Benyamin S Award 2026 Dorong Warga Jakarta Menjadi Teladan di Lingkungan

oleh -23 Dilihat
oleh
Benyamin S Award 2026 Dorong Warga Jakarta Menjadi Teladan di Lingkungan

Jakarta | Asisten Perekonomian dan Keuangan Sekretariat Daerah DKI Jakarta, Suharini Eliawati, menegaskan bahwa Benyamin S Award (BSA) 2026 menjadi salah satu upaya Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk mendorong warga menjadi teladan di lingkungan masing-masing. Pernyataan tersebut disampaikan saat Suharini berada di Kelurahan Sukabumi Utara pada Kamis, 8 Oktober. Menurutnya, penghargaan ini tidak hanya berfokus pada penilaian terhadap wilayah, tetapi juga pada semangat masyarakat dalam menghadirkan perubahan yang positif dan berkelanjutan.

Suharini menjelaskan, BSA 2026 tidak seharusnya dipandang semata-mata sebagai program pemerintah. Ajang tersebut merupakan program bersama yang membutuhkan keterlibatan aktif warga sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga pemeliharaan berbagai inisiatif di lingkungan. Dengan demikian, keberhasilan setiap kelurahan tidak hanya ditentukan oleh kesiapan aparatur, melainkan juga oleh kemauan masyarakat untuk bekerja sama, menjaga hasil program, dan menjadi contoh bagi lingkungan sekitarnya.

Ia turut menyampaikan apresiasi kepada kelurahan-kelurahan peserta yang telah mengikutsertakan masyarakat dalam berbagai programnya. Pelibatan tersebut menunjukkan adanya hubungan yang kuat pemerintah wilayah dan warga dalam menjawab kebutuhan setempat. Masyarakat tidak ditempatkan sebagai penerima manfaat semata, tetapi sebagai pihak yang memiliki gagasan, peran, dan tanggung jawab dalam membangun kawasan.

Pelaksanaan BSA berangkat dari kesadaran bahwa pembangunan dan pelaksanaan program tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan masyarakat. Pemerintah dapat menyediakan kebijakan, fasilitas, serta pendampingan, tetapi hasilnya akan lebih berarti apabila warga ikut menggerakkan kegiatan dan menjaga keberlangsungannya. Karena itu, BSA 2026 diharapkan memperkuat budaya gotong royong sekaligus menumbuhkan lebih banyak teladan dari tingkat lingkungan. Keteladanan tersebut dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap kebersihan, pelayanan sosial, ketahanan keluarga, maupun kegiatan lain yang memberi manfaat langsung bagi warga. Pendekatan ini menjadikan penghargaan sebagai sarana untuk mengapresiasi proses kolaborasi, bukan sekadar mengejar predikat terbaik.

Suharini menilai keberhasilan program pembangunan di Jakarta sangat bergantung pada kerja sama yang erat jajaran pemerintah dan warga. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri karena masyarakat merupakan pihak yang paling memahami kondisi serta kebutuhan di lingkungannya. Kolaborasi tersebut diperlukan agar setiap kebijakan yang disusun tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga memberikan manfaat yang sesuai bagi kehidupan sehari-hari. Melalui hubungan yang terbuka, pemerintah dan warga dapat saling berbagi informasi, menyampaikan kendala, serta mencari solusi yang dapat diterapkan secara bersama.

Pelibatan masyarakat dilakukan melalui berbagai tingkatan pemerintahan dan perangkat kewilayahan. Dalam keterangannya, Suharini menyebut peran wali kota, bupati, camat, lurah, hingga pengurus RT dan RW sebagai bagian penting dalam menghubungkan program pemerintah dengan kebutuhan warga. Setiap unsur memiliki tanggung jawab untuk memperkuat komunikasi, mengoordinasikan pelaksanaan kegiatan, dan memastikan aspirasi masyarakat tersampaikan dengan baik. Struktur tersebut juga membantu pemerintah memperoleh gambaran yang lebih menyeluruh mengenai persoalan di setiap wilayah, termasuk tantangan yang mungkin tidak terlihat dari perencanaan di tingkat pusat pemerintahan daerah.

Kunjungan ke lapangan menjadi kesempatan bagi Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melihat langsung kondisi masyarakat sekaligus menerima saran dan masukan. Informasi dari warga diharapkan dapat membantu pemerintah menyusun program yang lebih efektif, tepat sasaran, dan responsif terhadap perubahan kebutuhan. Suharini juga mengajak masyarakat untuk menyebarluaskan contoh-contoh baik yang tumbuh di lingkungan masing-masing agar dapat menjadi inspirasi bagi wilayah lain. Ia menekankan bahwa masih adanya hal-hal yang perlu disempurnakan merupakan sesuatu yang wajar dalam proses pembangunan. Dengan keterbukaan terhadap evaluasi dan dukungan bersama, perbaikan dapat dilakukan secara bertahap serta mendorong semakin banyak warga menjadi teladan di lingkungannya.

Dalam kunjungannya, Suharini menyoroti program pemilahan sampah yang dijalankan oleh warga. Kegiatan tersebut dinilai penting karena membantu masyarakat mengelola sampah secara lebih teratur sejak dari sumbernya. Pemilahan memungkinkan sampah ditangani sesuai jenisnya, sehingga pengelolaannya dapat dilakukan dengan lebih tepat. Bagi Suharini, kebiasaan yang dibangun melalui keterlibatan warga menunjukkan bahwa pengelolaan lingkungan tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga membutuhkan peran aktif masyarakat.

Program ini juga memiliki potensi untuk dikembangkan melalui konsep ekonomi sirkular. Dalam konsep tersebut, barang dan material diupayakan tetap memiliki manfaat selama mungkin, bukan langsung berakhir sebagai limbah. Karena itu, pemilahan sampah dapat menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk memanfaatkan kembali sumber daya secara bertanggung jawab. Pengembangannya tetap perlu bertumpu pada kemampuan dan inisiatif warga, sesuai dengan kondisi lingkungan masing-masing.

Suharini menilai, pemberdayaan masyarakat dapat memberikan dampak yang lebih luas ketika warga mampu menghasilkan sesuatu secara mandiri. Kemampuan tersebut menunjukkan adanya kemandirian sekaligus membuka ruang bagi masyarakat untuk berperan sebagai pelaku, bukan sekadar penerima manfaat. Dalam konteks ini, kegiatan warga menjadi contoh bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan kapasitas masyarakat.

Ia juga menekankan bahwa kesejahteraan tidak semata-mata diukur dari manfaat finansial. Pengaruh positif terhadap kesehatan mental turut menjadi bagian penting dalam melihat keberhasilan pemberdayaan. Ketika perempuan berdaya, mampu menghasilkan sesuatu sendiri, dan dapat menjadi contoh yang baik, manfaatnya dapat dirasakan dalam kehidupan sosial di sekitarnya. Pandangan tersebut menempatkan partisipasi warga sebagai nilai penting yang perlu terus didukung, karena perubahan tidak hanya terlihat dari hasil material, tetapi juga dari tumbuhnya rasa percaya diri, kemandirian, dan keteladanan di lingkungan masyarakat.

Benyamin S Award (BSA) 2026 merupakan ajang penghargaan yang diselenggarakan oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Biro Kerja Sama Daerah, Sekretariat Daerah. Kegiatan ini menjadi bentuk apresiasi kepada kelurahan yang menunjukkan komitmen dan konsistensi dalam mewujudkan lingkungan Jakarta yang bersih, nyaman, indah, serta sejahtera. Selain memberikan penghargaan, BSA dirancang untuk mendorong tumbuhnya kepedulian dan kerja bersama di tingkat masyarakat.

Rangkaian seleksi BSA 2026 berlangsung secara bertahap dan melibatkan kelurahan dari berbagai wilayah di Jakarta. Pada tahap awal, sebanyak 52 kelurahan mendaftarkan diri untuk mengikuti penilaian. Keikutsertaan tersebut menunjukkan adanya perhatian dan kesiapan kelurahan dalam mengembangkan lingkungan sekaligus menghadirkan pelayanan serta tata kelola yang memberi manfaat bagi warga.

Setelah melalui proses seleksi, jumlah peserta kemudian menyusut menjadi 27 kelurahan. Tahap ini menjadi bagian penting untuk menilai kesesuaian berbagai upaya yang telah dilakukan dengan kriteria penghargaan. Dari 27 peserta tersebut, selanjutnya ditetapkan 10 kelurahan finalis yang berhak mengikuti penjurian akhir. Penilaian final akan menjadi dasar dalam menentukan juara umum Benyamin S Award 2026.

Puncak acara sekaligus pemberian penghargaan BSA 2026 dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 30 Oktober 2026. Momen tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mengapresiasi inovasi, ketekunan, dan kolaborasi yang telah dibangun oleh setiap peserta.

Suharini menyampaikan apresiasi kepada seluruh kelurahan yang telah berpartisipasi dalam rangkaian ajang ini. Menurutnya, nilai penting BSA tidak semata-mata terletak pada statusnya sebagai program pemerintah atau hasil penetapan pemenang. Esensi penghargaan ini berada pada keterlibatan masyarakat dalam menjaga, merawat, dan meningkatkan kualitas lingkungan secara berkelanjutan. Dengan demikian, setiap kelurahan tetap memiliki peran penting untuk menjadi teladan, terlepas dari hasil akhir kompetisi.

Baca juga: Peta Evakuasi Gempa Jakarta yang Masih Menjadi Tantangan | Inisiatif Energi dan Digital: IEE Series Energy Week 2026 di Jakarta | Momentum PON Pantai Ancol 2026 untuk Penguatan Ekonomi Jakarta