JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 25 September 2026, PT Telkom Indonesia, melalui PT Telkom Data Ekosistem (Neutradc), saat ini sedang dalam tahap persiapan untuk pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI). Salah satu fokus utama dalam inisiatif ini adalah pembangunan pusat data (data center) yang memiliki kapasitas mencapai 1 GW. Langkah ini diambil sebagai respons terhadap tren pertumbuhan yang pesat dalam kebutuhan komputasi berbasis kecerdasan buatan, terutama di kalangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).
Dengan proyeksi bahwa tahun 2030 akan menjadi waktu di mana sebagian besar BUMN mulai beralih kepada sistem yang lebih terintegrasi, inisiatif Telkom memiliki tujuan yang lebih strategis. Infrastruktur yang kuat dan efisien akan menjadi tulang punggung untuk mendukung berbagai aplikasi dan layanan yang memanfaatkan teknologi AI. Membangun pusat data berkapasitas besar tentunya memerlukan investasi signifikan, tetapi diharapkan dapat memberikan imbal hasil yang substansial dengan mendukung transformasi digital yang lebih luas di sektor publik dan swasta.
Rencana pembangunan ini tidak hanya berfokus pada kapasitas teoretis dari pusat data, tetapi juga pada efisiensi operasional dan keberlanjutan. Mengoptimalkan penggunaan energi dan teknologi ramah lingkungan menjadi bagian dari strategi, guna memastikan bahwa infrastruktur AI yang dibangun tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga dapat beradaptasi dengan tantangan di masa yang akan datang.
Secara keseluruhan, langkah strategis dari PT Telkom dalam membangun infrastruktur AI diharapkan dapat memperkuat posisi Indonesia dalam kedaulatan data nasional. Dengan mempersiapkan fondasi yang solid, Telkom berupaya tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga untuk bersaing di pasar global yang semakin terkoneksi, sehingga membuka peluang baru bagi inovasi dan perkembangan ekonomi digital di tanah air.
Workshop yang diselenggarakan di Jakarta menghadirkan berbagai kementerian serta lembaga, dalam upaya memperkuat pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI) di Indonesia. Pelibatan Kementerian Komunikasi dan Digital serta PLN dalam forum ini menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas sektoral untuk mencapai tujuan pembangunan yang berkesinambungan.
Salah satu fokus utama dari workshop ini adalah pembahasan mengenai pengembangan National AI Data Center. Data center ini diharapkan dapat menjadi pusat pengolahan dan penyimpanan data yang aman, serta mendukung berbagai inisiatif yang berhubungan dengan AI. Dengan adanya pusat data ini, berbagai lembaga, baik pemerintah maupun swasta, dapat mengakses informasi yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja layanan mereka dalam konteks transformasi digital.
Dalam forum ini juga dibahas strategi elektrifikasi yang dapat mendukung pengoperasian National AI Data Center. Kerjasama dengan sektor energi diperlukan untuk memastikan bahwa kebutuhan listrik dari infrastruktur baru ini dapat terpenuhi dengan baik. PLN, sebagai perusahaan yang berperan dalam penyediaan tenaga listrik, berkomitmen untuk memastikan ketersediaan energi yang berkualitas dan berkelanjutan.
Selanjutnya, workshop ini mendorong peningkatan kolaborasi perusahaan milik negara (BUMN) di berbagai sektor, termasuk perbankan, energi, dan transportasi. Melalui pendekatan kerja sama yang lebih intensif, diharapkan akan ada harmonisasi dalam pemanfaatan teknologi AI yang dapat menguntungkan semua pihak. Upaya kolaborasi ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem yang kondusif bagi perkembangan AI di Indonesia, serta mendorong inovasi yang diperlukan dalam menghadapi era digital.
Secara keseluruhan, respons dari peserta workshop sangat positif, menunjukkan komitmen semua pihak dalam membangun infrastruktur AI yang mendukung kedaulatan data nasional. Hal ini diharapkan dapat mengantarkan Indonesia menuju era digital dengan lebih siap dan terarah.
Pemetaan terhadap lebih dari 70 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menunjukkan arah pertumbuhan yang signifikan dalam kebutuhan komputasi, khususnya di sektor perbankan, mobilitas, dan layanan publik. Sektor-sektor ini menjadi penggerak utama yang memerlukan infrastruktur komputasi yang handal dan efisien. Dalam konteks ini, peran pusat data semakin vital, berfungsi sebagai tulang punggung untuk mendukung berbagai aplikasi dan layanan yang dalam implementasinya sangat bergantung pada pengolahan data yang cepat dan akurat.
Wilayah Jawa-Madura-Bali, Batam, dan Indonesia Timur kini menjadi titik fokus untuk pengembangan dan perluasan pusat data. Mengingat bahwa secara geografis, kawasan-kawasan ini memiliki potensi tinggi dalam hal konektivitas dan aksesibilitas, pengembangan infrastruktur di sini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi serta memenuhi tuntutan digital yang terus meningkat. Jawa, sebagai pusat ekonomi, menjadi lokasi strategis dengan konsentrasi BUMN yang tinggi dan adanya permintaan komputasi yang sangat besar untuk melayani populasi yang besar pula.
Selain itu, Batam sebagai kawasan perdagangan bebas menawarkan kemudahan dan insentif bagi pengusaha yang ingin membangun dan mengoperasikan pusat data. Dengan infrastruktur yang siap, Batam berpotensi menjadi hub digital bagi Indonesia dan kawasan sekitarnya. Sementara itu, Indonesia Timur, meski masih dalam tahap pengembangan, memiliki sumber daya alam yang melimpah dan potensi mendukung yang dapat dikembangkan untuk memperkuat infrastruktur digital. Kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan pusat data di wilayah-wilayah ini diharapkan mampu menarik investasi yang lebih besar sehingga meningkatkan daya saing nasional di kancah global.
Secara keseluruhan, permintaan pusat data di berbagai wilayah di Indonesia menunjukkan tidak hanya kebutuhan untuk membangun kapasitas komputasi di dalam negeri tetapi juga untuk memperkuat kedaulatan data nasional. Ini penting dalam menjawab tantangan global dalam era digital yang menuntut infrastruktur yang tepat untuk mengelola informasi secara efisien dan aman.
PLN, sebagai perusahaan penyedia energi terbesar di Indonesia, telah menyatakan komitmennya untuk mendukung pembangunan pusat data yang berkelanjutan melalui penyediaan sumber energi hijau yang andal. Komitmen ini sejalan dengan upaya nasional untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. Dalam konteks pengembangan infrastruktur kecerdasan buatan (AI), kolaborasi PLN dan perusahaan teknologi menjadi bagian penting untuk memastikan ketersediaan energi yang cukup tanpa mengorbankan keberlanjutan.
Pusat data yang digunakan untuk pemrosesan AI sering kali menghadapi tantangan terkait konsumsi energi yang sangat tinggi. Dengan meningkatnya kebutuhan akan komputasi canggih, tantangan ini menjadi semakin signifikan. Oleh karena itu, inisiatif PLN untuk menyediakan sumber energi hijau merupakan langkah strategis yang diharapkan dapat mengatasi isu konsumsi energi pada fasilitas-fasilitas ini. Energi terbarukan seperti solar, angin, dan hidro dapat memberikan solusi yang diperlukan untuk mengurangi jejak karbon dari operasi pusat data yang sering kali membebani jaringan energi menggunakan sumber daya tradisional.
Selain itu, Neutradc, dalam upayanya untuk menjaga distribusi kebutuhan komputasi secara merata, merencanakan pembangunan 26 edge data center di 21 kota di seluruh Indonesia. Edge data center bertujuan untuk membawa sumber daya komputasi lebih dekat kepada pengguna akhir, mengurangi latensi, dan meningkatkan efisiensi pengolahan data. Dengan dukungan dari PLN, proyek ini diharapkan dapat memastikan bahwa semua pusat data ini beroperasi dengan menggunakan energi yang ramah lingkungan, sehingga sejalan dengan visi kedaulatan data nasional dan keberlanjutan.

