IHSG Terkoreksi pada Pembukaan, Pasar Menanti Arah Kebijakan The Fed

oleh -85 Dilihat
oleh

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memulai perdagangan Rabu, 28 Oktober 2026, di zona merah. Pada pembukaan, indeks berada di level 5.249,07, turun 17,06 poin atau setara 0,32% dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pergerakan awal ini menunjukkan bahwa indeks melemah pada awal sesi, meski kisaran perdagangannya masih bergerak di sekitar level pembukaan.

Dalam perdagangan awal, IHSG sempat menyentuh level terendah 5.242,20 dan bergerak hingga level tertinggi 5.255,67. Rentang tersebut menggambarkan dinamika transaksi yang berlangsung pada menit-menit awal, ketika pelaku pasar menyesuaikan posisi dan merespons berbagai informasi yang tersedia. Indeks bergerak di batas tersebut, sehingga perkembangan selanjutnya masih perlu dicermati seiring berlanjutnya aktivitas perdagangan sepanjang hari.

Aktivitas transaksi yang tercatat pada awal sesi mencapai volume 8,48 juta lot, dengan nilai transaksi sebesar Rp269,86 miliar. Angka tersebut memberikan gambaran mengenai kegiatan jual beli saham sejak pembukaan, tetapi belum cukup untuk menggambarkan keseluruhan aktivitas pasar sampai penutupan. Investor juga menghadapi sejumlah sentimen domestik dan global, termasuk perhatian terhadap arah kebijakan bank sentral Amerika Serikat, The Fed. Berbagai perkembangan tersebut menjadi bagian dari latar pasar yang dipantau pelaku investasi pada hari itu. Namun, pelemahan IHSG saat pembukaan tidak dapat secara langsung dikaitkan dengan satu sentimen tertentu berdasarkan informasi yang tersedia. Karena itu, pergerakan indeks, volume, dan nilai transaksi pada awal perdagangan perlu dibaca sebagai potret sesaat, bukan gambaran final kinerja pasar. Arah perdagangan berikutnya akan terlihat seiring perubahan kondisi pasar dan respons investor terhadap informasi yang berkembang selama sesi berjalan. Level 5.249,07 menjadi acuan awal untuk mengamati apakah tekanan berlanjut atau indeks bergerak kembali di atas posisi pembukaan. Perhatian pasar pun tertuju pada data ekonomi, perkembangan kebijakan, serta sentimen yang muncul dari dalam maupun luar negeri sepanjang hari perdagangan.

Pelaku pasar diperkirakan mengambil sikap menunggu menjelang keputusan suku bunga Federal Reserve (The Fed). Pengumuman kebijakan dijadwalkan berlangsung Rabu waktu Amerika Serikat, atau Kamis, 29 Oktober, pukul 01.00 WIB. Agenda kemudian dilanjutkan konferensi pers Ketua The Fed pada pukul 01.30 WIB, ketika investor biasanya mencari penjelasan lebih rinci mengenai pertimbangan bank sentral. Karena keputusan tersebut dapat memengaruhi arah pasar global, pelaku pasar cenderung membatasi posisi besar sampai memperoleh kepastian mengenai suku bunga dan panduan kebijakan berikutnya. Sikap berhati-hati ini dapat tercermin pada volatilitas nilai tukar, obligasi, serta saham, termasuk di pasar negara berkembang.

Konsensus memperkirakan The Fed mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,75%–4,00%. Perkiraan itu muncul setelah bank sentral menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada September. Namun, keputusan mempertahankan bunga belum tentu menghilangkan ketidakpastian. Investor akan mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh, terutama penilaiannya terhadap inflasi dan kondisi pasar tenaga kerja. Nada komunikasi tersebut dapat memberi petunjuk mengenai seberapa jauh tekanan harga dinilai terkendali, serta apakah pengetatan kebijakan tambahan masih mungkin dilakukan. Pasar juga akan menilai apakah data ekonomi yang tersedia mendukung sikap bertahan atau justru membuka ruang bagi perubahan arah kebijakan.

Jika Warsh menyampaikan pandangan yang lebih hawkish, atau menekankan perlunya menjaga kebijakan ketat, dolar AS berpotensi menguat. Kondisi tersebut dapat menekan aset berisiko karena investor mungkin mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman dan menarik. Sebaliknya, sinyal bahwa inflasi mulai mereda dapat mendorong pelaku pasar menilai ulang prospek kebijakan dan mempertimbangkan kemungkinan tekanan suku bunga yang lebih terbatas. Bagi Indonesia, perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed relevan melalui dampaknya pada rupiah, arus modal asing, dan daya tarik Surat Berharga Negara (SBN). Dolar yang menguat dapat menambah tekanan terhadap rupiah dan mendorong kehati-hatian investor asing. Sementara itu, prospek suku bunga AS yang lebih stabil berpotensi mendukung minat terhadap aset domestik. Karena itu, arah komentar The Fed menjadi salah satu faktor yang dicermati investor dalam menilai pergerakan pasar Indonesia setelah pembukaan yang terkoreksi.

Lelang surat utang negara (SUN) pada Selasa, 27 Oktober 2026, menunjukkan penurunan minat investor yang cukup tajam. Total penawaran yang masuk tercatat sebesar Rp31,09 triliun, atau turun 52,1% dibandingkan lelang sebelumnya. Nilai tersebut juga menjadi yang terendah sejak November 2024. Melemahnya penawaran ini mengindikasikan bahwa investor cenderung lebih berhati-hati dalam menyerap obligasi pemerintah, di tengah perhatian pasar terhadap arah kebijakan moneter dan perkembangan kondisi pembiayaan. Meski demikian, angka penawaran lelang perlu dibaca bersama tingkat imbal hasil yang diminta investor serta jumlah yang akhirnya diputuskan pemerintah untuk diserap.

Di tengah permintaan yang lebih rendah, rata-rata tertimbang yield SUN bertenor sekitar 10 tahun yang dimenangkan mencapai 7,54%. Tingkat itu merupakan yang tertinggi sejak November 2022. Dalam dua pekan, yield tersebut telah naik sekitar 30 basis poin, sedangkan dibandingkan awal 2026 kenaikannya mencapai kurang lebih 147 basis poin. Kenaikan imbal hasil mencerminkan biaya yang lebih tinggi bagi pemerintah untuk menarik pembiayaan melalui penerbitan surat utang baru. Pergerakan ini juga menandai perubahan kondisi pasar dibandingkan awal tahun, ketika tingkat imbal hasil masih lebih rendah. Besarnya kenaikan dapat menjadi perhatian bagi pelaku pasar yang memantau kebutuhan pembiayaan negara dan valuasi aset keuangan domestik.

Pemerintah menyerap Rp20,65 triliun dari lelang tersebut, lebih rendah daripada target indikatif sebesar Rp30 triliun. Kombinasi penawaran yang melemah dan yield yang meningkat dikaitkan dengan tekanan pembiayaan serta kemungkinan naiknya biaya utang baru pemerintah. Jika minat terhadap surat berharga negara (SBN) terus melemah, sebagian pelaku pasar mengkhawatirkan kemungkinan arus keluar dana dari aset domestik. Kondisi demikian berpotensi menambah tekanan pada pasar saham dan nilai tukar rupiah, terutama apabila berlangsung bersamaan dengan sentimen global yang kurang mendukung. Namun, kekhawatiran tersebut merupakan risiko yang perlu dicermati, bukan bukti bahwa arus keluar dana atau tekanan tambahan pada saham dan rupiah telah terjadi akibat lelang ini.

Perkembangan laba industri di China menjadi salah satu konteks eksternal yang dicermati pelaku pasar. Pada sembilan bulan pertama 2026, laba industri meningkat 15,5% secara tahunan menjadi CNY 6,03 triliun. Meski mencatat pertumbuhan dua digit, laju tersebut sedikit lebih lambat dibandingkan kenaikan 15,7% pada periode Januari–Agustus. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan akumulatif tetap kuat, tetapi kecepatannya mengalami moderasi pada periode terbaru.

Sejumlah sektor menjadi penopang kinerja tersebut, terutama manufaktur berteknologi tinggi, industri yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, serta peralatan elektronik. Kegiatan produksi dan perkembangan di bidang-bidang itu turut menopang laba perusahaan industri secara keseluruhan. Namun, gambaran pertumbuhan tidak merata di seluruh sektor. Permintaan domestik yang masih lesu terus membebani sejumlah industri, sehingga kondisi perusahaan tetap beragam di tengah kenaikan laba agregat. Data yang tersedia mencatat kedua sisi tersebut: pertumbuhan pada sektor tertentu dan tekanan permintaan pada industri lainnya.

Berdasarkan kelompok kepemilikan dan bentuk usaha, laba badan usaha milik negara naik 13,1% secara tahunan menjadi CNY 1,94 triliun. Perusahaan berbentuk perseroan saham gabungan mencatat kenaikan lebih tinggi, yakni 20,8%, dengan laba mencapai CNY 4,67 triliun.