Sebaran Karbon Monoksida Meluas, BRIN Jelaskan Sumber dan Risikonya

oleh -595 Dilihat
oleh
Sebaran Karbon Monoksida Meluas, BRIN Jelaskan Sumber dan Risikonya

Jakarta | Citra satelit NASA memperlihatkan sebaran karbon monoksida (CO) di sejumlah wilayah Indonesia. Pada Sabtu pagi, 17 Oktober 2026, peta masih menampilkan area dengan warna merah gelap yang menunjukkan bagian-bagian dengan konsentrasi CO lebih pekat dalam visualisasi tersebut. Gambaran ini membantu menunjukkan bahwa gas terdeteksi tersebar di berbagai lokasi, bukan hanya pada satu titik. Namun, warna pada peta perlu dibaca sebagai representasi data pengamatan, bukan ukuran langsung paparan yang dialami setiap orang di permukaan. Informasi visual tersebut memberi gambaran luas mengenai keberadaan CO pada waktu pengamatan, sementara rincian lokasi dan kondisi setempat tetap perlu ditafsirkan dengan memperhatikan keterangan serta metode yang menyertai citra.

Warna merah gelap menonjol pada peta dan menandai area yang digambarkan memiliki konsentrasi relatif lebih tinggi dibandingkan area dengan warna lain. Meski demikian, citra yang tersedia tidak memberikan angka pengukuran dalam informasi yang dirujuk di sini. Karena itu, tidak tepat menyimpulkan kadar tertentu atau menyamakan warna tersebut dengan tingkat paparan pasti di suatu kota maupun permukiman. Peta satelit menggambarkan pola sebaran pada cakupan wilayah yang luas, sedangkan kondisi udara yang benar-benar dihirup masyarakat dapat berbeda menurut lokasi, waktu, cuaca, dan faktor lingkungan lainnya. Pembacaan yang cermat membantu menghindari kesimpulan berlebihan dari satu tampilan peta.

Pengamatan pada pagi itu menunjukkan bahwa sebaran CO masih tampak jelas di beberapa bagian Indonesia. Citra tersebut menjadi petunjuk visual yang relevan untuk memantau pergerakan gas di atmosfer, tetapi bukan pengganti pemantauan kualitas udara secara langsung di dekat permukaan. Data satelit dapat digunakan bersama pengukuran lapangan dan informasi meteorologi agar gambaran kondisi menjadi lebih lengkap. Dengan demikian, peta NASA memberi konteks tentang keberadaan serta pola sebaran karbon monoksida, tanpa dengan sendirinya menetapkan sumber emisi, besaran konsentrasi, atau risiko kesehatan bagi penduduk di setiap wilayah. Pemahaman atas batas-batas tersebut penting ketika masyarakat membaca visualisasi dan mengikuti penjelasan lanjutan dari lembaga terkait.

Albertus Sulaiman, peneliti di Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, menjelaskan bahwa kebakaran lahan dan hutan di sejumlah wilayah Indonesia menjadi salah satu pemicu meningkatnya sebaran karbon monoksida (CO). Titik kebakaran yang terpantau mencakup Kalimantan, Sumatra, hingga Papua. Ketika vegetasi dan material organik terbakar, gas hasil pembakaran dapat dilepaskan ke atmosfer, lalu terbawa oleh pergerakan udara. Karena itu, lokasi konsentrasi CO tidak selalu berdekatan dengan sumber api, dan pemantauan perlu mempertimbangkan kondisi atmosfer serta aktivitas kebakaran di berbagai daerah.

Albertus menerangkan, kebakaran gambut dapat menghasilkan CO karena proses pembakarannya sering berlangsung tidak sempurna. Pembakaran yang tidak sempurna terjadi saat bahan bakar tidak memperoleh cukup oksigen atau tidak terbakar hingga tuntas. Dalam keadaan tersebut, karbon pada bahan organik tidak seluruhnya berubah menjadi karbon dioksida, sehingga karbon monoksida dapat terbentuk. Karakteristik lahan gambut, termasuk kandungan bahan organik yang tinggi dan pembakaran yang dapat berlangsung di bawah permukaan, membuat kebakaran jenis ini menjadi perhatian dalam kajian kualitas udara. Gas yang dilepaskan kemudian dapat menyebar mengikuti pola angin dan dinamika atmosfer.

Meski demikian, keberadaan CO hingga wilayah Jawa tidak serta-merta menunjukkan bahwa gas tersebut berasal dari kebakaran gambut di Kalimantan. Albertus menyebut kebakaran gunung yang terakumulasi dengan polusi udara juga dapat menghasilkan CO di wilayah Jawa. Dengan kata lain, konsentrasi yang terukur di suatu kawasan dapat dipengaruhi oleh lebih dari satu sumber, baik kebakaran lokal maupun pencemaran dari berbagai aktivitas yang berkumpul di atmosfer. Penentuan asal polutan membutuhkan analisis terhadap data pengamatan, arah dan kecepatan angin, serta kondisi cuaca. Penjelasan ini penting agar sebaran CO tidak langsung dikaitkan dengan satu kejadian kebakaran saja. Masyarakat juga perlu memahami bahwa sumber emisi dapat berbeda antardaerah dan berubah seiring waktu, sehingga informasi pemantauan dan evaluasi ilmiah diperlukan untuk membaca risikonya secara tepat.

Albertus menilai pengembalian hutan gambut ke kondisi alaminya penting untuk mereduksi karbon monoksida (CO) yang menyebar luas. Upaya ini berkaitan dengan kemampuan ekosistem gambut menjaga keseimbangan lingkungan, terutama dalam mempertahankan kondisi yang lebih basah. Ketika fungsi alami gambut terjaga, risiko munculnya kebakaran hutan dan lahan dapat ditekan. Dengan demikian, pemulihan gambut bukan hanya menyangkut keadaan vegetasi, tetapi juga kondisi ekologis yang berperan dalam mengurangi peluang terjadinya kebakaran dan penyebaran polutan yang menyertainya.

Menurut Albertus, secara ekologis hutan gambut dapat memproduksi hujan sendiri. Kemampuan tersebut membantu menjaga ketersediaan kelembapan di kawasan gambut dan mendukung kondisi lingkungan yang tidak terlalu kering. Dalam ekosistem yang berfungsi secara alami, hujan menjadi bagian dari keseimbangan yang membantu menghindari kemarau panjang. Sebaliknya, apabila kemarau berlangsung lama, kawasan gambut berisiko berada dalam keadaan lebih kering dan mudah terbakar. Karena itu, hubungan kondisi alami gambut, hujan, dan lamanya musim kering menjadi pertimbangan penting ketika membahas risiko kebakaran.

Pengembalian gambut ke kondisi alaminya, sebagaimana dijelaskan Albertus, dapat membantu menjaga siklus ekologis tersebut agar kemarau panjang tidak terjadi. Kondisi yang lebih mendukung turunnya hujan dan mempertahankan kelembapan selanjutnya dapat membantu menanggulangi risiko kebakaran hutan dan lahan. Risiko karhutla perlu diperhatikan dalam konteks sebaran CO, karena kebakaran dapat berkaitan dengan munculnya karbon monoksida di lingkungan. Dengan menjaga gambut tetap berfungsi sebagaimana mestinya, kemungkinan terjadinya kebakaran dapat dikurangi, sehingga sumber CO yang terkait dengan peristiwa tersebut juga dapat ditekan. Pandangan ini menempatkan pemulihan ekosistem gambut sebagai cara untuk mengurangi risiko dari sumber pencemaran, sekaligus mempertahankan kondisi alam yang membantu mencegah kekeringan berkepanjangan. Intinya, gambut yang kembali berada dalam keadaan alami dinilai mampu mendukung hujan dan mencegah kemarau panjang, sehingga risiko karhutla—serta penyebaran CO yang terkait dengannya—dapat dikurangi.Albertus mengingatkan bahwa karbon monoksida (CO) sulit dikenali karena tidak berwarna dan tidak berbau. Gas ini dapat berada di udara tanpa terlihat atau tercium, sehingga seseorang mungkin tidak menyadari bahwa dirinya sedang terpapar. CO berbahaya karena dapat meracuni darah dan mengganggu kemampuan tubuh memperoleh oksigen. Karena sifatnya yang tersembunyi serta dampaknya yang dapat berkembang serius, karbon monoksida dikenal sebagai silent killer atau pembunuh senyap. Paparan dalam jumlah tinggi bahkan dapat berujung pada kematian. Risiko ini membuat keberadaan CO perlu dipahami, terutama karena tidak adanya tanda berupa warna maupun bau tidak berarti udara aman untuk dihirup.

Dampak paparan dapat berbeda menurut tingkat konsentrasi dan kondisi kesehatan orang yang terpapar. Mengacu pada keterangan EPA dalam bahan yang dikutip, konsentrasi rendah dapat menyebabkan kelelahan pada orang sehat. Pada orang dengan penyakit jantung, paparan pada tingkat rendah juga dapat menimbulkan nyeri dada. Karena gejalanya mungkin tampak tidak spesifik, kelelahan atau nyeri dada tidak selalu langsung dikaitkan dengan karbon monoksida. Pada konsentrasi sedang, CO dapat mengganggu penglihatan dan fungsi otak. Paparan pada tingkat ini juga bisa menimbulkan gejala mirip flu. Gejala tersebut biasanya mereda setelah seseorang keluar dari ruangan tempat paparan terjadi, tetapi sifat gas yang tidak dapat dikenali secara indrawi tetap membuat sumber bahaya sulit diketahui.

Pada konsentrasi tinggi, akibat yang ditimbulkan dapat lebih berat dan berkembang menjadi keadaan yang mengancam nyawa. Gejalanya dapat mencakup pusing, sakit kepala hebat, mual, kebingungan, serta gangguan koordinasi.