Virtus Tekankan Fondasi Data dan Keamanan di Tengah Pesatnya AI

oleh -1045 Dilihat
oleh
Virtus Tekankan Fondasi Data dan Keamanan di Tengah Pesatnya AI

Jakarta | PT Virtus Technology Indonesia menilai tata kelola data dan keamanan perlu menjadi fondasi ketika perusahaan memperluas pemanfaatan kecerdasan buatan. Perkembangan AI berlangsung cepat, sementara penggunaannya di lingkungan bisnis semakin masif untuk membantu meningkatkan efisiensi, mempercepat proses kerja, dan mendukung produktivitas. Di tengah dorongan adopsi tersebut, perusahaan perlu memastikan teknologi diterapkan dengan pertimbangan yang matang, bukan hanya mengikuti tren atau mengejar kemampuan terbaru.

Perdebatan mengenai laju perkembangan AI juga mencuat di tingkat global. Sejumlah tokoh dunia teknologi menyerukan agar pengembangan teknologi ini diperlambat, lain karena dampaknya terhadap masyarakat dan risiko yang dapat muncul jika kemajuannya tidak diimbangi pengawasan memadai. Seruan itu memperkuat perhatian terhadap bagaimana AI dirancang, digunakan, serta dikendalikan. Bagi perusahaan, pertanyaan praktisnya bukan semata-mata seberapa canggih suatu model, melainkan apakah penerapannya dapat dipercaya dan dikelola secara bertanggung jawab.

Direktur Virtus Technology Indonesia, Christian Atmaja, mengatakan bahwa pembahasan di kalangan perusahaan kini berkembang melampaui kemampuan AI. Organisasi juga mencari kepastian dan keterprediksian dalam penerapan, termasuk pemahaman tentang cara sistem menghasilkan keluaran dan bagaimana hasil tersebut dapat digunakan dalam proses bisnis. Aspek skalabilitas turut menjadi perhatian, sebab solusi yang berjalan pada skala kecil belum tentu dapat diperluas dengan aman dan konsisten ketika jumlah pengguna, data, atau kebutuhan operasional meningkat.

Keamanan dan tata kelola data menjadi bagian penting dari pertimbangan itu. Perusahaan perlu mengetahui data apa yang digunakan, siapa yang dapat mengaksesnya, bagaimana data dilindungi, serta aturan apa yang mengatur pemrosesan dan penyimpanannya. Pengelolaan yang jelas membantu organisasi mengurangi risiko kebocoran, penyalahgunaan, maupun keluaran yang tidak sesuai konteks, sekaligus membangun kepercayaan terhadap sistem AI. Karena itu, kesiapan data, kontrol akses, dan kebijakan penggunaan sebaiknya dipikirkan sejak tahap perencanaan, bukan setelah solusi diterapkan.

Pernyataan Christian disampaikan dalam media roundtable Virtus Showcase 2026 di Jakarta pada Selasa (13/10). Pandangan tersebut mencerminkan kebutuhan perusahaan untuk menyeimbangkan inovasi dengan kendali yang kuat. Dengan fondasi data yang tertata dan perlindungan keamanan yang memadai, organisasi dapat menilai manfaat AI secara lebih realistis, mengelola penerapannya sesuai kebutuhan, serta memperluas penggunaannya tanpa mengabaikan risiko dan tanggung jawab.

Christian menekankan bahwa hasil pemanfaatan kecerdasan buatan tidak ditentukan semata-mata oleh seberapa canggih model yang digunakan. Kemampuan model merupakan salah satu unsur, tetapi kinerjanya juga bergantung pada kesiapan hal-hal mendasar yang menopang sistem. Karena itu, pembahasan mengenai AI perlu mencakup pengelolaan data serta lingkungan teknologi tempat sistem tersebut dijalankan. Perhatian terhadap unsur-unsur ini membantu menjelaskan mengapa peningkatan kemampuan model saja belum tentu mengubah mutu hasil yang diperoleh.

Data menjadi bagian penting dari fondasi tersebut karena sistem AI bekerja dengan informasi yang dikelola dan disediakan kepadanya. Sementara itu, lingkungan teknologi menyediakan dukungan bagi sistem untuk beroperasi. Keduanya tidak terpisah dari kemampuan AI dalam menghasilkan keluaran yang berguna. Jika pengelolaan data atau kesiapan lingkungan teknologinya belum memadai, kecanggihan model tidak dengan sendirinya menutup kekurangan pada fondasi. Dengan demikian, kualitas hasil perlu dipahami sebagai sesuatu yang berkaitan dengan keseluruhan kesiapan sistem, bukan hanya karakteristik modelnya.

Gagasan Christian menunjukkan bahwa pengembangan AI dan penguatan fondasinya perlu berjalan dengan perhatian yang seimbang. Meningkatkan kemampuan model dapat menjadi bagian dari upaya pemanfaatan AI, tetapi langkah tersebut bukan jaminan bahwa sistem akan menghasilkan keputusan yang lebih baik ketika dasar teknologinya belum siap. Kesiapan pengelolaan data dan lingkungan pendukung tetap menjadi pertimbangan dalam menilai kemampuan AI secara nyata. Dengan melihat hubungan ini, organisasi dapat memahami bahwa hasil yang diharapkan tidak muncul dari kecanggihan model secara terpisah, melainkan turut bergantung pada fondasi yang memungkinkan sistem bekerja secara memadai.

Virtus menilai keamanan dan tata kelola data semakin penting seiring perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan meningkatnya kompleksitas lingkungan teknologi informasi. Perusahaan yang mengadopsi AI perlu memastikan bahwa sistem, data, dan proses pendukungnya dikelola dengan baik. Perhatian terhadap aspek-aspek tersebut bukan sekadar pelengkap transformasi digital, melainkan bagian dari upaya menjaga keberlangsungan operasional dan kepercayaan terhadap teknologi yang digunakan.

Christian menjelaskan bahwa maraknya serangan siber menjadi salah satu faktor yang mendorong perusahaan meninjau kembali kesiapan sistem keamanan mereka. Ancaman tersebut berlangsung ketika infrastruktur TI semakin beragam dan saling terhubung, sementara organisasi juga mengembangkan penggunaan AI. Perpaduan berbagai teknologi dapat membuat pengelolaan sistem lebih rumit, sehingga perusahaan perlu memahami titik-titik yang berisiko serta memastikan perlindungan diterapkan secara konsisten.

Dalam kondisi itu, semakin banyak perusahaan bersedia berinvestasi untuk memperkuat keamanan. Investasi dapat diarahkan pada kemampuan untuk memantau sistem, melindungi informasi, mengelola akses, serta merespons insiden secara tepat. Besarnya perhatian terhadap keamanan juga mencerminkan kesadaran bahwa penerapan teknologi baru perlu disertai pengendalian yang memadai. Tanpa fondasi tersebut, manfaat AI dan digitalisasi dapat berjalan beriringan dengan risiko terhadap data maupun layanan.

Christian juga menyoroti bahwa sistem yang semakin canggih dan kompleks berpotensi memiliki lebih banyak kemungkinan kerentanan. Setiap komponen, integrasi, atau perubahan konfigurasi dapat menambah hal yang perlu diperiksa dan dikelola. Karena itu, kemampuan teknologi yang meningkat tidak otomatis berarti tingkat perlindungannya ikut meningkat. Organisasi perlu menilai keamanan secara menyeluruh, termasuk pada sistem yang terhubung dan cara data digunakan.

Penguatan keamanan siber karenanya perlu berjalan seiring dengan perkembangan teknologi. Tata kelola yang jelas membantu perusahaan menetapkan tanggung jawab, mengatur akses, dan memastikan penggunaan data sesuai kebutuhan. Sementara itu, solusi keamanan dapat membantu mengidentifikasi serta mengurangi risiko dalam lingkungan TI yang terus berkembang. Dengan memperhatikan kedua aspek ini, perusahaan dapat membangun fondasi yang lebih siap untuk mengelola penerapan AI dan menghadapi ancaman siber tanpa mengabaikan kompleksitas sistem yang mereka gunakan.

Serangan siber tidak selalu bermula dari satu titik yang mudah dikenali. Pelaku dapat memanfaatkan beragam celah dalam lingkungan teknologi, mulai dari proses login yang tidak terlindungi dengan baik hingga sistem backdoor dan database yang menyimpan informasi penting. Karena jalur masuknya beragam, organisasi perlu melihat keamanan secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada satu sistem atau tahap tertentu. Setiap komponen yang terhubung dapat menjadi bagian dari permukaan risiko, sehingga pemahaman terhadap akses, infrastruktur, dan pengelolaan data menjadi penting dalam menyusun perlindungan.

Menanggapi kebutuhan tersebut, Virtus terus melengkapi portofolio layanan keamanan agar perlindungan dapat menjangkau berbagai sisi lingkungan teknologi. Upaya ini berangkat dari pemahaman bahwa kebutuhan setiap organisasi tidak berhenti pada pengamanan akses pengguna. Sistem yang berjalan di belakang layanan serta database juga perlu diperhatikan, terutama karena keduanya berkaitan dengan proses dan penyimpanan data. Dengan cakupan yang lebih luas, organisasi dapat mempertimbangkan kebutuhan keamanan berdasarkan celah yang mungkin muncul pada bagian-bagian berbeda, tanpa mengasumsikan bahwa satu pendekatan akan menjawab seluruh kebutuhan.

Christian menegaskan bahwa perlindungan belum tentu dapat ditangani oleh satu solusi saja. Dalam kondisi tertentu, organisasi mungkin memerlukan beberapa solusi yang saling melengkapi, termasuk untuk pengamanan data dan database. Penentuan kebutuhan tersebut perlu mempertimbangkan bagaimana sistem digunakan, di mana data disimpan, dan bagaimana akses dikelola. Pendekatan ini menempatkan keamanan sebagai rangkaian upaya, bukan sebagai satu perangkat yang berdiri sendiri.

Baca juga: Kapolda Perkuat Sinergi Bersama TNI-Polri di Mako Pasmar 3: Mantapkan Kolaborasi Keamanan di PBD | Investasi Strategis MDI Ventures untuk Memperkuat Keamanan Siber di Indonesia | Keamanan Habitat Gajah di Padang Sugihan