Akses Air untuk Petani: Program Irigasi Pupuk Indonesia Menjangkau Lima Wilayah

oleh -88 Dilihat
oleh
Akses Air untuk Petani: Program Irigasi Pupuk Indonesia Menjangkau Lima Wilayah

Yogyakarta | PT Pupuk Indonesia (Persero) bersama Rabu Biru Foundation meresmikan Program Mata Air Indonesia di Kelurahan Mertelu, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Sabtu, 24 Oktober. Program ini dirancang untuk membantu petani yang mengelola lahan tadah hujan memperoleh akses air yang lebih baik. Ketersediaan air menjadi perhatian utama, terutama ketika musim kemarau tiba dan sumber air semakin terbatas. Dalam kondisi tersebut, petani dapat menghadapi kesulitan untuk memenuhi kebutuhan tanaman, sehingga kegiatan pertanian berisiko terganggu.

Program Mata Air Indonesia menjangkau lima wilayah, yakni Gunungkidul di Yogyakarta, Grobogan di Jawa Tengah, Pacitan dan Sampang di Jawa Timur, serta Kupang di Nusa Tenggara Timur. Pemilihan wilayah tersebut mencerminkan upaya untuk mendukung masyarakat pertanian yang menghadapi tantangan akses air, terutama di kawasan dengan pola curah hujan yang membuat kegiatan budidaya bergantung pada ketersediaan air musiman. Dukungan program diharapkan membantu petani menjaga keberlangsungan aktivitas pertanian, khususnya pada periode kering, sekaligus memperkuat ketahanan mereka dalam mengelola lahan.

Inisiatif ini merupakan bagian dari tanggung jawab sosial dan lingkungan Pupuk Indonesia yang dijalankan dengan pendekatan creating shared value. Melalui pendekatan tersebut, program sosial diarahkan agar memberi manfaat bagi masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan kegiatan yang berkaitan dengan usaha perusahaan. Direktur Utama Pupuk Indonesia, Rahmad Pribadi, menyampaikan bahwa ketersediaan air merupakan faktor penting bagi keberlanjutan pertanian. Karena itu, perusahaan bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Rabu Biru Foundation, untuk mendukung petani. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya memperluas dukungan bagi masyarakat di wilayah sasaran dan membantu menjawab kebutuhan dasar pertanian. Dengan akses air yang lebih memadai, petani diharapkan dapat menghadapi musim kemarau dengan lebih siap dan mempertahankan kegiatan budidaya mereka. Program ini juga menempatkan kebutuhan masyarakat setempat sebagai perhatian, sehingga dukungan dapat berhubungan langsung dengan tantangan yang mereka hadapi dalam mengelola lahan tadah hujan. Kerja bersama berbagai pihak diperlukan agar upaya penyediaan akses air dapat memberi manfaat yang berkelanjutan bagi petani di lima wilayah penerima.Lahan pertanian di Mertelu menghadapi kendala air yang tidak sederhana. Sebagian petani masih mengandalkan hujan untuk memenuhi kebutuhan tanaman, sementara kondisi tanahnya kering dan wilayahnya berada di kawasan karst yang berbatu. Karakter lingkungan tersebut membuat ketersediaan air menjadi persoalan penting dalam kegiatan budidaya. Tantangan semakin terasa ketika kemarau berlangsung berkepanjangan, karena pasokan dari hujan berkurang dan petani memiliki keterbatasan untuk mengairi lahan. Dalam situasi seperti ini, sumber air yang dapat diakses dan disalurkan secara teratur menjadi kebutuhan mendasar agar kegiatan pertanian tetap dapat dijalankan. Karena itu, dukungan infrastruktur irigasi diarahkan untuk membantu menjawab hambatan yang selama ini dihadapi petani setempat.

Untuk mendukung kebutuhan tersebut, Pupuk Indonesia membangun fasilitas yang terdiri atas sumur bor sedalam 103 meter, tandon beton berkapasitas 20.000 liter, jaringan pipa irigasi, serta pompa air yang ditopang panel surya. Sumur bor menyediakan sumber air, sedangkan tandon berfungsi menampungnya sebelum dialirkan melalui jaringan pipa. Pompa membantu mengangkat dan menyalurkan air, dengan dukungan energi dari panel surya. Rangkaian ini dirancang sebagai satu sistem agar air dapat dibawa menuju lahan pertanian, termasuk ketika hujan tidak mencukupi. Kapasitas dan jalur distribusinya disiapkan untuk menjangkau area budidaya, sehingga fasilitas tidak hanya menyediakan titik sumber air, tetapi juga mendukung penyaluran ke lahan penerima manfaat.

Sistem irigasi tersebut dirancang untuk mengalirkan air ke lahan pertanian seluas 28 hektare dan memberi manfaat kepada 93 petani penerima pupuk bersubsidi di wilayah Mertelu. Cakupan ini menjadikan fasilitas sebagai dukungan bersama bagi petani yang menghadapi keterbatasan air, terutama pada musim kering. Kehadiran infrastruktur itu diharapkan membantu kegiatan budidaya dan memberi petani akses yang lebih memadai terhadap air untuk mengelola lahan. Pupuk Indonesia juga berharap fasilitas tersebut dapat mendukung produktivitas pertanian serta mengurangi risiko yang timbul akibat terbatasnya pasokan air. Harapan tersebut merupakan tujuan dari pembangunan irigasi, bukan pernyataan bahwa hasil panen telah meningkat. Dampak akhirnya akan bergantung pada pemanfaatan dan pengelolaan fasilitas oleh para penerima manfaat.

Program irigasi yang menjangkau lima wilayah tidak hanya menyediakan infrastruktur air, tetapi juga menggabungkannya dengan pendampingan bagi petani. Sarana yang diberikan mencakup sumur bor, pompa, panel surya, tangki penampung, serta jaringan pipa untuk mengalirkan dan menyimpan air. Kehadiran fasilitas tersebut diharapkan membantu lahan pertanian memperoleh pasokan air, terutama ketika curah hujan menurun dan sumber air semakin terbatas. Pemanfaatan energi surya juga menjadi bagian dari dukungan agar pengoperasian pompa dapat berlangsung sesuai kebutuhan di lapangan.

Dukungan teknis diberikan agar fasilitas dan kegiatan budidaya dapat dimanfaatkan secara optimal. Petani memperoleh pelatihan budidaya selama satu musim tanam, termasuk arahan untuk memilih varietas unggul yang lebih adaptif terhadap kondisi kering. Pendampingan juga mencakup perawatan sumur bor agar sumber air tetap berfungsi, serta penanganan pascapanen untuk menjaga kualitas hasil pertanian setelah dipanen. Dengan rangkaian bantuan ini, program diharapkan tidak berhenti pada pembangunan sarana, tetapi turut memperkuat kemampuan petani dalam menghadapi tantangan produksi.

Rahmad berharap masyarakat dan kelompok tani bersama-sama menjaga serta merawat fasilitas yang telah disediakan. Menurutnya, tanggung jawab pemeliharaan penting agar sarana air dapat terus digunakan dan manfaatnya dirasakan secara berkelanjutan, bukan hanya pada awal program. Keterlibatan warga juga dapat membantu memastikan fasilitas digunakan sesuai kebutuhan pertanian di wilayah masing-masing.

Siti Hediati Soeharto, Ketua Komisi IV DPR RI sekaligus Ketua Dewan Pembina Rabu Biru Foundation, berharap bantuan tersebut dapat mendukung petani menghadapi musim kemarau. Ia juga berharap program serupa dapat menjangkau daerah lain yang mengalami persoalan akses air, sehingga lebih banyak kelompok tani memperoleh dukungan untuk menjaga kegiatan pertanian tetap berjalan.

Suyoto, salah satu petani penerima manfaat, menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan. Ia berharap sarana tersebut dapat mengatasi kekurangan air yang selama ini menghambat pertanian di Mertelu. Dengan pasokan yang lebih memadai dan pendampingan yang diterima, ia berharap hasil panen meningkat dan kesejahteraan petani setempat turut membaik. Harapan itu menjadi salah satu ukuran penting bagi penerima manfaat dalam melihat keberlanjutan program.

Dalam kegiatan peresmian program irigasi di Gunungkidul, Pupuk Indonesia juga menyalurkan satu unit ambulans melalui Yayasan Sehat Hijau Sejahtera Yogyakarta. Penyaluran kendaraan tersebut menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang sama, tetapi merupakan bantuan tambahan yang berbeda dari program penyediaan akses air untuk petani. Dengan demikian, ambulans bukan komponen irigasi, melainkan dukungan lain yang diberikan dalam kesempatan tersebut.

Bantuan ambulans itu diharapkan dapat memperkuat layanan kesehatan dan penanganan darurat medis bagi masyarakat. Kehadiran kendaraan untuk keperluan tersebut diharapkan mendukung pelayanan ketika masyarakat membutuhkan bantuan kesehatan atau penanganan medis darurat. Tujuan yang disampaikan berfokus pada penguatan layanan dan respons darurat, tanpa mengubah sasaran utama program irigasi yang berkaitan dengan kebutuhan air pertanian.

Pemisahan informasi ini penting agar cakupan setiap bantuan dapat dipahami secara jelas. Program irigasi diarahkan untuk membantu petani memperoleh akses air, sementara ambulans merupakan dukungan tambahan bagi layanan kesehatan masyarakat di Gunungkidul. Keduanya disalurkan dalam konteks kegiatan peresmian yang sama, tetapi mempunyai tujuan dan bentuk manfaat yang berbeda. Penyebutan bantuan ambulans melengkapi informasi mengenai kegiatan tersebut, bukan menggantikan atau memperluas keterangan tentang pelaksanaan program irigasi.

Melalui.

Baca juga: Inspeksi Program Makan Bergizi di Palu | Persiapan Generasi Muda Menghadapi Masa Depan Melalui Program Siap Impact | Kebakaran Melahap Wilayah Permukiman di Kebayoran