Peringatan IMF soal AI: Pekerja Muda Hadapi Perubahan Jalur Karier

oleh -154 Dilihat
oleh
Peringatan IMF soal AI: Pekerja Muda Hadapi Perubahan Jalur Karier

Jakarta | Kepala Dana Moneter Internasional (IMF), Kristalina Georgieva, memperingatkan bahwa dampak kecerdasan buatan terhadap pasar tenaga kerja dapat menyerupai “tsunami yang bergerak lambat”. Ungkapan tersebut menggambarkan perubahan besar yang mungkin tidak terasa sekaligus, tetapi berkembang secara bertahap dan meluas seiring teknologi semakin banyak digunakan. Perusahaan dapat mengubah cara mereka mengatur pekerjaan, memilih keterampilan yang dibutuhkan, dan menentukan tugas yang sebaiknya dilakukan manusia atau sistem otomatis.

Dalam pandangan Georgieva, pekerja muda yang baru memasuki dunia kerja termasuk kelompok paling rentan menghadapi pergeseran ini. Mereka biasanya sedang membangun pengalaman, mengembangkan keterampilan, dan mencari pijakan awal dalam karier. Jika sebagian tugas pemula dapat dikerjakan dengan bantuan AI, jumlah kesempatan untuk memperoleh pengalaman pertama mungkin berubah. Hal itu dapat memengaruhi cara pekerja muda memulai karier, meskipun dampaknya tidak sama untuk setiap bidang, perusahaan, atau jenis pekerjaan.

Peringatan tersebut berkaitan dengan perubahan pasar kerja global dan tidak merujuk pada suatu peristiwa khusus yang sedang terjadi di Indonesia. Gambaran “tsunami yang bergerak lambat” juga tidak berarti bahwa seluruh pekerjaan akan hilang dalam waktu singkat. Teknologi dapat menggantikan sebagian tugas, mengubah proses kerja, sekaligus menciptakan kebutuhan baru yang menuntut kemampuan berbeda. Karena itu, perubahan dapat berlangsung tidak merata: sejumlah pekerjaan terdampak lebih cepat, sementara pekerjaan lain mengalami penyesuaian secara bertahap.

Bagi pekerja muda, situasi tersebut menjadikan kemampuan untuk belajar dan menyesuaikan diri semakin penting. Keterampilan teknis terkait penggunaan AI dapat bernilai, tetapi kemampuan manusia seperti komunikasi, penilaian, kreativitas, dan pemecahan masalah juga tetap relevan. Bagi pembuat kebijakan dan lembaga pendidikan, peringatan ini menyoroti perlunya menyiapkan dukungan agar generasi baru dapat memasuki pasar kerja yang berubah. Pesan Georgieva pada dasarnya adalah agar perubahan tersebut diperhatikan sejak dini, sebelum dampaknya terasa lebih luas, bukan untuk menyatakan bahwa satu jalur karier tertentu pasti akan lenyap.Bagi banyak pekerja muda, karier biasanya dimulai dari tugas-tugas rutin dan berulang. Mereka dapat mengumpulkan data, menyusun dokumen, menjawab pertanyaan pelanggan, memeriksa transaksi, atau membantu proses administrasi sebelum memperoleh tanggung jawab yang lebih kompleks. Tahap awal ini bukan sekadar pekerjaan pertama: melalui tugas tersebut, karyawan belajar memahami alur kerja, membangun keterampilan, dan menunjukkan kesiapan untuk naik ke posisi yang lebih tinggi. Pengalaman sehari-hari juga memberi kesempatan untuk menerima arahan, mengenali standar profesional, serta memahami cara keputusan dibuat di tempat kerja. Karena itu, perubahan pada pekerjaan pemula dapat berpengaruh pada jalur pengembangan karier, bukan hanya pada jumlah lowongan yang tersedia.

Kemajuan kecerdasan buatan berpotensi mengubah tahapan awal tersebut. Sistem AI semakin mampu menjalankan sebagian tugas yang dahulu diberikan kepada karyawan baru, termasuk merangkum informasi, mengolah data, dan membuat draf komunikasi. Perubahan ini dapat membuat perusahaan merancang ulang pembagian kerja, sehingga pekerja muda perlu menguasai kemampuan yang melengkapi teknologi, seperti penilaian kritis, komunikasi, dan pemecahan masalah. Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan sekitar 40 persen pekerjaan di dunia dapat berubah akibat kemajuan AI. Perubahan itu tidak selalu berarti pekerjaan lenyap: sejumlah pekerjaan dapat bertambah atau berkembang, sementara tugas dan kebutuhan keterampilannya bergeser. Namun, jika tugas dasar yang menjadi pintu masuk karier berkurang, perusahaan dan lembaga pendidikan perlu memikirkan cara baru agar pemula tetap memperoleh pengalaman praktis.

Dampaknya diperkirakan lebih besar di negara maju, tempat penggunaan teknologi dan paparan terhadap AI cenderung lebih tinggi. Pekerja berketerampilan menengah juga menghadapi risiko khusus apabila pekerjaan mereka banyak terdiri atas kegiatan yang mudah diotomatisasi. Meski demikian, penilaian IMF tidak menyamakan paparan dengan hilangnya pekerjaan secara otomatis; teknologi dapat menggantikan sebagian tugas sekaligus meningkatkan produktivitas atau menciptakan kebutuhan baru. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva menekankan bahwa AI sedang menggeser permintaan tenaga kerja saat ini, bukan semata-mata mengurangi kebutuhan akan tenaga kerja. Artinya, perubahan utama dapat terjadi pada jenis keterampilan yang dicari dan cara pekerjaan dilakukan. Bagi generasi muda, kesiapan beradaptasi, akses pada pelatihan, serta kesempatan belajar di tempat kerja akan menentukan apakah perubahan ini membuka jalur baru atau mempersempit jalan menuju pekerjaan yang lebih senior.

Kristalina Georgieva menekankan bahwa perubahan yang dibawa kecerdasan buatan menuntut pemerintah meninjau kembali cara pendidikan dan pelatihan diselenggarakan. Jika keterampilan yang dibutuhkan di tempat kerja berubah lebih cepat, pembelajaran tidak dapat berhenti setelah seseorang menyelesaikan sekolah atau pendidikan tinggi. Pekerja perlu memiliki kesempatan untuk memperbarui kemampuan secara berkelanjutan selama menjalani karier.

Penyesuaian sistem pendidikan menjadi penting agar masyarakat lebih siap menghadapi perubahan jenis pekerjaan dan tuntutan keterampilan. Pendidikan perlu membantu peserta didik membangun bekal yang dapat digunakan di tengah perubahan, sekaligus membuka ruang bagi pekerja untuk belajar kembali ketika pekerjaan atau tugas mereka berkembang. Dorongan Georgieva berangkat dari kenyataan bahwa dampak AI terhadap pekerjaan tidak terbatas pada satu tahap kehidupan kerja. Karena itu, kesiapan belajar sepanjang karier menjadi bagian dari respons terhadap perubahan tersebut.

Pemerintah juga perlu memperhatikan keterkaitan pergeseran pasar kerja dan kondisi keuangan publik. Ketika perubahan teknologi mengganggu pekerjaan, dampaknya dapat merambat pada penerimaan pajak. Jika pendapatan yang menjadi sumber penerimaan pemerintah tertekan, kemampuan fiskal pemerintah pun dapat menghadapi tekanan. Dengan demikian, persoalan ini bukan hanya mengenai apakah pekerja mampu menyesuaikan diri, tetapi juga tentang bagaimana perubahan pada pekerjaan memengaruhi basis penerimaan negara.

Risiko tersebut memberi alasan tambahan bagi pemerintah untuk memahami dan mengantisipasi perubahan yang terjadi, sembari menyesuaikan sistem pendidikan agar pengembangan keterampilan dapat berlangsung terus-menerus. Pesan Georgieva menempatkan pendidikan dan kesiapan fiskal dalam satu pembahasan: perubahan di pasar kerja dapat memengaruhi kebutuhan belajar pekerja sekaligus penerimaan pemerintah. Kecepatan dan cakupan dampak AI masih menjadi perhatian, sehingga kemampuan untuk memperbarui keterampilan sepanjang kehidupan kerja dinilai semakin penting. Dalam menghadapi pergeseran ini, pemerintah perlu melihat pendidikan bukan sebagai tahapan yang selesai pada awal kehidupan, melainkan sebagai proses yang dapat mendukung pekerja ketika tuntutan pekerjaan berubah. Pada saat yang sama, perubahan pasar kerja perlu dipantau karena gangguan terhadap pekerjaan berisiko mengurangi penerimaan pajak dan memperburuk posisi keuangan pemerintah.

Perhatian Presiden Singapura Tharman Shanmugaratnam terhadap menyusutnya peluang kerja bagi lulusan baru menggambarkan kekhawatiran yang kian nyata di tengah perubahan pasar kerja. Data di Singapura menunjukkan bahwa 74,4% lulusan universitas memperoleh pekerjaan penuh waktu pada 2025, turun dari 79,4% pada 2024. Angka tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab penurunan, tetapi memperlihatkan bahwa memasuki pekerjaan pertama dapat menjadi lebih sulit bagi sebagian lulusan. Perkembangan kecerdasan buatan turut memicu pertanyaan tentang bagaimana perusahaan akan merekrut, melatih, dan membagi tugas pekerja dan teknologi. Bagi mereka yang baru menyelesaikan pendidikan, kesempatan awal itu penting bukan hanya sebagai sumber pendapatan, melainkan juga sebagai pijakan untuk membangun pengalaman profesional. Karena itu, perhatian terhadap transisi dari kampus ke dunia kerja menjadi bagian penting dari pembicaraan mengenai dampak AI terhadap jalur karier.

Tharman memperingatkan bahwa tertundanya pekerjaan pertama dapat membawa konsekuensi yang lebih luas daripada sekadar jeda dalam memperoleh penghasilan. Jika lulusan tidak segera mendapat kesempatan untuk bekerja, mereka mungkin kehilangan ruang untuk mengembangkan keterampilan praktis, memahami dinamika tempat kerja, dan memperoleh pengalaman yang biasanya menjadi dasar bagi tanggung jawab berikutnya.

Baca juga: Perubahan Jadwal KRL Jabodetabek: Pembatalan 12 Perjalanan yang Harus Diketahui Penumpang | Perubahan Cuaca Akhir Pekan di Jawa Timur | Perubahan Rangkaian KA Bandara dan Dampaknya bagi Penumpang