Dedi Mulyadi Absen dari Rakornas, Fokus Tangani Kebakaran di Ciremai

oleh -629 Dilihat
oleh
Dedi Mulyadi Absen dari Rakornas, Fokus Tangani Kebakaran di Ciremai

Kabupaten Kuningan. Menurut Dedi | Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi tidak menghadiri Rapat Koordinasi Nasional Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (Rakornas TPAKD) yang digelar di JIExpo, Jakarta, pada Kamis (22/10). Ketidakhadiran tersebut menjadi perhatian dalam acara yang dihadiri Presiden Prabowo Subianto dan para kepala daerah dari berbagai wilayah. Agenda nasional itu mempertemukan pemerintah pusat dan daerah untuk membahas upaya memperluas akses keuangan. Namun, perhatian peserta sempat tertuju pada sosok Dedi, yang dikenal dengan panggilan KDM, ketika Presiden menyinggung keberadaannya menjelang sambutan.

Di hadapan para kepala daerah, Prabowo mencari Dedi dan menyampaikan bahwa gubernur Jawa Barat itu tidak hadir. Presiden juga menyebut kemungkinan KDM sedang sibuk. Pernyataan tersebut disampaikan secara langsung dalam suasana acara, sehingga absennya Dedi menjadi sorotan di agenda Rakornas. Ucapan Prabowo menandai bahwa ketidakhadiran itu diperhatikan, meski belum dengan sendirinya menjelaskan alasan lengkap di balik keputusan Dedi untuk tidak menghadiri pertemuan tersebut. Sorotan pun muncul saat sambutan Presiden berlangsung dan perhatian peserta tertuju pada alasan ketidakhadiran gubernur tersebut.

Rakornas TPAKD merupakan forum koordinasi yang melibatkan pemangku kepentingan pusat dan daerah dalam mendorong akses masyarakat terhadap layanan keuangan. Kehadiran kepala daerah menjadi bagian penting dari pertemuan itu, terutama karena pelaksanaan berbagai program akses keuangan turut memerlukan koordinasi di tingkat wilayah. Dalam konteks tersebut, absennya Dedi terasa menonjol ketika namanya disebut oleh Presiden. Meski demikian, informasi yang disampaikan saat acara hanya menyebut bahwa KDM tidak hadir dan mungkin sedang sibuk; keterangan itu tidak merinci agenda yang membuatnya berhalangan. Perhatian terhadap peristiwa ini kemudian berkaitan dengan konteks lain yang menyertai Dedi pada hari tersebut, yakni fokus penanganan kebakaran di kawasan Ciremai. Dengan demikian, momen di JIExpo tidak hanya menjadi catatan kehadiran dalam rapat nasional, tetapi juga mengundang pertanyaan tentang prioritas kegiatan gubernur pada saat Rakornas berlangsung. Penjelasan mengenai fokus tersebut memberi konteks bagi pembaca, tanpa mengubah inti kejadian: Dedi tidak berada di lokasi ketika Prabowo hendak berbicara dan menyebut kemungkinan ia sedang sibuk. Sorotan itu muncul di tengah agenda resmi, bukan dari keterangan rinci mengenai alasan ketidakhadirannya yang disampaikan dalam forum tersebut. Informasi tentang penanganan kebakaran menjadi latar yang melengkapi peristiwa itu.

Dedi Mulyadi mengonfirmasi bahwa dirinya tidak menghadiri Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) karena sedang berada di Kabupaten Kuningan untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Keterangan itu disampaikan melalui akun media sosialnya. Ia menjelaskan bahwa saat agenda Rakornas berlangsung, perhatian dan kehadirannya dibutuhkan langsung di lokasi kebakaran, tempat upaya pemadaman masih dilakukan. Dedi menyatakan dirinya memimpin penanganan tersebut, bukan sekadar mengikuti perkembangan dari jarak jauh. Dengan demikian, ketidakhadirannya dalam kegiatan nasional itu berkaitan dengan tugas yang sedang ia jalankan di wilayah terdampak.

Dalam keterangannya, Dedi menggambarkan penanganan kebakaran di Ciremai sebagai fokus prioritas. Ia menyebut prioritas tersebut sejalan dengan saran Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, yang meminta agar kebakaran hutan dan lahan itu ditangani terlebih dahulu. Dedi pun memilih untuk memusatkan perhatian pada koordinasi pemadaman di kawasan taman nasional. Pernyataan itu menegaskan bahwa ia menempatkan penanganan kondisi darurat di lapangan sebagai kebutuhan mendesak, sementara kehadiran dalam Rakornas tidak menjadi prioritas pada saat yang sama. Ia tidak menyampaikan bahwa dirinya mengabaikan agenda tersebut, melainkan menjelaskan alasan pekerjaan yang membuatnya berhalangan hadir.

Dedi juga mengatakan telah melaporkan ketidakhadirannya secara resmi kepada Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Langkah itu, menurut keterangannya, dilakukan agar pihak terkait mengetahui alasan ia tidak dapat mengikuti Rakornas dan memahami bahwa ia sedang memimpin upaya penanganan karhutla di Ciremai. Dengan menyebut telah menyampaikan laporan resmi, Dedi menegaskan bahwa absennya bukan tanpa pemberitahuan. Inti penjelasannya adalah bahwa ia berada di Kuningan untuk mengarahkan penanganan kebakaran hutan dan lahan, sesuai fokus prioritas yang disarankan Prasetyo Hadi, serta telah mengomunikasikan keadaan tersebut kepada Teddy. Pernyataan itu menjadi penjelasan langsung mengenai keputusan Dedi untuk tidak menghadiri Rakornas.

Dedi Mulyadi menyampaikan bahwa kobaran api di kawasan Gunung Ciremai telah berhasil diisolasi sehingga untuk sementara tidak meluas ke area di sekitarnya. Perkembangan ini menjadi langkah penting dalam penanganan kebakaran, terutama karena kondisi medan di kawasan tersebut menyulitkan petugas untuk menjangkau sejumlah titik api. Meski penyebaran api telah dibatasi, upaya pemadaman masih terus diperlukan. Isolasi tidak berarti kebakaran sudah padam atau operasi penanganan telah selesai. Petugas tetap perlu mengawasi situasi dan mengupayakan pemadaman pada lokasi yang masih terbakar.

Untuk mempercepat penanganan di medan yang terjal, Pemerintah Provinsi Jawa Barat berkoordinasi dengan Wakil Menteri Pertahanan, Panglima TNI, serta Kepala Staf Angkatan Udara. Pembahasan tersebut mencakup kemungkinan pengerahan helikopter pemadam agar air dapat dijatuhkan dari udara ke titik-titik yang sulit dicapai melalui jalur darat. Penggunaan helikopter dipersiapkan sebagai dukungan terhadap upaya di lapangan, dengan mempertimbangkan kebutuhan operasi dan kondisi kawasan. Langkah ini diharapkan membantu petugas menjangkau area kebakaran tanpa harus bergantung sepenuhnya pada akses darat yang terbatas.

Menurut rencana yang disampaikan Dedi, helikopter akan bergerak dari Bogor. Satu unit diarahkan menuju Kertajati, sementara dua unit lainnya menuju Pangkalan Sukani di Majalengka. Setelah tiba di lokasi yang telah ditentukan, helikopter tersebut direncanakan melakukan water bombing, yakni menjatuhkan air dari udara untuk membantu memadamkan api. Rencana pengerahan itu menunjukkan bahwa penanganan masih berlangsung dan membutuhkan dukungan lintas lembaga. Pelaksanaan pemadaman udara akan menjadi bagian dari upaya mengendalikan kebakaran, sementara pemantauan dan penanganan di darat tetap diperlukan. Pemerintah daerah dan unsur terkait masih berkoordinasi untuk mendukung langkah berikutnya, seiring petugas berupaya mencegah api kembali menyebar dan mengurangi dampaknya terhadap kawasan sekitar Gunung Ciremai.

Sebanyak 1.000 personel gabungan dari unsur TNI, Polri, dan relawan masyarakat dikerahkan untuk membantu penanganan kebakaran di lereng Gunung Ciremai. Pengerahan ini ditujukan untuk memperkuat upaya pengendalian api di lapangan, sekaligus mengoptimalkan sekatan agar kobaran tidak mudah meluas ke area lain. Keterlibatan berbagai unsur juga diharapkan mendukung koordinasi dalam menghadapi kondisi kebakaran yang dapat berubah sesuai keadaan di lereng gunung.

Selain memperkuat sekatan, petugas mengoptimalkan kanal-kanal alami yang tersedia di kawasan tersebut. Dedi Mulyadi menjelaskan bahwa pemanfaatan jalur alami itu diharapkan membantu penanganan kebakaran secara menyeluruh. Kanal alami dapat menjadi bagian dari upaya mengendalikan pergerakan api, terutama apabila kebakaran kembali terjadi. Karena itu, pengelolaan dan pemanfaatannya dilakukan sebagai salah satu langkah untuk mengurangi kemungkinan api menjalar lebih jauh. Upaya tersebut melengkapi pengerahan personel dan penataan sekatan di area terdampak, bukan menggantikan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.

Dedi juga mengingatkan masyarakat agar menghentikan kegiatan yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan. Imbauan ini berlaku bagi siapa pun yang beraktivitas di sekitar kawasan gunung, termasuk warga maupun pengunjung. Perilaku yang berisiko menimbulkan api perlu dihindari, sementara setiap orang diharapkan turut menjaga lingkungan dan segera memperhatikan kondisi sekitar apabila menemukan tanda-tanda kebakaran. Pencegahan memerlukan keterlibatan bersama, tidak hanya mengandalkan petugas yang menangani api di lapangan.

Ia mengajak masyarakat untuk bersama-sama menjaga dan merawat alam. Ajakan tersebut menekankan pentingnya kepedulian terhadap kawasan Ciremai, baik saat kondisi aman maupun ketika upaya penanganan masih berlangsung.

Baca juga: Satgas Preventif Operasi Bina Karuna Dofior 2026 Tangani Kebakaran di Klasaman | Kebakaran Masif Landa Kebayoran Lama, Kerugian Capai Rp1,2 Miliar | Kebakaran Hutan di Puncak Setampol Gunung Rinjani