Jakarta | ID Food, badan usaha milik negara yang bergerak di bidang pangan, mengusulkan kepada pemerintah pembangunan fasilitas cold storage berskala besar. Usulan tersebut disampaikan Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, dalam Agrifood Forum 2026 di Menara Bank Mega, Jakarta Selatan, pada Senin (19/10). Ia menilai infrastruktur penyimpanan berpendingin dapat membantu memperkuat pengelolaan pasokan pangan, terutama ketika produk perlu disimpan sebelum didistribusikan ke berbagai wilayah. Dengan kapasitas yang memadai, pangan dapat ditangani secara lebih terencana sejak tahap penyimpanan hingga sampai kepada konsumen.
Menurut Ghimoyo, pembangunan fasilitas tersebut diarahkan untuk menjaga rantai pasok tetap murah. Penyimpanan yang lebih baik dapat mendukung efisiensi penanganan dan distribusi, sehingga biaya yang muncul dalam proses pengiriman maupun pengelolaan stok dapat dikendalikan. Cold storage juga memungkinkan ketersediaan barang diatur mengikuti kebutuhan, tanpa seluruh pasokan harus segera dipasarkan setelah diproduksi. Langkah ini penting karena biaya logistik dan perubahan ketersediaan barang dapat berpengaruh terhadap harga yang dibayar masyarakat. Karena itu, fasilitas pendingin dipandang sebagai salah satu unsur pendukung sistem pangan yang lebih efisien, bukan sekadar tempat menampung produk.
Selain menekan biaya dalam rantai pasok, usulan ID Food bertujuan membantu menjaga pasokan dan harga pangan agar lebih stabil. Ketersediaan tempat penyimpanan dapat memberi ruang untuk mengelola persediaan ketika produksi dan permintaan tidak selalu seimbang. Dengan pasokan yang lebih terjaga, gejolak harga diharapkan dapat dikurangi. Ghimoyo turut menyoroti ayam sebagai salah satu komoditas yang membutuhkan perhatian dalam upaya stabilisasi tersebut. Pengelolaan produk ayam melalui penyimpanan berpendingin dapat mendukung kelancaran distribusi dan membantu memastikan barang tersedia sesuai kebutuhan pasar. Usulan ini menempatkan infrastruktur cold storage sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan pasokan, menjaga keterjangkauan, serta mendukung stabilitas pangan bagi masyarakat.
Direktur Utama ID Food, Ghimoyo, mengusulkan kepada pemerintah pembangunan fasilitas cold storage berskala besar di tujuh lokasi. Usulan ini mencerminkan kebutuhan untuk memperkuat penyimpanan dan penanganan produk pangan di sejumlah wilayah, sekaligus mendukung pengelolaan rantai pasok. Meski jumlah lokasi yang diusulkan mencapai tujuh, keterangan yang tersedia hanya menyebut lima nama: Lampung, Jakarta, Surabaya, Bitung, dan Makassar. Dua lokasi lainnya tidak dirinci, sehingga tidak dapat dipastikan dari informasi tersebut.
Lima wilayah yang disebut dalam usulan itu tersebar di beberapa bagian Indonesia. Lampung berada di Sumatra, sementara Jakarta dan Surabaya menjadi titik penting di Pulau Jawa. Bitung dan Makassar merupakan kota di kawasan timur Indonesia. Penyebutan wilayah-wilayah tersebut memberikan gambaran mengenai cakupan geografis rencana, tetapi belum menerangkan secara terperinci titik pembangunan, kapasitas penyimpanan, maupun jadwal pelaksanaan untuk setiap lokasi. Informasi tersebut perlu dibedakan dari keputusan teknis yang mungkin ditetapkan pada tahap berikutnya.
Hal penting yang perlu digarisbawahi adalah status ketujuh lokasi tersebut. Nama-nama itu merupakan bagian dari usulan ID Food kepada pemerintah, bukan bukti bahwa fasilitas telah dibangun atau beroperasi. Rencana pembangunan masih perlu dibahas dan ditindaklanjuti oleh pihak terkait. Karena hanya lima lokasi yang disebut secara terbuka dalam keterangan yang tersedia, tidak tepat untuk menebak nama dua lokasi lainnya atau menyatakan bahwa seluruh titik telah ditentukan secara final. Perkembangan berikutnya, termasuk persetujuan pemerintah dan rincian proyek, akan menentukan bagaimana usulan ini dapat diwujudkan. Dengan demikian, pembaca dapat memahami cakupan rencana tanpa mencampuradukkan gagasan yang diajukan dengan pembangunan yang sudah terlaksana.
Menurut Ghimoyo, kebutuhan pembangunan cold storage besar berkaitan dengan kemampuan menyimpan ayam dalam jangka waktu yang panjang. Ayam yang disimpan dapat bertahan selama enam bulan hingga setahun. Rentang masa simpan tersebut memberi ID Food kesempatan untuk menjaga persediaan agar tidak harus segera digunakan setelah tersedia. Dengan demikian, penyimpanan bukan sekadar menampung pasokan, tetapi juga memberi ruang bagi perusahaan untuk menentukan waktu pemanfaatannya sesuai kebutuhan.
Persediaan yang dapat bertahan selama berbulan-bulan memungkinkan ID Food menyiapkan ayam untuk digunakan sewaktu-waktu. Ketersediaan stok menjadi penting ketika perusahaan perlu melakukan intervensi harga di pasar. Jika ayam dapat disimpan dalam periode panjang, persediaan tidak hanya bergantung pada kebutuhan saat itu, melainkan dapat dipertahankan sampai diperlukan. Hal ini menjadi alasan mengapa fasilitas penyimpanan berukuran besar dipandang mendukung peran ID Food dalam menjaga stabilitas pasar.
Gagasan tersebut menempatkan masa simpan sebagai bagian penting dari upaya mengelola persediaan. Tanpa kemampuan menyimpan ayam dalam jangka cukup panjang, pilihan untuk menggunakannya pada waktu yang tepat menjadi lebih terbatas. Sebaliknya, masa simpan enam bulan hingga setahun membuka peluang bagi ID Food untuk memiliki stok yang dapat dimanfaatkan saat intervensi harga diperlukan. Ketersediaan itu memberi fleksibilitas dalam merespons kebutuhan pasar, tanpa harus menggunakan seluruh persediaan sekaligus. Karena itu, menurut Ghimoyo, pembangunan cold storage besar dibutuhkan agar ayam dapat disimpan dan siap digunakan ketika perusahaan perlu mengambil langkah di pasar. Penjelasan ini menegaskan hubungan daya simpan produk, kesiapan persediaan, dan kemungkinan intervensi harga. Fokusnya adalah memastikan ayam tetap tersedia untuk kebutuhan tersebut dalam jangka waktu yang disebutkan, bukan semata-mata membangun fasilitas penyimpanan. Dengan persediaan yang dapat dijaga, ID Food memiliki pilihan untuk menentukan kapan stok digunakan. Kemampuan menyimpan hingga enam bulan sampai setahun menjadi dasar bagi perusahaan untuk mengandalkan persediaan itu sewaktu-waktu, terutama saat dibutuhkan untuk intervensi harga di pasar.
Ghimoyo menjelaskan bahwa persediaan ayam yang disimpan di fasilitas penyimpanan dingin tidak dimaksudkan untuk ditahan tanpa batas waktu. Stok tersebut akan dimanfaatkan ketika diperlukan, terutama dalam situasi ketika harga ayam perlu distabilkan. Dengan demikian, penyimpanan menjadi bagian dari rencana pengelolaan pasokan yang dapat digunakan sesuai kebutuhan pasar. Waktu pelepasan persediaan akan menyesuaikan keadaan, bukan dilakukan secara otomatis pada jadwal tertentu yang tidak mempertimbangkan kondisi harga.
Salah satu keadaan yang disebutkan adalah ketika harga ayam mengalami kenaikan. Dalam kondisi seperti itu, ayam yang telah disimpan dapat dilepas ke pasar sebagai bagian dari intervensi untuk membantu menstabilkan harga. Penjelasan ini menempatkan persediaan sebagai cadangan yang dapat digunakan saat diperlukan, termasuk ketika kenaikan harga menjadi perhatian. Ghimoyo menyampaikan tujuan intervensi tersebut sebagai upaya membantu menjaga kestabilan harga ayam di pasaran, bukan sebagai pernyataan bahwa harga pasti akan turun atau mencapai tingkat tertentu.
Rencana pemanfaatan stok ini juga menunjukkan bahwa pembangunan cold storage berkaitan dengan kesiapan menyediakan persediaan pada waktu yang dibutuhkan. Ayam yang disimpan dapat menjadi sumber pasokan untuk mendukung intervensi ketika kondisi pasar memerlukannya. Namun, keterangan yang disampaikan berfokus pada tujuan dan mekanisme penggunaan persediaan, yakni melepas ayam saat dibutuhkan untuk membantu stabilisasi harga. Tidak ada hasil tertentu yang dapat dipastikan hanya dari rencana tersebut. Karena itu, penjelasan tentang stok sebaiknya dipahami sebagai langkah yang dirancang untuk membantu menstabilkan harga ayam, termasuk ketika harga naik, tanpa menganggap bahwa dampak akhirnya telah terjadi atau dijamin. Pelaksanaan pelepasan akan bergantung pada kebutuhan stabilisasi yang diidentifikasi, sebagaimana diterangkan Ghimoyo.
Baca juga: Percepatan Pembangunan Kampung Nelayan Menjadi Sorotan







