RSPP Jadi Proyek Percontohan Transformasi Layanan Kesehatan IHC

oleh -110 Dilihat
oleh
RSPP Jadi Proyek Percontohan Transformasi Layanan Kesehatan IHC

Jakarta | Pembenahan Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) ditempatkan sebagai langkah awal dalam agenda transformasi layanan kesehatan yang didorong Badan Pengaturan (BP) BUMN dan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Rumah sakit yang berada di bawah pengelolaan Indonesia Healthcare Corporation (IHC) ini dipilih sebagai proyek percontohan untuk menunjukkan arah peningkatan mutu dan penguatan layanan di lingkungan perusahaan kesehatan milik negara. Dengan memulai perubahan di RSPP, pemerintah dan IHC diharapkan dapat membangun model pembenahan yang terukur sebelum memperluas penerapannya.

Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa transformasi RSPP akan menjadi tahap pertama sebelum langkah serupa dijalankan di 38 rumah sakit IHC lainnya. Karena itu, pembenahan di RSPP tidak hanya dimaknai sebagai upaya memperbaiki satu fasilitas, tetapi juga sebagai kesempatan untuk merumuskan standar dan pendekatan yang dapat menjadi acuan bagi jaringan rumah sakit tersebut. Pengalaman dari tahap awal ini dapat menjadi dasar untuk mendorong perubahan yang konsisten di berbagai lokasi.

Arahan Presiden Republik Indonesia turut menjadi landasan bagi pengembangan rumah sakit ini. RSPP diharapkan tumbuh menjadi Indonesia Hospital, sekaligus institusi kesehatan yang mencerminkan kemampuan nasional dalam memberikan pelayanan berkualitas. Dony menilai, tujuan tersebut perlu diwujudkan dengan menjadikan RSPP sebagai flagship IHC dan rumah sakit terbaik yang dikenal masyarakat. Posisi itu, menurut pandangan tersebut, menuntut RSPP memiliki identitas yang kuat dan kepercayaan publik yang dibangun melalui pengalaman layanan yang baik.

Penetapan RSPP sebagai proyek percontohan memberi transformasi IHC titik mula yang jelas. Perubahan yang dijalankan di rumah sakit ini diharapkan menjadi contoh konkret, sekaligus membuka ruang untuk evaluasi sebelum pendekatan yang sama diterapkan lebih luas. Dengan demikian, sasaran pembenahan bukan semata-mata meningkatkan profil RSPP, melainkan juga memperkuat layanan kesehatan dalam jaringan IHC. Keberhasilan tahap awal akan penting untuk menunjukkan bahwa arahan menjadikan RSPP sebagai kebanggaan nasional dapat diterjemahkan menjadi pengembangan institusi yang relevan bagi masyarakat.

Dalam rencana transformasi RSPP sebagai proyek percontohan layanan kesehatan IHC, Dony menyebut sejumlah aspek yang akan menjadi perhatian. Salah satu sasaran utamanya ialah peningkatan kualitas pelayanan medis, agar kebutuhan pasien dapat ditangani melalui layanan yang lebih terarah dan konsisten. Rencana ini juga mencakup pembaruan fasilitas rumah sakit serta penguatan tenaga profesional. Kedua unsur tersebut dipandang sebagai bagian yang saling mendukung: fasilitas perlu direncanakan sesuai kebutuhan pelayanan, sementara tenaga kesehatan dan profesional lain perlu diperkuat agar mampu menunjang proses perawatan. Seluruh langkah tersebut masih merupakan bagian dari agenda pengembangan, bukan gambaran bahwa pembaruan telah selesai dilakukan.

Pengembangan yang direncanakan turut meliputi peningkatan kapasitas tempat tidur. Penambahan kapasitas ini akan menjadi salah satu pertimbangan dalam upaya memperluas kemampuan rumah sakit untuk melayani pasien, dengan tetap memperhatikan kesiapan fasilitas, tenaga, dan alur layanan. Di sisi operasional, pembenahan proses pelayanan diarahkan agar tahapan yang dilalui pasien dapat ditata lebih baik. Perhatian terhadap proses sejak pasien mengakses layanan hingga memperoleh penanganan diharapkan menjadi bagian dari rancangan peningkatan mutu. Pada saat yang sama, penguatan keselamatan pasien juga masuk dalam cakupan transformasi, sebagai unsur penting yang perlu melekat pada penyelenggaraan pelayanan medis maupun pengelolaan rumah sakit.

Pengalaman pasien menjadi sasaran lain yang disebut dalam rencana tersebut. Perbaikannya direncanakan melalui layanan fisik dan digital, sehingga pengembangan tidak hanya berfokus pada ruang perawatan atau fasilitas yang terlihat, tetapi juga pada cara pasien berinteraksi dengan layanan. Kanal digital dapat menjadi bagian dari perencanaan untuk mempermudah akses informasi dan proses layanan, sedangkan layanan fisik tetap perlu mendukung kenyamanan serta kejelasan bagi pasien. Dengan demikian, transformasi yang dirancang mencakup beberapa unsur sekaligus: mutu medis, fasilitas, kapasitas, tenaga profesional, proses, keselamatan, dan pengalaman pasien. Pelaksanaannya akan memerlukan penataan yang menyeluruh agar setiap unsur dapat saling menunjang. Dony menempatkan agenda tersebut sebagai arah pengembangan RSPP, dengan fokus pada pembentukan layanan yang lebih baik dan pengalaman pasien yang lebih terkelola, baik saat berinteraksi langsung maupun melalui sarana digital.

Penguatan sumber daya manusia menjadi salah satu bagian penting dalam rencana transformasi layanan kesehatan IHC. Di RSPP, langkah ini mencakup penambahan tenaga medis dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk mendukung pelayanan kepada pasien. IHC merencanakan penambahan 40 dokter spesialis dalam dua tahun ke depan. Rencana tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas layanan sekaligus menyiapkan rumah sakit menghadapi kebutuhan kesehatan masyarakat yang terus berkembang.

Dalam jangka lebih panjang, IHC menargetkan hadirnya 70 dokter spesialis baru pada 2030. Penambahan tenaga spesialis diharapkan berjalan seiring dengan pembaruan organisasi dan cara kerja, sehingga peningkatan jumlah tenaga profesional dapat mendukung perubahan layanan secara berkelanjutan. Pemenuhan kebutuhan tenaga medis ini juga memperlihatkan bahwa transformasi tidak hanya berfokus pada fasilitas atau sistem, tetapi turut bertumpu pada kesiapan orang-orang yang memberikan pelayanan langsung.

Pembaruan sumber daya manusia tidak terbatas pada dokter spesialis. IHC juga mencakup perekrutan dokter, perawat, serta pekerja baru lainnya sebagai bagian dari perubahan budaya kerja. Dengan demikian, langkah perekrutan diarahkan untuk melengkapi kebutuhan berbagai fungsi di lingkungan rumah sakit. Perubahan tersebut melibatkan tenaga yang beragam dan menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan kerja yang mendukung arah transformasi layanan kesehatan.

Dony menyampaikan perlunya tenaga baru dan muda untuk mendukung transformasi. Pernyataan itu menekankan kebutuhan akan pembaruan sumber daya manusia agar perubahan dapat dijalankan oleh tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan organisasi. Maknanya berhubungan dengan dukungan terhadap proses transformasi, tanpa mengubahnya menjadi klaim mengenai target atau hasil tertentu. Melalui rencana perekrutan dan penambahan dokter spesialis, IHC menempatkan pembaruan tenaga kerja sebagai salah satu unsur dalam perubahan budaya kerja di RSPP dan lingkungan perusahaan.

Rencana pengembangan Rumah Sakit Pertamina Pusat (RSPP) ditopang nilai investasi sebesar Rp581 miliar. Besaran tersebut mencerminkan skala pembenahan yang disiapkan untuk memperkuat kapasitas dan mutu layanan rumah sakit. Transformasi RSPP dirancang berlangsung selama 24 bulan, mencakup rangkaian pekerjaan yang perlu dikelola secara terencana, terukur, dan terkoordinasi. Dengan jadwal yang jelas, setiap tahap diharapkan dapat berjalan sesuai sasaran tanpa mengabaikan standar keselamatan maupun kualitas layanan kesehatan.

Dony meminta agar pelaksanaan rencana itu dipercepat. Ia mendorong seluruh proses dapat diselesaikan pada pertengahan 2028, sehingga manfaat transformasi bisa dirasakan lebih cepat oleh pasien dan masyarakat. Percepatan tersebut tetap perlu disertai pengawasan yang cermat terhadap jadwal, mutu pekerjaan, serta koordinasi antar pihak yang terlibat. Pengelolaan proyek yang disiplin menjadi penting agar target waktu dapat dicapai tanpa menurunkan kualitas hasil pembangunan dan renovasi.

Untuk mendukung pelaksanaan, Dony juga meminta direksi IHC melibatkan kontraktor profesional yang memiliki pengalaman dalam pembangunan dan renovasi rumah sakit. Pengalaman khusus di fasilitas kesehatan dinilai penting karena pekerjaan perlu mempertimbangkan kebutuhan operasional rumah sakit, keselamatan pasien, dan keberlangsungan pelayanan. Pemilihan kontraktor yang kompeten diharapkan membantu menjaga mutu pekerjaan sekaligus memastikan penyelesaian proyek sesuai target waktu. Perencanaan yang matang, pengawasan konsisten, serta tanggung jawab pelaksana akan menjadi unsur penting sepanjang masa transformasi.

Investasi dan percepatan ini diarahkan untuk menghasilkan manfaat yang melampaui pembenahan satu fasilitas.

Baca juga: Reformasi Jaminan Kesehatan Nasional: Langkah Strategis Kemenkes | Kondisi Petugas Menangani Kebakaran Bromo: Keluhan Kesehatan Muncul | Prabowo Berpesan kepada Suahasil untuk Memastikan Kesehatan APBN