMKG mengimbau masyarakat yang terdampak untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya ketika udara semakin pekat atau jarak pandang menurun drastis. Jika harus bepergian, warga dianjurkan menggunakan perlindungan yang sesuai dan meningkatkan kewaspadaan selama berada di jalan. Informasi terbaru mengenai cuaca, jarak pandang, dan kualitas udara perlu dijadikan acuan sebelum melakukan kegiatan di luar rumah.

Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Strategi BPBD Jatim dalam Menanggulangi Karhutla di Gunung Kawinajang dan Gunung Buthak