Bandung | Aktivitas Gunung Anak Krakatau tercatat meningkat pada Minggu, 11 Oktober 2026. Sepanjang hari tersebut, gunung api yang berada di perairan Selat Sunda itu mengalami 68 kali gempa dengan berbagai jenis. Catatan ini menunjukkan adanya aktivitas kegempaan yang terpantau selama periode pengamatan harian, sebagaimana disampaikan dalam laporan resmi pemantauan gunung api.
Informasi mengenai 68 kejadian gempa tersebut tercantum dalam laporan Magma Indonesia. Laporan itu diunggah melalui situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada Senin, 12 Oktober 2026, pukul 08.30 WIB. Publikasi tersebut menjadi rujukan informasi mengenai perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau pada hari sebelumnya.
Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api yang terletak di perairan Selat Sunda. Dalam laporan yang dipublikasikan tersebut, jumlah kejadian gempa dihimpun berdasarkan hasil pemantauan selama Minggu, 11 Oktober 2026. Penyebutan gempa berbagai jenis menandakan bahwa laporan mencatat lebih dari satu kategori aktivitas kegempaan, tanpa mengubah jumlah keseluruhan kejadian yang tercatat dalam sehari.
Data 68 kali gempa menjadi inti laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau untuk periode tersebut. Keterangan waktu pengamatan dan waktu publikasi membedakan peristiwa yang dicatat pada Minggu dan penyampaian informasinya kepada publik pada Senin pagi. Dengan demikian, laporan Magma Indonesia memberikan pembaruan terbaru mengenai aktivitas gunung api di perairan Selat Sunda berdasarkan pemantauan hingga 11 Oktober 2026.
Selama periode pengamatan pada 11 Oktober 2026, sejak 00.00 hingga 24.00 WIB, kondisi kegempaan Gunung Anak Krakatau terpantau fluktuatif. Aktivitas tersebut didominasi tremor terus-menerus, yang menunjukkan adanya getaran berkelanjutan dalam sistem gunung api. Meskipun intensitasnya berubah-ubah, seluruh rangkaian gempa tetap menjadi indikator penting untuk memantau dinamika aktivitas vulkanik.
Dalam periode tersebut, tercatat 25 gempa hembusan. Gempa ini memiliki amplitudo 6–31 mm dengan durasi 21–264 detik. Selain itu, teridentifikasi 2 gempa low frequency, dengan amplitudo 21–45 mm dan durasi 6–14 detik. Karakteristik tersebut menggambarkan variasi sumber getaran yang berkaitan dengan pergerakan fluida atau proses internal gunung api.
Jenis gempa yang paling banyak tercatat adalah gempa hybrid atau fase banyak, dengan jumlah 29 kejadian. Amplitudonya berada pada kisaran 7–36 mm, sedangkan durasinya mencapai 7–20 detik. Data ini juga mencatat 7 gempa vulkanik dangkal, yang memiliki amplitudo 11–21 mm dan durasi 9–17 detik. Gempa vulkanik dangkal umumnya merefleksikan aktivitas pada bagian atas sistem Gunung Anak Krakatau.
Selanjutnya, terdapat 1 gempa tektonik jauh dengan amplitudo 15 mm dan durasi 94 detik. Pengamatan juga merekam 4 gempa tremor menerus, dengan amplitudo 1–42 mm dan amplitudo dominan 15 mm. Tremor menerus menjadi komponen utama dalam pola kegempaan karena berlangsung tanpa jeda yang jelas dan mendominasi rekaman selama pengamatan. Keseluruhan data tersebut memperlihatkan aktivitas seismik yang beragam, sehingga perkembangan kondisi Gunung Anak Krakatau tetap perlu dipantau berdasarkan pengamatan instrumental dan evaluasi vulkanologi secara berkala.
Pengamatan visual Gunung Anak Krakatau menunjukkan kondisi yang berubah-ubah selama periode pemantauan. Pada tingkat pengamatan 0, tubuh gunung api terlihat jelas dari lokasi pengamatan. Bentuk puncak dan bagian lereng dapat diamati tanpa gangguan berarti, sehingga kondisi permukaan gunung tampak secara langsung. Perubahan jarak pandang mulai terlihat pada tingkat pengamatan berikutnya ketika sebagian tubuh gunung tertutup kabut.
Pada tingkat pengamatan I, kabut mulai menyelimuti bagian tertentu di sekitar tubuh dan puncak gunung. Tingkat keterlihatan masih memungkinkan pengamatan terhadap bentuk umum Gunung Anak Krakatau, meskipun beberapa bagian tidak terlihat secara utuh. Kabut yang muncul membuat batas puncak, lereng, dan latar belakang menjadi kurang jelas dibandingkan kondisi saat gunung terlihat sepenuhnya.
Memasuki tingkat pengamatan II, tutupan kabut tampak lebih luas. Puncak atau bagian tubuh gunung hanya dapat diamati secara terbatas, sementara bagian lainnya tertutup kabut. Kondisi tersebut menyebabkan detail permukaan gunung tidak selalu terlihat. Pada tingkat pengamatan III, Gunung Anak Krakatau berada dalam keadaan tertutup kabut, sehingga pengamatan visual terhadap tubuh gunung menjadi sangat terbatas.
Dari puncak kawah, teramati asap berwarna putih yang memiliki intensitas tipis hingga sedang. Asap tersebut tampak keluar dari area kawah dengan ketinggian yang bervariasi, sekitar 5 hingga 100 meter di atas puncak kawah. Pada saat asap berintensitas tipis, keberadaannya terlihat samar dan dapat menyatu dengan kabut di sekitar puncak. Sementara itu, asap dengan intensitas sedang tampak lebih jelas, terutama ketika kondisi pandangan memungkinkan area kawah diamati. Ketinggian asap tidak selalu sama sepanjang pengamatan, dengan rentang teramati mulai dari sekitar 5 meter hingga mencapai sekitar 100 meter.
Masyarakat, nelayan, dan wisatawan diminta mematuhi batas aman di sekitar Gunung Anak Krakatau. Aktivitas tidak diperbolehkan dalam radius 1 kilometer dari dataran baru yang terbentuk di kawasan gunung api tersebut. Pembatasan ini perlu diperhatikan oleh setiap pihak, termasuk warga yang tinggal atau beraktivitas di wilayah pesisir, nelayan yang melintas di sekitar perairan, serta wisatawan yang hendak mengamati aktivitas gunung dari jarak dekat.
Selain menghindari radius 1 kilometer dari dataran baru, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai potensi bahaya dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi Anak Krakatau. Ancaman tersebut meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, dan aliran lava. Kondisi di sekitar gunung api dapat berubah, sehingga siapa pun yang berada di kawasan tersebut perlu memperhatikan arahan dan informasi yang disampaikan melalui saluran resmi.
Potensi erupsi sekunder juga perlu diwaspadai. Peristiwa ini dapat terjadi akibat kontak panas lava dengan air laut maupun air hujan dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi. Interaksi tersebut berpotensi menimbulkan bahaya tambahan bagi masyarakat dan aktivitas di sekitar kawasan gunung api. Karena itu, masyarakat, nelayan, dan wisatawan perlu menghindari kegiatan yang mendekatkan mereka pada area berisiko serta tidak mengabaikan peringatan mengenai kondisi Anak Krakatau.
Masyarakat juga diimbau tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial. Untuk memperoleh penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan, informasi dapat dikonfirmasi kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, melalui nomor (022) 7272606 di Bandung. Pertanyaan juga dapat disampaikan kepada Pos Pengamatan Gunungapi Krakatau melalui nomor (0254) 651449 atau 085846324506 di Pasauran.
Baca juga: TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda | Dugaan Suara Dentuman dari Gunung Anak Krakatau Diterima di Banyak Wilayah | Update Terbaru Erupsi Gunung Anak Krakatau

