Jakarta | Partai Hanura menyiapkan sejumlah langkah untuk memperkuat persiapan menghadapi pemilu legislatif 2029. Salah satu opsi yang dibuka adalah merekrut tokoh politik dari luar partai melalui mekanisme yang disebut naturalisasi. Langkah ini memberi ruang bagi Hanura untuk mempertimbangkan figur yang dinilai memiliki kapasitas, pengaruh, dan peluang menjangkau pemilih di daerah pemilihan tertentu. Rekrutmen tersebut menjadi bagian dari strategi memperluas daya saing, terutama dalam upaya memperebutkan kursi legislatif. Dengan membuka kemungkinan masuknya tokoh eksternal, partai dapat menyesuaikan komposisi calon dengan kebutuhan dan kondisi politik di tiap wilayah, tanpa mengabaikan peran kader yang telah lebih dahulu berproses di dalam organisasi.
Naturalisasi tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya cara untuk menentukan calon legislatif. Hanura tetap mempertimbangkan kader internal sebagai bagian penting dari proses pencalonan, sekaligus membuka peluang bagi kombinasi kader dan tokoh yang direkrut dari luar. Pendekatan tersebut memungkinkan partai menyusun pilihan calon secara lebih fleksibel, berdasarkan kekuatan yang tersedia dan kebutuhan untuk bersaing di suatu dapil. Dengan demikian, keputusan merekrut tokoh eksternal bukan berarti menutup kesempatan bagi kader partai, melainkan menjadi salah satu perangkat untuk memperkuat susunan kandidat. Penentuan akhirnya tetap perlu melihat potensi calon serta peluang elektoral yang dimiliki Hanura di wilayah bersangkutan.
Ketua Tim Task Force DPP Hanura, Patrice Rio Capella, menjelaskan bahwa pertimbangan pencalonan akan didasarkan pada hasil survei dan pemetaan daerah pemilihan. Analisis tersebut digunakan untuk menilai wilayah mana yang memiliki peluang bagi Hanura meraih kursi, serta seperti apa kebutuhan kandidatnya. Apabila suatu dapil dipandang berpotensi menghasilkan kursi, partai akan mencari calon yang sesuai dengan karakter dan kondisi setempat. Calon itu dapat berasal dari kader internal, atau ditentukan melalui perpaduan kader dengan tokoh yang direkrut dari luar partai. Mekanisme ini menempatkan data dan pemetaan sebagai dasar strategi, sementara naturalisasi menjadi salah satu pilihan untuk mengisi kebutuhan kandidat yang dinilai dapat memperbesar peluang Hanura pada Pemilu 2029.
Perekrutan tokoh dari luar partai dapat membuka peluang baru bagi Hanura, tetapi langkah itu perlu didasarkan pada perhitungan yang jelas. Menurut Rio, partai sebaiknya lebih dahulu memetakan potensi perolehan kursi di setiap daerah pemilihan (dapil), sebelum menentukan figur yang akan direkrut untuk memperkuat pencalonan. Pemetaan tersebut membantu pengurus menilai kebutuhan secara lebih tepat: apakah suatu dapil memerlukan pengenalan lebih luas, tambahan jaringan, atau penguatan kerja politik yang sudah berjalan. Dengan demikian, keputusan merekrut tokoh tidak semata-mata bertumpu pada nama besar atau popularitas sesaat, melainkan disesuaikan dengan kondisi dan sasaran elektoral setempat.
Perhitungan itu juga harus mempertimbangkan kekuatan kader internal. Hanura perlu melihat siapa kader yang telah bekerja di dapil, bagaimana dukungan masyarakat terhadap mereka, serta potensi suara yang bisa dikembangkan. Tokoh eksternal dapat melengkapi kapasitas tersebut, tetapi tidak seharusnya mengabaikan kader yang sudah membangun hubungan dengan pemilih. Penilaian terhadap peluang kursi, sebaran dukungan, dan kesiapan kandidat dapat menjadi dasar untuk menentukan komposisi pencalonan yang seimbang. Pendekatan terukur memungkinkan partai mengarahkan sumber daya pada wilayah yang paling membutuhkan penguatan sekaligus menjaga kesempatan kader untuk maju.
Rio juga menekankan pentingnya membenahi struktur organisasi dan mengonsolidasikan kader. Upaya tersebut diperlukan agar kekuatan Hanura tidak bergantung pada popularitas satu figur. Organisasi yang aktif, koordinasi yang berjalan, dan kader yang bekerja bersama dapat menopang kegiatan politik secara berkelanjutan di berbagai dapil. Maksud pernyataannya tentang figur yang keluar-masuk adalah bahwa keberlangsungan partai semestinya tidak ditentukan oleh kehadiran atau kepergian individu tertentu. Jika struktur dan konsolidasi kuat, Hanura tetap memiliki basis kerja, jaringan, serta arah perjuangan yang dapat diteruskan. Karena itu, rekrutmen eksternal dan penguatan internal bukan pilihan yang saling menggantikan, melainkan dua langkah yang perlu dijalankan beriringan untuk mengejar target Pemilu 2029.
Rencana merekrut tokoh dari luar partai menjadi salah satu agenda konsolidasi nasional Hanura yang berlangsung di Makassar pada Rabu malam, 21 Oktober. Pertemuan tersebut diikuti jajaran pengurus Dewan Pimpinan Daerah (DPD) dan Dewan Pimpinan Cabang (DPC), serta anggota DPRD tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota se-Sulawesi Selatan. Forum ini menjadi ruang untuk menyamakan langkah organisasi sekaligus membahas persiapan menghadapi Pemilu 2029.
Kunjungan ke Sulawesi Selatan itu merupakan agenda konsolidasi ke-24 Tim Task Force DPP Hanura. Dalam kegiatan tersebut, jajaran partai membicarakan penguatan struktur dan upaya memperluas dukungan, termasuk melalui penjaringan figur yang dinilai memiliki potensi untuk berkontribusi. Pelibatan pengurus daerah dan anggota legislatif dalam pertemuan memberi kesempatan bagi partai untuk membahas kebutuhan organisasi di wilayah masing-masing serta mengenali tokoh yang dapat diajak bekerja bersama.
Ketua DPD Hanura Sulawesi Selatan Andi Muhammad Bau Sawa Mappanyukki mengatakan pihaknya telah memantau sejumlah tokoh potensial di daerah. Menurut dia, pendekatan kepada figur-figur tersebut dilakukan secara kekeluargaan, dengan mengajak mereka bergabung dan berperan dalam partai. Penjajakan ini diarahkan untuk memperkuat organisasi, bukan sekadar menambah anggota. Kehadiran tokoh dengan jaringan dan pengalaman yang relevan diharapkan dapat mendukung kerja partai di tengah masyarakat serta memperluas basis dukungan di Sulawesi Selatan.
Upaya penjaringan itu juga dikaitkan dengan sasaran Hanura untuk meningkatkan perolehan kursi legislatif pada 2029. Penguatan kepengurusan, penambahan kader, dan keterlibatan tokoh lokal menjadi bagian dari persiapan jangka panjang menuju pemilu. Melalui komunikasi langsung dan pendekatan yang bersifat kekeluargaan, DPD berharap para calon dapat memahami arah perjuangan partai sebelum memutuskan bergabung. Konsolidasi bersama DPP, pengurus cabang, dan wakil rakyat daerah menjadi langkah untuk memastikan agenda tersebut berjalan terkoordinasi, sekaligus membangun kesiapan organisasi menghadapi kompetisi politik mendatang.
Di Sulawesi Selatan, Hanura saat ini memiliki satu kursi di DPRD Provinsi Sulawesi Selatan serta 20 kursi yang tersebar di DPRD kabupaten dan kota. Capaian tersebut menjadi pijakan partai dalam menyusun langkah politik berikutnya di tingkat provinsi. Meski telah memiliki keterwakilan di sejumlah lembaga legislatif daerah, Hanura menilai penguatan organisasi dan kerja politik masih diperlukan agar perolehan dukungan dapat berkembang.
Rio menyebut Hanura membidik perolehan satu hingga dua kursi DPR RI dari Sulawesi Selatan pada Pemilu 2029. Sasaran itu merupakan target partai untuk memperluas keterwakilan di parlemen pusat, dengan bertumpu pada konsolidasi di daerah. Pencapaian target tersebut akan diupayakan melalui penguatan mesin politik, termasuk memastikan struktur partai bekerja lebih terkoordinasi dan menjangkau masyarakat hingga tingkat lokal.
Penguatan mesin politik juga berkaitan dengan penyelesaian kepengurusan partai secara berjenjang. Hanura menargetkan struktur organisasi dapat terbentuk dan berfungsi sampai tingkat kecamatan, sehingga koordinasi pengurus daerah dan basis partai menjadi lebih teratur. Kelengkapan struktur dipandang sebagai bagian dari persiapan menghadapi tahapan Pemilu 2029, sekaligus mendukung upaya partai dalam menjaga komunikasi dan aktivitas politik di wilayah Sulawesi Selatan.
Dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut, DPD Hanura Sulawesi Selatan merencanakan penyelesaian pembentukan pengurus anak cabang (PAC) di seluruh kecamatan. Proses ini ditargetkan rampung dalam waktu sekitar enam bulan. Pembentukan PAC menjadi langkah organisasi untuk memperluas jangkauan kepengurusan hingga tingkat kecamatan dan menyiapkan perangkat partai sebelum tahapan pemilu berjalan lebih intensif. Dengan struktur yang tersusun, Hanura berharap upaya konsolidasi dapat berlangsung lebih sistematis, sejalan dengan target meraih satu hingga dua kursi DPR RI dari provinsi tersebut pada 2029.
Baca juga: Aipda Ilyas Sambangi Tokoh Masyarakat Sukamulya, Perkuat Kamtibmas dan Sosialisasi 110 | Babacakan/Saba RW, Aipda Ilyas Bersama Lurah Sukamulya Perkuat Silaturahmi dengan Warga | Kapolda PBD Gandeng Tokoh Agama, Tokoh Adat dan Masyarakat Bersama Insan Pers Jaga Kamtibmas







