Industri Pengolahan Ditargetkan Menembus Kontribusi 20 Persen terhadap PDB

oleh -64 Dilihat
oleh
Industri Pengolahan Ditargetkan Menembus Kontribusi 20 Persen terhadap PDB

Jakarta | Wakil Menteri Perindustrian Faisol Riza menyampaikan bahwa kontribusi industri pengolahan terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia ditargetkan melampaui 20 persen pada masa mendatang. Target tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat struktur ekonomi nasional melalui peningkatan kapasitas produksi, investasi, serta pengembangan industri yang menghasilkan nilai tambah.

Pernyataan itu disampaikan Faisol dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) bidang investasi, hilirisasi, energi, dan lingkungan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2026 di Jakarta, Selasa. Dalam forum tersebut, ia menekankan pentingnya kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperluas basis industri nasional. Menurutnya, penguatan sektor manufaktur perlu dilakukan secara berkelanjutan agar mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja yang lebih berkualitas.

Faisol menjelaskan, sasaran kontribusi di atas 20 persen itu merupakan mandat dan arahan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto. Pemerintah akan mendorong peningkatan hilirisasi komoditas, memperkuat rantai pasok dalam negeri, dan menciptakan iklim investasi yang mendukung ekspansi industri. Langkah tersebut diharapkan tidak hanya meningkatkan porsi industri pengolahan dalam PDB, tetapi juga memperbesar daya saing produk Indonesia di pasar global. Pelaksanaan target itu memerlukan kebijakan yang konsisten, kepastian regulasi, ketersediaan energi, serta dukungan infrastruktur yang memadai. Pemerintah juga perlu memastikan transformasi industri berjalan inklusif dengan melibatkan pelaku usaha dari berbagai skala, termasuk industri kecil dan menengah. Dengan koordinasi lintas sektor yang lebih kuat, peningkatan peran industri pengolahan diharapkan menjadi salah satu fondasi utama pencapaian agenda pembangunan nasional.

Faisol menyampaikan bahwa peluang peningkatan kontribusi industri pengolahan didukung oleh besarnya pasar domestik Indonesia. Dengan jumlah penduduk mencapai 287,2 juta jiwa, Indonesia memiliki basis konsumen yang luas untuk menopang kegiatan produksi di dalam negeri. Besarnya jumlah penduduk tersebut menjadi salah satu modal penting bagi pengembangan industri pengolahan, terutama ketika kebutuhan masyarakat dapat dipenuhi melalui produk yang dihasilkan oleh sektor industri nasional.

Selain jumlah penduduk, Faisol menyoroti konsumsi rumah tangga yang berada di sekitar Rp12,83 triliun. Konsumsi tersebut dinilai dapat menjadi kontribusi terbesar dalam mendorong perekonomian. Penguatan konsumsi domestik memberikan dukungan terhadap aktivitas produksi karena permintaan masyarakat dapat menjadi penggerak bagi peningkatan kegiatan usaha dan penyerapan produk industri pengolahan.

Menurut keterangan Faisol, besarnya konsumsi rumah tangga perlu dihubungkan dengan upaya meningkatkan produktivitas industri pengolahan. Ketika kebutuhan pasar domestik didukung oleh kemampuan produksi yang semakin baik, sektor industri memiliki ruang untuk memperkuat kinerjanya. Peningkatan produktivitas menjadi bagian dari upaya agar industri pengolahan dapat memanfaatkan potensi pasar dalam negeri secara lebih optimal.

Dengan demikian, pasar domestik dan konsumsi rumah tangga dipandang sebagai modal yang mendukung pertumbuhan ekonomi sekaligus peningkatan kinerja sektor industri. Jumlah penduduk yang besar menyediakan pasar, sedangkan konsumsi rumah tangga memberikan dorongan ekonomi yang dapat memperkuat kegiatan produksi. Dukungan tersebut menjadi dasar bagi upaya mendorong kontribusi industri pengolahan agar semakin besar terhadap perekonomian dan mencapai sasaran kontribusi 20 persen terhadap PDB.

Faisol menilai industri pengolahan masih memiliki ruang yang besar untuk dikembangkan lebih lanjut. Penilaian tersebut didasarkan pada tingkat utilisasi kapasitas produksi yang masih berada di bawah 70 persen. Angka utilisasi ini menunjukkan seberapa besar kapasitas terpasang yang benar-benar digunakan oleh pelaku usaha dalam menjalankan kegiatan produksi. Dengan demikian, tingkat di bawah 70 persen tidak berarti sektor tersebut mengalami pertumbuhan negatif, melainkan menunjukkan bahwa sebagian kapasitas yang tersedia belum dimanfaatkan secara optimal.

Ruang peningkatan utilisasi dapat dimanfaatkan melalui penguatan permintaan, perluasan pasar, peningkatan efisiensi, serta penyediaan bahan baku dan energi yang lebih kompetitif. Apabila kapasitas yang belum terpakai dapat diaktifkan, industri berpeluang meningkatkan volume produksi tanpa selalu harus melakukan investasi besar untuk membangun fasilitas baru. Langkah tersebut juga dapat memperkuat rantai pasok, menciptakan lapangan kerja, dan meningkatkan daya saing produk manufaktur.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan Faisol, industri manufaktur atau industri pengolahan pada triwulan II 2026 tumbuh sebesar 5,32 persen. Persentase tersebut merupakan indikator pertumbuhan kinerja sektor dibandingkan periode pembanding, sehingga tidak sama dengan tingkat utilisasi kapasitas produksi. Artinya, sektor ini tetap mencatat ekspansi meskipun pemanfaatan kapasitasnya belum mencapai tingkat maksimal.

Pada periode yang sama, industri manufaktur memberikan sumbangan sebesar Rp1.102,88 triliun terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Nilai itu menggambarkan kontribusi ekonomi sektor terhadap keseluruhan aktivitas perekonomian, bukan persentase pertumbuhan maupun ukuran kapasitas yang digunakan. Sementara itu, realisasi investasi di sektor tersebut tercatat sekitar 38,98 persen. Persentase realisasi investasi menunjukkan capaian penanaman modal dibandingkan target atau rencana yang telah ditetapkan. Keempat indikator tersebut memiliki makna berbeda: utilisasi mengukur pemakaian kapasitas, pertumbuhan mengukur perubahan kinerja, nilai PDB menunjukkan sumbangan ekonomi, sedangkan realisasi investasi menggambarkan pencapaian penanaman modal.

Industri pengolahan nonmigas terus memegang peran penting dalam kinerja perdagangan nasional. Pada periode yang sama, sektor ini menyumbang 82,40 persen dari total ekspor nasional. Capaian tersebut menunjukkan besarnya kontribusi industri pengolahan dalam menghasilkan produk bernilai tambah sekaligus memperkuat posisi ekspor Indonesia di tengah dinamika perekonomian global.

Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan atau year-on-year (yoy). Pertumbuhan itu terutama ditopang oleh industri manufaktur dari sisi lapangan usaha dan konsumsi rumah tangga dari sisi pengeluaran. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS M Edy Mahmud menyampaikan, nilai produk domestik bruto (PDB) pada triwulan II 2026 mencapai Rp6.552,1 triliun berdasarkan harga berlaku dan Rp3.576,2 triliun berdasarkan harga konstan.

Industri pengolahan menjadi sumber pertumbuhan terbesar pada periode tersebut dengan kontribusi 0,90 persen. Sektor ini tumbuh 4,52 persen secara yoy dan memiliki pangsa 18,50 persen terhadap PDB. Performa tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas manufaktur tidak hanya berperan dalam pembentukan output nasional, tetapi juga menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi pada triwulan berjalan.

Selain industri pengolahan, sejumlah sektor lain turut menopang pertumbuhan ekonomi nasional. Perdagangan memberikan kontribusi sumber pertumbuhan sebesar 0,83 persen, konstruksi sebesar 0,62 persen, sedangkan informasi dan komunikasi menyumbang 0,48 persen. Data tersebut mencerminkan kontribusi berbagai lapangan usaha terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026.

Baca juga: Ancaman Terhadap Iklim Investasi di Indonesia: Sorotan Pelaku Usaha Terhadap Ketidakpastian Hukum | Pengawasan Ketat Terhadap Kasus Pelecehan yang Melibatkan Driver Ojol | Penyelidikan Polisi Terhadap Obat Sopir Alphard yang Terlibat Kecelakaan di Surabaya