Jakarta | Ingram Micro menerima penghargaan kategori Best Enterprise AI Ecosystem dalam Road to Awards 2026 ‘Best AI Ecosystem’. Penghargaan ini menjadi apresiasi atas upaya perusahaan dalam membangun dan mengembangkan ekosistem kecerdasan buatan untuk kebutuhan enterprise. Pengakuan tersebut terbatas pada kategori yang disebutkan, dan tidak dimaksudkan sebagai peringkat atau pengakuan di luar kategori itu.
Penghargaan ini hadir di tengah meningkatnya perhatian terhadap pemanfaatan AI dalam dunia usaha. Perusahaan dari berbagai sektor semakin mempertimbangkan teknologi tersebut untuk mendukung proses kerja, layanan, dan pengambilan keputusan. Namun, penerapan AI tidak hanya berkaitan dengan kemampuan teknis. Pelaku usaha juga perlu memastikan bahwa penggunaannya dapat dipahami, relevan dengan kebutuhan, dan dijalankan secara bertanggung jawab.
Dalam konteks itu, ekosistem AI perusahaan mencakup lebih dari sekadar penerapan satu teknologi. Kolaborasi penyedia solusi, mitra, dan pelanggan dapat membantu organisasi mengenali kebutuhan, memilih pendekatan yang sesuai, serta mengintegrasikan AI ke dalam aktivitas bisnis. Ekosistem yang kuat juga dapat mendukung akses terhadap keahlian dan solusi, sehingga penerapan teknologi tidak berhenti pada tahap uji coba.
Road to Awards 2026 ‘Best AI Ecosystem’ memberi ruang apresiasi bagi pelaku usaha yang mampu mengadaptasi AI untuk memperkuat kepercayaan masyarakat di tengah persaingan bisnis. Kepercayaan menjadi pertimbangan penting karena pemanfaatan AI dapat memengaruhi pengalaman pelanggan maupun cara organisasi menjalankan prosesnya. Transparansi, perhatian terhadap keamanan, dan kesesuaian solusi dengan kebutuhan menjadi bagian dari upaya membangun penerimaan yang lebih luas.
Bagi Ingram Micro, penerimaan penghargaan Best Enterprise AI Ecosystem menandai apresiasi terhadap perannya dalam ranah ekosistem AI perusahaan. Pencapaian ini juga menyoroti pentingnya pendekatan yang menghubungkan teknologi dengan kebutuhan nyata organisasi. Di tengah perubahan yang berlangsung, perusahaan perlu terus mengevaluasi cara AI digunakan, mengembangkan kolaborasi, dan menjaga kepercayaan para pemangku kepentingan. Dengan demikian, adaptasi AI dapat diarahkan untuk mendukung tujuan bisnis sekaligus memberikan manfaat yang dapat dipahami oleh masyarakat.
Penghargaan Ekosistem AI Perusahaan 2026 diserahkan langsung pada Jumat, 30 Oktober 2026, oleh Said Mirza Pahlevi, Direktur Kecerdasan Artifisial dan Ekosistem Teknologi Baru, Ditjen Ekosistem Digital, Komdigi. Penghargaan tersebut diterima oleh Mulia Dewi Karnadi, President Director Ingram Micro Indonesia. Penyerahan secara langsung ini menjadi bagian penting dari pengakuan terhadap peran Ingram Micro Indonesia dalam ekosistem kecerdasan artifisial perusahaan. Momen tersebut juga menegaskan keterlibatan berbagai pihak yang mendukung pemanfaatan teknologi di Indonesia, termasuk pelanggan dan principal atau vendor yang bekerja sama dengan perusahaan. Acara berlangsung pada tanggal tersebut; tidak ada informasi mengenai lokasi yang dicantumkan.
Dalam tanggapannya, Mulia menyampaikan terima kasih atas penghargaan dan kepercayaan yang diberikan kepada Ingram Micro Indonesia. Ia menekankan bahwa pengakuan itu tidak semata-mata ditujukan kepada perusahaan, melainkan juga kepada para pelanggan serta principal atau vendor bisnis Ingram Micro. Penyebutan para mitra tersebut mencerminkan pentingnya kontribusi bersama dalam membangun dan mengembangkan ekosistem teknologi. Bagi perusahaan, pencapaian ini menjadi kesempatan untuk mengapresiasi hubungan kerja yang telah terjalin dengan para pemangku kepentingan. Mulia turut menyampaikan bahwa dukungan dan kepercayaan dari mereka memiliki arti dalam upaya mendorong pemanfaatan solusi teknologi yang semakin relevan bagi organisasi dan bisnis di Indonesia.
Mulia juga menyampaikan harapan agar kolaborasi yang telah terbangun dapat terus berlanjut. Kerja sama Ingram Micro, pelanggan, principal, vendor, dan pihak-pihak terkait diharapkan tetap mendukung transformasi teknologi di Indonesia. Harapan tersebut sejalan dengan kebutuhan untuk mengembangkan pemanfaatan kecerdasan artifisial dan teknologi baru secara kolaboratif. Dengan hubungan yang berkesinambungan, berbagai pihak dapat terus bertukar wawasan, memahami kebutuhan organisasi, serta mendukung langkah transformasi sesuai konteks masing-masing. Bagi Ingram Micro Indonesia, penghargaan ini sekaligus menjadi dorongan untuk menjaga komitmen terhadap ekosistem teknologi perusahaan. Apresiasi kepada para mitra dan harapan atas kerja sama berkelanjutan menjadi inti tanggapan Mulia dalam kesempatan penerimaan penghargaan tersebut.
Ingram Micro berperan membantu perusahaan memahami dan mengadopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) sesuai kebutuhan bisnis serta kesiapan masing-masing. Peran ini mencakup dukungan dalam menghubungkan organisasi dengan solusi dan ekosistem teknologi yang dapat menunjang pemanfaatan AI. Dengan pendekatan tersebut, perusahaan dapat menilai peluang penerapan secara lebih terarah, alih-alih menganggap AI sebagai teknologi yang harus digunakan dengan cara seragam di setiap sektor.
Ketertarikan terhadap AI berkaitan dengan potensi manfaatnya bagi kegiatan operasional dan pengembangan usaha. Penerapan yang dirancang dengan baik dapat membantu meningkatkan efisiensi, misalnya melalui dukungan terhadap proses kerja dan penggunaan sumber daya. AI juga dapat berkontribusi pada produktivitas dengan membantu karyawan menangani pekerjaan tertentu secara lebih efektif. Di sisi lain, analisis dan kemampuan teknologi ini dapat membuka ruang bagi inovasi, baik dalam pengembangan layanan maupun dalam cara organisasi menjawab kebutuhan pelanggan. Besarnya manfaat akan bergantung pada tujuan, data, proses, dan tata kelola yang dimiliki tiap perusahaan.
Adopsi AI di lingkungan perusahaan bukan perkembangan yang sepenuhnya baru. Selama sekitar satu dekade terakhir, organisasi di berbagai sektor telah mengeksplorasi dan menggunakan teknologi ini dalam beragam bentuk. Namun, kemajuan tersebut tidak berarti bahwa setiap perusahaan telah menerapkan AI secara menyeluruh. Tingkat kesiapan, prioritas bisnis, dan kemampuan integrasi berbeda-beda, sehingga perjalanan adopsi berlangsung dengan kecepatan yang tidak sama.
Saat ini, perhatian semakin bergeser dari proyek percontohan menuju tahap pengembangan yang lebih luas. Proyek percontohan tetap berguna untuk menguji kelayakan, memahami risiko, dan melihat hasil dalam konteks terbatas. Tahap berikutnya menuntut perusahaan mempertimbangkan bagaimana solusi yang terbukti bermanfaat dapat dikembangkan, diintegrasikan ke proses yang relevan, serta dikelola secara berkelanjutan. Peralihan ini merupakan arah perkembangan, bukan tanda bahwa semua organisasi telah mencapai skala penerapan yang sama. Dukungan Ingram Micro dalam ekosistem AI dapat membantu perusahaan menavigasi pilihan teknologi dan langkah pengembangan, sambil menyelaraskan inisiatif dengan sasaran bisnis. Dengan demikian, adopsi AI dipahami sebagai proses bertahap untuk mendorong efisiensi, produktivitas, dan inovasi secara bertanggung jawab.
Laporan McKinsey The State of AI in 2025: Agents, Innovation, and Transformation menggambarkan bahwa penggunaan kecerdasan buatan telah menjangkau banyak organisasi. Lebih dari 75% organisasi kini menggunakan AI setidaknya pada satu fungsi bisnis. Angka tersebut menunjukkan bahwa AI telah bergerak melampaui tahap percobaan terbatas di sejumlah perusahaan dan mulai menjadi bagian dari kegiatan kerja. Namun, tingginya tingkat penggunaan tidak serta-merta berarti penerapan sudah matang. Dalam banyak kasus, organisasi baru memanfaatkan teknologi ini pada fungsi tertentu, sementara peluang untuk mengintegrasikannya secara lebih luas ke dalam operasi bisnis masih belum sepenuhnya diwujudkan.
Adopsi AI juga belum merata di seluruh proses organisasi. Sebagian besar perusahaan masih berada pada tahap awal penerapan, sehingga penggunaan AI kerap terbatas pada sejumlah kasus atau fungsi yang dipilih. Proses seperti manajemen dokumen dan pekerjaan back-office belum selalu tercakup dalam penerapan yang meluas. Kesenjangan ini penting diperhatikan karena penggunaan pada satu fungsi saja berbeda dari perubahan cara kerja lintas proses. Laporan tersebut menyoroti jarak eksperimen atau pemanfaatan terbatas dengan transformasi bisnis yang menyeluruh. Artinya, angka adopsi yang tinggi perlu dibaca bersama tingkat kedalaman penerapan dan cakupan fungsi yang telah berubah.
Di organisasi yang menggunakan AI untuk transformasi bisnis menyeluruh, 50% perusahaan yang disebut AI high performers menargetkan perubahan besar dalam tiga tahun berikutnya.







