Hari Kesaktian Pancasila, Pudya Sanjaya Ajak Generasi Muda Jadikan Persatuan sebagai Gerakan Bersama

oleh -163 Dilihat
oleh

JAKARTA — Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada 1 Oktober menjadi momentum untuk kembali meneguhkan komitmen kebangsaan sekaligus menghidupkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari. Persatuan tidak cukup hanya diucapkan dalam slogan, tetapi perlu diwujudkan melalui sikap, karya, dan kepedulian terhadap sesama.

Ketua DPD LDII Jakarta Utara, Pudya Sanjaya, yang merupakan alumni Lemhannas RI Angkatan ke 2 Tahun 2023, mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan peringatan Hari Kesaktian Pancasila sebagai momentum membangun gerakan persatuan yang nyata.

Menurut Pudya, kekuatan Indonesia terletak pada kemampuan masyarakat menjaga kebersamaan di tengah perbedaan. Pancasila telah menjadi titik temu yang memungkinkan bangsa Indonesia hidup dalam keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan latar belakang sosial.

“Hari Kesaktian Pancasila jangan berhenti pada seremoni. Ini harus menjadi momentum untuk menggerakkan kembali semangat persatuan. Berbeda pilihan, berbeda latar belakang, boleh saja, tetapi kepentingan bangsa harus kita tempatkan di atas kepentingan kelompok,” ujar Pudya.

Ia menilai tantangan persatuan saat ini tidak hanya datang dari persoalan sosial, tetapi juga dari perubahan teknologi dan derasnya arus informasi. Media sosial dapat menjadi ruang memperkuat persaudaraan, tetapi juga berpotensi memperlebar perbedaan apabila tidak digunakan secara bijak.

Karena itu, Pudya mengajak masyarakat membangun gerakan persatuan dari lingkungan terdekat, mulai dari keluarga, komunitas, organisasi kemasyarakatan hingga lingkungan tempat tinggal.

“Gerakan persatuan harus dimulai dari hal sederhana: saling menghormati, tidak mudah terprovokasi, tidak menyebarkan informasi yang belum jelas, mau berdialog dan bersama-sama menyelesaikan persoalan masyarakat,” katanya.

Pudya juga memberikan perhatian khusus kepada generasi muda. Menurutnya, generasi muda bukan sekadar penerus bangsa, tetapi merupakan aktor utama yang akan menentukan wajah Indonesia di masa depan.

Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, digitalisasi, dan perubahan sosial yang cepat, generasi muda perlu memiliki kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan jati diri kebangsaan.

“Anak muda harus menjadi generasi yang cerdas secara digital, kuat karakter, produktif berkarya dan tetap memiliki kepedulian terhadap bangsa. Jangan sampai teknologi membuat kita semakin jauh satu sama lain,” ujarnya.

Ia mendorong generasi muda untuk menjadikan nilai-nilai Pancasila sebagai pedoman dalam menggunakan teknologi dan bermedia sosial. Perbedaan pendapat, menurut dia, harus disikapi sebagai bagian dari dinamika kehidupan demokratis, bukan alasan untuk saling bermusuhan.

“Jangan wariskan kepada generasi berikutnya budaya saling mencaci. Wariskan budaya berdialog, gotong royong, menghormati perbedaan dan bekerja bersama untuk menyelesaikan persoalan bangsa,” tutur Pudya.

Sebagai organisasi kemasyarakatan, LDII Jakarta Utara, lanjut Pudya, berkomitmen untuk terus mengambil bagian dalam membangun kehidupan masyarakat yang rukun, produktif dan bermanfaat.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila dinilai menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada Indonesia harus diwujudkan dalam tindakan nyata, termasuk kepedulian terhadap lingkungan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, kerukunan sosial dan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

“Ormas bukan sekadar ada, tapi terasa. Dari eksistensi menjadi kontribusi. Inilah semangat yang harus kita bangun bersama,” kata Pudya.

Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kolaborasi lintas organisasi, komunitas dan kelompok masyarakat. Menurutnya, persoalan bangsa terlalu besar jika diselesaikan sendiri-sendiri.

“Mari kita jadikan Pancasila sebagai titik temu. Kita boleh berbeda, tetapi jangan terpecah. Kita boleh beragam, tetapi tetap bergerak bersama. Karena Indonesia yang kuat bukan dibangun oleh keseragaman, melainkan oleh persatuan dalam keberagaman,” pungkasnya.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila pada akhirnya bukan hanya tentang mengenang sejarah, tetapi juga tentang menentukan sikap pada masa kini: menjaga persatuan, memperkuat kepedulian dan menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Pancasila bukan sekadar untuk dihafalkan, tetapi untuk diamalkan. Persatuan bukan sekadar untuk dibicarakan, tetapi untuk digerakkan.

Pewarta: Abdul Latif